1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE

1095 DAYS BEFORE THE APOCALYPSE
Chp 87: Penyerangan Awal



Puluhan pesawat tempur Futuristik Generation terbang di atas awan negara Jepang agar tidak diketahui oleh publik, namun pasti ada beberapa media yang sudah tahu akan hal itu dan meliputnya.


Pesawat itu memiliki satu tujuan yang ingin mereka capai, yaitu markas penelitian manusia milik Tuan Hiroaki yang terletak di tempat terpencil.


[Target terlihat, menunggu perintah dari kapten Asher!] ucap salah satu pilot melalui speaker melaporkan situasi di luar sana.


"Kita turun disini!" perintah Asher.


Sebenarnya untuk menghancurkan tempat penelitian sesat itu sangatlah mudah, hanya dengan membombardirnya dengan rudal maka tempat itu sudah rata dengan tanah.


Tapi mengingat Queen, Warren, Felix, dan Chip penelitian yang masih ada di dalam sana, mereka tidak boleh melakukan hal ceroboh itu.


Jadi Asher memerintahkan sang pilot untuk mendarat di tempatnya saat ini berada yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari tempat penelitian itu.


Disisi lain juga Jack dan yang lainnya melakukan hal yang sama.


Semua pasukan turun lalu menatap pemimpin mereka yaitu Asher dan Jack dengan tatapan tegas.


"Tujuan kita adalah untuk memusnahkan tempat penelitian biadab itu, mereka dengan mudahnya menangkap warga sipil dan menjadikan mereka mutant tanpa belas kasihan! Jadi kita harus memusnahkannya dari muka bumi ini."


"Tapi sebelum kita melakukan itu, kita harus membawa kapten Queen, kapten Felix, dan kapten Warren yang masih berada di dalam sana." lanjut Asher dibarengi dengan teriakan penuh semangat dari pasukannya.


Sebenarnya ini adalah misi pertama mereka semenjak bergabung di pasukan Frasier-01, tapi mereka yakin akan menang karena telah melalui banyaknya latihan di pulau pelatihan.


"Apa lagi yang kalian tunggu, ayo maju!" perintah Asher.


Mereka semuapun maju dengan gagah berani untuk menyerbu tempat penelitian itu.


"Apa mereka sudah mengirim filenya?" tanya Jack kepada Asher.


Asher memperhatikan HPC di lengannya, disana ada tampilan sedang menerima kiriman file dengan presentase kesuksesannya.


"Sudah terkirim." kata Asher yang melihat presentase keberhasilannya sudah mencapai 100%.


Ia kemudian membuka file itu dan memperlihatkan sebuah peta dari bangunan penelitian manusia yang ada di depan mereka.


"Seperti yang diharapkan dari Warren, peta ini sangat detail." ujar Asher kagum.


Melalui pelacak yang ada di peta itu, Asher dan Jack melihat ada tiga titik biru yang menandakan itu adalah Queen, Warren, dan Felix. Mereka berdua di lantai paling bawah.


Jadi mereka bisa meledakkan tempat itu tanpa ragu sama sekali karena ketiga rekannya tidak akan terkena dampaknya.


Asher dan Jack memerintahkan seluruh pasukannya untuk menghancurkan bangunan utama dari tempat penelitian itu.


Dengan menggunakan misil dari beberapa robot tempur jenis Neohuman08, bangunan itupun langsung rata dengan tanah.


Tapi Asher dan yang lainnya tidak perlu khawatir karena ledakan itu tidak mempengaruhi ruang bawah tanah di bawah bangunan itu, hanya saja getaran yang dihasilkan mungkin akan membuat musuh mereka waspada.


Dan benar saja, insting Jendral Grinz yang ada di dalam ruang bawah tanah itupun menajam ketika menyadari ada musuh yang menyerang mereka.


"Dimana Tuan Hiroaki?! Dimana pasukan keamanan? Kenapa kalian tidak menyadari ada musuh yang menyerang markas ini!" teriak Jendral Grinz murka.


Alarm darurat berbunyi di segala tempat diiringi dengan lampu merah yang terus berkelip-kelip.


Semua orang di tempat itu menjadi panik termasuk para tahanan yang masih ditahan di penjara yang nantinya akan digunakan sebagai subyek penelitian.


Namun tiba-tiba sebuah ledakan menghancurkan pintu penjara yang mengurung ratusan orang di dalamnya itu.


Mereka semua langsung panik tapi hanya bisa meringkuk ketakutan, tak lama kemudian seorang wanita cantik memasuki penjara dengan perlahan sambil mengangkat kedua tangannya.


"Kami tidak akan menyakiti kalian, tapi menyelamatkan kalian." ujar wanita itu yang adalah Queen.


"Kemarilah, kita harus cepat keluar dari tempat ini." lanjut Queen sambil mengulurkan tangannya.


Para tahanan itu menoleh satu sama lain sebelum menganggukkan kepalanya patuh lalu keluar dari tempat yang selama ini menyiksa batin mereka.


Di luar penjara terlihat Felix dan Warren yang bersiaga sambil membawa senapan yang mereka rampas dari pasukan keamanan.


Mereka berdua sempat membuat para tahanan ketakutan tapi Queen langsung menenangkan mereka.


"Kita harus menuntun mereka semua keluar dari tempat ini." kata Queen karena itu juga adalah bagian dari misi mereka.


"Kami akan melindungi mereka!" kata Warren serius.


Sementara itu Jendral Grinz tampak sangat terburu-buru, dia berjalan dengan cepat sambil membuka pintu setiap ruangan yang ia lihat.


"Hiroaki dimana kau!" teriaknya.


Ia mencegat salah satu ilmuwan yang berlari untuk mengevakuasi diri dan menanyainya, "Kau tahu dimana Tuan Hiroaki?!"


"S- saya melihatnya bersama dengan sekretaris barunya di blok C beberapa jam lalu." kata ilmuwan itu tergagap.


"Pergilah." kata Jendral Grinz menyuruh ilmuwan itu untuk pergi.


Dengan wajah kesal ia kemudian berlari kearah blok C seperti yang dikatakan oleh ilmuwan itu, dan tepat sampai disana ia membuka salah satu pintu kamar dan sangat terkejut melihat Hiroaki yang sudah tewas di atas ranjangnya.


Dia mendekati mayat itu, lehernya berwarna biru sementara wajahnya putih pucat.


"Dia mati karena di cekik..." gumam Jendral Grinz.


Ia bertanya-tanya siapa yang bisa membunuh pria tangguh seperti Tuan Hiroaki, tapi kemudian ia mulai sadar.


"Sekretaris itu..." geramnya.


'Tch! Bisa-bisanya aku lengah seperti ini...' batin Jendral Grinz yang terburu-buru ke ruang penelitian.


'Aku harus mengamankan chip itu terlebih dahulu!' batinnya lagi.


Namun baru berjalan di lorong menuju ruang penelitian, beberapa tembakan dari senapan serbu tiba-tiba menghujani dirinya dari belakang badannya.


Karena refleks Jendral Grinz kemudian langsung berguling ke ruangan di dekatnya itu untuk berlindung, tapi beberapa tembakan sempat mengenai lengannya dan membuat pendarahan yang cukup parah.


"Ck, sial!" gumamnya berdecak kesal sambil memegangi lukanya.


Ia sedikit menoleh ke lorong, lebih tepatnya kearah si penembak. Tapi bersamaan dengan itu tembakan kembali dilancarkan hingga hampir mengenai wajahnya.


"Shiit! Ternyata mereka sudah masuk ke tempat ini!" kesalnya yang melihat siluet si penyerang.


Hanya dari seragam si penyerang saja Jendral Grinz sudah tahu jika penyerang itu adalah bagian dari pasukan Futuristik Generation.


'Aku harus bergerak cepat!' pikir Jendral Grinz sambil memutar matanya untuk mencari barang yang berguna untuk perlawanan.


Ia tidak membawa senjata saat ini karena serangan yang terlalu mendadak itu.


Disisi lain pasukan Frasier-01 yang menyerang Jendral Grinz berjalan dengan hati-hati mendekati tempat persembunyian target mereka.


"Lapor Kapten, target sudah kami temukan, dia sedang terdesak sekarang!" ujar salah satu pasukan yang memberi laporan lewat HPC miliknya.


[Tahan dia, aku akan segera ke lokasimu.] balas Asher.


"Baik!"


Tak berselang lama sebuah benda besar yang diselimuti oleh kain terlempar dari tempat persembunyian Jendral Grinz.


Pasukan itu menjadi waspada dan langsung menghujani benda itu dengan tembakan beruntun dari senapan serbu mereka.


Tapi tanpa mereka duga benda itu langsung mengeluarkan ledakan yang cukup besar hingga mengaburkan pandangan mereka.


Jendral Grinz memanfaatkan momentum itu untuk keluar dari tempat persembunyian dan berlari menuju ruang penelitian.


'Semoga mereka belum sampai di tempat itu, tidak ada pilihan lain, aku harus melepaskan semua mutant yang ada di tempat ini!' pikir Jendral Grinz sembari berlari kencang mengabaikan luka yang di deritanya.


Benda besar yang diselimuti oleh kain itu sebenarnya adalah sebuah tabung gas yang diselimuti kain.


Ia sengaja melakukan itu karena karena jika tidak menutupinya dengan kain, maka pasukan Frasier-01 pasti tidak akan melepaskan tembakan karena tahu jika itu akan meledak.