
Sudah seminggu dari waktu Rain bertemu dengan Isma, hari ini Bu Ratna, Rain, Ikoh dan bang Refal sedang menunggu Davian dan Dio yang akan menjemput mereka ke rumahnya.
"Kita emang berapa lama sih, Bu, di sana, bawaan ampe segini banyak?" tanya Rain pada sang ibu, sambil melihat koper yang berjejer di sampingnya.
"Seminggu, katanya lumayan lah buat refreshing, kedai udah ibu titipin ke Dita." jawabnya tanpa melihat ke arah putrinya, ia seperti ingin bergegas pergi.
"Terus bang Refal, emang ngga apa-apa izin ampe seminggu?" lanjut gadis mungil itu mengarah ke abangnya. Sementara yang ditanya malah cengengesan dan menunjukan jari berbentuk O.
Ikoh lain lagi, ia terlihat sangat senang, apalagi Bang Refal ikut. Tak berapa lama suara klakson mobil dari halaman rumah terdengar.
"Tuh mereka udah dateng ayo buruan!" ucap Bu Ratna sambil bergegas keluar. Sementara yang lain menggeret kopernya masing-masing, kecuali Refal 2 koper dengan milik Bu Ratna.
"Udah siap semua?" tanya Davian sambil bersender pada pintu mobil dengan kaki disilang, sementara Dio masih ada di mobilnya.
"Berhubung ada dua mobil, jadi aku, Bu Ratna dan Rain, sementara mobil Dio, Refal dan Ikoh ya kasian mobil dia kalo cuma dijejelin koper doang!" putus Davian sambil membuka pintu mobil untuk Bu Ratna dan Rain, sementara kopernya sudah disimpan di belakang oleh Refal.
"Ibu yang di depan lah, Rain di belakang!" ucap Rain pada sang ibu sambil menggandeng lengannya.
"Kamu aja, ibu pengen sambil selonjoran, boleh kan ya, Dav?" jawab sang ibu sambil menatap ke arah Davian, dan diangguki oleh cowok bertubuh tinggi itu.
Saat mereka semua sudah masuk dan siap berangkat tiba-tiba dari belakang ada yang berteriak.
"Daviaaaaaaan....!" suara cempreng yang selalu mengganggu telinganya seminggu ini, berlari menghambur ke mobilnya. Rain dan Bu Ratna menoleh ke belakang, nampak seorang gadis berlari dengan tas ransel di punggungnya.
"Eh, itu Isma kan, Om?" tanya Rain meyakinkan, tapi yang ditanya terlihat cuek.
Isma sudah ada di samping mobil Davian, sambil terengah ia mengomeli Davian habis-habisan.
"Rese lu, Dav, gue ditinggalin, gue ke sini tuh mau liburan, bukan hibernasi!" ocehnya sambil berusaha membuka pintu mobil Davian.
"Salah siapa rebahan mulu, udah gue bangunin juga!" jawab Davian enteng,tanpa membuka pintu mobilnya.
"Udah lo ikut sama mobil Dio aja sana, kasian Ikoh cewenya sendiri!" lanjutnya, kemudian menstater mobilnya.
Isma pun berbalik dengan muka cemberut, ia masih kesal karena ditinggal begitu saja, saat ia masih mandi tadi pagi. Akhirnya gadis dengan rambut sebahu itu, duduk dengan Ikoh, tak berselang lama suasana mobil Dio pin jadi rame.
Mereka menempuh perjalanan sekitar 2 jam untuk sampai tujuan. Saat ini mereka baru saja sampai, para cowok membantu menurunkan koper, kemudian datang Mang Husen penjaga Villa dan bergegas membawa semua koper masuk ke dalam.
Rain dan yang lainnya tampak takjub mrlihat villa besar dan mewah di hadapannya. Kemudian Davian mengajak mereka semua masuk.
"Kamarnya ada di lantai atas, silahkan pilih sendiri!" ucap Davian.
"Kalo dapur ada di sebelah mana?" tanya Rain tiba-tiba sambil terus memperhatikan sekeliling ruangan itu.
"Ada di lorong sebelah sana!" ucap Davian sambil menunjuk ke arah kanannya. Rain hanya mengangguk kemudian ia pergi ke sana.
"Hei, lo mau kemana si?" teriak Ikoh sambil mengikuti Rain dari belakang.
"Gue aus, markonah!" jawabnya sambil terus berjalan, sementara Davian hanya terkekeh melihat adegan itu. Memang Bi Rita belum sempet membuatkan minum, mungkin ia masih berada di dapur.
Tak berapa lama datang Rain, Ikoh dan Bi Rita sambil membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan. Mereka pun duduk bersama di sofa besar yang tersedia di sana.
"Eh hari ini rencana mau ngapain ni?" tanya Dio, sambil mengambil toples berisi cemilan.
"Kita beresin barang kita dulu lah, cape juga masa mau langsung jalan!" timpal Isma sambil ikut menyomot cemilan yang ada di tangan Dio.
"Ya udah, hayu kita pilih kamar dulu lah!" ajak Davian, sementara Bu Ratna tampak berbaring di sofa, ia terlihat kelelahan.
"Ibu tidur sama aku aja ya!" ucap Rain sebelum beranjak ke lantai atas.
"Iya gimana kamu aja, Rain, bentar ibu masih cape!" jawabnya sambil menutup kedua matanya dengan lengannya.
Rain pun beranjak mengikuti yang lain ke lantai atas. Setelah sampai ada sekitar 10 kamar di sana, ruangannya begitu luas.
"Tajir bener ya Rain, Om Rese lo!" bisik Ikoh pada sahabatnya, yang langsung mendapat sikutan dari gadis mungil itu, karena ternyata Davian tepat berada di sampingnya.
"Kamu kamarnya deketan sama aku aja ya!" bisik Davian pada Rain.
"Diih,,, ogah!" jawab Rain jutek. Tapi Davian malah terkekeh.
Setelah semuanya menempati kamar masing-masing, mereka pun kembali ke bawah, untuk melihat kondisi Bu Ratna. Tampak wanita paruh baya itu sedang menelpon seseorang.
"Iya, jeng aku baru nyampe, jeng kapan ke sini?" ucapan itu yang terdengar jelas oleh Rain dan yang lainnya. Setelah itu hanya anggukan dan jawaban iya dari Bu Ratna, kemudian mengakhiri telponnya.
"Siapa, Bu?"
"iih ibu tumben main rahasia-rahasiaan!" gerutu Rain.
"Daviii kita renang yu!" teriak Isma heboh.
Davian hanya menanggapi sekilas. Namun dipikir-pikir idenya bagus juga.
"Ada yang mau renang ngga? Di taman belakang ada kolam renang ko, jadi nggak usah ke pantai dulu!" jelas Davian yang selalu duduk di samping Rain, ia sepertinya enggan jauh-jauh dari gadis mungil itu.
"Hayu lah, apalagi Rain sering dapat juara renang tuh di sekolah!" cerocos Ikoh yang mendapat bekapan dari tangan Rain.
"Berisik banget si lo!" omel Rain jengah.
"Waah kalo gitu ayo kita balap renang!" ajak Dio antusias. Sementara Isma sudah menyiapkan beberapa pakaian renang untuk Ikoh dan Rain.
Sekarang mereka sudah berada di kolam, Rain memakai tangtop dan leging panjang, ia merasa kurang nyaman kalo harus memakai pakaian renang yang diberikan Isma.
Sebelum mulai berenang mereka warming up dulu. Rain juga nampak terlihat senang karena hobynya bisa tersalurkan lagi setelah sekian lama disibukan oleh pekerjaan dan kuliah.
Rain dan yang lain mulai berenang pelahan, ternyata Rain memang benar-benar lincah saat berenang, ia juga terlihat senang.
Setelah bolak-balik berenang, akhirnya mereka duduk di pinggir kolam, dan Isma mulai menjalankan rencananya.
"Oke guys, sekarang kita lomba, pertama cowo dulu, terus cewek, yang kalah dapat hukuman ya!" jelasnya.
Perlombaan pun dimulai, saat ini, Davian, Dio dan Refal sudah bersiap di tempat masing-masing.
"Oke,, siap 1,,,2,,,3,,,go!" teriak Isma. Ikoh meneriaki Bang Refal biar menang, Isma menyemangati Dio, sementara Rain hanya duduk sambil meminum jusnya.
"Sue, bener nih bocah, nggak ada niat banget nyemangatin gue!" gumam Davian dalam hati karena tidak ada teriakan menyebut namanya.
"Rain, malah enak-enak duduk sambil minum, semangatin dong si Om!" omel Ikoh saat melihat kelakuan sahabatnya.
"Ah ngapain sih, ngga penting juga!" jawabnya cuek.
"Daan pemenangnya.... Daviaaaan!" tiba-tiba Isma berteriak yang membuat Rain tersedak dan batuk.
"yaaaah...!"
"Ayo cepetan giliran cewek!" ucap Dio sambil menggosok rambutnya yang basah.
Rain, Ikoh, dan, Isma sudah bersiap di posisinya, setelah mendengar intruksi mereka pun mulai berenang dengan lincah, namun saat putaran kedua, tiba-tiba Rain tenggelam dan tak muncul ke permukaan. Hal itu membuat panik semuanya.
Dengan segera Davian melompat dan menarik tubuh mungil Rain ke permukaan dan membawanya ke pinggir kolam. Wajahnya yang putih terlihat lebih pucat, Davian mencoba menekan dada rain agar sadar, tapi tak berhasil. Rasa paniknya makin menjadi. Yang lain juga terlihat panik dan berusaha membangunkan Rain.
"Kasih nafas buatan aja, Dav!" usul Dio sambil mengalungkan lengannya di bahu Isma. Sementara Bang Refal dan Ikoh berdiri berdampingan.
Davian nampak ragu, namun semuanya menganggukan kepala, menyetujui untuk hal itu. Davian pun mulai memberi nafas buatan pada Rain. Ia benar-benar khawatir terjadi apa-apa, apalagi ibunya berada di sini.
Setelah beberapa kali baru Rain terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.
"Alhamdulillah!" ucap semuanya berbarengan. Davian langsung menggendong tubuh mungil itu ke kursi santai di pinggir kolam, kemudian memberikan minum pada Rain.
"Kok, bisa tenggelam si?" tanya Davian sedikit menggerutu.
"Kaki aku kram tadi, sakit banget! Mungkin karena udah lama nggak renang!" jawabnya sambil kembalu meminum airnya.
"Untung ada aku!" ucap Davian sambil menatap intens ke arah gadis itu.
"Iya makasih ya, Om!"ucap Rain.
"Kalo gitu boleh nggak minta satu permintaan?" lanjut Davian.
"Diih pamrih amad si, Om!"
Bersambung....
Happy Reading 😘
Monmaaf ya telat upnya, authornya masih ngga enak badan, mau kirim kemarin tapi malah keburu puyeng...
Jaga kesehatan dan dirumahaja
Jan bosen baca novel amatir aku ya