"DR"

"DR"
Cerita



"Berhenti!!!"terdengar suara cempreng seorang wanita dari arah belakang kerumunan para tamu yang bertepuk tangan. Semua mata memandang ke arah wanita tinggi langsing itu,wajahnya terlihat memerah menahan amarah.


"Daviaaaan,,, lo tega nggak ngundang gue ke acara penting kaya gini!"teriaknya sambil menghambur ke arah Davian dengan mengacungkan tas tangannya.


Davian yang semula khawatir salah satu mantannya yang datang, akhirnya mendecak kesal ke arah sepupunya itu.


"Diih, dasar biang rusuh!"gerutunya sambil merangkul pinggang ramping tunangannya yang nampak menahan tawa.


"Tawa aja kali, Yank, nggak usah ditahan gitu!"bisiknya sambil menjawil hidung mancung gadisnya.


"Kak Isma apa kabar?"tanya Rain sambil tersenyum ramah.


"Alhamdulillah, baik say!"sambil merangkul tubuh mungil Rain."Kenapa nggak ngabarin si?"lanjutnya.


"Maaf, Kak, aku kira udah dikabarin sama si om?"sambil melirik ke arah tunangannya yang mengerutkan keningnya.


"Ternyata kamu seneng ya, dapat hukuman dari aku?"bisik Davian pada Rain hingga hembusan nafas pria itu membuat Rain meremang. Gadis itu kemudian berdecak dan mendorong tubuh pria itu agar menjauh, dan mengajak Isma untuk mencicipi semua hidangan yang sudah tersedia.


Davian hanya tersenyum miring, saat melihat gadisnya berlalu meninggalkannya sendiri, semua tamu sedang menikmati hidangan yang tersedia, mami, papi dan Bu Ratna sibuk berbincang dengan para tamu. Davian masih sendiri, sampai akhirnya Dio menghampirinya.


"Woiii,,, selamat ya, Bro!"sambil mengulurkan tangannya pada Davian. Pria yang menjadi sahabat sekaligus bosnya itu menyambut uluran tangan Dio dengan wajah masih tersenyum miring.


"Udah ayo kita cari minum, biarin Rain bersama yang lain, kasih ruang buat dia, dipepet mulu!"celoteh Dio sambil menarik Davian ke arah berlawanan dengan Rain yang tampak asyik menikmati makanan bersama Isma dan Ikoh.


"Eh cerita dong kok bisa si, tunangan ama sepupu nyebelin gue?"tanya Isma setelah menelan makanannya. Rain dan Ikoh saling pandang kemudian terkekeh sebelum mereka bercerita.


"Dih, malah ketawa cerita dong!"rajuk Isma.


"Mau tahu aja apa mau tahu banget?"goda Ikoh.


"Iih,,, nyebelin banget si, ayo dong Rain buruan cerita!"sambil menarik lengan Rain yang masih terkekeh.


"Iya,, iya gue cerita!"jawab Rain dengan wajah masih tersenyum. Dia pun menceritakan tentang perjodohan yang direncanakan oleh kedua orangtua mereka, bahkan ia juga sempat menolak setelah tahu sesuatu dari Zulfikar.


Isma tampak manggut-manggut mendengarkan cerita Rain dengan detail.


"Terus kenapa akhirnya lo bisa nerima dia?"tanya Isma penasaran, karena pertanyaan itu sudah berputar di kepalanya sejak tadi.


"Ya gimana ngga nerima, seharian si om keliling buat minta maaf sama semua cewek yang pernah ia sakitin, ampe mukanya lebam kena gampar!"serobot Ikoh sambil tertawa lepas mengingat cerita sahabatnya.


"Sumpah lo?"pekik Isma sambil tertawa. Ketiga cewek cantik itu asyik berbincang hingga tak menyadari keberadaan Davian dan Dio di belakang mereka.


"Iya bener,,, malah aku cubit sekalian biar rasa."lanjut Rain sambil tetap tertawa.


"Rame bener si ceritanya!"sela Davian tepat di belakang Rain, yang membuat gadis itu membeku seketika.


"Eh, lo, Dav, sini-sini gabung bareng kita!"ucap Isma sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.


"Sana lo geser, gue mau duduk deket tunangan gue!"jawab Davian sambil menepuk bahu sepupunya.


"Dih, pepet aja terus pepet!!"omel Isma namun bergeser juga ke kursi sebelah. Davian hanya terkekeh geli mendengar ocehan sepupu bawelnya.


"Jadi beneran kemarin tuh kamu sengaja cubit aku ya?"sambil melirik ke arah Rain yang masih diam seribu bahasa. Sementara Dio dan Ikoh asyik berbincang sampai ketawa lepas.


"Emm,,, bonus aja si!"jawab Rain sambil terkekeh,"emang kamu berantem sama siapa si ampe lebam kek gitu?"lanjutnya.


"Tapi kamu nggak akan marah kan?"ucap Davi meyakinkan, dan mendapat gelengan dari gadis mungil itu.


"Tiap cewek yang aku samperin, semuanya nggak nerima, mereka malah ingin aku nikahin mereka, karena aku nolak eh pipi aku jadi sasaran, cuma satu yang nerima yang terakhir, bahkan dia bantuin kompres juga."jelasnya yang membuat Rain menahan senyumnya.


"Jago bener tuh cewek-ceweknya ampe bikin lebam gitu!"oceh Rain sambil terkekeh.


"Ya iyalah,, orang digampar puluhan cewek, gimana ga rusak tuh muka."timpal Dio yang langsung mendapat tendangan di kaki dari Davian.


"Hah,,,, puluhan?"pekik Rain kaget. "Diih nyebelin banget si!" lanjutnya.


"Kan apa gue bilang, dia emang nyebelin Rain."timpal Isma.


"Ya, tapi kan itu dulu, sekarang udah nggak, sayang!"bela Davian sambil menarik tangan Rain dan mengecup punggung tangannya.


******


Acara berlangsung hingga malam hari, bahkan keluarga Davian dan Rain sudah disediakan kamar masing-masing untuk mereka beristirahat. Acara berakhir sekitar jam 10 malam, mereka semua diantar ke kamar masing-masing oleh petugas hotel agar bisa beristirahat.


Saat ini Bu Ratna dan Rain tidur terpisah, namun kamar mereka bersebelahan. Rain masuk ke kamarnya setelah pamit pada sang ibu juga calon mertuanya.


Rain merebahkan tubuhnya yang lelah sebentar sebelum ia membersihkan dirinya yang lengket.


"Gue cape banget hari ini."gumamnya sambil menutupi wajahnya dengan lengannya. Hingga tak berapa lama ia pun terlelap dengan sepatu dan gaun pesta yang masih melekat pada tubuhnya.


Suara pintu terbuka dengan perlahan, tampak tubuh tinggi kekar memasuki kamar gadis itu. Wajahnya terlihat segar dan tampan, bahkan rambutnya masih sedikit basah, ia mendekati gadis yang terbaring dengan kakinya menjuntai ke bawah. Pria itu duduk di samping ranjang sambil mengusap rambut gadisnya.


"Makasih sayang!"bisiknya,namun gumaman dari gadis mungil itu membuatnya terdiam, "ayah!"


Gadis itu kemudian berbalik miring dan memegang tangan kekar Davian, "jangan tinggalin Rain, ayah!"gumaman itu terus terucap dari bibir ranum gadisnya. Davian berusaha tidak melakukan gerakan apa pun yang bisa membuat gadisnya terbangun. Kemudian pria yang sudah menjadi tunangannya itu mencoba ikut berbaring dan mengelus kepala gadisnya penuh kasih sayang.


Rain melesakan wajahnya ke dada bidang Davian sambil bergumam kembali, "Rain rindu ayah, biarkan Rain memeluk ayah!"sambil melingkarkan tangan mungilnya ke tubuh tegap Davian.


"Aduh,, gimana nih kalau ketauan pasti Rain bakal ngamuk!"gumamnya sambil menahan nafas agar gadis itu tak terbangun. Pelukan Rain semakin erat, seolah ia enggan untuk ditinggalkan. Davian yang sudah terperangkap tak bisa berbuat apa-apa, boro-boro buat bergerak melepaskan diri, sekedar nafas saja ia berusha mati-matian agar tak terdengar atau membuat gerakan yang bisa membangunkan gadisnya. Sampai akhirnya kantuk pun menyergap pria itu, nafasnya mulai berirama teratur menandakan bahwa ia sudah terlelap dan meraih mimpi indahnya.


Mereka tidur dengan posisi berpelukan,bahkan saat ini Rain tidur di lengan pria tampan itu.


Keesokan paginya suara alarm dari ponsel Rain membangunkan dirinya dari alam mimpi. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya yanh terasa perih, apalagi tubuhnya terasa pegal gara-gara semalam posisi tidurnya tak berubah. Namun saat ia menyadari ada benda keras di hadapannya, ia pun kembali mengucek matanya yang masih terasa perih, setelah nyawanya kembali berkumpul, gadis itu pun berteriak panik.


"Aaaaaaaaaaaa!!!!"