
"Akh..."
Leher Rian masih dicekik oleh pria tak terlihat yang bernama Clam itu, sedikit demi sedikit kesadaran Rian ingin menghilang dengan bola matanya yang memutar keatas.
Melalui pandangannya yang sudah buram, Rian melihat Laura berdiri di depannya dan mengangkat tabung oksigen dan ingin menghantamkannya ke arah Rian, atau lebih tepatnya kepada Clam.
"Hiyaa!!"
Plank!
"Aaaarrrgh!"
Dengan satu teriakan keras, Laura berhasil memukul kepala Clam yang tidak terlihat itu dengan sangat keras dan membuatnya berteriak kesakitan.
Bersamaan dengan itu, wujud asli Clam mulai terlihat sedang meringkuk kesakitan di lantai.
Laura kembali mengangkat tabung oksigennya dan ingin memukul pria itu lagi, namun dia sudah menghilang dan pergi dengan cepat menjauhi Rian dan Laura.
"Rian, kau baik baik saja?" ujar Laura khawatir.
Rian terbatuk batuk beberapa kali sebelum berbicara dengan lirih.
"Aku baik baik saja... terima kasih telah menyelamatkanku..." kata Rian.
Laura ingin mengatur strategi, jadi dia mengajak Rian untuk bersembunyi di tempat yang tidak terjangkau oleh Clam, akan gawat jika dia menyerang Rian dan Laura dengan tiba tiba.
Setelah mendapatkan tempat yang sempurna yaitu di balik meja tempat penyimpanan dokumen sebelumnya, Rian langsung bertanya kepada Laura.
"Bagaimana dengan pria kodok itu? bukankah kau sedang melawannya?" tanya Rian.
"Tenang saja, aku sudah mengatasinya untuk sementara..." jawab Laura.
Rian sangat kagum dengan kemampuan Laura yang bisa mengatasi makhluk aneh seperti mereka dengan cepat, itu berbeda dengannya yang harus hampir mati ketika melawan Clam.
Sebenarnya Laura menggunakan trik untuk membuat lidah panjang pria itu terlilit di suatu barang, itu sebabnya Laura mengatakan jika dia sudah mengatasinya untuk sementara karena dia tidak tahu sampai kapan pria itu akan terlepas dari sana.
"Lupakan tentang itu... senjataku telah rusak, jadi aku tidak bisa membunuh pria berlidah panjang itu ketika mendapatkan kesempatan, bagaimana denganmu?" kata Laura.
"Senjataku telah hilang entah kemana..." kata Rian.
Ruangan yang mereka gunakan untuk pertempuran mereka telah menjadi tempat yang hancur berantakan, jadi sulit untuk menemukan barang yang telah hilang.
"Jadi kita tidak bisa membunuh mereka dengan mudah, ya..." kata Laura.
"Apa boleh buat, kita harus membunuh mereka dengan cara kasar dan menyakitkan... seperti memukul mereka berkali kali menggunakan tabung oksigen, misalnya?" kata Rian.
"Kau mengatakan itu dengan mudah... apa kau sadar jika orang yang kita lawan adalah mutant hasil penelitian manusia?" kata Laura dengan agak kesal.
"Aku tahu itu, tapi aku mempunyai rencana..." jawab Rian dengan percaya diri.
Di sisi lain, Clam berjalan dengan terhuyung huyung dan memegangi kepalanya yang mengalami pukulan keras karena Laura.
"Wanita sialan itu membuatku seperti ini... awas saja kau nanti..." ujar Clam dengan kesal.
Ketika Clam sedang mengomel dengan kesal, dia kemudian melihat rekannya yang terlihat sangat menyedihkan karena lidahnya yang melilit benda benda dan tidak bisa terlepas karena lidahnya yang terikat.
"Apa yang kau lakukan, Freed? kau terlihat sangat menyedihkan dalam posisi itu.." ujar Clam.
"Ini semua karena wanita licik itu... jangan hanya diam disana, cepat bantu aku!" bentak Freed, pria berlidah panjang itu.
"Baiklah baiklah... dasar kodok menjijikkan, kau membuatku memegang lidah menjijikanmu ini..." kata Clam dengan kesal karena harus melepas lidah Freed yang terlilit.
"Sudahlah jangan protes dan cepat laku-" bentak Freed lagi, namun kali ini dia tidak menyelesaikan kalimatnya melainkan melototkan matanya dengan terkejut.
"Apa apaan dengan ekspresimu itu-"
"Cepat menghindar dari sana!!" teriak Freed kepada Clam.
Clam menyadari sesuatu, dia kemudian berbalik dengan cepat dan melihat Rian yang membawa tabung pemadam kebakaran dan bersiap menyemprotkannya kepada Clam.
'Gawat!' batin Clam.
Dia kemudian menghilangkan dirinya, namun Rian sudah menyemprotkan tabung pemadam kebakaran itu dengan keras dan menyembur kearah Clam dan Freed hingga menutupi seluruh tubuh mereka.
"Laura, sekarang!"
Bersamaan dengan teriakan Rian, Laura muncul dari samping yang berdekatan dengan posisi Clam berada, karena dia telah terkena busa dari alat pemadam kebakaran itu, jadi Laura bisa tahu keberadaannya dengan mudah.
"Terima ini!!"
Plank!
Plank! Plank! Plank!
Freed yang melihat temannya diperlakukan seperti itu hingga sekarat menjadi murka, dia kemudian menggerakkan lidahnya dan berhasil lepas dari lilitan karena bantuan Clam.
"Dasar manusia manusia sialan!!" teriak Freed marah.
Freed meluncurkan lidahnya dengan cepat ke berbagai arah, kekuatan serangannya yang sekarang lebih kuat dan cepat daripada sebelumnya yang membuat Rian dan Laura menjadi tertegun.
"Laura awas!" teriak Rian lalu berlari kearah Laura dan melindunginya dengan cara tiarap di lantai.
Freed semakin mengamuk, dia menyerang dan menghancurkan seluruh tabung yang berisi manusia itu, bukan hanya itu, Freed juga menyerang dinding ruangan dengan membabi buta.
Hingga tanpa sengaja, Freed menekan sebuah tombol berwarna merah yang dilindungi oleh kaca yang dapat dengan mudah hancur dengan serangan Freed.
Bersamaan dengan tombol merah yang di tekan, deringan alarm darurat terdengar di ruangan itu dengan kilauan lampu berwarna merah.
'Apa yang dilakukan si bodoh itu...?' batin Rian.
Nyatanya bukan hanya di ruangan tempat mereka bertarung yang mengalami suara alarm darurat, melainkan seluruh gedung perusahaan Alastrine Industrions.
Seluruh karyawan di berbagai lantai berhamburan dengan panik mendengar suara alarm darurat itu, mereka saling dorong mendorong untuk menaiki lift dan keluar dari gedung itu dengan panik.
Suara alarm darurat itu bukanlah sekedar alarm peringatan kebakaran atau sebagainya yang mungkin tidak terlalu berbahaya, namun alarm itu adalah peringatan darurat mengenai adanya masalah di tempat penelitian.
Mungkin saja akan ada ledakan yang akan menghancurkan gedung, atau paparan radiasi nuklir yang sangat berbahaya bagi manusia, dan berbagai macam masalah yang mengancam hidup mereka.
Bekerja di perusahaan teknologi yang meneliti dan mengembangkan berbagai teknologi atau senjata baru memanglah merupakan hal yang sangat berbahaya....
Kembali ke sisi Rian dan Laura.
Rian dan Laura masih tiarap di lantai dengan Rian yang memeluk Laura untuk menghindari amukan amarah Freed, namun mereka tidak bisa terus berada dalam situasi itu dan memilih untuk segera bertindak.
Rian menggepalkan tangannya erat erat lalu berdiri dan melesat kearah Freed yang masih mengamuk sambil membawa tabung pemadam kebakarannya, Freed menyadarinya dan melesatkan lidahnya kearah Rian.
Bersamaan dengan itu, Rian menyemprotkan tabung pemadam kebakaran itu kearah lidah Freed dengan sangat banyak.
'Apa ini... lidahku, membeku?' batin Freed.
Alat pemadam kebakaran itu memiliki suhu yang lumayan rendah hingga bisa membekukan air dengan singkat, jadi membekukan lidah milik Freed bukanlah masalah besar.
Karena lidahnya yang membeku, Freed menjadi tidak bisa menggerakannya lagi, dan disinilah kesempatan Rian untuk menyerang pria itu.
Plank!
Pukulan mendarat tepat di wajah Freed hingga membuat hidungnya mengeluarkan darah, namun Rian belum puas dengan itu.
Rian menginjak wajah pria itu di lantai lalu memegang lidahnya yang telah membeku dan bersiap untuk menariknya dengan keras.
Wajah Freed terlihat dipenuhi ketakutan, dia ingin berbicara dan memohon ampunan tapi dengan kondisi lidahnya yang sekarang, dia tidak mampu melakukannya.
"Ini adalah balasan untuk semua kesombonganmu itu..." gumam Rian lalu menarik lidahnya dengan satu hentakan keras.
Crassh!
Lidah panjang pria itu tercabut bersamaan dengan kematiannya yang menyedihkan.
"Euh... ini menjijikan..." gumam Rian lalu melemparkan lidah itu ke sembarang tempat.
Rian berbalik untuk melihat Laura yang tengah menyelesaikan urusannya dengan pria satunya dan hanya bisa tertegun sambil geleng geleng kepala melihat apa yang diperbuatnya.
"Caramu membunuhnya sangat mengerikan, aku jadi sedikit tertarik denganmu..." ujar Laura senyum polosnya.
"Orang yang menghancurkan wajah seseorang walaupun sudah mati dan mengulitinya sedikit demi sedikit tidak pantas mengatakan hal itu kepadaku...." gumam Rian dengan datar.
Padahal Laura memang serius tertarik kepada Rian karena cara membunuhnya yang mencabut lidah seseorang sangat mirip dengan cara membunuh Zhara yang juga mencabut lidah seseorang saat itu.
Itu adalah pembunuhan pertama yang Laura saksikan, jadi dia lumayan tertarik dengan itu...
Sementara Rian, sebenarnya ini adalah pertama kalinya dia membunuh seseorang, tapi Rian tidak terlalu menghiraukannya karena menganggap mereka sama sekali bukan manusia melainkan sosok monster berbahaya.
"Sudahlah... ayo kita temui rekan kita yang lainnya..." ujar Rian.
"Baik~" kata Laura.
Namun, tanpa mereka sadari, puluhan pasukan militer telah berangkat menuju lokasi mereka karena alarm darurat sebelumnya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑀𝑒𝑛𝑒𝑚𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑇𝑦𝑝𝑜 𝐴𝑡𝑎𝑢 𝐾𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎𝒉𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑃𝑒𝑛𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛, 𝑇𝑜𝑙𝑜𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝒉𝑢 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐿𝑒𝑤𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑃𝑎𝑟𝑎𝑔𝑟𝑎𝑓 𝐴𝑔𝑎𝑟 𝐶𝑒𝑝𝑎𝑡 𝐷𝑖𝑟𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖...