
Davian mengantar Rain pulang ke rumahnya, malam juga semakin larut, Davian fokus menyetir karena sedari tadi gadisnya hanya diam.
Setelah berasa lama perjalanan yang ia tempuh, akhirnya mereka sampai di depan gadisnya.
Biasanya Rain suka langsung buru-buru keluar kalau sudah sampai di rumahnya, tapi sekarang ko diem bae.
"Yank, udah nyampe,"ucap Davian sambil membuka sabuk pengamannya, ia tak menyadari kalau Rain sudah terlelap dengan nafas yang teratur.
"Eh, tidur ya, malah makin gemesin nih bocah kalo tidur gini,"gumam Davian kemudian mengambil ponselnya, dengan jahilnya dia foto selfi bareng Rain yang masih terlelap dengan wajah polosnya. Setelah puas ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya, kemudian mencoba membangunkan gadisnya, namun hanya gumaman kecil yang ia dengar dari gadisnya dan ia pun kembali terlelap.
"Beneran lagi pengen dimanja ya sayang,"Davian berbicara sendiri sambil terkekeh, kemudian ia keluar dari mobil dan menggendong Rain ke dalam pelukannya, dan gadis itu benar-benar tertidur dengan nyenyak.
"Aku suka kamu yang manja kayak gini,"bisiknya pada Rain kemudian mengecup kening gadis itu lama. Dengan susah payah ia mengetuk pintu rumah Bu Ratna, sampai akhirnya wanita paruh baya itu membuka pintu dan tersentak kaget saat melihat anak gadisnya dalam gendongan Davian.
"Anak ibu kenapa?"sambil mengelus dahi putrinya panik.
"Nggak apa-apa bu, Rain hanya tertidur, maaf Davi nganterinnya terlalu malam, soalnya abis dari rumah sakit dulu."jawab Davian sambil masuk, dan Bu Ratna menyuruhnya untuk membaringkan Rain di kamarnya saja saat pria itu hendak membaringkan Rain di sofa.
Sementara Davian masuk ke kamar Rain, Bu Ratna pergi ke dapur membuatkan minuman untuk calon menantunya itu. Davian membaringkan Rain dengan hati-hati, saat wajahnya begitu dekat dengan wajah gadisnya, ia menelan salivanya berkali-kali karena bibir mungil gadisnya yang sedikit terbuka menggodanya untuk ia sentuh.
Bukan Davian kalau melewatkan kesempatan yang ada di depan mata, dengan lembut ia menempelkan bibirnya ke bibir ranum Rain, namun tanpa ia duga gadis di hadapannya mengerjap dan refleks memukul Davian.
"Abaaang,,,, ngapain?"omelnya sambil beranjak duduk, bahkan sang ibu pun masuk dengan segelaa air di tangannya.
"Kenapa?"
"Ibu, ngapain si bang Davi di mari?"sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dih, ngigo ni anak, kamu tuh datang-datang udah tidur,, sampai digendong ama Davi."terang Bu Ratna sambil memberikan minum pada Davian.
Pria itu bahkan langsung meminumnya hingga tandas karena sebenarnya ia juga kaget saat Bu Ratna tiba-tiba masuk, pria itu takut kalau apa yang dilakukan pada putrinya ketahuan.
"Emm,,, bu kalau begitu Davi pamit pulang ya, karena harua balik ke rumah sakit,"ucapnya saat anak dan ibu itu masih saling berdebat.
Bu Ratna menoleh ke arah Davian, kemudian bertanya, "siapa yanh sakit, Dav?"
"Mami, bu, tapi besok juga bisa pulang kok,"jelasnya.
"Oh, ya kalau gitu biar besok ibu sama Rain datang ke rumah kamu aja buat jenguk mami kamu ya,"jawab Bu Ratna. Setelah itu Davian pamit undur diri dan menyempatkan mengusak rambut Rain sebentar sambil tersenyum miring.
Keesokan hari
Davian mengikuti sang mami dari belakang, saat seorang perawat mendorong kursi roda maminya menuju ke luar rumah sakit. Sementara sang papi sudah menunggunya di mobil.
"Dav, Rain nggak ke sini?"tanya sang mami saat mereka sampai di depan dan hendak menaiki mobil.
"Kata ibu nanti mereka akan mejenguk ke rumah, Mi."jawab Davi sambil mendudukan sang mami di jok belakang bersama sang papi. Davian berlari kecil untuk masuk ke kursi kemudi,lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Dav, kapan Rain wisuda?"tanya sang mami di tengah perjalanan mereka menuju pulang.
"Kenapa emang mi? Kalau nggak salah dua tahun apa setahun lagi ya, lupa Davi."jawabnya sambil tetap fokus menyetir.
"Kamu tuh gimana si, Dav, umur kamu tuh udah nggak muda lagi, mami pengen cepet gendong cucu."gerutu sang mami sedikit merajuk juga.
"Kalau Davi mah kapan aja juga siap, Mi, besok juga siap, tapi nggak tahu Rain dia ka masih muda, Davi nggak mau ngerusak masa muda dia, biar dia puas-puasin dulu deh kan ntar jadi fokus ngurus Davi,"jelas Davian panjang lebar,sementara sang papi hanya terkekeh.
"Ya udah biar nanti mami tanyain sama Rain juga ibunya,"sambil menyandarkan tubuhnya ke bahu suaminya.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumahnya, sang papi memapah sang mami untuk masuk ke rumah, kemudian mereka duduk di sofa ruang tamu. Davian meminta asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman untuk mereka.
"Pi, mami kangen bayi, suara tangisnya, tawanya, wanginya,"sambil bersandar ke dada bidang suaminya.
"Iih, inget umur, Pi, mana mungkin mami hamil lagi, liat aja anak kita satu-satunya aja udah segede gitu."omelnya yang malah mendapat kekehan dari kedua jagoannya.
"Iya,, iya,,,!"
Saat senda gurau mereka berlangsung tentang seorang bayi, tiba-tiba terdengar suara bel.
Davian beranjak dari duduknya kemudian membuka pintu, nampak gadisnya dan Bu Ratna yang ada di luar. Davian langsung mengajak mereka masuk dan memberi tahu kedua orangtuanya.
Setelah mereka masuk, Bu Ratna dan Rain langsung menanyakan keadaan mami Sherly.
Namun wanita yang sudah tidak muda lagi tapi tetap terlihat cantik di usianya bahwa dia baik-baik saja.
Perbincangan mereka pun berlanjut, walau Rain kadang diganggu sama Davian.
"Apa si?"
"Kangen candu"bisik Davian yang malah membuat Rain mengerutkan keningnya tak mengerti. Namun saat melihat ekspresi Davian sambil membasahi bibirnya dengan lidah, gadis itu refleks mencubit lengan kekar kekasihnya hingga ia mengernyit sakit.
Bersamaan dengan itu asisten rumah tangganya memberitahukan bahwa makan siang sudah siap. Mereka semua pun beranjak ke ruang makan.
Makan siang mereka berjalan dengan lancar sampai sebuah pertanyaan dari mami Sherly meluncur begitu saja.
"Rain sayang apa kamu siap kalau nikah sekarang - sekarang?"
Rain bukan menjawab ia malah langsung tersedak dan terbatuk, Davian yang duduk di sampingnya langsung memberikan air minum dan mengusap punggung gadisnya,."pelan-pelan,Yank!"
"Mami pengen cepet gendong cucu, iya kan Jeng Ratna?" lanjutnya yang ternyata diangguki oleh Bu Ratna.
"Mmm,,,, Rain_"
"Udah, Mi kita bahas lagi setelah makan!"potong sang papi, yang membuat Rain bisa bernafas lega.
"Gue masih belum siap buat nikah sekarang-sekarang,"gumamnya dalam hati, hingga makan siangnya pun jadi tak bernafsu lagi.
Setelah semuanya menyelesaikan mkan siangnya, tiba-tiba Davian mengajak Rain ke taman belakang rumah. Mereka pun izin kepada orangtuanya da beranjak daei sana.
"Yank, kamu masih mikirin pertanyaan mami?"tanya Davian saat mereka duduk di gazebo taman belakang. "Kamu tenang aja aku juga nggak bakal maksa kamu buat nikah sekarang,"lanjutnya.
"Aku,, mmm,,, masih takut."ujar Rain pelan namun masih bisa didengar oleh Davian dengan jelas.
"Udah nggak usah dipikirin, aku bakal nunggu kamu kok,"ujar Davian tanpa menanggapi pernyataan Rain soal ketakutannya.
"Eh ngomong-ngomong aku minta candu dong!"lanjutnya sambil mencondongkan wajahnya ke arah gadisnya yang menunduk.
"Candu apaan si nggak jelas?"ucap Rain sambil mendongak dan saat itu wajahnya begitu dekat dengan Davian. Pria dewasa itu tersenyum miring dan hanya tinggal beberapa centi lagi bibir mereka beradu.
"Raiiiiin,,, Daviiiiii!!!!"
Bersambung....
Happy Reading 😍😍😍
Monmaaf ya telat up ternyata makin sini baby nya mkn ngerti masa tiap dy udh bubu terus aku niat buat ngetik eh dy nya malah bangun...
Tapi nggak apa-apa demi kalian aku rela drama dulu,, yang penting like, komen sm. Vote nya kenceng
😂 😂 😂 😂