
Saat ini Rain dan Davian berada di mobil Davian, suasana nampak canggung setelah mereka tahu kalau mereka dijodohkan.
"Bang!"
"Rain!"ucap mereka barengan. Rain pun menunjuk cowok di sampingnya untuk lebih dulu bicara.
"Kamu nggak nyesel kan dijodohin sama aku?"ucap Davian sambil melirik ke arah gadisnya yang masih tertunduk. Kebetulan saat itu lampu merah, jadi mobil berhenti, cowok berkulit putih itu kemudian menarik tangan mungil gadis di sampingnya.
Rain mengerjap kaget saat tangannya ditarik ke dada bidang Davian, bahkan jantungnya berdetak berantakan.
"Aku seneng ternyata kamu yang jadi calon aku."lanjutnya kemudian mengecup punggung tangan gadisnya, dan hal itu makin membuat Rain berantakan. Gadis itu berusaha mengalihkan pandangannya ke luar jendela saat Davian menatapnya dengan intens.
"Hei,,tatap aku!"sambil menarik dagu gadis di sampingnya untuk menghadap ke arahnya.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku?"lanjutnya. Rain menatap ke arah manik coklat Davian, pandangannya teduh, hingga membuat gadis itu merasa nyaman. Sebelum menjawab Rain melepaskan pegangan tangan Davian dari dagunya, dengan sebelah tangannya.
"A-aku seneng kok!"ucapnya singkat kemudian kembali memalingkan wajahnya yang merona. Saat Davian hendak menarik kembali dagu gadisnya, tiba-tiba suara klakson bersahutan.
Davian pun mengerjap kaget kemudian kembali pada posisinya, dan mulai melajukan mobilnya, sementara gadis di sampingnya nampak menahan tawa, dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Udah tawa aja si!"jawab Davian sambil terkekeh.
Rain pun terkekeh, "lagian nanya terus tahu ini masih di jalan."
"Iya, lupa sayang!"jawab Davian sambil mengusap rambut gadisnya. Suasana canggung pun hilang seketika, mereka kembali berbincang seperti biasa, hingga di pertengahan jalan, Rain merasa haus, untung tinggal beberapa meter di depan ada supermarket.
" Bang, beli minum dulu lah di depan!"ucapnya sambil menunjuk ke arah supermarket yang sudah kelihatan. Davian pun mengangguk dan tak berapa lama memarkir mobilnya di sana.
"Kamu mau minum apa? Biar aku aja yang beli, kamu tunggu di sini ya!"ujar cowok tinggi itu sambil membuka seatbeltnya. Rain hanya bilang, "apa aja."
Setelah Davian keluar dan masuk ke supermarket, tanpa disadari pria itu, kalau ternyata mereka diikuti, Rain yang sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba dibekap dari samping, hingga gadis itu tak sadarkan diri.
Pria bertubuh tinggi dengan pakaian hitam-hitam dan bermasker itu menggendong Rain ke mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Davian. Dia kemudian meletakan Rain di jok belakang, sementara dirinya duduk di samping gadis tak sadarkan diri itu sambil memeluk pinggang rampingnya.
"Jalan!"perintahnya pada supir di depannya. Mobil pun melaju ke arah berlawanan.
Sementara Davian baru saja membayar di kasir. Dengan tergesa ia berlari ke arah mobilnya untuk menemui gadisnya, tapi saat ia melihat pintu mobilnya terbuka, ia curiga dan buru-buru menghampiri.
Davian kaget saat gadisnya sudah tidak ada di tempatnya, ia panik ia berteriak memanggil nama kekasihnya. Bahkan orang yang berada di sekitarnya ia tanyai. Namun tak ada satu pun yang melihat. Davian makin gusar ia mengusak rambutnya kasar. Saat ia masuk ke mobilnya, ia melihat ponsel gadisnya tergeletak di bawah jok.
Pria itu mengambil ponsel gadisnya, ia berharap ada petunjuk kemana gadis itu pergi, tapi nihil. Davian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sambil menelpon Dio untuk menemuinya di tempat biasa.
"Kamu di mana sayang?"lirihnya sambil memukul stir.
Di sebuah kamar bernuansa maskulin, nampak seorang pria tinggi berpakaian hitam-hitam sedang membaringkann seorang gadis yang tak sadarkan diri.
"Aku sudah lama menginginkanmu, Rain, sejak kamu pergi ke kantor Davian untuk memberikan makan siang untuknya."ucap pria tersebut sambil membelai rambut Rain yang sedikit berantakan.
"Aku nggak mau kamu jadi milik Davian, cowok bre****sek yang hanya memainkan perempuan."lanjutnya sambil mengepalkan tangannya dengan erat. Kemudian membelai lembut pipi mulus Rain yabg masih terlelap. Pria itu tersenyum senang saat melihat wajah polos gadis di hadapannya yang terlihat menggemaskan.
"Aduuh!"gumamnya sambil memegang pelipisnya yang terasa sakit. Saat gadis itu membuka matanya, tampak sosok pria tak dikenal sedang menatap ke arahnya sambil tersenyum.
"Ss-siapa kamu? Apa yang kamu lakuin?"ucap Rain terbata sambil berusaha bangkit dari tidurnya. Pria di hadapannya hanya terkekeh, kemudian beranjak dan duduk di samping ranjang king sizenya. Sementara Rain beringsut ketakutan dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tenang sayang, aku akan menyelamatkanmu dari pria breng***k tadi."ucapnya tegas. Sementara Rain yang masih ketakutan hanya bisa diam dan mencerna maksud dari ucapan pria tak dikenal di depannya. Apalagi saat bayangan Reza hendak merenggut kehormatannya melintas kembali dalam ingatannya.
"Aku mau pulang!!"pekik Rain memberanikan diri.
"Aku pasti akan membawamu pulang, sayang!"sambil mencoba mengelus rambut gadis yang ketakutan di depannya.
"Jangan sentuh gue!!"teriak Rain yang mulai panik.
Pria di hadapannya malah terbahak saat mendengar teriakan gadis di depannya. Kemudian ia beranjak,"kita akan pulang besok, sebaiknya kamu sekarang istirahat, malam sudah larut!"ucapnya kemudian meninggalkan Rain di kamar itu sendirian.
"Bang, kamu di mana? Aku takut, aku takut kejadian dulu terulang lagi!"gumamnya sambil memeluk kedua lututnya, wajahnya ia benamkan di sana.
Di supermarket tempat Davian membeli minum tadi, Dio dan Davian menghampiri keamanan di sana dan bilang bahwa ada penculikan tadi, mereka ingin melihat rekaman cctv yang berada di sana. Davian bahkan sempat merutuki kebodohannya, kenapa dia tadi tidak langsung mengecek cctv malah panik dan bertanya pada semua orang yang ada di sana.
Dio dan Davian dibawa ke sebuah ruangan untuk mengecek cctv yang terjadi sekitar jam 9.30 malam. Davian memperhatikan detail yang terjadi dari mulai ia masuk ke supermarket. Benar saja ada sosok berpakaian hitam-hitam yang membekap gadisnya hinggal tak sadarkan diri, kemudian ia membawanya ke arah yang berlawanan.
Saat melihat plat nomor mobilnya, Davian merasa familiar bahkan mobilnya juga.
"Yo, lo ingat nggak yang selalu pakai mobil itu?"bisiknya pada Dio yang juga memperhatikan dengan teliti ke arah rekaman tersebut.
Dio sempat mengerutkan keningnya mengingat-ingat di mana ia pernah melihat mobil yang dipakai penculik itu. Walau belum ingat tapi mereka berdua yakin kenal pada si penculik tapi siapa.
Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pamit pada petugas yang membantunya. Kemudian mereka berdua melajukan mobilnya ke arah yang dituju mobil tadi.
"Gue khawatir gadis mungil gue kenapa-kenapa, Yo!"lirih Davian sambil mengusak rambutnya kasar.
"Lo yakin dia bukan si Reza yang dulu mau ngerusak cewek lo?"tanya Dio sambil tetap fokus menyetir.
"Entahlah!"
Bersambung...
Happy Reading 😍😍😍
Jangan lupa like, komen sm votenya ya... Aku padamu dah pokoknya.
Oya mohon doanya ya author bentar lagi lahiran semoga lancar semuanya...
Makasih untuk selalu setia baca novel aku😘😘
Tetap jaga jarak dan dirumah saja sehat selalu buat semua