"DR"

"DR"
Sarapan



Pagi ini Rain dan Davian memilih sarapan di kamarnya saja, selain Rain yang masih PMS juga mereka masih ngantuk, karena semalaman Davian terus menggoda istrinya walaupun tidak melakukan malam pertama mereka.


Rain masih bergelung dalam selimutnya, apalagi perut dan pinggangnya selalu sakit kalau di hari pertama sampai hari ke tiga PMS nya.


"Yank, emang sakit banget ya?" tanya Davian saat ia keluar dari toilet dengan satu tangannya menggosok rambutnya yang masih basah.


"Hmmm"


"Ya udah ntar aku pijitin lagi, aku pakai baju dulu." sambil beranjak ke lemari untuk mengambil pakaiannya. Rain masih meringkukan tubuh mungilnya di ranjang.


Tak berapa lama, saat Rain masih memejamkan matanya, terasa gerakan di belakang tubuhnya. Davian dengan hati-hati ikut bergelung masuk ke dalam selimut, dan memeluk istrinya dari belakang.


"Abaang, iih sakit!" gerutu Rain saat suaminya melingkarkan tangan kekarnya ke perut ratanya.


"Peluk doang, Yank, masa sakit," elak Davian sambil mencium tengkuk sang istri.


"Semalam juga bilangnya gitu, tapi bikin aku nggak bisa tidur." omel Rain dengan posisi tetap memunggungi suaminya.


Terdengar kekehan ringan suaminya yang membuat Rain berdecak.


"Nggak apa-apa lah kita kan udah sah juga, Yank." jawabnya cuek.


"Bang, kenapa nggak sarapan bareng mami, papi sama ibu?" tanya Rain sambil berbalik ke arah suaminya untuk mengalihkan pembicaraannya.


"Nggak apa-apa, mereka juga pasti ngerti, Yank." sambil mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Tapi aku nggak enak, Bang?"


"Kamu nya juga masih sakit kaya gitu, emang mau aku gendong ke bawah?" goda Davian sambil menjawil hidung mancung istrinya.


"Ish,,, aku juga nggak berat-berat amat kali, Bang," gerutunya yang malah mendapat ciuman gemas dari suaminya.


"Iiih, abaaaaaaaaaang!!" sambil mendorong wajah suaminya agar menjauh.


Saat Davian hendak melancarkan aksinya lagi, tiba-tiba sebuah ketukan terdengar di pintu kamarnya.


"Siapa si ganggu?" omel Davian kemudian beranjak menuju pintu.


"Maaf, tuan ini sarapannya." ucap pria dengan seragam khas hotel ini. Davian hanya mengangguk kemudian memberinya tip.


"Yank, nih sarapannya udah datang, makan dulu yuk!" ajaknya pada sang istri.


"Aku nggak lapar bang," ucapnya yang membuat Davian menaikan satu alisnya.


"Kalau lagi PMS gini malas banget makan aku tuh." lanjutnya.


"Nggqk boleh, kamu harus makan biar aku suapin." sambil membawa sarapan sang istri dan duduk di tepi ranjang untuk menyuapinya.


****


Di restoran hotel, nampak beberapa orang sedang bercengkrama di sela sarapannya.


"Pengantin nggak ikut sarapan bareng ya, Bu?" tanya Ikoh pada Bu Ratna.


"Nggak tuh, masih betah kali mereka," sambil terkekeh.


"Mungkin juga Rain susah jalan tuh,, ups!" sela mami Sherly yang membuat semuanya tertawa.


"Oya, sekalian liburan untuk pulang besok lusa ya!" ucap papi Rangga tiba-tiba, yang membuat semua orang mengangguk.


"Asyik, bisa godain dulu manten baru." sorak Ikoh yang membuat Refal menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Mereka pun menyelesaikan sarapannya dengan berbincang seputar pengantin baru yang masih anteng di kamar, padahal mereka nggak tahu kalau malam pertama pengantin baru itu tertunda.


Setelah itu mami sherly, papi Rangga dan Bu Ratna pergi menuju kamar mereka masing-masing, karena acara yang berlangsung kmrn cukup menguras tenaga mereka, jadi mereka memutuskan untuk kembali beristirahat.


Sementara Ikoh dan Refal mereka berjalan-jalan di taman yang ada dalam hotel.


"Bang, aku pengen wa Rain deh, penasaran aku?" ucap Ikoh sambil berjalan dengan memegang lengan kekasihnya.


"Nggak usah palingan mereka masih selimutan, mungkin juga hp nya dimatiin." sambil menjawil hidung mancung kekasihnya.


"Tapi penasaran, Bang." kekeh gadis berisik itu.


***


"Jadi kita seharian di kamar aja gitu?" pekik Rain saat suaminya itu kembali menarik tubuh mungilnya ke pelukannya.


"Hmm, emang mau kemana si?"gumam Davian sambil melabuhkan dagunya pada bahu kecil Rain.


"Ya kemana gitu, Bang, masa di kamar doang bosen tahu." rajuk Rain sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Davian terkekeh saat melihat gadisnya merajuk seperti itu eh istrinya deh.


"Ya udah ayo, kamu mau kemana?"


"Ya kemana aja lah yang penting jangan di kamar mulu lah, sumpek aku."


"Iya,cantik!" sambil mengecup bibirnya sekilas.


Mereka pun keluar hendak menuju taman hotel. Davian tak melepas rangkulannya pada sang istri saat mereka berjalan keluar dari kamar.


"Oya, Yank, emang kalau kamu lagi dapat tamu bulanan gitu suka berapa hari?" tanya Davian saat mereka berjalan melewati lorong hotel, karena pertanyaan itu terus memutar di otaknya semalaman.


"Aku biasanya lama si, Bang, kadang pas dua minggu." jawab Rain dengan muka tersenyum puas.


"Ya ampun, Yank masa lama banget gitu si?" ucap Davian lesu, yang malah membuat Rain terkekeh puas.


"Yang sabar ya abang sayang!" sambil mengelus pipi suaminya.


Saat mereka sedang berbincang seperti itu, tiba-tiba ada teriakan dari arah belakang.


"Raiiiin!!!" suara cempreng Ikoh membuat Davian dan Rain menoleh.


"Cieee,,, yang abis malam pertama dapat berapa ronde nih?" ocehnya yang membuat Rain gemas dan menutup mulut sahabat gilanya itu.


"Kepo!" jawab Rain setelah melepas bekapan tangannya pada sahabatnya itu.


"Ih elu mah, nggak asyik ah!"


Sementara Davian dan Refal hanya melipat kedua tangan mereka di depan dada sambil menggelengkan kepalanya. Yang satu jutek, yang satu lagi cerewet tapi mereka malah begitu akrab dan saling menyayangi.


"Maafin dia ya, Dav!" ucap Refal sambil menunjuk kekasihnya yang masih terus menggoda Rain dengan ocehannya.


"Nggak apa-apa, gue malah iri sama mereka." jawab Davian dengan bibir terangkat ke atas dan terus menatap ke arah dua wanita yang sedang berdebat di depannya.


Akhirnya mereka duduk di kursi taman dengan meja bundar di depannya. Mereka berbincang ringan hingga selingan tawa pun sering terdengar.


"Jadi dapat berapa ronde nih tadi malam?" tanya Refal tiba-tiba yang membuat Rain memekik.


"Abaang, apaan si?"


"Ya abang pengen tahu aja si, gadis kecil abang yang manja ini sekarang udah jadi seorang istri." kekeh Refal.


"Tenang aja gue pasti jagain ade lu!" jawab Davian sambil menepuk bahu Refal.


"Makasih Dav," ucap Refal sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba meluncur begitu saja.


Sementara kedua wanita di depannya masih saja berdebat entah apa yang membuat Rain gemas.


"Ikooh...!!"


"Dih, timbang jawab doang perkasa apa nggak?"


"Astagfirullah mulut lu, Koh!"


Refal dan Davian menahan tawa mereka dengan mengepalkan tangannya di depan mulut mereka.


Bersambung....


Happy Reading 😍😍


Makasih masih setia ama babang Davi


Jan lupa tinggalin jejak ya buat like, komennya ya... 😘 😘 😘 😘