
Bu Ratna pulang ke rumah menjelang maghrib. Namun ia kaget saat tidak ada putrinya di rumah, hanya ada Refal yang baru selesai mandi.
"Lho, adek kamu kemana? Katanya tadi pulang duluan." jelas Bu Ratna pada Refal yang nampak mengerutkan dahinya.
"Tadi aku pas pulang di rumah kosong kok, nggak ada Rain. Ntar biar aku cari, Bu." jawab Refal kemudian ia pamit ke kamarnya.
Bu Ratna pun mengangguk dan menuju ke kamarnya. Setelah itu ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Sekitar jam 7 malam Bu Ratna dan Refal duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Gimana, adek kamu udah bisa dihubungi?" tanya Bu Ratna sambil mengambil remot TV untuk memindahkan ke saluran lain.
"Udah, Bu bentar lagi juga pulang, katanya tadi diajak Davian makan malam dulu." ucap Refal sambil memainkan ponselnya.
"Kok bisa, tadi katanya mau pulang ngerjain tugas, sekarang malah makan malam sama Davi?" ucap Bu Ratna sedikit kesal.
"Ibu kaya nggak tahu aja gimana Davian, segitu bucinnya sama Rain," jawab Refal dengan maksud menenangkan sang ibu.
Bu Ratna mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan putra sulungnya itu.
***
Di Rumah Davian
Rain sedang membantu mami Sherly memasak untuk makan malam mereka. Sementara Davian duduk di ruang keluarga dengan memainkan ponselnya. Tak berapa lama Refal menelpon dan menanyakan keberadaan adiknya. Davian pun menjawab, "tenang aja dia sama aku, mau makan malam dulu, setelah itu aku anterin pulang," kemudian sambungan telpon pun terputus.
Sementara di dapur sang mami terus berbincang tentang pernikahan mereka.
"Kamu mau acara seperti apa buat pernikahan nanti?" tanyanya pada Rain. Sementara gadis di sampingnya yang sedang fokus memasak itu hanya tersenyum tanpa menjawab, sebenarnya ia bingung karena ini terlalu mendadak.
"Oya bilang sama ibu, besok mami dan keluarga bakal datang ke rumah buat ngebahas semuanya ya!" lanjutnya dengan wajah yang selalu terlihat bahagia sejak Davian bilang akan menikah minggu ini.
"Iya, mi nanti Rain sampaikan ke ibu." jawabnya karena ia tak mungkin merusak kebahagiaan seorang ibu di depannya.
Tak berapa lama masakan pun siap, Rain dan sang mami membawanya ke meja makan dibantu juga oleh asisten rumah tangganya kelurga Davian.
Acara makan malam berlangsung dengan perbincangan seputar pernikahan mereka, namun hal itu malah membuat Rain makin nggak nyaman dan ingin cepat pulang.
"Oya, mami udah pesenin baju buat pernikahan kalian di butiknya Jeng Desi, jadi nanti kalian tinggal fitting bajunya aja ya!" ucap mami Sherly saat mereka selesai makan malamnya.
"Iya, Mi, nanti Davian sama Rain ke sana tentuin aja kapan kita harus ke sana," jawab Davian sambil menarik gadisnya ke lantai atas.
"Mau ngapain si, Bang ke atas?"bisik Rain sedikit menggerutu.
"Ikut aja bentar, ada yang mau aku tunjukkan!" jawabnya santai sambil terus menggenggam tangan mungil gadisnya.
Rain pun akhirnya pasrah dan mengikuti pria tinggi itu.
Saat mereka sampai di lantai atas, Davian langsung berbalik dan memeluk Rain erat, hingga membuat gadis itu mengerjap kaget.
"Makasih sayang!" bisiknya sambil mempererat pelukannya yang membuat Rain sesak.
"Bang, sesek aku," ucap Rain sambil menepuk punggung kekasihnya.
"Maaf, Yank!" jawab Davian kemudian melepas pelukannya.
"Udahlah ayo pulang, Bang udah malam ini, mana aku nggak bilang sama ibu." ucap Rain sambil berbalik hendak ke lantai bawah.
"Bentar lagi lah, Yank, masih kangen aku!" jawab Davian sambil memeluknya dari belakang. Rain berdecak kesal saat tangan kekar itu ada perut ratanya.
"Bentar kamu mah lama, udah hayu!" ucap Rain sambil melepaskan pelukannya, kemudian ia berjalan ke lantai bawah.
Davian pun mengalah dan mengikuti gadisnya ke lantai kemudian mereka pamit untuk pulang.
Di perjalanan pulang Rain nampak gusar, ia merasa tak tenang, ia menjalinkan kedua jari tangannya yang berkeringat.
"Kamu kenapa si, Yank?" tanya Davian saat melihat kegelisahan gadisnya sejak tadi.
"Ini semua gara-gara kamu, Bang," gerutunya cepat sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Iya, kamu ngapain si pengen nikah minggu ini, mendadak banget kayak kita abis ngapa-ngapain aja," omelnya sambil mengerucutkan bibir mungilnya.
Davian yang mendengar itu malah terkekeh dan menggoda gadis yang sejak merajuk di sampingnya, "lah kita kan emang udah ngapa-ngapain."
"Abaaang!!!!" teriak Rain kesal sambil memukul lengan pria di sampingnya.
"Kamu abis ngapain aku?" tanyanya galak. Namun pria di sampingnya malah tertawa lepas sekarang bukan terkekeh lagi.
"Iih abaaang!!!" kesal Rain.
"Nggak sayang, aku nggak ngapain kamu cuma peluk cium doang, itu juga susah," jelas Davian sambil mengusap pucuk kepala gadisnya.
Rain masih cemberut dengan melihat kedua tangannya di depan dada.
"Oya, Bang masalah foto kamu sama mantan kamu itu jangan sampai ibu tahu ya, aku nggak mau ibu jadi kepikiran, dan satu lagi aku belum bisa nerima penjelasan kamu tentang hal itu kali aja kamu beneran bohong kan?" jelas Rain pada Davian.
"Lagian kamu tuh masa persiapan nikah cuma seminggu, emang bisa?" tanya Rain lagi dengan nada sedikit lembut.
"Bisa sayang, apa si yang nggak bisa buat kamu," jawab Davian, kemudian menghentikan mobilnya di depan rumah Rain.
"Ngapain berhenti, cepetan jalan ntar keburu malam kasihan ibu," omel Rain yang tak menyadari kalau mereka telah sampai, karena sejak tadi ia hanya berbalik menatap Davian.
"Udah sampai cantik!" jawab Davian dengan menjawil hidung mancung gadis di depannya yang masih melipat tangannya. Rain pun berbalik dan melihat ke arah rumahnya, kemudian tanpa menunggu lagi ia langsung membuka pintu mobil dan keluar.
"Tunggu, Yank!" sambil mengikuti Rain dari belakang.
Setelah sampai di depan pintu, Rain mengehela nafas dalam dan menghembuskannya pelan, kemudian membuka pintu pelan sambil mengucap salam. Tak berapa ada jawaban dari dalam.
"Rain, kamu udah pulang, Nak?" tanya Bu Ratna sambil memeluk anak gadisnya.
"Iya, Bu maafin Rain nggak bilang dulu ke ibu, pasti ibu khawatir." sesal Rain.
"Ini salah Davi, Bu, nggak bilang dulu ke ibu, maafin Davi." sela Davian kemudian mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya, setelah ia melepaskan pelukannya pada Rain.
"Iya, udah lain kali bilang, jangan berbohong lagi!" sindir Bu Ratna pada gadisnya. Rain menundukkan kepalanya dalam, ia merasa bersalah karena telah berbohong dan membuat sang ibu khawatir.
"Oya, Bu besok mami sama papi mau datang ke sini untuk bahas acara pernikahan Davi sama Rain minggu ini." ucap Davian mengalihkan pembicaraan.
"Apa?"
"Iya, Bu Davi mau Rain nikah sama Dav8 minggu ini juga."
"Tunggu, kok mendadak begini, kalian nggak ngelakuin hal di luar batas kan?" tanya Bu Ratna curiga.
"Ya Allah, Bu, Rain nggak ngelakuin apa-apa sama Bang Davi, iya kan Bang?" ucap Rain meminta persetujuan dari kekasihnya.
"Nggak lah, Bu."
"Ibu khawatir aja soalnya kemarin kan kalian barengan sampai Rain pulang pagi." jelas Bu Ratna.
Rain pun ingat saat ia bangun di kantor Davian, tubuhnya masih terbungkus lengkap dengan pakaiannya. Malah Davian juga tidur di sofa bukan di ranjang bersamanya, makanya ia yakin kalau tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
"Iya, bu kita nggak ngelakuin apa-apa." ulang Rain meyakinkan sang ibu.
"Baiklah ibu percaya sama kalian, ibu bahagia kalau kalian sudah siap untuk menikah, biar ibu bisa cepet gendong cucu," ujarnya dengan wajah berseri-seri.
"Ibuuu...!" rajuk Rain saat mendengar ucapan sang ibu.
"Tenang aja, Bu, Davi bakal memberi ibu sama mami cucu yang banyak," celoteh Davian yang malah mendapat cubitan do lengannya.
Bersambung....
Happy Reading 😍😘
Jan bosen nunggu cerita Bang Davian sama Rain ya,,,
Sun online buat kalian semua😘😘😘