
"Bu, katanya pertemuannya besok, kok jadi hari ini?" ucap Rain saat sang ibu mendandaninya di kamar gadis itu. Sang ibu hanya menoleh sekilas kemudian kembali menggulung rambut panjang putrinya ke atas, sehingga leher jenjangnya terlihat.
"Dari sananya yang minta, kan kamu juga tahu kita udah dikirim gaun buat hari ini."jawab Bu Ratna setelah menyelesaikan menata rambut putrinya.
Gadis itu mengangguk, ia juga sebenarnya nggak tau siapa yang mengitim gaun itu, karena kemarin ia sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.
Bu Ratna menarik putrinya agar berdiri dan memutar tubuh putrinya.
"Cantik banget anak ibu!"ucapnya sambil menjawil hidung mancung putrinya. Rain tersenyum kemudian berucap, "anak siapa dulu dong? Anak ibu."
Sekitar jam tujuh malam mereka berangkat ke hotel yang telah mereka sepakati. Sekarang Bang Refal sudah punya mobil sendiri jadi lebih gampang untuk mengantar Rain dan Bu Ratna.
"Bu, pertemuannya beneran di Hotel Aulia?"tanya Refal meyakinkan saat mobil mereka meninggalkan rumahnya.
"Iya, kenapa si, kamu udah nanya lebih dari sepuluh kali seharian ini?"jawab Bi Ratna sambil melihat pesan masuk di ponselnya.
"Yakali aja di Hotel Brata, Bu,"ucapnya sambil terkekeh, kemudian Refal kembali fokus pada jalan di depannya.
Sementara Rain mengingat-ngingat nama hotel tersebut, merasa pernah dengar tapi lupa kapan.
"Hotel Aulia,"gumamnya, tapi ternyata bang Refal juga mendengarnya.
"Kenapa, Rain?"tanya cowok putih itu. Gadis di sampingnya hanya menggelengkan kepalanya, kemudian berbalik ke arah sang abang,"berasa pernah denger nama itu, Bang, tapi lupa."
"Kamu tahu Rena kan?"tanya sang abang, gadis itu mengangguk, kemudian sang abang melanjutkan ucapannya, "hotel itu milik papinya."
"Apa!!"pekik Rain tertahan, untungnya sang ibu masih asyik dengan ponselnya. Hatinya mulai gusar, ia takut jika harus ketemu dengan orang yang ia hindari selama ini.
"Udah kamu tenang aja kan ada abang!"ucap Bang Refal sambil mengusap punggung adiknya.
Keheningan mulai menemani mereka di dalam mobil, hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Saat sang ibu dan sang abang sudah keluar, gadis itu masih duduk di dalam mobil sambil memilin jari-jari tangannya yang mulai dingin.
Ketakutannya menjadi bertambah, ia takut calonnya menolaknya, atau mungkin ia sendiri yang merasa tak cocok, yang kedua ia takut ada cowok breng***k yang hampir menghancurkan hidupnya, secara hotel ini milik mertuanya.
Ketukan di kaca mobil membuat Rain tersadar.
"Ayo turun, Rain, udah ditungguin!"ucap sang ibu sambil mengetuk kaca jendela mobilnya.
Gadis bergaun toska elegan itu menghembuskan nafasnya perlahan sebelum ia keluar dari mobil. Rain pun keluar sambil membawa tas tangannya. Mereka pun kemudian masuk ke dalam dan pelayan di sana menunjukan tempat VVIP yang telah dipesan.
"Bang, aku takut!"sambil menarik lengan baju sang abang di sampingnya. Refal pun menoleh dan memegang tangan sang adik untuk menenangkan.
Saat masuk ke ruangan yang ditunjuk oleh pelayan di sana, mereka disambut oleh papinya Rena dan Pak Rangga.
"Lo, kok ada mami Sherly juga, Bang?"bisik Rain saat melihat mami Sherly menghampiri mereka. Refal hanya mengangkat bahunya, menunjukan kalau ia juga tak tahu.
"Selamat datang di hotel kami, semoga pelayanan kami memuaskan!"ucap pria paruh baya dengan tubuh tambun, yang tak lain adalah papinya Rena.
"Oke, Pak Rangga kalau begitu saya pamit dulu!"lanjutnya kemudian keluar ruangan.
Rain dan Refal saling pandang, saat mengetahui kalau orang yang akan bertemu dengan mereka adalah orangtua Davian, tapi cowok tinggi itu belum kelihatan batang hidungnya.
Di Rumah Dio
"Yo, gimana nih gue nggak mau dateng lah!"ucap Davian sambil mengusak rambutnya yang sudah tertata rapih.
Saat Dio membuka mulutnya hendak menjawab, tiba-tiba ponsel Davian berdering,tertera sang mami yang menelpon.
Saat ia menggeser tombol hijau, terdengar omelan dari sebrang.
"Cepetan ke sini, kalau nggak awas kamu!!!"omelan sang mami, yang membuat Davian menjauhkan ponselnya.
"Iya, Mi!"jawabnya kemudian menutup sambungan telponnya.
"Ayo berangkat!"lanjutnya pada Dio sambil beranjak ke luar, rambutnya yang berantakan ia biarkan begitu saja.
Perjalanan menuju tempat pertemuan, serasa cepat, padahal Davian ingin berlama-lama di jalan.
Davian berjalan dengan malas menuju ruangan yang disebutkan sang mami. Dia hanya mengingat nomor awalnya saja.
"Tadi mami bilang nomor berapa si? 309 apa 319 lupa gue."ucap Davian sambil menekan tombol lift. Dio yang berada di sampingnya hanya mengangkat bahunya, ia nggak tahu nomor berapa yanh dimaksud.
Saat sampai ke tempat tujuan, Davian langsung membuka pintu ruangan nomor 309,di sana tampak dua keluarga sedang berkumpul ada seorang wanita muda di sana dengan pakaian sedikit terbuka berwarna merah.
"Apa-apaan si mami, masa gue dijodohin sama cewek kaya gitu?"gerutunya sambil menghampiri ke arah mereka, namun saat jarak sudah dekat, Davian tak mengenali satu pun diantara mereka.
"Maaf mau cari siapa ya?"tanya wanita paruh baya yang duduk dekat dengan wanita muda tadi.
"Aduuh maaf, saya salah ruangan!"ucap Dio sambil menarik Davian buru-buru keluar, namun tangannya ditahan wanita muda berbaju merah tadi.
"Udah temenin aku aja yuk!"ucapnya dengan genit sambil mengedipkan mata ke arah Davian. Davian sontak menepis tangan gadis itu, kemudian langsung berlari keluar.
Sang mami sedang mondar-mandir di depan Rain dan Bang Refal yang keheranan. Sampai akhirnya pintu terbuka dan nampak dua cowok tinggi d8 sana, Davian nampak berantakan dengan rambut yang acak-acakan.
"Kamu tuh kemana aja si?"omel sang mami sambil memegang dagu putranya.
"Maaf, Mi, tadi Davi salah ruangan, eh ditarik-tarik sama cewek genit lagi,, iih serem!"jelasnya. Dia bahkan belum menyadari keberadaan gadisnya.
Rain juga sepertinya sibuk dengan kegugupannya, hingga ia tak melihat ke arah Davian.
Sampai akhirnya mereka duduk bersama, Rain dan Davian baru menyadari keberadaan mereka masing-masing.
"Rain!"
"Bang Davi!"ucap mereka berbarengan.
"Kalian baru sadar?"sindir mami Sherly yang membuat semuanya terkekeh.
"Maksudnya apa si, Mi, kok ada Rain, Bu Ratna sama Refal di sini?"ucap Davian masih belum mengerti.
"Dih, kamu tuh, masa nggak ngerti juga si, kamu mau dijodohin sama ruang sebelah tadi?"gerutu sang mami.
"Apa? Maksudnya Om Davi_"Rain tanpa sadar memekik dengan lantang.
"Iya sayang dia yang ibu dan ayah jodohin buat kamu."jelas Bu Ratna sambil mengusap punggung putrinya.
"Beneran, Mi?"Davianasih nggak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, apa benar gadisnya itu yang akan jadi calonnya. Sang mami hanya mengangguk mengiyakan.
Tanpa malu Davian lompat-lompat sambil berteriak.
"Diih dasar ga nyadar umur!"omel Rain saat melihat tingkah calonnya itu. Namun perasaannya tak bisa dibohongi, ia merasa lega dan bahagia saat tahu kalau calonnya itu Davian. Cowok yang dulu ia bilang rese, nyebelin, tapi ia selalu ada saat Rain membutuhkan, bahkan ia juga sudah menyelamatkan dirinya beberapa kali dari cowok kurang ajar macam Reza.
Suasana pun makin ramai, bahkan saat makan malam pun suasana bahagia masih menaungi mereka. Hingga saat makan malam selesai Pak Rangga memutuskan kalau acara tunangannya akan dilaksanakan seminggu lagi.
****
Di ruangan lain
Tampak cowok tinggi mengepalkan tangannya dengan erat hingga ruas-ruas jarinya memutih.
"Kamu harus jadi milik aku dulu, cantik!"geramnya.
Bersambung....
Happy Reading 😍😍😍
Jan lupa like, komen sama vote nya...
Komen kalian nulis next,lanjut,atw up aja bikin aku seneng
Tetap jaga kesehatan, dan di rumah aja