
Gadis tinggi langsing itu begitu cantik dengan balutan kebaya gold di tubuhnya. Ia akan melaksanakan acara lamaran daei kekasihnya.
Gadis yang biasa berisik itu mendadak jadi anggun.
Rain dan Davian nampak hadir di sana dengan baju couple batik. Bu Ratna dan Refal juga hadir di sana, apalagi mami Sherly dan papi Rangga sudah pasti ada di sana. Karena hari ini hari lamaran untuk Isma dan Deril.
"Bang, mukanya calon Isma gitu amat ya?" bisik Rain pada sang suami yang duduk di sampingnya.
"Kenapa? Kamu suka?" jawab Davian dengan sewot.
"Ish, apaan si? Liat datar banget gitu sementara Isma kan berisik." omel sang istri yang gemas dengan kecemburuan suaminya.
"Kamu juga dulu gitu kalau ketemu aku, Yank, jutek," ucap Davian sambil menjawil hidung mancung istrinya.
"Dih, dulu kamu nyebelin, Om!" gerutu Rain dengan menekankan kata Om.
Davian berdecak mendengar gerutuan sang istri, "mau aku cium bolak-balik?"
Namun sebuah cubitan di lengannya membuatnya mengaduh, siapa lagi pelakunya kalau bukan sang istri.
Lama berdebat dengan sang istri, membuat Davian melupakan acara utama yang sedang ia hadiri, sampai akhirnya acara tukar cincin sudah dimulai.
Isma dan Deril duduk berhadapan, Deril memegang tangan mungil calon istrinya dan memasukan cincin berlian ke jari lentik sang kekasih.
Acara pun berlangsung lancar, walaupun hanya dihadiri oleh keluarga dekat saja.
Mereka juga langsung membahas acara pernikahan yang akan dilaksanakan sekitar dua minggu lagi.
"Jadi deal acaranya di hotel kami saja ya, bagaimana pun Isma sudah seperti anak perempuan kami," ucap Papi Rangga dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Semua orang pun mengangguk mengiyakan, jadi pasti setelah acara lamaran ini keluarga Isma sementara waktu akan tinggal di rumah papi Rangga.
"Bang, nanti kita ke rumah mami juga ya, biar bisa bantu-bantu di sana," bujuk Rain sambil menggandeng lengan sang suami saat mereka akan menikmati hidangan makan malam.
"Nggak usah, nanti dia rusuh, Yank!" jawab Davian sambil menatap sekilas ke arah sang istri yang nampak merajuk.
Mereka pun mulai antri untuk mengambil makanan yang mereka inginkan.
"Kamu duduk dulu gih! Biar aku yang ambilin buat kamu!" ucap Davian saat melihat sang istri yang nampak cemberut. Rain dengan senang hati meninggalkan sang suami dan mencari tempat duduk. Namun saat berjalan sendirian ada seseorang ya memanggil namanya.
"Rain!" suara bariton itu mengalihkan pandangannya hingga ia mematung saat pria tinggi yang dulu pernah ia cintai menghampirinya. "Kak Reza!" lirihnya sambil memundurkan langkahnya.
"Rain, maafkan aku!" ucapnya sambil meraih pergelangan tangan Rain yang sekarang nampak lebih cantik dengan pakaian batiknya.
"Lepas!!" bentak Rain kasar, tapi ia juga heran kenapa bisa ada Reza di acara Isma dan Deril.
"Kamu mungkin heran, kenapa aku bisa ada di sini?" ucapnya seolah bisa membaca pikiran gadis di depannya.
"Aku saudara jauh dari Deril, dia anak dari cucunya adik kakekku," jelasnya yang tak dihiraukan oleh Rain, gadis itu justru hendak meninggalkannya.
"Rain_"
"Abang sayang!" teriak Rain sambil menghambur ke pelukan suaminya yang memegang satu piring di tangan kirinya. Davian sempat mengerutkan keningnya saat melihat sang istri yang terlihat gelisah. "Kamu kenapa, Yank?"
Rain tak menjawab pertanyaan dari suaminya, namun pandangannya mengarah pada pria tinggi di depannya. Saat ia berbalik, Davian langsung mengepalkan tangannya hendak menyerang Reza, namun sebelumnya piring yang berisi makan malam mereka diberikan pada sang istri.
"Udah, Bang! Nggak usah diladenin, nggak penting juga," ucap Rain dengan sarkas sambil menahan lengan suaminya.
"Rain aku hanya ingin minta maaf atas perbuatanku dulu dan selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu bahagia!" ucap Reza dengan tulus, kemudian pamit undur diri.
Sementara Davian menatap ke arah sang istri dengan penuh selidik.
"Ada apa, Dav?" tanya Refal saat melihat ketegangan diantara mereka. Ikoh juga melirik ke arah sahabatnya yang nampak cemberut.
"Tadi ada Reza di sini, ngobrol tuh sama Rain," sindir Davian pada sang istri.
"Aku nggak ngobrol sama dia, Bang," bantahnya dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Tanpa mereka sadari Ikoh sudah hilang diantara mereka.
"Terus_"
"Dia yang manggil aku, terus bilang maaf, udah gitu aja yang aku denger yang lainnya aku nggak peduli." Jelas Rain kemudian beranjak dari sana dan meninggalkan suami serta abangnya.
"Udah kejar sana! Baru juga jadi manten sebulan masa udah marahan?" ucap Refal. Davian pun tanpa menunggu lagi, langsung mengejar sang istri yang terlihat menghampiri ibunya.
Davian dengan segera menghampiri sang istri, ia takut istrinya mengadu pada sang ibu.
Rain duduk bersama keluarga besar, saat Davian baru saja datang. Bu Ratna sang ibu mertua langsung mengajak Davian duduk di samping Rain.
"Kita lagi bahas buat acara pernikahan Isma nanti, kalian bantuin ya!" ucap mami Sherly pada Davian dan Rain. Rain mengangguk antusias berbeda dengan sang suami yang bersikap biasa-biasa.
Di taman balakang
Isma dan Deril duduk berdua di kursi taman dengan tangan yang saling menjalin.
"Aku bahagia banget, akhirnya kamu nikahin aku juga, Ril," ucap Isma pada Deril.
"Hmm" hanya itu yang terlontar dari pria tampan di sampingnya. Kadang orang yang tak mengenalnya akan sulit dengan ekspresi seorang Deril saat senang, bahagia, sedih, karena wajahnya terlalu datar, ia seolah tak mampu mengekpresikan suasana hatinya.
Namun perasaan cintanya pada Isma yang berisik dan bawel begitu besar. Gadis itu membuat hari-hari nya jadi berwarna.
"Ril, kamu bisa ngomong nggak sih?" gerutu Isma saat mendengar gumaman saja dari calon suaminya.
"Iya, sayang I Love You So Much Much Much!" ucap Deril kemudian mencium pipi Isma lama.
"Ekhem...!!" tiba-tiba suara orang berdehem terdengae dari belakang. Deril dan Isma pun refleks menoleh, ternyata ada Davian dan Rain, Ikoh juga Refal.
"Ish,, ganggu lo pada!" omel Isma saat melihat ke arah sepupunya.
"Yaelah yang mau jadi manten, sombong amat lu!" goda Davian dan malah duduk di antara mereka yang membuat Deril menggeser dan membuat Isma berdecak kesal.
"Jagain sepupu gue yang berisik ini ya! Walaupun berisik dan biang rusuh tapi gue sayang banget sama dia," ucap Davian sambil menepuk bahu tegap Deril.
"Iya, Bang!" ucap Deril santun, walau bagaimana pun ia masiherasa canggung jika harus pura-pura akrab dengan seorang Davian Bratasukma.
"Eh, Dav kok gue nggak lihat Dio, ke mana dia?" tanya Isma saat menyadari dari tadi tal melihat Dio sahabat Davian, yang biasanya di mana ada Davian pasti di situ ada Dio.
"Ya ampun gue lupa ngasih tahu dia," ucapnya sambil menepuk jidatnya.
Bersambung...
Happy Reading 😍😘
Yaah Bang Davi mentang-mentang udah nikah lupa ama soulmatenya Dio.
Tungguin beberapa part lagi ya karena Bang Davi tayang tinggal beberapa episode terakhir...!!
😂 😂 😂 tayang berasa main film ya...
Ya pokonya jan lupa tinggalin jejak oke 👌