
Rain tetap terjaga hingga pagi menjelang, gadis itu mencari cara agar bisa keluar dari sana, tapi nihil pintu yang terkunci di luar membuatnya kesusahan belum lagi kamar itu berada di lantai atas, ia tak berani jika harus loncat ke bawah.
Sekitar jam 7 pagi, suara orang membuka kunci pintunya dari luar, gadis itu l3bih waspada, dia memegang sebuah tongkat yang tergeletak di sana. Jantungnya berdegub kencang saat hendel pintu itu memutar.
"Nona, silahkan sarapan dulu, kemudian bersihkan diri nona, pakaiannya sudah tuan siapkah, permisi!"ucap wanita paruh baya yang diperkirakan seumuran dengan sang ibu.
Rain menurunkan tongkat di tangannya, kemudian berucap, "saya ingin pulang!"
Namun wanita paruh baya itu hanya mengangguk dan kembali ke luar,kemudian pintu kembali dikunci.
Rain melihat paper bag yang berada di samping sarapan yang sudah disediakan tadi. Gadis itu berjalan menuju paper bag itu berada dan mengambilnya, ia mengeluarkan benda yang ada di dalamnya, ternyata benar apa yang dibilang wanita paruh baya tadi, ada baju ganti untuk dirinya.
Gadis itu masuk ke kamar mandi yang berada di ujung ruangan kamar itu, tak lupa ia menguncinya, ia takut kalau-kalau ada yang masuk, secara pintu kamarnya dikunci dari luar. Rain mandi secepat mungkin dan mengganti pakaiannya dengan yang ada di paper bag.
"Rain cantik kamu udah beres?"terdengar suara bariton yang semalam berbicara dengannya. Gadis itu yanh baru saja menyelesaikan memakai baju gantinya, berdiri mematung, wajahnya mulai pucat.
Rain tak berani menjawab, ia malah bersandar pada pintu yang hendak ia buka sebelum suara itu datang. Hingga sebuah ketukan mengagetkannya.
Tok... Tok... Tok....
"Rain buka pintunya sayang!"ucap pria di luar, "kalau masih nggak dibuka aku akan ambil kunci serepnya!"lanjutnya.
"Se-sebentar_"jawab Rain terbata, kemudian memutar kunci di pintu dan membukanya. Cowok tinggi dengan bulu lebat di rahangnya membuat Rain makin ketakutan, mungkin semalam ia tak memperhatikan itu karena suasana kamar yang remang,"siapa dia sebenarnya?"pikirnya.
Cowok tinggi itu langsung menarik lengan Rain dan mendudukannya di ranjang, kemudian memberikan sarapan yang sepertinya mulai mendingin.
"Ayo sarapan dulu atau mau diganti dengan yang lain?"ucapnya lembut sambil duduk di samping Rain.
"A-aku mau pulang!"lirih Rain sambil tetap menunduk. Cowok brewok itu terkekeh, kemudian berucap,"aku akan mengantarmu pulang, tapi dengan satu syarat!"
"Apa?"ucap Rain sambil mendongak ke arah cowok di sampingnya, "sebenarnya, kamu siapa?"lanjutnya.
"Namaku Zulfikar, aku sudah tertarik padamu sejak dulu, tapi si breng***k Davian selalu saja menghalangi."jawabnya sambil mengepalkan tangannya.
"Kamu harus menikah denganku, tinggalkan Davian, dia itu cowok breng***k!"ucapnya sambil menatap intens ke arah Rain yang mematung.
"Apa!!aku mau pulang sekarang!!"pekik Rain saat mendengar semua penjelasan cowok bernama Zulfikar itu.
"Aku akan antar kamu pulang sekarang sayang, tapi ingat syaratnya tadi!"sambil mengusak rambut Rain lembut.
Di tempat lain
Davian masih dengan pakaiannya semalam bahkan sekarang terlihat lebih berantakan dengan bawah matanya yang menghitam karena tidak tidur semalaman.
"Gimana, Yo?"
"Gue barusan nelpon Robin, katanya Zulfikar udah balik dari luar negri."jawab Dio dengan wajah khawatir, karena ia tahu siapa Zulfikar.
"Apa si breng***k itu udah balik?"pekik Davian sambil mengeratkan kepalan tangannya hingga ruas-ruas jarinya memutih, rahangnya mengetat.
Dio pun tak menunggu perintah ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Zulfikar, dan semoga ia masih tetap tinggal di sana.
Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kediaman Zulfikar. Suasananya sama seperti dulu, dan terlihat ada beberapa bodyguard di sana.
Saat mereka turun dari mobil terlihat Zulfikar sedang menarik seorang gadis mungil untuk masuk ke mobilnya.
Rain saat itu benar-benar ketakutan apalagi ancaman yang diberikan Zulfikar tentang akan membawanya pulang dn menikahinya. Saat gadis itu menoleh ke arah gerbang, ia kemudian berteriak,
"Baaaaang Daviiii!!!!"
"Bang!"lirih Rain.
"Jangan mendekat!"teriak Zulfikar sambil meraih belati dari saku jasnya dan menempelkan pada pipi mulus Rain.
"Jangan sakiti dia!"teriak Davian sambil mengangkat tangannya. Zul terkekeh saat melihat kepanikan dari Davian.
"Kenapa lo takut dia kesakitan? Apa kabar cewek gue yang udah lo hancurin hidupnya?"teriak Zulfikar dengan rahang mengeras.
"Udah gue bilang cewek lo udah khianatin lo, dia nggak sayang sama lo, dia cuma manfaatin lo buat deketin gue."jelas Davian panjang lebar.
"Bohooong!!!"
"Sekarang biar lo tahu gimana rasanya orang yang lo sayangi gue ancurin hidupnya!"lanjutnya sambil terbahak, kemudian memaksa Rain untuk masuk ke mobilnya.
"Abaaaaaaaaaang!!!!"
Zulfikar kemudian menyuruh supirnya untuk segera meninggalkan rumahnya, Dio dan Davian kemudian mengejar mobil Zulfikar dengan kecepatan tinggi, mereka tak mau kehilangan jejak lagi.
"Siaal,,, kenapa dia datang saat gue udah bisa menemukan gadis yang gue sayang!!"teriak Davian sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Gue takut Rain diapa-apain sama dia, Yo!"lanjutnya. Dio hanya berdehem dan tetap fokus pada jalanan di depannya.
"Eh, Dav lihat, dia bawa Rain ke tempat dimana lo bawa Nania ke sana dulu!"ucap Dio sambil terus fokus menyetir.
Rain ditarik keluar dengan paksa untuk masuk ke sebuah rumah kayu yang terlihat nyaman di sana.
"Gue nggak mau, baj****an!"teriak Rain sekuat tenaga, tapi Zulfikar malah menggendong Rain ke pundaknya.
"Tolooooong!!!!"
"Nggak akan ada yang nolong kamu sayang!"jawab Zulfikar sambil terbahak. Rain memukul punggung Zulfikar dengan keras agar diturunkan, tapi bukannya diturunkan tangannya malah kesakitan karena tubuh Zulfikar begitu keras.
Dio dan Davian langsung berlari menuju rumah kayu tersebut, mereka tak mau terjadi apa-apa pada gadis mungilnya.
Davian dan Dio mendobrak pintu kayu tersebut, mereka mendengar teriakan Rain dari lantai atas.
"Jangaaaan!!!"
"Kamu harus jadi milik aku cantik, biar Davian mu itu merasakan sakit yang sama yang pernah aku rasain!"sarkas Zulfikar sambil terus mendekat ke arah Rain yang duduk di ujung ranjang.
"Kamu tahu sebre****k apa tunanganmu itu hah?"bentaknya saat ia sudah bertumpu dengan kedua lututnya di hadapan Rain. Rain hanya menggeleng, ia benar-benar ketakutan, lebih dari saat Reza dulu.
Zulfikar terbahak sambil melepas kaosnya, dadanya yang penuh dengan bulu membuat Rain makin ngeri, tapi ia sudah berada di sudut dan tak bisa kemana-mana.
"Ayo kita bersenang-senang,sayang!"
"Jangaaaaan!!!"
Bersambung....
Happy Reading 😘😘😘
Maaf telat ya,,, tapi aku ttp usahain up kok
Jan lupa like, komen, vote nya ya
Sun online buat semuanya, semoga selalu sehat aamiin 🤗