
Rain dan Davian pulang setelah mereka makan malam, jadi dari makan siang mereka lanjut jalan-jalan dan belanja juga untuk mengisi kulkas yang tampak bersih.
"Aku cape banget nih, Yank!" ucap Davian sambil membantingkan tubuhnnya di sofa setelah membawa barang belanjaan ke dapur dan dibereskan oleh sang istri.
"Dulu aku tiap hari, Bang belanja kayak gini, lebih banyak malah," ucap Rain dari arah dapur, sambil berjalan menuju suaminya dengan segelar air putih di tangannya.
Davian nampak salah tingkah mendengar ucapan istrinya. "Maaf, Yank, aku kan nggak pernah belanja sebelumnya," ucapnya sambil mengusap tengkuknya.
"Terus waktu dulu kerja di kedai ibu?" tanya Rain heran. Davian nampak terkekeh, "yang belanja kan Dio, aku nunggu beres aja."
Ia tak bilang kalau dulu ia sering mampir ke rumah kekasihnya.
"Dih, pantesan," ucap Rain sambil duduk di samping suaminya yang mulai menenggak minumannya. Tak berapa lama Rain kembali beranjak.
"Mau kemana, Yank?" tanyanya sambil menarik tangan istrinya.
"Mau mandi lah, gerah badan lengket gini," ucapnya sambil menoleh ke arah suaminya yang tiba-tiba tersenyum lebar, "kenapa?"
"Ikut!" ucapnya sambil menarik tangan istrinya hingga tubuh mungilnya jatuh di pangkuan Davian.
"Iih,,, nggak!" tolak Rain sambil memalingkan wajahnya. Namun Davian tak menghiraukan ucapan istrinya, ia langsung memggendong istrinya ke kamar dan membawanya ke kamar mandi.
"Abaaang!!!" pekik Rain saat mereka masuk ke bathtub bersama-sama. Bahkan pakaian mereka masih melekat di tubuhnya.
"Aku udah nahan lama lo, Yank," ucapnya serak yang membuat Rain mengerjap.
"I-iya, aku tahu tapi masa di sini?" jawab Rain gagap. Davian terkekeh, ia lupa kalau bagi istrinya hal ini adalah pengalaman pertamanya, beda dengan dirinya yang sudah berpengalaman.
"Ya udah, kita mandi aja dulu biar lanjut nanti." ucapnya sambil mulai menanggalkan pakaiannya. Rain memalingkan wajahnya saat suaminya akan menurunkan celana panjangnya.
Jantungnya berdetak tak karuan, ia memegang erat pinggiran bathtub.
Sementara Davian menikmati wajah yang bersemu merah itu yang terlihat lebih cantik dan menggemaskan.
"Mandinya mau pake baju, Yank?" bisiknya yang membuat sang istri mengerjap kaget.
"Hmm, ya nggak lah," ucapnya tanpa menatap sang suami yang sudah sangat dekat dengannya. "Terus?" goda Davian sambil menarik satu tangan istrinya dan menciuminya dengan lembut.
"Malu," gumam Rain namun terdengar jelas oleh sang suami. "Kenapa mesti malu, aku kan suami kamu, milik kamu, Sayang!" sambil mencium bibir istrinya sekilas yang nampak sedikit pucat. Dengan perlahan namun pasti Davian meminta izin untuk membuka pakaian sang istri, walau pun sangat malu tapi akhirnya Rain pun mengangguk dan memejamkan kedua matanya.
"Buka dong matanya, Yank!" goda Davian saat mereka berdua sudah dalam keadaan toples. Rain menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku janji, kita cuma mandi doang, yank!" bisik Davian agar istrinya lebih rileks.
Rain menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya, sementara kakinya ia rapatkan agar area sensitifnya tetap tertutup. "Sialan, kenapa keadaannya bisa kayak gini, gue serius gemeteran ini," gumam Rain dalam hati.
Acara mandi yang terasa amat lama bagi Rain, akhirnya berakhir. Davian dengan telaten memberikan handuk pada sang istri, yang masih betah meringkuk di bathtub. Setelah Rain menerima handuknya dengan cepat ia memakainnya. Namun tanpa ia duga, Davian langsung menggendongnya ala brydal.
"Abaaang!!!" pekik Rain saat tubuhnya tiba-tiba melayang, apalagi handuk yang diberikan suaminya hanya menutupi sampai pahanya saja.
Davian hanya tersenyum puas, kemudian dengan santainya membawa sang istri menuju ranjang kinh size mereka. Kemudian dengan lembut membaringkan tubuh mungil sang istri yang berubah menjadi tegang.
Davian mencoba menenangkan sang istri dan berucap, "semuanya akan baik-baik saja, Yank. Mungkin untuk yang pertama memang sedikit sakit tapi tidak akan lama." Rain malah makin terlihat pucat mendengar ucapan suaminya.
Davian kemudian mencium bibir mungil istrinya dengan lembut, walaupun Rain membalasnya dengan susah payah karena ia tahu istrinya memang belum berpengalaman. Namun lama-lama hal itu semakin menuntut dan membuat mereka terbuai, hingga tarikan pada handuk sang istri pun tak disadarinya.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi pengantin baru ini, yanh baru bisa melaksanakan malam pertama mereka setelah beberapa hari.
(aduh othor hareudang... π)
Setelah puas, Davian mengangkat kepalanya dan menatap sang istri dengan wajah yang merona dan menggigit bibir bawahnya, yang malah membuat hasrat Davian untuk menyatu semakin menggebu.
"Siap kan, Sayang!" bisiknya parau, dan hanya anggukan yang ia terima dari sang istri. Davian pun memulai untuk menyatukan dirinya, hingga sebuah cengkraman di bahunya terasa begitu kuat, apalagi saat sang istri mulai merintih kesakitan dan mengeluarkan air mata.
Davian selalu mencumbu sang istri untuk mengalihkan rasa sakit yang ia alami, hingga cakaran di lengannya terasa begitu perih saat ia mulai menginvestkan saham pada rahim sang istri.
Ia pun terkulai lemas di tubuh sang istri uang penuh dengan peluh, kemudian berbisik, "makasih sayang, I LOVE YOU SO MUCH"
Rain hanya menganggukan kepala dengan nafas yang masih memburu. Ini merupakan pengalaman pertama baginya, dan sekarang ia sudah seutuhnya menjadi milik Davian.
Setelah itu, mereka pun terlelap dalam tidur dengan saling berpelukan
*****
Keesokan paginya
Cahaya matahari yang terbit dengan malu-malu di balik awan, membuat suasana pagi ini menjadi mendung. Bahkan awan pun mulai menumpahkan air matanya ke bumi dengan irama yang beraturan.
Sepasang makhluk bumi, yang masih betah bergulung di dalam selimutnya, nampak sedang berdebat.
"Iih, abang geli tahu!" omel suara perempuan dengan sangat manjanya.
"Sekali lagi lah, Yank, abis semalam kamu malah langsung bobo!" bujuk sang pria dengan rayuannya.
"Nggak,,, masih sakit, Bang!"
Mereka Rain dan Davian yang baru semalam melakukan kewajibannya sebagai suami istri. Pagi ini hujan yang turun di pagi hari membuat cuaca semakin dingin dan mengajak orang untuk tetap rebahan.
Termasuk Davian dan Rain, mereka masih betah rebahan di kasur hangatnya dan tentu saja membangkitkan hasrat seorang Davian. Davian berusaha membujuk sang istri untuk mengulang candu barunya yang semalam.
"Iih,,, abang aku nggak mau masih sakit!" omel Rain sambil memukul dada suaminya.
"Nolak suami dosa lo, Yang!"
"Aku bukan nolak, tapi beneran sakit, abang, emang kamu nggak sakit apa?" ucap Rain dengan gemas. Davian hanya terkekeh dan berfikir, apa sepolos itu kah istrinya hingga ia menganggap seorang pria dewasa seperti dirinya akan kesakitan, yang ada nikmat yang tiada tara yang ia dapat.
"Ya, udah ntar siang aja ya?"
"Nggak,,, minggu depan aja!"
"Apa ?!"
Bersambung.....
Eeeeeaaaaa.....
Haredang2 panas2.... π
Tolong jan dibully ya,,, aku bikin part ini sampe tahan nafasπ
Jan lupa like sama komennya yang banyak vote juga ya walaupun poinnya 10 tapi itu sangat berarti buat aku...π π