"DR"

"DR"
Dilema



Setelah pertemuannya dengan Reza, Rain tak pernah mengunjungi toko makanan itu, kecuali bareng Davian. Gadis itu jika harus bertemu cowok yang sudah menjadi trauma baginya.


Rain merasa kedekatannya dengan Davian makin tidak wajar, apalagi perhatian cowok tinggi itu selalu membuat Rain merasa dimanja. Sebenarnya ia juga sadar kalau Davian sudah memiliki tunangan begitu juga dirinya. Namun tiap gadis itu bertanya sang ibu selalu menjawab,"nanti juga kamu tahu."


Seperti hari ini Davian mengajak Rain untuk makan siang bersama, saat cowok tinggi itu tiba-tiba menjemputnya dari kampus.


"Ngapain sampai repot-repot jemput aku si, Bang?"ucap Rain sambil memasang seatbeltnya. Sementara motornya dipake Ikoh.


"Ada yang mau aku omongin, penting!"jawabnya, kemudian melajukan mobilnya. Rain pun mengangguk dan setelah itu hanya keheningan yang terbentang diantara mereka.


Tak berselang lama mereka berhenti di sebuah restoran bergaya klasik, kemudian Davian mengajak Rain turun dan masuk ke sana.


Davian memesan makanan yang sama dengan gadis di depannya. Selama menunggu pesanan datang, tiba-tiba Davian bertanya, "apa kamu suka sama aku?"


Rain yang saat itu sedang melihat ponselnya, mendongak dengan kening berkerut,"maksudnya?" dengan wajah sedikit merah.


"Sebentar lagi mami mau mempertemukan aku dengan tunangan yang mami pilih,"sambil menghela nafas gusar, "katanya acara pertunangan tinggal beberapa hari lagi,"lanjutnya.


Rain berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya yang tersekat di tenggorokan.


" Kalau kayak gitu selamat ya, Bang!"dengan wajah dibuat sesumringah mungkin, padahal entah kenapa di hatinya yang terdalam ada rasa sakit yang amat sangat.


Cowok tinggi itu malah mengusak rambutnya, kemudian bersandar pada punngung kursi. Saat ia hendak mengutarakan sesuatu, pelayan datang membawa pesanan mereka.


"Udah sekarang makan dulu, nanti kita bahas lagi!"ucap Davian datar, kemudian mulai menyuapkan makanannya. Gadis dengan rambut dicepol itu pun mengangguk dan mengikuti apa yang Davian lakukan.


Makan siang mereka ditemani dengan keheningan, hanya denting sendok dan piring yang mendominasi mereka. Keduanya larut dengan pikiran masing-masing.


Rain lebih dulu menghabiskan makanannya, kemudian ia mendorong piring kosongnya ke depan. Davian yang masih mengaduk-aduk makanannya menoleh ke arah gadisnya yang sedang meminum minumannya.


"Udah abis?"sambil mendorong piringnya ke depan yang masih terisi makanan. Rain mengangguk dan menatap kke arah piring cowok di hadapannya.


"Kok, nggak diabisin, Bang? Pamali kalau kata ibu,"sambil mengambil tisu.


"Lagi nggak selera."jawab Davian kemudian meneguk minumannya.


"Aku sebenernya udah sayang sama kamu, Rain, aku takut menyakiti tunangan pilihan mami, karena hati aku cuma buat kamu."ungkap Davian yang membuat Rain terbatuk.


"Abang ngigo nih, janganlah pasti pilihan mami terbaik buat abang,"ucap Rain sambil terkekeh, walau di sudut hatinya yang lain ia juga mulai mengakui perasaannya terhadap cowok tampan di depannya.


"Apa kamu juga udah dijodohin? Siapa cowok beruntung itu?" pekik Davian kaget, namun gadis di hadapannya hanya menggelengkan kepalanya,"nggak tahu."


Davian menghela nafas berat, sambil mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Rain.


"Kata ibu dua hari lagi aku bakal bertemu sama dia."ucap Rain sambil menunduk.


"Dua hari lagi? Ko sama, apa jangan-jangan kamu tunangan aku?" ucap Davian sumringah. Rain menatap wajah cowok di depannya dengan sayu.


"Bang, apa kita salah udah kayak gini? Aku ngerasa udah khianatin calon aku," ungkap Rain dengan sedikit terbata.


Davian menutup matanya dan menghela nafas, ia merasa dunia tak adil padanya, saat ia menemukan gadis yang benar-benar ia cintai setelah ia bisa melepas masa lalunya, gadis itu justru milik orang lain.


"Kita nggak salah, sayang!"jawab Davian.


Rain melepaskan genggaman tangannya dari Davian saat telponnya berdering.


"Maaf, Bang, ada telpon dulu,"sambil melihat ponselnya, ada nomor tak dikenal di sana, gadis itu mengerutkan keningnya, hal itu pun tidak luput dari perhatian Davian, "siapa?"tanyanya.


"Nggak tahu,"kemudian menekan tombol hijau di ponselnya, saat ia akan menyapa, suara khas di sebrang sana membuat Rain terpaku, wajahnya berubah pucat.


"Halo sayang apa kabar?"ucap suara bariton yang Rain hindari sejak lama. Gadis itu berubah pucat saat mendengarnya. Tanpa sepatah kata pun ia langsung menutup saluran telponnya.


Davian menatap ke arah gadis mungilnya,"kenapa?"ucapnya. Rain menggeleng dan memegang erat ponselnya.


"Anterin aku pulang, Bang!"ucapnya sambil beranjak.


"Tapi_"


Bersambung....


Monmaaf ya dikit lama lagi, beneran lagi sibuk ngurusin dl kerjaan


Happy Reading


Tetep jaga kesehatan dan dirumahaja


Sun online beneran😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘