"DR"

"DR"
Pulang



Rain meninggalkan Davian, ia merasa kalo cowo rese itu selalu menjelekan kekasihnya.


"Kak Reza kemana lagi? Kenapa nggak pernah hubungin aku, ditelpon juga nhga aktif terus?" gumamnya sambil terus berjalan memasuki villa.


Di ruang keluarga masih tampak semuanya berbincang sambil diselingi tawa. Rain masuk kemudian ikut bergabung bersama mereka. Tak berapa lama Davian juga ikut duduk di sana.


*******


Tak terasa liburan mereka akan berakhir, besok mereka akan pulang. Mami Davian juga masih ada, kecuali papinya.


"Ooom,, balikiiin!" teriak Rain saat ponselnya diambil Davian, Rain mengerjar cowo tinggi itu sampai ke lantai atas.


"Dih si Davi beneran jadi bocah, masa main kejar-kejaran gitu." gumam Isma pada Dio yang sibuk mengepak kopernya.


"Biarinlah daripada dia ngelakuin hal nggak bener lagi!" ucap Dio tanpa menoleh ke arah Isma.


"Oooooom!!!!" Rain berteriak dengan kesal saat ponselnya diangkat ke atas oleh Davian. Walaupun ia sudah loncat tapi tinggi tubuh mereka yang jauh tentu saja membuat gadis mungil itu kesulitan.


"Emang kamu lagi chat sama siapa sih, sampe aku dicuekin?" ucap Davian sambil mencondongkan wajahnya ke wajah Rain.


"Diih kepo banget si? Lagian ngapain coba pagi-pagi nyuruh bikin rujak, lagi ngidam?" omel Rain sambil tetap berusaha meraih ponselnya. Saat Rain melompat lagi tiba-tiba ponselnya berbunyi, disana tertera nama Kak Reza, Davian yang lengah karena melihat nama yang menelpon, tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat Rain meraih tangannya, otomatis ia menarik pinggang Rain kemudian terjatuh.


"Aaaaw...!" pekik keduanya, Rain yang berada di atas tubuh Davian tampak terpaku saat melihat wajah Davian dari dekat yang ternyata begitu tampan. Mereka saling bertatapan sampai suara teriakan terdengar.


"Ya ampuun kalian ngapain?" teriak Mami Sherly yang tak sengaja naik ke lantai atas.


"Mami...!!" ucap keduanya, Rain buru-buru beranjak dari tubuh Davian dan mengambil ponselnya.


"Maaf mi, ini nggak seperti yang mami pikir, tadi Om Davi ngambil ponsel aku!" ucap Rain sambil menunduk dalam sambil memegang erat ponselnya. Sementara Davian hanya terkekeh melihat adegan itu.


"Bentar kamu manggil anak mami, Om?" ucap mami Sherly sambil mengangkat satu alisnya. Rain bukannya menjawab ia malah makin menunduk.


Tapi, tiba-tiba mami Sherly tertawa lepas sambil bilang, "Ya ampun, Dav, kamu beneran udah keliatan tua ya!" sambil terus tertawa.


"Tuh kan makanya kamu tuh panggil aku abang aja deh!" gerutu Davian pada Rain yang masih menunduk di sampingnya.


"Ya udah, tapi lucu juga kamu dipanggil Om, Dav!" gelak mami Sherly sambil tergelak kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua. Rain melengos pergi saat mami Sherly sudah tidak ada di hadapannya.


Dia masuk ke kamarnya, terus mengecek panggilan tak terjawab ada beberapa kali.


"Kak Reza!" gumamnya, kemudian mendial nomor kekasihnya untuk balik menelpon. Namun ternyata nomornya kembali tidak aktif, Rain mengulang beberapa kali tapi tetap saja.


"Apa mungkin dia marah karena aku tafi nggak angkat telponnya?" gumamnya sambil mencengkram ponselnya lebih erat.


"Gara-gara Om Reseeeee!!" teriaknya tertahan. Rain menelungkupkan kepalanya di meja rias, perasaannya sesak, ia merasa kesal, saat rasa rindunya akan terobati tapi malah gagal gara-gara Davian.


Saat ia masih menahan amarahnya, tiba-tiba Ikoh memanggilnya.


"Raiiiiin,,, hayu mau ikut ngga?" teriaknya dari bawah.


Rain mengangkat kepalanya, kemudian kembali menelungkupkan kepalanya. Sekarang air matanya malah mulai meleleh di pipinya.


Ikoh yang tidak mendengar jawaban sahabatnya, kemudian naik ke atas dan mengetuk pintu kamar Rain dan membukanya.


Tampak gadis itu sedang menelungkupkan wajahnya di kedua lengannya dengan bahu yang bergetar.


"Rain nangis?" gumamnya dalam hati dan bergegas menghampiri sahabatnya.


"Rain lo kenapa?" sambil memegang bahu sahabatnya. Rain tak menjawab pertanyaan sahabatnya, malah isak tangisnya terdengar lebih kencang.


"Rain, Rain lo kenapa si? Jangan bikin gue khawatir!" ucap Ikoh panik. Tak lama kemudian Rain mendongak dan menatap sahabatnya, dengan wajah yang penuh air mata, hidungnya juga merah. Pokonya sahabatnya terlihat sangat kacau.


Rain memeluk sahabatnya, kemudian hanya bilang "Kak Reza!".


"Kenapa, apa dia udah hubungin lo?" ia tahu kalo kekasihnya itu udah lama ngga bisa dihubungi dan nggak ngasih kabar.


Setelah tenang akhirnya, Rain menceritakan semuanya, pada sahabat dekatnya itu. Ikoh pun ikut kesel mendengar tingkah Davian yang makin nunjukin perasaannya ke Rain.


"Terus sekarang lo mo ikut nggak, udah pada nungguin di bawah, ini terakhir kita liburan lo, besok pagi kita udah balik lagi!" cerocos Ikoh. Rain hanya menggeleng, ia masih nggak mau bertemu dengan om Rese itu.


"Lo, pergi aja, Koh! Gue butuh waktu sendirian!" ucap Rain sambil menghapus jejak air matanya dengan tisu.


"Beneran nih, nggak apa-apa gue tinggal?" Ikoh meyakinkan. Rain mengangguk dan mendorong sahabatnya agar segera pergi,dan bilang ngga apa-apa.


"Kok, sendirian Rain mana?" tanyanya tanpa basa-basi. Ikoh pun bilang kali Rain lagi nggak enak badan, ia mau istirahat. Davian yang kaget dengan penuturan Ikoh, langsung bergegas hendak naik ke atas menghampiri gadisnya.


Namun, Ikoh menarik lengan Davian.


"Jangan, Om, dia mau istirahat nggak mau diganggu!" ucap Ikoh. Tapi Davian kekeh, dan melepaskan cengkraman tangan Ikoh di lengannya.


Yang lain hanya saling pandang penuh tanya, namun hanya angkatan bahu yang mereka terima, bahkan Bu Ratna dan Mami Sherly sudah pergi duluan. Jadi mereka tidak tahu tentang kejadian ini.


Davian mengetuk pintu kamar Rain, namun tidak ada jawaban dari dalam, hingga akhirnya ia membuka pintu kamarnya.


Tampak gadis itu sedang berbaring menyamping memunggunginya.


"Rain kamu kenapa?" ucap Davian sambil berjalan mendekat.


"KELUAAR!!!" teriak Rain tanpa menoleh ke arahnya. Tapi bukan Davian kalo tiba-tiba langsung menyerah, ia malah sengaja duduk di tepi ranjang Rain.


Rain beranjak dari tidurnya kemudian duduk dan menyandar pada kepala ranjang.


"Keluar sana! Nggak sopan masuk kamar orang!" omel Rain dengan nada marah. Matanya masih terlihat sembab, dan itu tak lepas dari perhatian Davian.


"Kamu nangis, kenapa?" tanya Davian lembut tanpa menghiraukan perkataan gadis di hadapannya. Rain memalingkan wajahnya dari Davian, tidak juga menjawab pertanyaan cowok di depannya.


"Udah sana keluar!" pekik Rain mulain jengkel. Davian bukannya pergi, ia malah mendekati Rain dan duduk di hadapan gadis itu.


"Ngapain lo, jangan macem-macem!" saat melihat Davian sudah ada di hadapannya,bahakan ia menarik selimut ke dadanya.


"Kamu kenapa sayang?" ucapnya lembut, yang malah membuat Rain makin jengkel.


"Kamu masih mikirin kak Reza kamu itu, yang udah jelas khianatian kamu!" lanjut Davian saat nggak ada jawaban dari gadisnya.


"Bukan urusan lo! Udah sana keluaaar!" teriak Rain sambil mendorong dada Davian, tapi tangannya malah digenggam erat oleh Davian.


"Rain aku beneran nggak boong soal Reza!" ucapnya serius.


"Udahlah gue mau sendiri!" sambil menarik kasar tangannya dari genggaman Davian. Cowok itu pun berdiri dan mengusak rambut Rain, sambil bilang istirahat, kemudian pergi.


"Apa mungkin bener yang dikatain si om itu, kalo Kak Reza selingkuh? Sampai saat ini dia nggak hubungin aku lagi." gumamnya.


*****


Keesokan paginya, semua sudah siap dengan koper masing-masing.


"Bu, Rain ikut sama Om Dio aja ya, soalnya ada yang harus dibahas soal tugas sama Ikoh." ucap Rain tiba-tiba.


"Oh iya ngga apa-apa, ibu sama jeng Sherly aja ikut Davi ya!" jawab sang ibu.


Davian sudah menunggu mereka di mobil, tapi saat gadisnya masuk ke mobil Dio, ia kemudian turun dan menghampiri gadis mungilnya.


"Kamu kenapa di sini?" tanyanya saat Rain sudah duduk di jok belakang dengan Ikoh.


"Suka-suka gue lah!" sewot Rain. Ikoh hanya diam memperhatikan sahabatnya.


Davian kemudian beralih ke Dio dan menyuruh sahabatnya itu untuk pindah mobilnya.


Dio tak bisa berbuat apa-apa, ia pun menuruti kemauan bos sekaligus sahabatnya.


"Koh, yuk pindah ke mobil itu, biar ibu sama maminya di sini!" ajak Rain sambil hendak membuka pintu mobil, namun Davian sudah menguncinya otomatis. Bahkan Refal dan Isma pun akhirnya ikut ke mobil Davian yang dikendarai Dio. Davian melajukan mobilnya lebih dulu.


Di tempat lain, Reza sedang persiapan foto prewedding dengan Rena.


Bersambung.....


Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin ya buat semua reader aku🙏


Maafin author ya kl banyak salah udh bikin kesel...


Lebaran tetap dirumahaja


Jaga kesehatan