"DR"

"DR"
Happy Ending



Satu bulan setelah Rain wisuda dan Ikoh nikah. Ada yang berubah dari wanita itu. Sekarang ia lebih suka makan di luar, seolah ia menghindari yang namanya dapur. Yang paling mengherankan lagi Rain selalu memakai masker saat Davian berada di rumah.


"Yank, kamu kenapa sih?" tanya Davian pagi ini saat melihat sang istri buru-buru memakai maskernya.


"Jangan dekat-dekat, Bang!" ucap Rain sambil memakai maskernya.


"Kenapa kamu sakit?"


"Bau banget, Bang," balas Rain sambil menjauh dari suaminya karena tiba-tiba kepalanya jadi pusing.


Davian memutar bola matanya jengah, kemudian muncul ide jahilnya untuk mengerjai sang istri, yang memang akhir-akhir ini sulit untuk didekati. Rain yang berjalan menuju sofa untuk menonton televisi, tiba-tiba tubuhnya serasa melayang saat sang suami menggendongnya dengan ala bridal.


"Abaaaang!!" pekik Rain sambil menutup wajahnya.


"Kamu itu kenapa jauhin aku mulu si, Yank?" gerutu Davian sambil mencondongkan wajahnya ke wajah sang istri yang ditutupi tangannya.


"Abang mandi gih! Bau banget," ucap Rain sambil menahan rasa mualnya.


"Aku udah mandi sayang! Cuma belum dikasih jatah nih," balas Davian yang dengan manaikanturunkan alisnya.


"Nggak!!" tolak Rain sambil memukul bahu suaminya agar diturunkan. Davian bukan menurunkan sang istri, ia malah membanting tubuhnya ke sofa hingga sang istri tetap duduk di pangkuannya.


"Bang, sumpah aku mual, bau banget!" ucap Rain kemudian ia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.


Davian juga mengikuti sang istri dan membantu memijat tengkuknya, tapi dengan lembut Rain menolaknya, bukan apa-apa karena mualnya itu berasa dari sang suami.


Setelah merasa baikan Rain pun duduk di sofa dan mengambil air putih, lalu meminumnya hingga habis. Sementara itu, Davian sedang menelpon sang mami dan mengatakan tentang keadaan istrinya.


"Mi, Rain masa bilang aku bau, malah sampai mual muntah, masa?" adu Davian pada sang mami. Kemudian, Davian pun mengangguk dan hanya bilang iya, sampai akhirnya panggilan telepon pun terputus.


Rain masih duduk di tempat semula sambil memijat pelipisnya yang masih terasa pening.


Davian mendekati sang istri hendak membantu memijatnya. Namun, sang istri tiba-tiba merentangkan kedua tangannya ke depan agar Davian tak mendekatinya.


"Yank, jangan siksa aku kayak gini dong!" lirih Davian sambil mengusak rambutnya kasar.


"Aku juga nggak tahu, Bang!" sela Rain sambil kembali menutup mulutnya.


"Pokoknya kamu jangan deket-deket aku!"lanjutnya, yang membuat Davian mengehela nafas pelan.


"Besok kita ke periksa ya, Yank!" ucap Davian yang masih berdiri berjauhan dari sang istri. Rain hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Malam ini Davian tidur di sofa, sementara Rain tidur di ranjang. Hal ini tentu saja membuat Davian merasa tersiksa dan sedih, tapi ia juga tak mau sang istri sampai mual muntah lagi.


*****


Keesokan pagi


Davian dan Rain sudah bersiap untuk ke rumah sakit, mereka akan memeriksa apa yang terjadi dengan Rain akhir-akhir ini.


Davian mulai melajukan mobilnya, saat mereka sudah siap. Rain tetap memakai masker dan tak melihat ke arah suaminya sama sekali.


"Yank, nanti pulang dari rumah sakit, kita ke rumah mami, kangen katanya," ucap Davian sambil melirik ke arah sang istri.


"Iya, Bang, aku juga kangen," jawab Rain tanpa menoleh sedikit pun.


Perjalanan menuju rumah sakit terasa amat lama bagi Davian, apalgi sang istri tak sedikit pun menatap ke arahnya. Sampai akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan dan mulai melakukan pendaftaran.


Saat menunggu pun Rain kekeh nggak mau dekat dengan sang suami, sampai ada seorang ibu menyapa mereka.


"Mungkin istrinya lagi hamil, Mas?" ucap sang ibu saat melihat tingkah Rain.


"Masa sih, Bu?" bantah Davian. "Emang ada ya orang hamil nggak mau deket sama suaminya?" lanjutnya sambil melihat sang istri yang tetap acuh.


"Ada, Mas, dulu waktu saya hamil anak pertama benci banget lihat laki, malah kalau deket tuh mual sama pusing," jelas si ibu tadi yang membuat Davian sedikit tersentak.


"Sama, Bu, istri saya juga gitu, kesiksa saya nggak bisa deket-deket istri," ucap Davian sambil menunduk.


Sementara Rain tetap tak menghiraukan suaminya yang sedang berbincang dengan orang lain.


"Sampai lahiran kah, Bu?"tanya Davian dengan penasaran.


"Nggak lah, ibu dulu cuma sampai 5 bulanan, kesananya malah nemplok mulu di laki," ucapnya sambil terkikik geli.


Davian pun mengusap dadanya lega, "syukurlah."


Tak berselang lama Rain pun dipanggil, ia dan sang suami masuk ke ruangan dokter.


" Jangan deket-deket, Bang!" gerutu Rain saat Davian duduk di sampingnya.


"Atuhlah, Yank, ini di rumah sakit," ucap Davian sedikit kesal, tapi marah pun ia tak bisa. Akhirnya ia pun pasrah.


Sang dokter dengan name tag Tiara itu, mulai bertanya tentang keluahan yang dialami oleh sang istri.


Rain menceritakan semua yang ia alami akhir-akhir ini, sampai akhirnya Dokter bernama Tiara itu, menyuruh Rain untuk mengambil air seninya.


Tanpa menunggu lama, Rain pun melakukan apa yang disuruh oleh sang dokter, kemudin setelah selesai, ia memberikan tabung kecil yang tadi diberikan Dokter Tiara kembali kepadanya.


Wanita berjas putih itu pun mulai memasukan alat tipis bebentuk persegi panjang ke dalam tabung air seni Rain, tak berapa lama terdapat dua garis merah di sana.


"Istri saya, nggak apa-apa kan, Dok?" tanya Davian khawatir.


Dokter berlesung pipit itu, hanya menggeleng dan tersenyum ke arah Davian.


"Selamat, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Davian.


Antara percaya dan tidak, Davian menyambut uluran tangan Dokter cantik itu. Sambil tersenyum bahagia, ia menatap pada sang istri yang terlihat melengkungkan bibir mungilnya juga.


"Makasih sayang!" ucap Davian pada sang istri yang malah menjauh.


"Jangan dekat-dekat, Bang!" sambil merentangkan kedua tangannya ke depan.


Dokter Tiara nampak terkekeh melihat pasangan suami istri di depannya, "sepertinya nanti bayinya akan mirip ayahnya."


"Ko gitu sih, Dok?" sela Rain saat mendengar ucapan sang Dokter.


Davian dan Rain pun akhirnya pulang dari rumah sakit. Lingkungan di bibir Davian tak pernah sirna dari wajahnya, setelah ia keluat dari rumah sakit itu.


"Akhirnya, aku jadi seorang ayah, makasih, Yank!" ucap Davian saat mereka melaju menuju rumah sang mami.


"Aku juga seneng, Bang, tapi_" ucapannya tak diteruskan karena tiba-tiba rasa mual itu datang lagi.


Davian sempat panik, ia mencari apa saja untuk sang istri memuntahkn isi perutnya.


"Kamu tuh, makanya mandi, Bang, bau banget!" omel Rain yang membuat Davian menghela nafas gusar.


"Aku udah mandi sayang, tiga kali malah tadi karena kamu bilang aku bau terus," decak Davian.


Rain hanya mengangguk, mengiyakan juga karena tadi sebelum berangkat ke rumah sakit, ia terus menyuruh sang suami untuk mandi.


"Kamu mau makan apa sekarang? Katanya orang hamil itu suka ngidam," tanya Davian setelah sang istri mulai kembali tenang.


"Nanti lah, aku belum mau makan apa-apa, mau ketemu sama mami dulu!"


Davian pun mengangguk, lalu kembali fokus menyetir mobilnya, hingga akhirnya mereka sampai di rumah sang mami.


"Mamii, Rain kangen banget sama mami!" teriak Rain saat sang mami menyambutnya dengan merentangkan tangannya.


"Iya sayang, mami juga kangen!"


"Mi, Davi sebentar lagi jadi Ayah!" ucapnya antusias yang membuat sang mami bertanya pada Rain yang ada di pelukannya untuk meyakinkan. "Bener, Rain?"


Rain hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu ngidam apa sayang?" tanya sang mami antusias.


"Aku nggak mau masak, Mi, jijik aja kalau liat kompor berasa bau," ucap Rain.


"Dia juga nggak mau deket sama Davi, Mi," timpal Davian yang sudah duduk bersandar di sofa.


"Iya, Mi, Bang Davi bau, Rain nggak suka," jelas Rain sambil memeluk erat mami mertuanya.


"Ya udah biar ntar mami jual aja Davi nya ya!" jawab sang mami seenaknya sambil tertawa lepas.


"Mami!"


Setelah itu Rain juga memberitahu sang ibu dan Bang Refal juga Ikoh mengenai kehamilannya.


*****


Davian menahan hasratnya hingga enam bulan, karena sang istri benar-benar tak mau didekati. Namun apa pun yang Rain inginkan, ia selalu berusaha memenuhinya.


Bulan ke 7 kehamilannya, Rain berubah menjadi wanita yang sangat manja pada sang suami, hingga Davian kewalahan saat Rain tak ingin ditinggalkan barang sebentar saja.


"Kamu manja banget si, Yank. Dulu aja marah-marah kalau aku deketin," goda Davian saat mereka sedang duduk di sofa ruang keluarga.


Rain hanya terkekeh, kemudian berucap, "mana aku tahu, Bang? Mungkin bawaan bayi kali."


Davian mengangguk dan mengecup kening istrinya. Dia menikmati saat-saat kehamilan sang istri. Apalagi sekarang perutnya sudah mulai membuncit besar, kadang bayi yang berada di sana merespon saat Davian mengelus perut buncit istrinya. Hal itu membuat Davian takjub dan mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan.


Waktu terus berjalan, tak terasa usia kandungan sang istri sudah sembilan bulan, kata dokter perkiraan lahirannya tinggal seminggu lagi. Rain juga sudah mulai gelisah jika malam hari tiba, ia kesulitan untuk tidur, selain itu selalu bolak-balik kamar mandi untuk buang air kecil, apabila si bayi aktif menendang perut ibunya.


Davian selalu siaga, takut-takut sang istri tiba-tiba merasakan sesuatu. Davian dan Rain tinggal bersama mami dan papi di rumah Brata selama Rain mengandung.


Waktu lahiran yang diperkirakan seminggu lagi ternyata lebih cepar dari perkiraan, malam ini Rain sedang berusaha melahirkan bayi pertama mereka di rumah sakit. Davian selalu mendampingi sang istri, saat ia merasakan kontraksi yang makin lama makin sering dan membuat istrinya kesakitan.


"Sakit, Bang!" rintih Rain saat perutnya merasakan kontraksi yang kuat. Davian hanya membantu menguatkan sang istri dengan menggenggam tangan sang istri yang memegangnya erat.


"Kamu kuat, kamu pasti bisa sayang! Demi bayi kita!" bisik Davian saat Rain sudah mulai tenang.


Sekitar jam satu malam Rain berjuang untuk melahirkan bayinya. Mami Sherly, Papi Rangga, Bu Ratna, Refal dan Ikoh, Dio dan istrinya juga menunggu kabar baik dari Rain dan Davian. Mereka berdoa agar bayi dan ibunya selamat.


Oya, Dio dan Vanya adalah sahabat dari kecil, mereka bertemu kembali saat Davian menikah. Ternyata hubungannya berlanjut. Dio dan Vanya menikah saat Rain wisuda, jadi waktu itu Davian dan kelurga tak dapat menghadiri acara sakral antara Dio dan Vanya. Namun sehari.setelah mereka menikah, Davian dan Rain langsung memberi hadiah berupa tiket honeymoon.


Kembali ke rumah sakit di mana Rain sedang berjuang untuk melahirkan bayinya.


"Bang, sakit banget!"


"Iya, sayang," hanya itu yang bisa Davian ucapkan. Setelah berjuang seharian, akhirnya jam empat subuh, bayi laki-laki itu lahir dengan selamat.


Davian dan Rain begitu terharu saat memdengar suara tangis pertama bayi mereka.


"Makasih sayang!" sambil memgecup kening sang istri yang berpeluh.


Bayi dengan berat tiga kilogram dan tinggi lima puluh dua sentimeter itu benar-benar mirip dengan Davian kecil.


"Ih kok mirip kamu si, Bang?" gerutu Rain saat mereka sudah pindah ke ruangan rawat inap. Di sana juga keluarganya berkumpul.


"Ya iya lah, aku yang nanam saham juga, mana kamu gemes banget kan waktu pas ngidamnya," goda Davian dengan penuh kemenangan.


"Ish.. !"


"Makasih sayang karena kamu sudah memberikan kebahagiaan untukku, I LOVE YOU SO MUCH!!" sambil mengecup kening istrinya dan juga bayi mungilnya.


TAMAAAAAT


Happy Reading


Babang Daviannya udah end ya... Happy Ending


Makasih ya udah selalu baca cerita Babang Davi ama Rain.


Support kalian bikin aku semangat buat berkarya.


Jangan dihapus love nya ya! Aku akan kembali dengan cerita baru... Mampir ya sebentar lagi bakal rilis.


Sun online dari othor buat kalian yang selalu setia sama cerita aku😘😍😍😍😍😘😘😘😘


Thank you so much... 😘