
"Om, tunggu!" ucap Rain sambil mendekat ke arah Davian. Cowok tinggi itu berbalik, dan sudah berhadapan langsung dengan gadis mungilnya. Rain yang tersentak kaget karena jarak mereka yang begitu dekat,langsung mundur satu langkah.
"Apa cantik!" jawab Davian degan senyum tertahan saat melihat gadisnya langsung mundur satu langkah.
"Emm,aku cuma mau bilang makasih, karena udah nolongin aku." ucapnya terbata dan menundukan kepala dalam.
Davian tersenyum dan mengusap kepala gadis di hadapannya, "iya, kamu udah berapa kali bilang itu sama aku." jawabnya.
Rain pun kembali setelah mempersilahkan Davian untuk segera kembali ke kantor. Sekarang gadis berambut panjang itu sedang membaringkan tubuhnya di kamar. Ikoh juga sudah pamit setelah Davian pergi.
"Kenapa gue bisa sebodoh ini, percaya gitu aja sama cowok macam dia." gumamnya sambil mengepalkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menutupi kedua matanya.
Tak berapa lama sebuah ketukan di pintu, membuat Rain beranjak, padahal ia baru saja akan terlelap.
"Rain, sayang, ini ibu, bolehkah ibu masuk, Nak?" tanya sang ibu dari luar dengan lembut, seolah ia takut mengganggu putrinya.
Rain pun langsung turun dari ranjangnya, kemudian membuka pintu kamarnya. Sang ibu sudah berdiri di depannya dengan wajah tersenyum yang meneduhkan hati gadis mungil itu.
Rain memeluk sang ibu dan mengajaknya masuk. Kemudian mereka duduk di tepi ranjang quin size milik Rain.
"Kamu baik-baik saja kan, Nak?" ada nada khawatir yang terselip dari ucapan Bu Ratna. Rain mengangguk san memegang tangan ibunya.
"Rain baik-baik saja, Bu!" saat melihat sang ibu dengan sorot mata khawatir. Bu Ratna kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda. Rain sempat mengerutkan keningnya saat melihat benda itu.
"Rain, sebenernya, ayahmu sudah memilihkan jodoh untukmu, sekarang sudah saatnya kamu tahu, apalagi setelah kejadian kemarin, ibu takut!" ucapnya sambil memberikan kotak merah muda itu ke tangan putrinya.
"Ibu dan ayah yakin dia jidoh terbaik untukmu, Nak!" lanjutnya. Rain membuka kotak tersebut di sana ada sebuah cincin yang disematkan di sebuah kalung.
"Memangnya dia mau sama Rain, Bu?" tanyanya sambil mengeluarkan kalung tersebut dari kotaknya.
"Ibu yakin, dia bakal suka dan sayang sama kamu, tapi untuk saat ini kamu selesaikan dulu kuliahmu!" jawabnya sambil mengusap rambut anak gadisnya.
"Rain takut mengecewakan dia, Bu!" sela Rain, apalagi bayangan kejadian kemarin tiba-tiba melintas di pikirannya. Sang ibu menggelengkan kepalanya, kemudian berucap, "nggak akan, kamu gadis baik-baik."
Rain pun memeluk sang ibu dengan erat, setelah itu, Bu Ratna pamit keluar dan menyuruh anak gadisnya untuk istirahat. Rain pun mengangguk, lalu ia kembali membaringkan tubuhnya.
Gadis itu memainkan kalung da cincin dari sang ibu, ia merasa pernah melihat kalung itu, tapi di mana, ia lupa. Hingga kantuk mulai menyergapnya dan akhirnya Rain terlelap dengan memegang kalung di tangannya.
*****
Di Kantor Davian
"Kita mesti ngasih pelajaran ke ba***ngan itu, Yo!" ucap Davian dengan tangan mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lo udah hajar dia ampe mukanya nggak berbentuk gitu, mau digimanain lagi?" jawab Dio santai.
"Oya kalau nggak salah tuh anak mau nikah beberapa hari lagi, bagaimana tuh muka ancur gitu ya, masa manten bonyok." lanjut Dio sambil terbahak, ia masih terbayang bagaimana muka Reza yang bonyok dihajar bosnya itu.
Davian menghela nafas berat, kemudian duduk di kursi kebesarannya, tangannya memegang pelipisnya. Masih terbayang wajah gadisnya yang ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari cowok gila itu.
"Gue nggak mau dia jadi milik orang lain, tapi gue juga bingung dengan pertunangan yang udah mamih siapkan buat gue, mana gue nggak tahu orangnya yang mana?" jelas Davian sambil mengusak rambutnya gusar.
"Sabar, Bos, ini ujian!" jawab Dio sambil menahan tawanya. Ia tahu kalau bosnya itu beneran udah jatuh cinta pada gadis jutek yang selalu menolaknya. Davian hanya menatap jengah pada Dio. Hingga ketukan di pintu mengalihkan mereka.
"Maaf, Pak, siang ini ada jadwal meeting dengan Pak Ruben." ucap Mba Lena sekretaris Davian.
"Ok!" jawab Davian kemudian bersiap untuk pergi ke ruang meeting, Dio pun mengikutinya dari belakang.
Sekitar satu jam mereka meeting untuk membahas proyek baru, kemudian mereka berlanjut ke restoran untuk makan siang.
"Lagi sakit." jawabnya datar.
"Oya, lupa nih ada undangan dari pemilik hotel Aulia, dia mau menikahkan putrinya." ucap Ruben sambil memberikan undangan pada Davian.
Davian dan Dio saling pandang kemudian melihat undangan yang diberikan Ruben. Tertera nama REZA MAHENDRA & RENA AULIA. Wajah Davian tiba-tiba mengeras, matanya memerah, seolah ia hendak menerkam siapa pun yang berani mengusiknya.
"Lo kenapa, Dav?" tanya Ruben heran. Namun pria di hadapannya hanya menggeleng, kemudian izin ke toilet.
"Kenapa, bos lu?" beralih pada Dio yang asyik memainkan ponselnya.
"Nggak apa-apa udah nggak usah dipikirin, eh tuh makanan kita udah datang!" jawab Dio, lalu memasukan ponselnya pada saku jasnya.
Acara makan siang pun berlangsung hening, tanpa percakapan berarti. Setelah itu Ruben pamit kembali ke kantornya, sementara Davian dan Dio masih berada di restoran.
"Ayo balik kantor! Nunggu apa lagi?" ajak Dio sambil beranjak.
Davian kemudian mengikuti Dio keluar dan memasuki mobilnya.
"Kita ke rumah Rain dulu, gue khawatir sama dia!" ucap Davian tiba-tiba.
"Tapi, Bos, kita masih ada satu meeting lagi, penting!" jawab Dio kemudian melajukan mobilnya kembali ke kantornya, tanpa menghiraukan ocehan bosnya.
Setelah sampai mereka langsung menuju ruang meeting lagi, dan membahas proyek besar dengan perusahaan lainnya. Davian nampak tak bersemangat, apalagi di pikirannya terus melintas bayangan gadis mungilnya.
Sekitar jam 4 sore, akhirnya meeting pun selesai. Davian bergegas keluar dan langsung menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Dio bahkan menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku bosnya yang tak biasa itu.
"Dulu nggak sampe segitunya ama cewek, malah dia sering lupa sama cewek yang pernah ia pake!" gumam Dio sambil mengikuti sahabatnya.
Davian langsung menyalakan mobilnya, sebelum Dio masuk, hingga ia buru-buru membuka pintu mobil dan duduk di samping kemudi.
"Setdah, lo mau ninggalin gue?" omel Dio, sambil memakai sabuk pengaman.
Davian langsung memacu mobilnya menuju rumah Rain, ia ingin segera sampai, padahal jaraknya nggak begitu jauh.
Hingga akhirnya ia sampai di persimpangan jalan menuju rumah gadisnya, namun saat akan memasuki halaman, nampak seorang pria berkacamata sedang ngobrol dengan Bu Ratna dan Rain, bahkan pria itu selalu mencuri pandang ke arah Rain.
"Siapa sih, cowok itu?" sewotnya pada Dio. Dio yang asyik main game di ponselnya, kemudian menoleh ke arah yang ditunjuk Davian. Akhirnya Dio hanya mengangkat bahunya dan balik fokus ke ponselnya.
"Ayo katanya mau ke rumah gadisku!" ejek Dio sambil terkekeh. Tanpa menunggu jawaban Davian sudah memasukan mobilnya ke halaman rumah Rain.
Ketiga orang yang berbincang di teras depan pun menoleh ke arah mereka. Pria berkacamata itu langsung pamit undur diri.
Saat melewati Davian da Dio yang baru keluar dari mobilnya, pria itu memberi tatapan tak bersahabat pada keduanya.
"Apa-apaan!"
Bersambung....
Happy Reading 😘😘
Mf telat bgt up nya,,,
Jan lupa like, komen, vote nya ya jan di favoritin jg biar gampang... 😘🤗
Tetap jaga kesehatan dan dirumahaja