"DR"

"DR"
Hujan



Sudah dua hari pengantin baru itu tinggal di apartemen. Mereka bahkan tidak melakukan apa-apa selain 'pacaran'. Untuk makan saja mereka lebih memilih delivery daripada masak sendiri, lebih tepatnya sang suami yang melarang.


Pagi ini Rain seperti biasa ia akan membersihkan dirinya dengan ritual mandi, sementara Davian masih rebahan dengan ponsel di tangannya. Sehabis subuh, ia membaringkan dirinya lagi apalagi dari semalam hujan nggak berhenti sampai pagi menjelang.


"Eh, kok udah bersih ya tumben?" gumam Rain saat ia menanggalkan seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya.


"Biasanya juga seminggu, si abang nggak boleh tahu dulu deh, serem gue," lanjutnya sambil bergidik, kemudian memulai ritual mandinya dan niat untuk membersihkan diri dari hadas.


Sekitar lima belas menit Rain pun selesai dengan ritual mandinya, ia keluar dengan jubah mandi dan handuk melilit di kepalanya. Davian yang sebelumnya fokus pada ponselnya tiba-tiba menoleh ke arah sang istri yang baru saja selesai mandi, ia menaikan satu alisnya saat melihat rambut sang istri terlilit handuk.


"Kamu keramas, Yank?" tanyanya sambil beranjak dari ranjang dan menghampiri sang istri, yang pura-pura sibuk mencari pakaiannya,"iya."


Davian mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang, hal itu membuat Rain mengerjap kaget, apalagi jantungnya tiba-tiba berdetak tak beraturan.


Padahal setelah menikah hal itu selalu dikakukan oleh suaminya, namun hari ini berbeda, mungkin juga karena tamu bulanannya yang sudah beres, atau mungkin karena hal lain.


"Tamunya udah pergi kan ya?" bisik Davian tepat di telinga sang istri, bahkan dengan sedikit menciuminya hingga gadis itu merinding karena geli.


"Tamu siapa si, Bang? Emang ada tamu ujan gini?" ucap Rain belum ngeh dengan pertanyaan suaminya. Davian berdecak, kemudian dengan pelan membuka handuk yang melilit di kepala istrinya dan menggosokan handuk tersebut pada rambut panjang istrinya.


"Udah bang aku bisa sendiri kok," sambil meraih handuk dari tangan suaminya, namun bukannya memberikan ia malah menyimpannya di nakas dan malah mengangkat tubuh istrinya hingga ia memekik kaget,,"abaaang!"


"Aku mau pakai baju dulu, Bang," ucapnya pelan, sedangkan kedua tangannya memegang erat jubah mandinya.


"Nggak usah, ntar juga dibuka lagi__"sambil menaikkan satu alisnya dan tersenyum penuh arti.


"Hmm, kalau gitu abang mandi dulu gih!" Rain berusaha mengulurkan waktu, sebenarnya ia tahu maksud dari suaminya, tapi rasa gugup dan takutnya mulai menyerangnya dengan tiba-tiba.


"Nanti sekalian biar wajib mandinya, Yank," ucapnya santai kemudian membaringkan tubuh mungil sang istri yang tiba-tiba menegang. Bagi Davian hal ini bukan pengalaman pertamanya, tapi bagi sang istri hal ini adalah hal pertama jadi wajar jika wajahnya begitu tegang.


"Kita bisa lakuin sekarang kan?" bisik Davian saat ia mengurung tubuh mungil istrinya. Rain tampak mengerjap takut, ia tak mengiyakan juga tak menolak apa yang dikatakan oleh suaminya barusan.


"Aku akan melakukannya dengan sangat lembut, Yank," ucapnya dengan mengecup kening sang istri begitu lama.


"Ta-tapi aku takut, Bang," lirihnya dan sialnya bayangan saat Reza akan melecehkannya melintas begitu saja, hingga gadis itu menitikan air matanya. Davian beralih ke samping dan memeluk tubuh istrinya dengan erat, "maaf, aku nggak bakal maksa kamu, Yank."


Rain mengerjapkan netranya, kemudian beralih menatap suaminya yang menatapnya dengan sayu.


"Maaf, Bang aku__" ia tak melanjutkan ucapannya malah berbalik dan memeluk tubuh suaminya.


"Iya, sayang udah mau pake baju atau gini aja?" goda Davian saat melihat istrinya dengan jejak air mata di pipinya.


Rain baru tersadar kalau ia masih menggunakan jubah mandinya.


"Eh, iya aku pakai baju dulu lah, Bang. Oya abang mau mandi nggak sih?" tanya Rain sambil beranjak dari ranjangnya.


"Nggak ah nanti aja, di luar juga masih ujan," jawab Davian sambil berbalik dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.


Rain pun hanya mengangguk kemudian beranjak dari sana untuk menggunakan pakaiannya.


Sekitar lima belas menit Rain sudah menggunakan dress selutut tanpa lengan yang dipadu dengan cardigan.


"Bang lapar nggak, yuk bikin makanan buat sarapan!" ajaknya dengan menarik lengan suaminya yang masih betah rebahan.


"Delivery aja lah, Yank! Sini kita rebahan aja!" ajaknya dengan menepuk kasur kosong di sampingnya.


"Bosen lah, Bang aku mau masak," kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang masih asyik rebahan. Davian ternyata langsung beranjak dan mengikuti sang istri menuju dapur.


"Mau masak apa si, Yank?"


Rain tertegun dan sedikit menahan tawa saat melihat isi kulkas itu bersih banget, cuma ada beberapa botol air putih, minuman kaleng dan telur.


Davian menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat isi kulkasnya.


"Maaf, Yank aku kan nggak pernah masak, toh makan juga dikirimin sama kamu, kan?" ucapnya dengan sedikit malu.


Rain hanya terkekeh kemudian menepuk bahu suaminya, "nggak apa-apa lah, kita bikin nasi goreng saja ok!" dengan mengedipkan satu matanya yang membuat Davian tertawa.


Gadis itu pun mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng. Sementara di luar hujan malah makin deras, hingga membuat cuaca lebih dingin.


Hujan semakin deras saat siang menjelang. Sementara itu Davian dan Rain yang sudah menyelesaikan sarapannya yang sedikit kesiangan, kemabali ke kamar mereka.


"Abaang, bosen ih di kamar mulu!" gerutu Rain saat suaminya menggendong sang istri dan mendudukannya di sisi ranjang.


"Lah terus mau ngapain? Jalan-jalan juga ujan, sayang!" jawab Davian dengan memegang kedua bahu istrinya yang nampak cemberut.


Rain nampak berpikir, "iya juga si."


"Kita lanjutin yang tadi pagi aja gimana?" ajak Davian dengan menarik ujung bibirnya.


"Ayo!" jawab Rain enteng yang membuat Davian tersenyum lebar. Tanpa aba-aba Davian langsung mengurung tubuh mungil istrinya, yang membuat gadis itu mengerjap kaget.


"Abaaang!!!" sambil mendorong dada bidang suaminya.


"Kenapa?"


"Mau ngapain?"


"Ish,,, tadi katanya ayo, masa masih nanya mau ngapain?" gerutu Davian sambil berdecak.


"Emang mau ngapain si, aku kira kamu mau mandi?" jawab Rain acuh yang membuat Davian gemas.


Tanpa menjawab ocehan istrinya, ia pun langsung melahap bibir ranum sang istri dengan rakus. Walaupun awalnya Rain menolak, namun lama-kelamaan ia pun terbuai dengan permainan suaminya.


Mereka bergelung dalam selimut hingga sore hari, bahkan mereka juga melewatkan makan siangnya.


Kriuuuuuk....


"Lapar, Bang!" sambil mendorong dada suaminya.


"Hadeeeeeeeh,, ayo lah kita makan di luar aja!" sambil beranjak dan duduk.


"Mandi dulu, Bang! Ih dari pagi kagak mandi juga!" saat melihat sang suami meraih jaketnya.


"Nggak usahlah lama, besok aja biar wajib, toh masih ganteng dan wangi juga kan?" jawabnya.


"Diiih... !"


Bersambung....


Happy Reading 😘😘😘


Eeeeaaaa... Eeeaaa.... Malam pertamanya masih belum ya... 😂😂😂


Sabar ya pantengin dulu aja ya, othornya masih bingung mau yang full apa pake kalimat keramat wkwkwk


Jan lupa ninggalin jejak ya like, komen, sama vote nya ya