"DR"

"DR"
Terjebak



Dio baru saja keluar dari ruangan Davian, ia juga mengunci pintu kamar yang ada di ruangan Davian tersebut dari luar.


"Puas-puasin deh lo sama gadis kesayangan lo, biar nggak balik lagi ke mantan lo!" gumamnya sambil berjalan menuju lift. Setelah ia masuk ke dalam lift, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding lift tersebut.


Tubuhnya memang terasa lelah hari ini, sehingga ia memutuskan untuk pulang dan istirahat, tanpa harus diganggu Davian dengan ceweknya.


Menjelang maghrib ia sampai di rumahnya, kemudian ia membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, bahkan ia berendam sedikit lama di bathtub untuk merelaxan tubuhnya yang penat.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia mengenakan piyama tidurnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang king sizenya, yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan karena kesibukannya. Tak menunggu lama rasa kantuk pun mulai hinggap di matanya yang memang sudah memerah. Ia pun akhirnya terlelap dengan nafas yang teratur.


######


Rain melepaskan pelukan Davian dan berlari menuju pintu, namun saat ia menarik handle pintunya, benda itu terkunci dari luar.


"Eh, kok nggak bisa dibuka?" pekiknya sambil terus menarik handle pintunya.


"Kenapa, Yank?" tanya Davian sambil menghampiri gadisnya yang terlihat panik.


"Ini pintunya nggak bisa dibuka, rencana kamu ya, Bang?" ucap Rain sarkas. Davian menggeleng kuat, "nggak sayang, aku beneran nggak tahu," sambil mencoba membuka pintunya yang ternyata benar-benar terkunci.


"Ya udah cari kunci cadangannya, pasti ada kan, Bang?" ucap Rain sambil berjalan menuju nakas dekat ranjang.


Davian juga ikut mencarinya, sampai akhirnya ia ingat, kalau kunci cadangannya ada di meja kerjanya.


"Aduh, si Dio apa-apaan si pake acara ngunci pintu segala, shit!" umpat Davian dalam hati, kemudian ia menghubungi sahabat sekaligus asisten pribadinya itu, namun panggilanya tak diangkat oleh si empunya ponsel.


"Gimana, Bang? Aku nggak mau kekunci di sini sama kamu ya," gerutu gadis mungil itu dengan bersandar pada pintu yang sudah jelas masih terkunci.


"Dio nggak angkat telpon aku, Yank!" jawab Davian sambil mencoba kembali menghubungi sahabat gilanya itu. Davian terlihat mengusak rambutnya gusar, ia khawatir kalau gadisnya akan marah lagi gara-gara ini.


Rain juga mencoba menghubungi Dio, tapi hasilnya sama pria berambut ikal itu tetap tidak menjawab telponnya. Langit telah berubah menjadi gelap, dan hal itu membuat Rain makin gusar, ia takut membuat ibunya khawatir.


"Gimana, Bang? Tanya satpam kek atau siapa gitu, kali aja masih ada di sini?" ucap Rain sambil mondar-mandir di depan pintu, ia seolah tak ingin untuk menjauh dari tempat itu.


"Iya sayang, aku lagi coba ini," ucap Davian lembut dengan ponsel menempel di telinga kirinya, ia mencoba menghubungi siapa saja yang dirasa bisa membantunya, tapi entah kenapa semua yang ia hubungi tak menjawab telponnya.


"Kok, tumben kompakan ni nggak jawab telpon aku?" ucapnya yang didengar oleh Rain.


"Tuh kan, ini mah akal-akalan kamu aja, pokoknya aku mau pulang!" omelnya sambil menekankan kata pulang bahkan sambil menghentakan kakinya yang malah membuat Davian menarik ujung bibirnya melihat tingkah gadis di depannya.


"Iya, sayang, tapi kalau pun kita kejebak di sini aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, biar aku telpon ibu buat jelasin semuanya," jelas Davian sambil menghampiri gadisnya yang sedang merajuk.


Davian terkekeh pelan mendengar omelan gadisnya pada sahabatnya itu, kemudian ia menarik lengan Rain dan mengajaknya duduk di sofa.


"Udah kita tunggu aja di sini, emang kamu nggak pegel dari berdiri terus?" ucap Davian sambil mendudukan Rain di sofa yang diikuti oleh dirinya. Gadis itu hanya menurut dan duduk di sofa, sampai akhirnya ia berucap, "ibu."


Davian pun langsung menelpon sang ibu dan memberi tahu kalau Rain ada bersamanya, ia juga menjelaskan kalau Rain membantunya mengobati luka yabg ada di tubuhnya. Dengan sedikit basa-basi akhirny sang ibu mengizinkan Rain dan bilang pada Davian agar menjaganya baik-baik.


Rain mendengar semua percakapan Davian dan ibunya dengan jelas, kemudian ia menghembuskan nafasnya lega, "ibu udah tenang si, sekarang aku yang nggak," bisiknya namun masih bisa didengar jelas oleh pria tinggi di sampingnya.


"Kenapa?" tanya Davian dengan megerutkan keningnya.


"Nggak apa-apa," jawab Rain pelan sambil mengeratkan jaketnya, karena malam ini terasa begitu dingin.


Hening membentang diantara mereka, Rain sibuk dengan ponselnya, sementara Davian masih berusaha menghubungi Dio.


"Kamu pasti lapar, Yank!" ucap Davian kemudian beranjak ke kulkas yang ada di pojok kamar itu, ia melihat kali aja ada sesuatu yang bisa mereka makan, karena sudah lama ia tak menempati kamar ini.


"Cuma ada cemilan ini sama coklat nih, Yank!" sambil mengacungkan tangannya yang memegang cemilan dan coklat. Rain hanya mengangguk mengiyakan, apalagi ia baru sadar kalau dari siang ia belum makan, gara-gara makan siang yang ia rencanakan dengan kekasihnya gagal gara-gara mantan.


"Gue nggak boleh tidur pokoknya," gumam Rain dalam hati, kemudoan ia kembali memainkan ponselnya, sampai ia akhirnya rasa kantuk hinggap pada dirinya. Tak terasa ia pun tidur bersandar pada sandaran sofa, sementara Davian masih memainkan ponselnya, hingga ia akhirnya menoleh dan sang kekasih yg terlelap. Setelah menunggu beberapa saat, pria itu pun menggendong gadis mungil yang terlelap begitu nyama untuk ditidurkan di ranjang. Sebelum beranjak Davian menyempatkan mencium kening gadisnya yang tertidur dengan nyenyak.


Sekitar jam 4 pagi , akhirnya Dio dapat ia hubungi, terdengar suara serak bangun tidur dari sebrang sana, "apaansi subuh-subuh nelpon?" omelnya.


"Siyalan lo, Yo kenapa lo ngunci gue sama Rain, buruan ke sini dan buka pintunya!" umpatnya.


"Yey, bukannya makasih, malah ngomel, abis ngapain aja lo?" kekehnya yang malah membuat Davian makin kesal.


"Maksud lo? Gue nggak segila dulu ya, buruan kesini sambil bawa sarapan!" titahnya dan panggilan telpon pun terputus.


Davian menyandarkan tubuhnya yang lelah ke sofa dan akhirnya terlelap juga.


Ceklek,,,,!


Bersambung.....


Happy Reading 😍😍 😍


Makasih ya buat selalu ninggalin jejak... Walau upnya lama