"DR"

"DR"
Akhir Cuti



Davian benar-benar mengambil cuti sebulan, setelah menikah. Selama itu pula ia tak pernah melepaskan sang istri. Seperti hari ini, hari terakhir cuti bagi Davian ia benar-benar menjahili sang istri dari pagi hingga membuat Rain uring-uringan karena kesal.


"Abaaaang bisa diem nggak sih? Aku tuh lagi beres-beres." Omel Rain kesal dengan mengacungkan sapu di tangannya. Gimana nggak kesel coba lagi masak digelendotin, sekarang lagi beres-beres dicuri-curi cium hingga membuat Rain kesal setengah mati.


"Aku dari tadi diam ko, Yank, kan nggak ngomong apa-apa," jawab Davian santai sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Lagian kan udah aku bilang nggak usah beres-beres biar nanti si bibi yang beresin, malah nggak dibolehin," lanjutnya.


Rain menatap jengah ke arah suaminya, "aku bosenlah cuma diam doang, abang!"


"Lah kata siapa kamu diam doang, kan kita kerja juga?" sambil menaikturunkan alisnya yang hitam.


"Kerja apaan kamu kan cuti, yang ada kamu ngerjain aku terus," sewot Rain sambil ikutan melipat kedua tangannya seperti sang suami.


"Nah kan itu tahu, kita mesti kerja sama buat bikin cucu untuk mami sama ibu!" bisiknya tepat di telinga sang istri, yang sudah memundurkan wajahnya saatia mendekati mendekatinya.


"Diiih nggak!!!" sambil mengayunkan sapu dan mulai memukulkan ke kaki sang suami hingga mengaduh.


"Awas, kalau masih ganggu aku nggak mau tidur sama kamu!" kemudian melanjutkan acara bersih-bersihnya yang sempat tertunda lama.


"Yah, jangan dong mana waktu itu libur lagi seminggu," keluh Davian kemudian ia pun duduk di sofa dan menyalakan televisi. Rain akhirnya terkekeh saat mendengar keluhan suaminya yang sekarang duduk manis dan fokus pada layar besar di depannya.


Setelah malam pertama mereka, Rain benar-benar tak memberinya jatah selama seminggu, tapi suaminya nerima aja walau ia tahu mungkin suaminya tersiksa. Karma badboy kali ya.


Setelah berapa lama, akhirnya Rain pun beres dengan aktifitas paginya, rumahnya terlihat bersih dan nyaman. Setelah menyimpan alat kebersihannya ke tempatnya, ia pun ikut duduk di samping suaminya.


"Uuh,, akhirnya beres juga!" ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa, dan lengannya ia angkat untuk menutupi kedua matanya. Davian yang duduk di sampingnya, dengan pelan tapi pasti langsung memeluk tubuh sang istri yang tampak kelelahan, dan mengangkat tubuh mungil sang istri ke pangkuannya.


"Abaang, kebiasaan!" pekik Rain saat ia sudah berada di pangkuan suaminya.


"Nah itu tahu, makanya kalau tahu aku duduk di sini, ngapain duduk di samping aku jauhan lagi," ucap Davian dengan melingkarkan tangan kekarnya ke perut rata sang istri.


"Bukan gitu, aku kan keringetan, Abang!" ucap Rain dengan memegang bahu suaminya. Namun perlakuan itu malah membuat Davian menaikan satu alisnya dan tersenyum penuh arti, "kamu mau menggodaku, Yank?"


"Ck,,, godain apaan si, Bang? Jangan mulai deh!" gerutu Rain sambil melepaskan kedua tangannya dari bahu sang suami.


"Sebentar aja,yuk!" bisik Davian, tapi langsung ditolak mentah-mentah oleh sang istri.


"Nggak, sebentar kamu tuh lama!" sambil melepaskan pelukan suaminya dan beranjak dari sana.


*****


Di sebuah restoran


Tampak seorang wanita dengan tubuh tinggi, langsing sedang duduk berhadapan dengan pria yang berbadan tegap yang nampak menganggukan kepalanya.


"Jadi, kita beneran jadian, Ril?" ucap wanita itu dengan antusias dan hanya diangguki oleh pria dengan panggilan 'Ril' itu.


"Kita nikah bulan depan, kamu siap kan?" ucap Deril dengan wajah datarnya.


"Kamu serius?" tanya Isma dengan mata yang berbinar.


Ya mereka Isma bawel biang rusuhnya Daviannya, yang sayangnya juga sepupunya. Sementara Deril adalah kekasih Isma yang terakhir, namun ia bersifat kebalikan dengan sang kekasih, Isma yang bawel da cerewet harus takluk pada cowo kulkas seperti Deril, yang senyum saja setahun sekali.


Deril melamar Isma di saat ia mengajak sarapan bareng hari ini. Isma yang memang mencintai kekasihnya itu nampak bahagia dengan pernyataan kekasihnya.


"Minggu depan aku akan ke rumah kamu untuk lamaran,"ucap Deril dengan menarik satu tangan kekasihnya itu dan mengecupnya lembut.


Acara sarapan pagi itu pun terasa amat berbeda bagi Isma dan Deril.


Setelah selesai sarapan, mereka pun pulang. Deril mengantar sang kekasih ke rumahnya sambil memberitahukan tentang niatannya untuk melamar Isma kepada orangtua kekasihnya itu.


Senyuman selalu terukir di wajah cantik Isma. Sementara Deril, tetap menampilkan wajah datarnya,makanya semua temannya menyebut ia dengan sebutan 'manusia kulkas'.


*******


Di rumah Bu Ratna


"Ibu kangen sama kamu, Nak. Kapan kalian akan berkunjung ke sini?" ucapan Bu Ratna terlontar begitu saja saat ia sedang melakukan vidio call bersama putrinya.


"Besok, Bu, Rain sama Abang ke sana,maaf bukan Rain nggak merhatiin ibu." jawab Rain dengan sendu sambil mengelus wajah sang ibu di layar ponselnya, sementara Davian menaruh dagunya di bahu sang istri dengan tersenyum.


"Eh, tapi kalian udah bikinin ibu cucu kan?" tanya Bu Ratna dengan antusias.


"Udah, Bu Davi usahain tiap hari biar cepet jadi," jawab Davian antusias yang malah mendapat cubitan dari sang istri yang wajahnya sudah berubah merah. Bu Ratna terkekeh saat melihat perdebatan dari suami istri yang berbeda usia itu.


"Iya, iya udah nggak usah berantem, ibu seneng kalian bahagia dan bisa akur kaya gitu," sela Bu Ratna menyela perdebatan mereka.


"Akur dari mana si, Bu? Si abang ngeselin gangguin Rain mulu dari pagi sampai malam," gerutu Rain sambil merajuk pada sang ibu.


Bu Ratna terkekeh kemudian berucap, "nggak apa-apa sayang, enak lo itu tuh bis bikin kamu dapat banyak pahala kalau nurutin suami."


"Tuh, dengerin Yank, dapat pahala masa nggak mau?" goda Davian pada sang istri di depan mertuanya itu.


"Maunya kamu itu mah!"


Bu Ratna kembali terkekeh melihat pasangan pengantin baru di depannya, "ya udah pokonya, besok kalian ke rumah ibu sama bang Refal kangen."


Setelah itu sambungan vidio call pun terputus dan Bu Ratna kembali dengan kegiatannya di kedai, walaupun sekarang ia hanya duduk saja memantau keadaan kedai, karena sudah ada banyak karyawan yang kerja di sana.


Sementara di apartemen Davian sedang merayu sang istri lagi.


"Yank, ayo kita nyari pahala yang banyak!" godanya dengan memeluk tubuh sang istri dari belakang.


"Abaang ih, emang nggak puas apa semalam," omel Rain sambil memukul lengan suaminya gemas.


"Aku nggak akan pernah puas kalau sama kamu, sayang," sambil menggendong sang istri ala brydal menuju kamar mereka.


"Abaaaang!!!" pekik Rain


Yah kalau udah gini kalian pasti tahu lanjutannya...


Bersambung....


Happy Reading


Bang Davi tinggal beberapa bab lagi tamat ya makasih udah setia nungguin cerita babang Davi da Rain walaupun updatenya lama sekali๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Jan lupa tinggalin jejak ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜