"DR"

"DR"
Amplop Coklat



Rain mengerjapkan matanya saat mendengar alarm dari ponselnya. Ia tertegun saat menyadari kalau ia berada di atas ranjang.


"Eh tunggu kok gue jadi tidur di sini?" gumamnya sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya. Namun saat ia memeriksa pakaianya, ternyata benda itu masih melekat utuh di tubuhnya.


Rain menurunkan kedua kakinya dan mencari di mana keberadaan kekasihnya, namun saat ia menoleh ke arah sofa, nampak Davian bersandar pada sandaran sofa dengan kemeja terbuka dan satu lengannya menutupi kedua matanya.


"Masih tidur ternyata, ngapain lagi itu baju ampe dibuka gitu nggak takut masuk angin apa?" gumam Rain sambil berjalan menghampiri kekasihnya, ia hendak menyelimuti tubuh Davian dengan selimut yang tadi ia pakai.


Rain mengecek ponselnya dan melihat ada beberapa notif di sana, namun ia abaikan, sekarang ia mencari nama Bang Dio di kontaknya, setelah ketemu ia langsung menghubungi pria berambut ikal tersebut.


Ceklek!


Suara seseorang memutar kunci pintu dari luar, tak berapa lama benda itu oun terbuka, dan nampak Bang Dio dengan rambut masih berantakan dan piyama tidur yang masih melekat di tubuhnya hanya ditutupi jaket hitamnya, ia juga menenteng kantong kresek putih, mungkin itu sarapan atau apa entahlah, yang jelas Rain langsung menghambur ke arahnya dengan muka kesal.


"Bang Diooooo,,, ngapain ngunciin kita di sini semalaman?" sambil memukul lengan pria itu dengan kedua tangannya, hingga pria yang lebih tinggi dari Rain itu mengaduh.


"Aduuh, ampun-ampun!!" sambil mengangkat kedua tangannya.


"Berisik!" gumam Davian tanpa membuka matanya ia malah merubah posisi duduknya jadi meringkuk di sofa dan beegelung dalam selimutnya.


Rain dan Dio terdiam sejenak, namun kemudian Rain kembali memukul Dio dengan kesal, ia memang meluapkan kekesalannya pada pria itu. Dio pun akhirnya minta maaf, dan bilang kalau ia hanya ingin dirinya dan Davian berbaikan.


"Aku cuma mau kalian baikan doang, elah!" ucapnya sambil menyimpan kantong kresek tadi di atas nakas.


"Baikan si baikan nggak perlu dikunci juga kali, Bang!" gerutu Rain dengan mengerucutkan bibirnya.


"Iya, iya, maaf! Eh emang si Davi nggak ngapa-ngapain semalam?" goda Dio yang malah membuat Rain kembali memukul tubuhnya.


"Abaaaaang!!!"


"Iya, enggak orang semalaman dia nelponin gue, dan baru tadi subuh gue angkat," kekehnya kemudian menyuruh Rain membangunkan Davian untuk sarapan.


Setelah itu Rain mengahampiri Davian dan menarik selimutnya dengan paksa, "banguuun, abang!!"


Namun pria tinggi itu bukannya bangun ia malah berbalik memunggungi Rain.


"Ah, susah, udah ah aku mau pulang kasian ibu di rumah!" ucap Rain sambil beranjak hendak keluar.


"Eh, ini sarapannya makan dulu!" teriak Dio saat Rain sudah berlalu keluar.


"Nggak usah!"


****


Di tempat lain, seorang wanita sedang mengetik di laptopnya dengan fokus, sampai akhirnya ia berucap, "berhasil!"


Setelah itu ia meregangkan ototnya yang kaku, karena semalaman ia tak tidur untuk mencari sesuatu di laptopnya dan baru ketemu pagi ini.


"Lebih baik aku mandi dulu!" ucapnya sambil berlalu ke kamar mandi.


Saat ia sedang membersihkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara panggilan dari luar.


"Diandra!" panggil seorang wanita paruh baya, namun tak ada sahutan dari dalam sampai akhirnya ia pun masuk ke kamarnya dan mencari keberadaan putrinya. Hingga suara gemericik air terdengar.


Tak berapa lama Diandra keluar dengan jubah mandinya dan handuk yang melilit di kepalanya.


"Eh, mami, ada apa masih pagi?" ucapnya saat melihat wanita paruh baya yang duduk di ranjangnya dan sedang fokus melihat laptopnya.


"Kamu jangan macam-macam, Di?" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Maksud mami?" tanya Diandra pura-pura tak mengerti, ia malah menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.


"Lebih baik kamu perbaiki hubungan kamu dengan suami kamu, kasian Revan dia masih kecil!" lanjutnya.


"Ini semua salah mami dan papi, coba kalian dulu nggak maksa aku buat nikah sama Riki, mungkin aku udah bahagia sama Davian, Mi!" jelas Diandra dengan sendu.


"Mami cuma mau yang terbaik buat kamu, Nak!" jawabnya lirih.


Diandra hanya bergeming, kemudian ia berucap, "hari ini aku ada urusan sebentar, aku titip Revan ya, Mi!"


Wanita paruh baya dengan rambut ikal itu hanya menghela nafas pelan, setelah itu ia beranjak hendak meninggalkan kamar putri sulungnya itu, "mami harap kamu pikirkan baik-baik, cabut gugatan cerai kamu!" setelah itu ia pun berlalu.


"Kamu lihat saja, Dav!" ucap Diandra sambil menatap cermin di depannya.


***


"Rain!" panggil Bu Ratna saat melihat putrinya sudah keluar dari kamar mandi.


"Iya, Bu!"


"Davi baik-baik saja, kan?"


"Iya, bu, si om baik-baik saja, udah ibu nggak usah khawatir!" jawab Rain sambil mengambil pakaian dari lemarinya. Bu Ratna pun hanya mengangguk, kemudian ia pun keluar dari kamar sang putri.


Saat ini, Rain, ibu dan bang Refal sedang menikmati sarapannya, sebelum mereka pergi beraktivitas. Refal sesekali membalas chat seseorang dengan wajah sumringah.


"Dih, si abang kenapa si senyum-senyum sendiri gitu?" sela Rain saat melihat tingkah aneh sang abang.


"Nggak apa-apa, udah habisin sarapannya!" jawabnya sambil mengusak rambut Rain hingga berantakan.


"Abaaaaang, iih kebiasaan!"


"Oya, Bu siang nanti Rain izin mau jalan sama Ikoh!" lanjut Rain sambil membereskan piring bekas sarapan mereka.


"Iya, sayang!"


****


Kedai Bu Ratna


Pagi ini Rain dan sang ibu seperti biasa sudah berada di kedai, walau sekarang mereka hanya membantu sedikit, dan lebih banyak duduk di bagian kasir. Suasana kedai selalu rame, apalagi sekarang banyak menu baru, hingga pelanggan jadi lebih betah untuk tinggal di kedai dan mencicipi varian menu.


Siang menjelang, Rain pun pamit untuk pergi bersama Ikoh. Ia menaiki motor matiknya dan pergi ke tempat mereka janjian. Sekitar 20 menitan, Rain akhirnya sampai di tempat tujuan, tampak Ikoh sedang berbincang dengan seorang pria tinggi, yang tak asing bagi Rain.


"Ngapain bang Refal di sini?"gumamnya saat menghampiri meja mereka berdua.


"Abang ngapain?" tanya Rain to the point karena penasaran dengan apa yang dilakukan sang abang dengan sahabatnya.


"Pacaran!"jawabnya singkat yang membuat Rain menganga.


"Hah!"


"Iya, Rain kita udah jadian dua hari lalu, kemarin gue mau cerita sama lu, tapi malah kabur gara-gara lu diikutin Bang Davi," cerocos Ikoh sambil menggandeng tangan sang abang.


"Iih, abang kenapa nggak bilang-bilang si? Pantes tadi pagi senyum-senyum mulu, pasti chat dari Ikoh ya?" ucap Rain.


Refal hanya terkekeh melihat dua gadis kesayangannya. "Udah cepet kalian mau pesen apa biar abang yang traktir!" lanjut Refal dengan tersenyum bahagia. Mereka pun memesan makanan yang mereka mau.


"Ih, kok gue berasa jadi nyamuk diantara kalian!" gerutu Rain saat melihat kemesraan keduanya.


"Kenapa lo, nggak ajak Bang Davi si kan bisa double date?" ucap Ikoh.


"Ya nggak diajak lah orang semalaman mereka bareng," sela bang Refal sambil terkekeh.


"Abaaaaang!"


"Sumpah lo, ngapain aja?" tanya Ikoh antusias.


"Jangan ngeres deh lo, Ikoh!" omel Rain sewot.


Setelah itu pesanan mereka pun datang. Mereka menikmati makan siang dengan canda tawa, lebih tepatnya si godain Rain yang abis marahan sama Davian.


Menjelang sore, Rain balik ke kedai dengan paperbag di tangannya. Saat ia menemui sang ibu, beliau langsung memberikan amplop coklat dan berkata, "Rain tadi ada perempuan datang ke sini dan menitipkan ini untuk kamu."


"Siapa?"


"Nggak tahu, ibu baru lihat," jawabnya kemudian kembali memeriksa bukunya.


Rain kemudian duduk di meja dekat kasir, dan membuka amplop coklat tersebut. Ia terbelalak kaget saat melihat isinya, bahkan sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Tega kamu, Bang!" gumamnya sambil mengepalkan tangannya.


Bersambung....


Hai am kambek😂


Ada yang nanya ko up nya jadi lama, kan udah aku jelasin ya kalau aku masih riweh sama bayi yang baru berumur 1bln lebih, jadi pegang hp sesempetnya😥


Monmaaf ya...tapi makasih udah selalu ninggalin jejak buat Bang Davian sama Rain😘😘😘