
Pagi ini Rain sedang sarapan di rumah sakit ditemani oleh sang ibu.
"Bu, kenapa Rain bisa ada di sini?"tanyanya setelah ia menelan suapan terakhirnya.
"Semalam kamu pingsan, Nak, Davi yang bawa kamu ke sini, dia terlihat khawatir."jawab sang ibu sambil menyimpan mangkuk bubur di atas nakas.
"Rain nggak mau bahas dia, Bu."sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Sang ibu mendekati putrinya dan duduk di samping Rain sambil membelai rambut panjang putri kesayangannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu terlihat sangat marah sama Davi?"ucapnya lembut. Rain masih betah melihat ke arah jendela, ia tak menggubris pertanyaan ibunya.
"Rain!"panggil Bu Ratna lembut.
"Bu, Rain mau istirahat."jawabnya sambil berbaring memunggungi sang ibu. Bu Ratna pun tak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti kemauan putrinya, mungkin anak gadisnya masih shock dengan kejadian dua hari lalu.
"Baiklah, kamu istirahat, ibu keluar dulu ya!"sambil menyelimuti putrinya hingga bahu. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Rain membuka matanya, kemudian ia terisak. Gadis itu teringat ucapan Zulfikar tentang masa lalu Davian yang sering gonta-ganti cewek, bahkan cewek sahabatnya pun ia ambil.
"Apakah benar cowok seperti itu yang ayah dan ibu inginkan?"pikirnya sambil mengusap air matanya yang terus mengalir. Hatinya sakit saat mengetahui masa lalu calon tunangannya, walau ia juga sebenarnya tahu sebelum ia memiliki perasaan lain ke Davian, ia sering melihat banyak cewek cantik yang memgelilinginya, tapi kenapa saat ia tahu kalau Davian sering melakukan one night stand, ia jadi membenci lelaki itu.
***
Di Rumah Davian
"Kan mami udah bilang, kamu jangan mainin cewek mulu, sekarang kamu tahu akibatnya?!"omel Mami Sherly saat mereka duduk di ruang keluarga.
"Sekarang giliran kamu dapat cewek baik-baik bahkan mami, tahu dia juga udah mulai cinta sama kamu, akhirnya seperti ini."lanjutnya sambil mondar-mandir di hadapan Davian yang duduk dengan kepala tertunduk.
"Udah, Mi, sekarang kita tanya mau Davi kaya gimana?"ucap sang Papi agar sang istri berhenti mengomeli anaknya.
"Davi mau nikah sama Rain, Pi, Davi udah sayang sama dia!"ucapnya lirih.
"Oke, kalau gitu sekarang kamu temui dia dan jujur tentang semuanya ke dia, papi nggak mau ada kejadian kaya kemarin lagi menimpa Rain!"ucapnya tegas.
"Tapi_"ucapannya terpotong oleh mami Sherly. "Nggak ada tapi-tapi sekarang kamu liat calon mantu mami!!"
"Davi takut dia nggak mau nerima Davi, Mi!"lanjutnya.
"Coba dulu dong, mau dapat anak perawan baik-baik itu butuh usaha, Dav!"jawab sang mami kemudian meninggalkan Davi sendirian.
Davian masih terdiam beberapa menit, bahkan ia menyandarkan tubuh tingginya ke sofa, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Ayo buruan, mau nggak?"ucap sang papi. "Laki-laki itu harus berani ngambil resiko."lanjutnya, kemudian beranjak keluar mendahului Davi.
Dengan gegas Davian mengikuti sang papi keluar, sambil meraih kunci mobilnya di laci.
"Pi, tunggu, papi mau kemana?"tanya Davi saat melihat sang papi tidak memakai setelan kerja.
"Ikut kamu lah, ayo buruan!!"sambil bersandar ke mobil Davian. Dengan sedikit berlari, Davian langsung menghambur ke mobilnya lalu berucap, "makasih, Pi!"
Perjalanan menuju ke rumah sakit terasa begitu cepat, karena sang papi terus menyemangati untuk kembali mendapatkan hati Rain, gadis mungil kesayangannya.
Saat mereka berjalan melalui lorong menuju kamar Rain, tampak Bu Ratna sedang berbincang dengan dokter,setelah itu terlihat sang dokter pamit.
"Siang, Bu!"ucap Davi sopan sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya.
"Eh, Davi, Pak Rangga!"ucap Bu Ratna kaget.
"Bagaimana keadaan Rain, Bu?"tanya Pak Rangga,yang diangguki oleh Davian.
"Alhamdulillah, besok sudah boleh pulang, katanya Rain shock dan ada trauma juga."jelas Bu Ratna sambil mempersilahkan keduanya masuk untuk menjenguk putrinya. Terlihat gadis mungil itu bersandar pada kepala ranjang, jari-jarinya saling memilin, sementara tatapannya terfokus pada jendela.
"Rain, nih Davian sama Pak Rangga mau jenguk!"ucap Bu Ratna lembut, namun gadis itu hanya bergeming, seolah tak mendengar apa pun.
"Rain, sayang!"panggil Bu Ratna sambil mengelus rambut putrinya lembut.
"Eh,Bu, ngagetin aja!"jawabnya tanpa menoleh sedikitpun. Bahkan ia tak menyadari keberadaan calon mertua dan calon tunangannya.
"Nggak, Rain hanya melihat ke arah anak kecil yang berlarian di taman, mereka terlihat sangat bahagia, tanpa beban apa pun."ucapnya sambil menunjuk ke arah taman.
Keheningan yang membentang diantara mereka, membuat Rain akhirnya sadar dan menoleh ke arah sang ibu yang ternyata tidak sendirian.
Dengan sedikit malu, Rain pun menyapa Pak Rangga, "Papi, kapan datang?"
Pak Rangga hanya tersenyum, kemudian menghampiri gadis yang masih terlihat pucat itu. "Gimana keadaan kamu?"tanyanya sambil duduk di kursi dekat ranjang.
"Alhamdulillah udah baikan, Pi."jawabnya tanpa menoleh ke arah Davian sedikitpun.
"Bagus kalau gitu, papi ikut senang."
Terlihat Davian yang menatap sayu ke arah Rain, ia ingin sekali memeluk gadisnya, namun sepertinya Rain masih marah padanya.
"Oya ada yang mau Davi bicarakan sama kamu, Rain, papi harap kamu mau nerima dan nerima semuanya."ucapnya lembut namun tegas.
"Mari, Bu Ratna kita keluar sebentar, biarkan mereka bicara untuk menyelesaikan masalahnya!"ajak Pak Rangga. Kemudian mereka pun beranjak keluar meninggalkan putra dan putri mereka.
Davian sekarang duduk di kursi bekas sang papi, berhadapan langsung dengan gadisnya.
"Ngapain ke sini?"tanya Rain sinis tanpa menoleh sedikitpun ke arah Davian.
"Maafin aku sayang!"lirih Davian sambil hendak meraih tangan mungil gadisnya, namun dengan kasar Rain menepis tangan Davian, "jangan sentuh gue!"bentaknya.
"Dengerin aku dulu, sayang, please!"ucap Davian sambil menarik kursinya lebih dekat. "Aku akan jelasin semua tentang masa lalu aku, aku tahu aku bukan cowok yang baik, tapi aku harap kamu tahu semuanya dari aku dan kenapa aku ngelakuin itu."
Kemudian Davian pun menceritakan masa lalunya tentang cinta pertamanya dengan Diandra, hingga ia ditinggalkan gadis itu menikah dengan orang lain. Bahkan penantiannya sia-sia karena Diandra sudah menjadi milik orang lain, dari situ ia mulai benci wanita, sehingga ia hanya berniat mempermainkan setiap wanita yang datang kepada dirinya.
"Terus Nania bagaimana? Pacar Zulfikar yang katanya sahabat kamu?"sela Rain setelah mendengar semua penjelasan Davian.
"Aku dijebak sama cewek itu, rumah kayu yang kemarin itu, tempat aku dijebak oleh cewek sialan itu, saat itu dia berpura-pura minta tolong, tapi saat aku sampai di rumah itu Nania sedang berbuat tak senonoh dengan lelaki lain, saat aku menegur mereka lelaki itu kabur, aku yang hendak menolong Nania malah ditariknya bersamaan dengan kedatangan Zulfikar."jelasnya panjang lebar.
"Aku bersumpah tak melakukan apa pun pada Nania."lanjutnya.
Rain menghela nafas kemudian ia kembali bersandar pada kepala ranjang, perasaannya tak karuan saat mendengar semua penjelasan Davian.
"Aku tahu, kamu pasti jijik sama aku, Rain, aku pasrah jika kamu mau meninggalkan aku."ucap Davian lesu.
"Asal kamu tahu, cuma kamu cewek yang aku cintai, sayangi setelah rasa cinta dan sayang itu hilang sekian lama."lanjutnya.
"Aku takut kejadian seperti kemarin terulang lagi!"ucap Rain tiba-tiba. "Hal itu seperti mimpi buruk dalam hidup aku, setelah apa yang dilakukan Reza dulu."lanjutnya.
"Aku janji hal itu tak akan terulang lagi, sayang, apalagi pertunangan kita tinggal 2 hari lagi."ucap Davian penuh keyakinan.
"Kamu pikir aku masih bersedia bertunangan dengan kamu?"jawab Rain sarkas.
"Aku harap iya!"jawab Davian tegas. "Bahkan jika ada syarat yang harus aku penuhi akan aku lakukan!" lanjutnya.
"Oke,,, aku ada beberapa syarat!"jawab Rain.
"Apa?"
Bersambung....
Masa lalu Davian ada di chapt 14-15 ya jadi aku nggak jelasin secara detail disini.
Happy Reading πππ
Jan lupa like, komen sama votenya ya... Komen next, up, lanjut aja udh bkn aku seneng
Aku juga mau ngucapin banyak terimakasih pada kalian yang selalu setia baca novel aku.
Peluk online buat kalian semua dari authorπ€π€π€π€