
Rain yang habis shubuh, rebahan lagi karena Ikoh nginep setelah acara kemarin. Dua sahabat itu sebenarnya baru tidur setelah subuh, karena semalaman mereka curhat, ya kalian tahu kalau cewek udah ngobrol pasti lupa waktu.
Sekitar jam 10 pagi Davian sudah datang ke rumah Rain dengan pakaian santai, ia hanya mengenakan kaos putih dan jins hitam yang menampakkan otot perutnya yang sispeck.
"Rain nya udah siap, Bu?" saat sang ibu menyuruhnya masuk dan duduk.
"Sebentar ya, ibu lihat dulu soalnya tadi abis subuh dia balik ke kamar lagi," sambil berjalan meninggalkan Davian menuju kamar putrinya. Saat ia sampai di depan pintu kamar sang putri, ia pun mengetuk benda di hadapannya dan memanggil putrinya.
"Rain sayang, kamu sudah siap? Davi sudah nunggu tuh di depan!" ucapnya lembut, namun lama menunggu tak ada jawaban dari dalam, hingga akhirnya ia memutuskan membuka pintu kamar Rain.
Saat pintu terbuka terlihat dua gadis sedang bergelung di dalam Selimutnya ga sms .
"Astagfirullah, Rain, Ikoh!" pekik Bu Ratna sambil mengguncang bahu mereka. Ikoh merasa tubuhnya terguncang, pelan-pelan membuka matanya dan mengerjap kaget saat Bu Ratna nampak di depannya dengan melipat tangan di depan dada.
"Bu, ma-maaf Ikoh sama Rain baru tidur tadi sehabis subuh," ucapnya dengan terbata sambil mengucek matanya.
Sementara Rain masih asyik dengan mimpinya, Bu Ratna juga sempat heran dengan tingkah putrinya yang tidak biasa hari ini.
Ikoh pun beranjak dan pamit untuk mandi.
"Rain, kamu nggak mau bangun? Sekarang kan harus fitting baju pengantin kalian," ucap Bu Ratna sekali lagi sambil duduk di samping ranjang Rain. Namun Rain hanya bergumam sedikit, "masih ngantuk, Bu", sambil tetap memejamkan matanya.
Akhirnya Bu Ratna pun menyerah dan hendak ke depan untuk memberi tahu Davian. Saat sampai di ruang tamu tampak pria berbaju hitam itu sedang fokus pada ponselnya.
"Dav!"
"Eh, Bu mana Rainnya?"
"Dia, mmm,,, masih tidur, Dav, ibu juga heran biasanya dia nggak kaya gitu.!" ucap Bu Ratna dengan rasa meyesal.
Davian hanya tersenyum, kemudian ia meminta izin pada calon mertuanya itu untuk membangunkan gadisnya.
Bu Ratna pun mengangguk dan mempersilahkan Davi ke kamar Rain, ia berfikir toh sebentar lagi juga mereka halal.
Davian pun beranjak dan berjalan menuju kamar gadisnya. Tampak gadisnya itu sedang meringkuk dibalik selimut tebalnya. Dengan perlahan Davian mendekati gadisnya, dan mulai menjawil hidung mancung gadisnya dengan gemas.
"Banguun, Yank!" bisiknya tepat di telinga gadis itu. Rain yang mulai tersadar dari tidurnya, namun masih memejamkan matanya merasa kalau yang membangunkannya bukan lagi ibunya.
"Atuhlah, Bang Refal, Rain masih ngantuk bentar lagi lah, lima menit!" kemudian berbalik membelakangi Davian yang nampak berdecak.
"Kalau nggak mau bangun juga, aku cium nih!" sambil ikut naik ke ranjang dan berbaring miring menghadap ke arah gadisnya.
"Astagfirullah, Bang, ini adek mu masa gitu sih?" sambil tetap memejamkan matanya.
"Aku, Davian sayang!" sambil memcium bibir mungil gadisnya walau hanya menempel saja,dan itu berhasil membuat Rain bangun.
"Abaaaang!!!" pekik Rain sambil langsung beranjak duduk. Saat sadar ternyata yang ada di hadapannya Davian.
"Ngapain di sini, Bang?" tanyanya dengan rambut yang masih berantakan dan malah terlihat sexy di mata Davian. Pria itu hanya berdecak sambil ikut duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Kamu lupa, jadwal kita hari ini, sayang?" ucapnya gemas.
"Emang mau ke mana gitu?" balik tanya Rain, dan Davian menyadari kalau gadisnya masih belum sepenuhnya bangun. Tanpa menjawab Davian beranjak dari tempat tidur Rain, kemudian dengan cepat menggendong Rain ala bridal yang membuat gadis itu memekik, kaget.
"Abaang!!"
Davian terus membawa gadis mungil itu menuju kamar mandi, setelah sampai do depan pintu kamar mandi, tampak Ikoh keluar dengan handuk melilit di kepalanya.
"Rain, yaelah mentang-mentang manten baru, manja amat si lo!" goda Ikoh sambil berjalan melewati mereka.
"Berisik,lo!!"
"Abang, turunin kenapa si?" sambil memukul dada bidang calon suaminya.
"Yah, kirain mau sekalian dimandiin!" goda Davian yang malah langsung mendapat cubitan dari kekasihnya.
"Iya, iya aku turunin," sambil menurunkan tubuh mungil gadisnya. "Ya udah sana mandi, aku tunggu di depan ya!" lanjutnya sambil mencium pipi gadisnya sekilas.
"Abaaang!!!"
"Sue, pagi-pagi udah spaneng gini gue, gimana entar kalau udah nikah," ocehnya sambil masuk ke kamar mandi.
Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya Davian dan Rain berangkat juga, setelah pamit pada sang ibu dan Ikoh.
"Tumben bangun siang, Yank?" kalimat itu yang pertama meluncur dari bibir Davian saat mulai melajukan mobilnya.
"Iya, maaf semalam aku sama Ikoh bergadang sambil cerita sampai subuh, padahal aku sudah setel alarm juga kalau hari ini kita fitting baju," jelas Rain sambil memilin jari jemarinya.
Davian langsung menggandeng Rain saat mereka turun dari mobil. Ia mengajak gadisnya masuk ke butik, karena mereka sudah ditunggu oleh si empunya butik.
Saat mereka masuk, tampak dua orang wanita sedang duduk di sofa, yang satu sedang menggendong seorang bayi perempuan, sedang satunya lagi tampak mengajak main bayi gembil itu.
Setelah mengucap salam dan bilang kalau mereka akan fitting baju pengantin atas nama Davian dan Rain. Wanita paruh baya yang tadi mengajak main bayi itu pun beranjak.
"Eh, Davi ya putranya jeng Sherly, sini udah tante siapin semuanya!" ucap Bu Desi sambil mengajak mereka ke ruang ganti dan menyuruh beberapa pegawainya untuk membantu mereka.
Davian dan Rain pun mencoba beberapa buah baju untuk acara pernikahan mereka. Davian tampak gagah dengan tuxedo putihnya yang pas melekat di tubuhnya, sementara Rain yang memang memiliki tubuh yang mungil, ada beberapa baju yang harus sedikit dirombak ukurannya yang agak kebesaran di tubuhnya yang mungil.
Setelah selesai, Davian dan Rain duduk di sofa dengan wanita yang menggendong bayi gembilnya itu.
"Lucu banget bayinya, mba, usianya berapa bulan?" tanya Rain ramah sambil mengelus pipi gembil bayi perempuan itu.
"Dia baru berusia enam bulan," jawabnya ramah, sementara Davian sibuk dengan ponaelnya.
"Namanya siapa sih, anak manis?" tanya Rain kembali dengan suara seperti anak kecil.
"Naritta, onty!" jawab Marsha dengan suara yang sama seperti Rain. Dia adalah menantu Bu Desi istri dari putranya yang bernama Alfan Wijaya.
Mereka pun berbincang sampai Rain akhirnya bisa menggendong bayi cantik itu.
Davian yang melihat Rain menggendong seorang bayi, tiba-tiba berbisik ke telinga Rain, "bentar lagi kita bikin yang kayak gini, Yank!"
"Ih, abang apaan si,malu tahu!" omel Rain dengan menatap jengah ke arah kekasihnya. Marsha yang melihat itu hanya terkekeh geli.
Tak lama kemudian, Bu Desi datang menghampiri mereka, dan bilang kalaun baju pengantinnya bisa diambil besok sore setelah, baju untuk Rain diperbaiki sedikit. Davian dan Rain pun akhirnya pamit, dan tak lupa mengundang Marsha dan baby Naritta untuk hadir si acara pernikahannya.
****
"Kita makan siang dulu, Yank, aku yahu kamu pasti lapar, apalagi tadi nggak sempat sarapan juga kan?" ucap Davian sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Rain hanya mengangguk sambil memeriksa ponselnya yang berdering. Kemudian ia pun mengangkat panggilan telpon yang tanpa nama itu.
"Halo?" ucap Rain ragu.
"Halo, sayang aku nggak nyangka ternyata kamu mau nikah sama Davian yang jelas-jelas sudah punya anak dari perempuan lain." ucap suara bariton di seberang sana yang membuat gadis itu pucat pasi.
"Ka-kamu siapa?"
"Aku orang yang selalu mencintaimu, Rain Almahera!" ucapnya dengan penuh penekanan.
Davian menoleh dan menggenggam tangan mungil gadisnya yang nampak pucat. Ia yakin ada yang tak beres dengan telponnya.
"Yank?"
"Aku akan tunggu kamu di taman baca besok siang, aku akan buktikan kalau Davian itu bukan cowok yang panyas buat kamu" lanjutnya.
"Aku_"
Tut.. Tut... Tut.
Sambungan telponnya terputus saat Eain belum mwnyelesaikan ucapannya.
"Yank, kamu baik-baik aja kan?" tanya Davian khawatir.
"Iya, aku baik-baik saja," jawab Rain datar.
"Aku akan tahu besok tentang kebenaran anak itu, Bang!" gumamnya dalam hati.
"Yank!"
"Mmm"
Bersambung....
Im kambek 😅
Happy Reading jan lupa tinggalin jejak ya, karena ternyata komen dan like kalian membuat aku kecanduan😂😂
Monmaaf sekali lagi untuk saat ini belum bisa up tiap hari ya...
Makasih buat kalian yang selalu setia nunggu babang Davi.
Entar aku undang deh kalian ke nikahan babang Davi nya, tapi komen up, next, lanjut dulu biar ke absen wkwkwkwk