"DR"

"DR"
Malam Minggu



Sore ini Rain baru pulang kuliah, wajahnya nampak lelah, begitu juga Ikoh sahabatnya.


"Sumpah, ya hari ini dosennya pada killer semua, masa ngasih tugas nggak kira-kira,"gerutu Ikoh sambil terus berjalan bersama sahabatnya yang hanya mengangguk.


"Eh, bukannya lo malam ini mo ngedate ya sama om rese?"lanjutnya.


Rain yang sedari tadi sibuk dengan buku di tangannya tiba-tiba menoleh ke arah sahabatnya dan menepuk dahinya. "Kenapa lo?"


"Gue lupa sumpah, mana keadaan gue lecek gini, mood gue juga udah ancur mikirin tugas yang bejibun kek gini."ucapnya lirih.


"Emang lo mau langsung pergi ngedate tanpa pulang dulu ke rumah?"tanya Ikoh yang mendapat anggukan dari sahabatnya, "kenapa?"


"Hmm, tadinya gue mau nebeng lah, hehe."kekeh Ikoh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya udah si, ikut aja gue juga nggak tau bakal jadi apa nggak,"tanpa terasa mereka sudah ada di luar kampus dan sebuah mobil yang sangat ia kenali sudah ada di depan mereka. Davian keluar dari mobil dengan pakaian rapi, kemudian mengajak Rain dan Ikoh untuk masuk ke mobilnya.


Saat mereka semua sudah berada di mobil, Davian pun melajukannya dengan kecepatan sedang.


"Pada kenapa si? Mukanya lecek gitu?"ucap Davian membuka percakapan.


Rain menghela nafasnya pelan. "Kenapa, Yank?"


Dengan menunjukan kumpulan buku yang tadi ia simpan di jok belakang, Rain berucap, "banyak tugas aku, bang. Tahu tuh dosen hari ini kayanya lagi mode garang."


"Iya,Bang pada killer semua perasaan hari ini, masa ngasih tugas nggak kira-kira, padahal gue mo ngedate perdana lagi," tambah Ikoh sambil terus memeriksa ponselnya.


"Eh, tunggu maksud lo, ngedate perdana? Sama siapa ko nggak cerita ke gue si, Koh?"cecar Rain sambil menoleh ke belakang, sementara Ikoh pura-pura sibuk dengan ponselnya. "Koh!"


"Eh, Bang, aku turun di depan aja ya!"ucap Ikoh menghindari pertanyaan Rain. "Alfaikooh,,, ko gitu si?"gerutu Rain saat melihat Davian hanya mengangguk.


Kemudian Davian meminggirkan mobilnya dan berhenti di tempat yang ditunjuk Ikoh.


"Makasih, Bang!" ucap Ikoh sambil melambaikan tangannya ke arah sepasang kekasih di hadapannya, saat Rain hendak berucap, Ikoh langsung memotongnya, "udah lo, sana malam mingguan sama om kesayangan lo, entar gue pasti cerita, bye Rain!" kemudian Ikoh pun berlalu.


Davian mengusap pucuk kepala gadisnya, kemudian melajukan mobilnya.


"Bang, emang kita mau ke mana?"tanya Rain saat Davian tidak berucap apa-apa.


"Udah, kamu ikut aja, aku nggak bakal nyulik kamu kok!"jawabnya enteng tanpa menoleh ke arah Rain yang menatapnya.


"Yakali diculik, Bang, orang udah izin juga. Aku tuh takut kamu malu, liat aku lecek gini juga."oceh Rain sambil menoleh ke arah jendela.


Davian terkekeh mendengar ocehan gadisnya, "tumben kamu pengen terlihat cantik di depan aku, biasanya juga cuek?" godanya yang membuat Rain merona dan langsung membantah, "iih, bukan gitu, soalnya hari ini aku asli lelah banget, mana hari ini semua dosen ada."


"Bagi aku, gimana pun keadaan kamu di mata aku kamu tuh tetep cantik, sayang."sambil menarik dagu gadisnya yang menunduk.


Tak berapa lama mobil mereka berhenti di sebuah tempat unik, di sana berjejer tenda kemah, semuanya hampir terisi hanya tinggal beberapa tenda yang masih kosong.


"Kita ngapain ke sini?"tanya Rain saat Davian mengajaknya turun. Cowok tinggi itu bukan menjawab, ia hanya menarik gadisnya keluar, kemudian berjalan menuju tenda berwarna biru dan terlihat sedikit berbeda dari yang lainnya.


"Kita akan makan malam di sini, kamu pasti suka pemandangan malam di sini, Yank!"ucap Davian sambil mengeratkan pelukannya ke pinggang ramping Rain.


Rain hanya ber oh ria tanpa berucap apa-apa.


"Mau pesen makanan sekarang atau nanti? Atau mungkin kamu mau cemilan?"tanya Davian sambil memberikan daftar menu ke arah gadisnya yang menelungkupkan kepalanya di meja.


"Aku pengen bobo bentaran aja, Bang!"jawabnya lesu. Tanpa gadis itu sadari Davian kini berpindah tempat ke samping gadisnya, kemudian ia melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang ramping Rain, hingga membuat gadis itu duduk tegak.


"Abaaang!!"pekiknya tertahan. Namun Davian menempelkan telunjuknya ke bibir ranum Rain, kemudian menarik kepala gadisnya untuk bersandar di bahunya.


"Udah,kamu istirahat dulu, biar lelah kamu ilang!"bisiknya. Rain hanya menurut apa yang dikatakan Davian, karena saat ini tubuhnya memang lelah, tak berapa lama ia pun memejamkan matanya, namun jantungnya ternyata tak bisa diajak kompromi, ia malah berdetak lebih kencang.


Davian mengeratkan kedua tangannya di perut rata gadisnya, karena sekarang ia berpindah posisi ke belakang, agar gadisnya bersandar pada dada bidangnya. Sementara dagunya ia simpan di pucuk kepala gadisnya. Namun saat ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba Rain sedikit menegakan tubuhnya, hingga dagu Davian terantuk ke kepala Rain cukup keras.


"Aduuh! Kenapa si, Yank?" sambil mengusap dagunya dengan sebelah tangannya.


"Bang, bantuin aku ngerjain tugas dulu ya sambil nunggu makan malam!"ucapnya tanpa pikir panjang. Davian mengerutkan keningnya dalam, ia berfikir, apa iya punya pacar bocah emang gini? Masa kencan malah suruh ngerjain tugas kuliah?


"Kenapa? bantuin aku lah banyak banget tugasnya."lanjut Rain, hingga membuat Davian berdecak.


"Gini ya cantik, kita itu ke sini buat kencan bukan kerja kelompok,"ujar Davian sambil menjawil hidung mancung Rain gemas. Rain terdiam, namun kemudian ia berucap, "ya daripada kita diem nggak ada kerjaan kan makan malam juga masih lama."


Davian menghela nafasny pelan," emang menurut kamu, kencan itu apa?"


Rain berbalik ke arah Davian dan menjawab enteng, "makan malam kan?"


Davian dengan gemas menyambar bibir ranum Rain, hingga gadis itu hampir jatuh ke belakang, kalau tidak ditahan tangan Davian.


"Abaaang!!!"omel gadis itu setelah Davian melepaskan ciumannya. Davian terkekeh saat dada bidangnya dipukul Rain beberapa kali.


"Biar kamu ngerti "kencan" itu apa?"jawabnya enteng. Rain langsung membeku, saat mendengar ucapan kekasihnya, ia pikir bahwa kalau kencan itu, ia harus melakukan apa yang barusan terjadi. Tanpa sadar ia menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa, ah pokoknya abang mesti bantuin aku ngerjain tugas titik!"kemudian beranjak keluar hendak mengambil tas dan buku di mobil.


"Dasar bocah!"gumamnya pelan saat Rain sudah menjauh, namun tak berapa lama ia kembali lagi, "apa?"


"kunci, Bang!"sambil menengadahkan telapak tangannya.


Bukannya memberikan kunci, Davian dengan sengaja menarik tangan Rain hingga gadis itu jatuh dan menimpa tubuhnya. Pandangan mereka beradu, bahkan Rain tanpa sadar menikmati wajah tampan kekasihnya begitu dekat.


"Udah liatinnya, Yank?"godanya hingga membuat gadis merona dan buru-buru beranjak. "Apaan si"


"Aku tahu aku ganteng, makanya kamu harus bersyukur dapetin aku!"


"Dih.. "


Bersambung....


Happy Reading 😘😍


Ya ampun itu Rain apaan masa malam mingguan jadi kerja kelompok wkwkwkk...


Ya udahlah yang penting like, komen, sama votenya ya... 😘 😘 😘 😘