"DR"

"DR"
Pingitan



Davian yang baru selesai meeting, tiba-tiba dihampiri seorang pria yang ditaksir seumuran dengannya atau mungkin lebih tua dua tahun dari dirinya.


"Maaf, kamu Davian kan?" taya pria itu. Davian yang memang tidak mengenali pria di hadapannya hanya mengangguk.


"Tolong, jangan pisahkan saya sama istri saya!" ucapnya pada Davian.


"Saya punya bukti kalau Revan itu anak kandung saya, bukan kamu, saya ayah biologisnya," lanjutnya yang membuat Davian makin mengerutkan keningnya.


"Sebentar, saya tidak mengerti apa yang Anda maksud?" ucap Davian. Kemudian pria itu memberikan map coklat dan sebuah foto pada Davian.


Saat ia melihat foto tersebut terlihat jelas bahwa itu foto Diandra bersama pria di hadapannya dengan seorang anak laki-laki.


Davian pun mengangguk dan mengajak pria itu masuk ke ruangannya.


"Saya tidak akan merebut istri Anda, Diandra hanya masa lalu saya, bahkan tinggal menghitung hari saya juga akan melaksanakan pernikahan saya dengan wanita yang saya cintai." jelas Davian saat mereka sudah masuk ke ruangan Davian dan duduk di sofa.


"Terimakasih, nama saya Riki dan anak saya Revan, tapi hari ini Diandra dan Vino sepupunya berencana untuk menghasut calon istri Anda untuk meninggalkan Anda dan membatalkan pernikahannya dengan Anda." jawab pria itu dengan tergesa. Davian kembali mengerutkan keningnya dan ingat tentang ucapan gadisnya yang bilang akan ke taman baca siang ini.


"Apakah tempatnya di taman baca?"


"Iya, tempat itu yang dibilang oleh mamah mertua saya."


Tanpa menunggu lagi mereka pun bergegas menuju taman baca untuk menghentikan kegilaan Diandra dan Vino yang ternyata sepupunya Diandra.


Akhirnya mereka sampai di taman baca.


"Stop!!! Cukup aku nggak mau berurusan sama kalian berdua, yang jelas minggu ini aku akan tetap menikah dengan Davian Bratasukma." ucap Rain tegas.


Davian tersenyum bahagia saat mendengar ucapan gadis yang membelakanginya, saat gadis itu berbalik ia terlihat kaget saat ada Davian di depannya yang tersenyum. Lalu Davian pun menghampiri Rain dan memeluknya erat, "makasih sayang!"


Setelah itu mereka meninggalkan taman baca dan pergi ke tempat prewed.


****


Tinggal tiga hari lagi menuju hari H pernikahan antara Davian dan Rain.


Hari ini Rain berada di rumah, ia hendak memanjakan dirinya dengan luluran dan perawatan tubuh lainnya.


"Bang Davi nggak bakal ke sini kan, Bu?" tanya Rain pada sang ibu saat mereka sedang memasak di dapur.


"Kenapa kamu kangen?" goda sang Ibu sambil menjawil hidung mancung putrinya.


"Nggak boleh ketemu dulu, anggap aja pingitan walau cuma tiga hari." lanjutnya.


"Dih,,, apaan Rain malah seneng dia nggak datang, ribet." jawab Rain cuek sambil melanjutkan kegiatannya.


Bu Ratna hanya terkekeh geli mendengar ucapan anak gadisnya.


"Kamu tuh gimana si, Rain, dia itu sebentar lagi jadi suami kamu lo, kamu bakal tiap hari ketemu dia, bahkan tidur juga sekarang bakal ada dia." ucap Bu Ratna sambil terkekeh geli.


"Iya juga ya, Bu, gimana dong?" sambil menghentikan aktifitasnya dan berbalik menghadap ke arah sang ibu.


"Ya nggak gimana - gimana, kamu jalani aja, entar juga bucin," kekeh Bu Ratna menggoda sang putri.


"Dih, ibu bahasanya, emang tahu apa artinya bucin?" tanya Rain sambil tertawa saat mendengar ibunya bilang kata bucin.


Bu Ratna hanya tergelak mendengar pertanyaan putrinya, "ibu sering denger tapi nggak tahu juga apaan."


"Dih!" sambil terus tertawa.


Setelah mereka selesai memasak dan makan bersama, terdengar suara berisik dari depan yang sudah tidak asing lagi bagi mereka.


"Ikoooh,,, berisik ooi!!" teriak Rain dari dalam. Kemudian tak lama kemudian Ikoh pun menghampiri mereka di ruang keluarga.


"Hai semua apa kabar hari ini?" ucapnya sambil terkekeh kemudian menyimpan dua kantong besar berisi makanan.


"Datang ke rumah orang tuh ngucap salam bukan berisik teriak-teriak!" sela Bu Ratna sambil mengambil satu bungkus makanan dari salah satu kantong besar yang dibawa Ikoh.


"Hehehe,,, iya maaf, Bu abis kebiasaan." sambil memeluk pinggang Bu Ratna, memang mereka seakrab itu, jadi Ikoh sudah menganggap Bu Ratna seperti ibunya sendiri.


"Ngapain lo ke sini?" sela Rain dengan muka pura-pura sewot.


"Diih, mentang-mentang mau jadi manten, belagu lu!" omel Ikoh sambil tetap bergelayut manja pada Bu Ratna.


"Siapa yang semalam nyuruh datang ke sini buat bantuin luluran sama maskeran?" lanjutnya.


Rain pun terbahak saat mendengar ocehan sahabatnya itu.


"Udah sana makan dulu, gih! Ibu sama Rain baru aja selesai makan." ucap Bu Ratna menyela perdebatan dua sahabat itu.


"Nggak ah, Bu, Ikoh lagi diet." ucapnya kemudian melepas pelukannya pada wanita paruh baya di sampingnya.


"Serius diet?"


"Iya, masa nggak percaya si, Bu?"


"Terus ini makanan dua karung mau diapain?" sindirnya sambil menahan tawanya.


"Iih, ibu mah itu kan cemilan Ikoh sama Rain, iya kan Rain?" sambil melirik ke arah sahabatnya yang juga menahan tawanya.


Namun tiba-tiba Refal datang dengan membawa paper bag di tangannya, bahkan ia masih memakai setelan kerjanya.


"Kenapa cewek abang cemberut gitu?" sambil menghampiri Ikoh dan menyalami Bu Ratna.


"Abaaang!!" seru Ikoh dengan manja.


"Iih, lebay amat si lo!" gerutu Rain sambil bersedekap tangan.


"Bodo amad!" jawab Ikoh sambil beranjak dan bergelayut manja di lengan sang abang.


"Ngapain pulang, Bang?" tanya Eain kemudian.


"Ini, aku disuruh ngasih ini ke kamu dari suami kamu!" sambil memberikan paper bag yang tadi dibawanya.


"Apaan, Bang?"


"Tahu, tuh liat aja sendiri!" sambil mengangkat bahunya. Setelah itu ia pun pamit hendak balik ke kantor lagi.


"Iih, ko bentar si, Bang masih kangen tahu!" gerutu Ikoh tanpa malu walau masih ada Bu Ratna dan Rain di depannya.


Refal hanya terkekeh, kemudian menjawil hidung mancung kekasihnya.


"Iya, entar sore aku balik ko, sayang!"


"Lebaaay,,oeee!" ledek Rain sambil menggerakan mulutnya seperti mau muntah.


"Sirik!!" jawab Ikoh kemudian beranjak dari sana hendak mengantar kekasihnya ke depan.


Setelah Ikoh kembali dari mengantar Bang Refal, tampak Bu Ratna dan Rain sedang membuka isi paper bag yang dibawa kekasihnya tadi.


Dengan sedikit berlari Ikoh pun buru-buru menghampiri mereka dan kepo dengan isinya.


"Apaan si isinya, Rain?"


"Ini buat perawatan calon manten, katanya si titipan dari mami Sherly." jelas Rain dengan sedikit menekankan kata calon manten.


"Yaah, padahal gue mau ikutan emang nggak boleh ya?" tanya Ikoh sambil mengambil salah satu wadah yang berisi cairan bening.


Bu Ratna dan Rain hanya terkekeh geli, kemudian sang ibu pun berucap, "ya udah kalian pakai aja berdua, biar sama-sama cantik nanti pas nikahan Rain!"


Kedua gadis itu pun beranjak dan menuju ke kamar Rain. Mereka berdua merawat tubuh mereka masing-masing dengan skincare yang baru Rain dapat dari mertuanya itu.


" Coba kita ke salon ya Rain pasti lebih fresh!" ucap Ikoh disela maskerannya.


"Kalau gue besok emang mau ke sana, mau ikut juga?" tanya Rain sambil melirik ke arah Ikoh.


"Mauuu, beneran ya ajak gue!"


"Hayu, tapi lo nganter gue doang." kekeh Rain, dan langsung mendapat lemparan bantal dari sahabatnya.


"Emang besok pergi sama om kesayangan lo?" tanya Ikoh.


"Nggak lah kan kita dipingit nggak boleh ketemu dulu." jelas Rain yang membuat Ikoh manggut-manggut.


****


Davian nampak fokus pada layar datar di depannya sambil sesekali tersenyum. Dio yang sedari tadi menunggunya untuk meeting, akhirnya menghampiri bos sekaligus sahabatnya itu.


"Lo lagi ngerjain apaan si?" sambil melihat layar laptop milik bosnya itu.


"Astagfirullah, gue pikir lo lagi ngerjain apa, ngapain lo liatin foto Rain kan bisa ketemu?" ungkap Dio heran dengan tingkah bosnya itu.


"Gue nggak boleh ketemu sama Rain katanya pingitan gitulah, entah gue juga nggak ngerti." jawab Davian tanpa menoleh sedikit pun ke arah Dio.


Dio hanya berucap oh tanpa suara, kemudian dengan kesal menutup laptop bosnya itu, "jadi meeting nggak?"


Davian yang sempat menatap kesal ke arah Dio, kemudian akhirnya mengiyakan saat Dio bertanya tentang meeting hari ini. Mereka berdua pun pergi meninggalkan kantor Davian menuju tempat meeting mereka di luar kantor.


"Mulai besok lu yang handle semua kerjaan gue!" titah Davian saat mereka kembali ke kantornya.


"Oke, Bos!" jawab Dio.


"Gue disuruh mami buat diem di rumah, kaya anak perawan gue." ucapnya dengan nada sedikit kesal.


Dio hanya terkekeh dan menepuk bahu sahabatnya itu.


"Udah tenang aja, lo mening luluran aja di rumah biar pas jadi manten muka lu glowing!"


"Sialan!!"


Bersambung....


Happy Reading 😍😍😍


Jan lupa tinggalin jejak ya


Sun online buat kalian yg selalu baca dan komen aku