1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 86: Penyerangan Penuh



"Sebaiknya kita angkat saja, aku bisa menirukan suara Tuan Hiroaki dengan cukup baik." kata Warren.


"Aku tidak tahu kau punya kemampuan seperti itu..." gumam Felix yang tidak percaya jika temannya bisa menirukan suara.


"Ini adalah kemampuan yang penting untuk seorang mata-mata." balas Warren sedikit sombong.


Queen memberikan handphone milik Tuan Hiroaki yang sedikit jadul itu kepada Warren dan mengangkat panggilan Kinata.


Warren berdehem beberapa kali bersiap menirukan suara Tuan Hiroaki sebelum mengangkat panggilan itu.


[Halo, ayah?]


Suara gadis muda terdengar begitu merdu dari handphone Tuan Hiroaki, itu adalah suara putrinya, Kinata.


"Ada apa putriku?" kata Warren dengan suara berat persis seperti Tuan Hiroaki.


[Bukan masalah besar, sepertinya aku akan kembali ke Jepang terlebih dahulu sebelum melakukan rencana itu.]


'Rencana?' batin Warren penasaran.


"Ah ... tidak masalah, kau bisa pulang terlebih dahulu dan membicarakan rencana itu lebih lanjut dengan ayah." ucap Warren.


Dia berencana untuk menangkap Kinata ketika dia sudah pulang, Zhara juga menginginkan Kinata, jadi tidak masalah menangkapnya.


[Kalau begitu cukup sampai disini saja. Dan ngomong-ngomong sepertinya aku dalam bahaya...]


"Han?! Bahaya apa yang mengancam keselamatanmu?!" kata Warren berpura-pura terkejut bagaikan seorang ayah yang mengkhawatirkan keadaan putrinya.


[Itu ... ada beberapa orang yang selalu mengawasiku, aku tidak tahu apa tujuan mereka tapi yang pasti mereka tidak memiliki tujuan yang baik...]


'Ada orang yang mengawasi Kinata? ungkin itu adalah Asher dan Jack yang diberi tugas untuk mengawasi Kinata....' batin Warren.


"Jika benar begitu sebaiknya kau pulang secepatnya demi keselamatanmu."


[Kalau begitu sampai disini saja untuk hari ini.]


"Baiklah."


[Tut~]


Panggilan telepon telah dimatikan.


Queen dan Felix tentu mendengar semua pembicaraan antara Warren dan Kinata.


"Kinata akan kembali kesini, sebaiknya kita menghubungi tuan Zhara secepatnya." ucap Warren.


Mereka kemudian menghubungi Zhara secara langsung.


...----------------...


Sementara itu di salah satu cafe yang ada di Korea Selatan, terlihat Kinata yang baru saja menutup panggilan teleponnya dengan raut wajah aneh, membuat Reynald yang melihat itu menjadi kebingungan.


"Apa ada masalah?" tanya Reynald.


"Ya ... sepertinya seseorang menangkap Ayahku." jawab Kinata.


"Kenapa kau mengatakan seperti itu? Bukankah yang tadi kau telepon itu ayahmu?" tanya Reynald lagi.


Kinata menghela nafas panjang sebelum menjelaskan, "Hubunganku dengan ayahku sangat rumit, kami tidak seperti sepasang ayah dan anak sama sekali dan dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan 'putriku'."


"Jadi mendengar suaranya yang penuh kekhawatiran padaku membuatku yakin jika dia bukanlah ayahku, melainkan orang lain yang meniru suaranya..." lanjut Kinata.


"Tapi ada kemungkinan dia sengaja memanggilmu dengan sebutan 'putriku' bukan? Contohnya ketika di depan umum, dia pasti akan menjaga martabat keluarganya dan bersikap baik padamu." kata Reynald yang beranggapan jika Kinata terlalu berlebihan.


"Aku tahu itu, jadi aku mengatakan padanya jika aku akan kembali ke Jepang, dan jawabannya membuatku semakin yakin jika dia bukanlah ayahku." balas Kinata.


Setelah Kinata setuju bergabung dengan Aliansi Anti-Futuristik, ia dan ayahnya kemudian menyusun rencana yang cukup matang.


Salah satu syarat yang ada dalam rencana itu adalah perintah bahwa Kinata tidak boleh kembali ke Jepang apapun yang terjadi.


Dan baru saja orang dibalik telepon menyuruhnya untuk kembali ke Jepang secepatnya dengan alasan keselamatan Kinata.


Jika orang di balik telepon itu benar-benar ayahnya, di pasti akan berkata untuk menghadapi bahaya yang mengawasinya itu, bukannya malah menyuruhnya melarikan diri ke Jepang.


"Kalau begitu sudah jelas jika ayahmu telah di tangkap oleh musuh." kata Reynald yang akhirnya percaya.


"Jadi apa rencana kita selanjutnya?" tanya Reynald.


Jika ayah Kinata telah tertangkap, itu berarti penelitian manusia miliknya juga sudah diketahui oleh musuh.


Dan Kinata yakin jika musuhnya pasti akan melakukan serangan penuh ke tempat itu.


Ini sangat rumit, Kinata tidak akan bisa menjalankan rencana yang sudah ia dan ayahnya susuk jika sendirian, dan yang pasti dia tidak bisa kembali ke Jepang dalam situasi seperti ini.


Musuhnya pasti sudah bersiap sedia di Jepang untuk menangkapnya.


Kinata memutar otaknya berpikir keras bahkan sampai menggigit kuku jarinya, musuh yang dia hadapi jauh lebih kuat dan pintar dibandingkan dengan dirinya.


Seharusnya disini Kinata sudah menemukan jalan buntu, tapi dia masih berusaha untuk keluar dari jalan buntu itu.


Hingga akhirnya mata indahnya bersinar penuh harapan.


"Jika orang itu melancarkan serangan penuh kepada kita, maka kita juga harus melakukannya ... kita akan menyerang mereka secara langsung!" ucap Kinata serius.


...----------------...


[Hanya itu yang bisa saya laporkan Tuan!]


"Begitu ya ... jadi kalian sudah membunuh Tuan Hiroaki..." gumam Zhara yang mendapatkan laporan dari Queen dan yang lainnya.


"Kalau begitu tidak usah buang-buang waktu lagi! Kita akan melakukan serangan penuh! Hancurkan tempat biadab itu hingga rata dengan tanah!" perintah Zhara.


[[Sesuai perintah anda Tuan!]] ucap Queen, Warren, dan Felix serentak.


Panggilan telepon dimatikan, setelah itu Zhara kemudian menghubungi Asher dan Jack yang tengah mengawasi pergerakan Kinata.


"Bagaimana dengannya? Apakah dia sudah berangkat kembali ke Jepang?" tanya Zhara.


[Dia sudah menaiki pesawat menuju Jepang sendirian.]


"Sendirian? Lalu bagaimana dengan pria yang bersamanya?"


[Dia kembali ke Indonesia.]


Zhara membenci Reynald karena gagal membunuhnya beberapa bulan lalu, dan sekarang dia sangat ingin kembali melawan pria itu.


Tapi bukan waktunya untuk mengurus orang yang mudah disingkirkan, sekarang yang terpenting adalah penyerangan mereka yang harus mendapatkan kesuksesan.


"Kembalilah ke markas dan pimpin pasukan kalian untuk melakukan serangan penuh!" perintah Zhara kepada Asher dan Jack.


[[Baik Tuan!]] jawab Asher dan Jack serentak.


Panggilan telepon ditutup, Zhara langsung bangkit dan mempersiapkan beberapa senjata yang akan ia gunakan dalam penyerangan nanti karena dia juga akan ikut serta.


'Tujuanku yang gagal sebelumnya akan aku selesaikan disini...' batin Zhara.


Rasa pahit akan kegagalan yang ia dapatkan sebelumnya membuat Zhara tidak bisa tidur dengan nyenyak, oleh karena itu Zhara ingin turun tangan langsung untuk menyelesaikan kegagalannya yang sebelumnya.


Sebuah pistol revolusioner telah disiapkan oleh Zhara, ia kemudian mengenakan pakaian hitam di seluruh tubuhnya dan sebuah kacamata hologram yang menutupi satu matanya.


Setelah semua itu selesai, Zhara mengalihkan perhatiannya pada sebuah tabung besar dengan banyak pasir hitam di dalamnya.


Ia mengulurkan tangannya kearah tabung itu, bersamaan dengan itu hitam di dalam tabung itu bergerak keluar tabung dan melayang memasuki cela-cela pakaian Zhara.


Daripada menyebutnya pasir hitam, lebih tepatnya itu disebut materi hitam dari penelitian nano teknologi yang dilakukan oleh Aland di markas pusat, dan sekarang nano teknologi itu sudah jauh berkembang daripada sebelumnya.


Zhara telah siap, sekarang ia keluar dari kediamannya dan langsung menaiki jet pribadi yang sudah terparkir dengan sempurna di depan kediamannya itu.


Sementara itu di markas Frasier-01, semua prajurit tengah bersiap memakai peralatan mereka setelah mendapatkan perintah dari atasan mereka untuk melakukan serangan penuh ke markas musuh.


Setelah melalui pelatihan yang keras di pulau pelatihan, kemampuan mereka semua sekarang sudah meningkat dengan drastis.


Tidak ada wajah gugup ataupun takut seperti sebelumnya, melainkan wajah tegas dan serius demi menaklukkan musuh mereka.