
Pagi ini Rain sudah dandan cantik dengan pakaian simple yang selalu ia sukai. Ia kurang nyaman jika bepergian dengan menggunakan dress,kecuali ke acara resmi itu pun terpaksa.
Hari ini sang kekasih akan menjemputnya dan pergi jalan-jalan untuk melepas rindu. Rain bahkan sudah izin pada sang ibu dari semalam, sehingga ia pun izin dulu nggak ikut ke kedai hari ini.
Rain memeriksa isi tasnya, kali aja ada yang ketinggalan. Bahkan bedak dan lipstik pun ia bawa, kali aja perlu. Padahal sebelumnya ia cuek banget apalagi soal make up.
Sekitar jam 10 pagi, terdengar suara deru mesin mobil di halaman depan. Sang ibu yang memang berniat menunggu Reza.
"Rain, Nak Reza udah dateng nih!" teriak Bu Ratna sambil membuka pintu depan. Tampak Reza dengan kemeja biru dan terlihat rapih, namun ada sorot mata lain yang Bu Ratna lihat.
"Iya, Bu bentar!" jawab Rain dari dalam. Bu Ratna mempersilahkan Reza masuk dan duduk, sebelumnya Reza mencium punggung tangan Bu Ratna dan menanyakan kabar, juga meminta maaf karena lama nggak berkunjung.
"Apa kamu sedang tidak enak badan, Nak?" tanya Bu Ratna karena melihat keadaan Reza yang seperti kelelahan dan matanya yang sedikit merah.
"Emm, aku baik-baik saja, Bu!" jawabnya singkat, karena Rain sudah berada di hadapannya. Gadis itu terlihat lebih cantik dan dewasa, apalagi pakaian yang digunakannya sangat pas dengan tubuh mungilnya.
"Maaf, Kak nunggu lama." ucap Rain sambil duduk di samping ibunya. Reza hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Oya mau minum apa, Kak?" lanjut Rain sedikit canggung. Namun cowok tampan di depannya hanya menggeleng dan menunjuk jam di tangannya. Rain pun mengerti kemudian mereka pun pamit.
"Hati-hati ya kalian, jangan pulang malem-malem!" nasihat Bu Ratna sambil memeluk erat putrinya.
"Titip Rain ya, jangan diapa-apain anak ibu!" tiba-tiba Bu Ratna berucap, yang membuat Rain menoleh dan bilang, "apaan sih bu?"
Kemudian mereka pun berangkat dan meninggalkan sang ibu sendirian. Rain sudah duduk di samping kemudi, dan memasang seatbeltnya. Setelah itu mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Rain masih agak canggung, mungkin karena lama nggak ketemu dan nggak ada kabar.
Reza kemudian mengusap lembut rambut gadisnya, lalu menggenggam tangan mungil Rain.
"Kita cari tempat baru buat makan siang kita!" ucapnya sambil tetap fokus menyetir tanpa melepas genggaman tangannya. Jantung Rain berdetak berantakan saat genggaman tangan sang kekasih makin erat, seolah ia takut untuk melepaskan.
Hening masih membentang diantara mereka hanya deru mesin mobil yang terdengar. Sampai akhirnya mobil berhenti karena lampu merah.
"Maafin aku ya Rain, nggak pernah ngabarin apalagi ngajak kamu jalan!" ucap Kak Reza tiba-tiba, yang membuat Rain menoleh ke arahnya.
"Iya nggak apa-apa, Kak, aku tahu mungkin Kakak sibuk." jawab Rain. Reza tersenyum ke arah gadisnya, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Rain yang sudah merona. Namun saat bibirnya hendak menyentuh bibir mungil Rain yang tinggal beberapa inci, suara klakson mobil dari belakang bersahutan, Reza pun terlonjak dan berbalik kemudian melajukan mobilnya kembali.
"Shit!" umpat Reza dalam hati. Sementara Rain hanya menunduk menahan malu, mungkin wajahnya sudah merah, karena pipinya terasa panas.
Sekitar satu jam lebih akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, tempat yang baru bagi Rain tapi tidak bagi Reza. Suasananya memang enak, adem, tapi kenapa tiba-tiba ada hatinya tidak nyaman.
Reza pun membuka pintu mobil untuk gadisnya, kemudian mengajak kekasihnya masuk ke restoran. Reza menggandeng tangan Rain dengan erat, setelah ia menanyakan pada pelayan restoran tentang tempat yang dipesannya.
Rain mengikutinya dari belakang. Tanpa berucap sepatah kata pun. Hingga rangkulan di bahunya membuatnya terhenyak.
"Kak!" pekiknya sambil menoleh ke arah cowok tinggi di sampingnya.
"Hmm,,, hari ini makan siang dan makan malam bareng aku ya!" ucapnya sambil terus berjalan menuju mejanya. Setelah sampai ia menarik kursi untuk duduk kekasihnya.
"Aku udah pesenin makanan spesial di sini, aku harap kamu suka ya!" lanjutnya sambil terus menatap intens ke arah gadisnya.
"Awasi terus mereka, gue mau ke toilet dulu bentar!" ucap orang yang tubuhnya paling tinggi diantara keduanya. Dua orang yang duduk sambil memakan makan siangnya mengacungkan jari tangannya berbentuk O.
Kembali ke meja Rain dan Reza, kedua orang yang saling melepas rindu itu, tampak bahagia.
"Kak, kalo sampe makan malam, emang seharian ini kita mau ke mana? Lagian aku takut ibu marah kalo pulang malem," ucap Rain saat ia baru selesai meminum minumannya.
"Aku udah minta izin sama ibu, Rain, kita jalan-jalan aja, aku kangen banget sama kamu," jawabnya, "aku takut kita nggak bisa bertemu lagi setelah ini," gumamnya pelan.
"Apa, Kak?" tanya Rain saat mendengar gumaman tak jelas dari kekasihnya.
"Nggak apa-apa, ayo habiskan makanannya, kita jalan lagi!" ucapnya sambil memalingkan wajahnya. Rain makin aneh dengan sikap Reza hari ini.
Setelah selesai akhirnya mereka keluar dan hendak melanjutkan perjalanan. Rain dan Reza sudah memasuki mobil mereka dan melajukannya dengan oecepatan sedang. Sementara jarak beberapa meter di belakang mereka, sebuah mobil mengikutinya.
Ternyata Rain dan Reza pergi ke pantai, mereka menikamti hari mereka dengan bahagia, apalagi Rain rasa rindunya selama ini akhirnya terobati. Seolah ia lupa kalo sebelumnya ia kesal dengan sang kekasih.
"Rain udah ampir sore nih, kita pulang yuk!" ajak Reza sambil menarik tangan kekasihnya. Rain menoleh ke arah kekasihnya dan mengangguk.
Kemudian mereka pun kembali ke mobil dan mulai pergi dari sana, Rain mengira kalau Reza akan mengajaknya pulang ke rumahnya. Tapi saat memperhatikan arah jalan ternyata berlawanan.
"Eeh,, tunggu, Kak, kita mau pulang ke mana? Rumah aku kan jalannya ke sana!" sambil menunjuk ke arah berlawanan.
"Emang kata siapa aku mau nganterin kamu pulang, kita pulang ke rumah kita sayang!" ucapnya sambil menyeringai yang membuat Rain sedikit takut.
"Rumah kita? Jangan ngarang deh, Kak!" sanggah Rain saat suasana di dalam mobil tiba-tiba tidak nyaman.
"Aku udah nyiapin semuanya buat kita, sayang, oya nanti kamu yang masak ya buat makan malam!" jawab Reza sambil tetap fokus menyetir, namun seringainya tak pernah hilang dari bibirnya.
Perjalanan terasa lama bagi Rain. Apalagi melihat Kak Reza yang berubah dingin.
"Kak...!" panggil Rain, namun tak ada jawaban dari cowok di sampingnya.
"Kamu akan jadi milik aku malam ini!" gumamnya dengan seringai di bibirnya. Namun ternyata Rain juga mendengar gumamam sang kekasih.
"Kak aku mau pulang!" pekik Rain sambil mengguncang lengan kekasihnya.
"Hmm"
Bersambung....
Happy Reading πππ
Menurut kalian apa yang bakalan dilakuin Reza ya..?
Makasih udah selalu baca novel amatir ini...
Jan lupa like, komen, sama votenya ya kl bisaπ
Tetap jaga kesehatan dan di rumah aja