
"Aaaaw!"pekik Davian saat Rain mencubit pipi lebamnya.
" Sakit, Yank!"pekiknya sambil menarik pinggang ramping Rain ke pelukannya. Gadis itu otomatis terlonjak kaget, apalagi wajah mereka begitu dekat, yang membuat jantung Rain berdetak berantakan.
"Iiiih,,, ngapain si?"omel Rain sambil berusaha melepas pelukan pria di hadapannya. Namun bukannya lepas Davian malah makin mengeratkan pelukannya hingga Rain menahan nafas saat wajah Davian makin dekat ke wajahnya.
Melihat kegugupan di wajah gadisnya, Davian nampak menahan senyumnya, hingga ia makin semangat untuk menggoda gadisnya.
"Ooooom,,,, lepasin!!!"teriak Rain saat Davian mulai meniup telinga Rain yang membuat gadis itu meremang dan takut. Davian yang mendengar dirinya dipanggil "Om" langsung menjauhkan wajahnya dan menatap ke arah Rain dengan kening berkerut.
"Apa kamu bilang "Om"?"ucap Davian sambil menatap intens ke arah gadis cantik di hadapannya. Rain hanya mengangguk cuek tanpa melihat ekspresi Davian yang cemberut.
"Emang udah om-om kan, ngapa protes?"jawab Rain sambil mendorong tubuh pria tinggi itu hingga terpundur satu langkah. Kemudian gadis itu berbalik hendak menuju kamarnya, tapi tiba-tiba tangannya ditarik Davian.
"Apaan si?"omel gadis itu sambil menepis tangan Davian namun tak berhasil.
Davian malah menarik kembali tubuh mungil gadis itu kemudian berbisik, "kalau kamu manggil aku om lagi, aku bakal hukum kamu!"
"Diih,, apa-apaan? Udah ah aku mau bobo, bye!!"jawab Rain sambil melepas pegangan Davian. Pria tinggi itu pun mengalah, namun ia bahagia melihat gadisnya udah balik lagi kaya semula, nggak marah kayak kemarin yang bikin horor.
Rain sudah berada di kamarnya, ia bukan tidur tapi duduk sambil bersandar pada kepala ranjang, gadis itu sedikit menahan senyumnya saat tahu bagaimana keadaan calon tunangannya dengan muka lebam seperti itu.
"Ampuun itu muka udah kayak bapau, emang digampar berapa orang ya tuh si om?"gumamnya sambil terkekeh geli. Sampai suara ketukan di pintu membuyarkan semua lamunannya, "iya sebentar"sambil beranjak membuka pintu.
"Ibu, ada apa?"tanya Rain sambil mengikat rambutnya sembarang.
"Kamu ngapain malah mau tidur, tuh Davi kasian belum makan temenin gih, dah gitu mukanya lebam gitu obatin dong!"titah Bu Ratna yang heran melihat sang putri begitu cuek.
"Udah gede gitu, Bu, masa mesti ditemenin si?"bantah Rain malas.
"Eeh nggak boleh gitu, dia itu calon suami kamu, Nak!"sambil menarik lengan putrinya yang hendak kembali.
"Dih, tunangan, Bu, bukan suami."bantah Rain.
"Iya, setelah tunangan kalian itu nikah."jawab Bu Ratna sambil beranjak pergi.
"Eh"
"Ayo cepetan kasian Davi!"teriak sang ibu.
"Ibu!!"pekik Rain sambil menghentakan kakinya dengan kesal, tapi tetap menuruti sang ibu. Saat ia sampai meja makan, tampak pria tinggi itu masih duduk dengan makanan yang masih utuh.
"Kenapa belum dimakan?"tanya Rain sambil duduk di hadapannya. Davian tersemyum ke arah gadisnya yang tampak cemberut kemudian menjawab, "nungguin kamu."
"Dih, kaya bocah makan aja mesti ditemenin!"sewot Rain.
"Ya sambil latihan aja, sayang."kekeh Davian sambil mulai menyuapkan makanannya.
"Latihan?"tanya Rain sambil mengerutkan keningnya. Davian nampak menelan makanannya sebelum menjawab pertanyaan gadis di depannya.
"Ya latihan jadi istri yang baik lah, sayang!"jawabnya sambil terkekeh, dan tendangan di kakinya tak bisa ia hindari, sampai ia memgaduh.
"Iiih,,, lagian siapa yang mau jadi istri kamu, Om?"omel Rain dengan wajah cemberut, namun tak ia sangka Davian beranjak dan mengahampiri Rain, kemudian mengecup bibir ranum Rain sekilas hingga gadis itu mengerjap kaget.
"Heey...!"gerutu Rain sambil menutup mulutnya. Namun Davian dengan santai kembali duduk dan melahap makanannya kembali.
"Kan aku udah bilang, kalau kamu panggil aku om lagi, kamu dapat hukuman."ucap Davian setelah menelan makanannya. Rain menedang kembali kaki Davian di bawah meja, kemudian beranjak pergi, namun tiba-tiba sang ibu datang dengan baskom dan handuk kecil di tangannya.
"Mau kemana, nih kompresin dulu Davi nya, udah beres kan makannya!"ucap sang ibu sambil menyodorkan baskom besereta handuk ke tangan Rain,"tapi,Bu..."
Bu Ratna langsung kembali ke kamarnya, tanpa menghiraukan teriakan putrinya. Dengan kesal Rain menghentakan kakinya dan berbalik menuju Davian berada, namun saat ia berbalik ternyata Davian sudah ada di belakangnya hingga saat gadis itu berbalik langsung menabrak tubuh tinggi Davian, dan tentu saja baskom berisi es batu itu tumpah mengenai baju mereka dan berantakan di lantai.
"Aduuuuh, ngapain berdiri di sini sih, tumpah kan!"omel Rain sambil mengambil beberapa es batu yang berserakan di lantai, hal sama juga dilakukan Davian. Setelah semuanya beres, Rain kemudian duduk di sofa ruang keluarga. Sementara Davian mengikutinya dari belakang dan duduk di samping gadis cantiknya yang masih cemberut.
"Bukannya pulang, malah ke sini, jadi aku yang repot kan?"gerutu Rain sambil menyimpan baskom tadi di atas meja.
"Ya udah si, setelah kamu kompresin aku, aku langsung pulang janji!"sambil menunjukan dua jari berbentuk V. Rain menghembuskan nafasnya, kemudian mulai mengompres kedua pipi Davian yang lebam.
"Lagian ko bisa si, sampai lebam gini, kamu tuh berantem atau gimana si?"ujar Rain sambil tetap fokus mengompres pipi Davian yang sesekali meringis menahan sakit. Davian hanya terkekeh menanggapi kekhawatiran gadis di depannya.
"Besok aku ceritain deh, kalau gitu aku pulang dulu ya, selamat istirahat sayang!"sambil mencuri ciuman di pipi gadisnya.
"Iiih,, dasar rese!"omel Rain saat pipinya dicium tiba-tiba oleh Davian, sementara pria dewasa itu langsung melesat kabur, setelah pamit pada Bu Ratna dan Refal.
********
Keesokan hari
Di Hotel BRATA
Terlihat gedung itu sudah didekor dengan sangat mewah dan elegan. Hari ini adalah hari pertunangan antara Rain Almahera dan Davian Bratasukma.
Davian sudah terlihat gagah dengan tuxedo putihnya, ia ingin segera pergi ke tempat acara, bahkan lebam di pipinya sudah tak terlihat dengan polesan make up dari sang mami.
Sementara di tempat lain, Rain sudah cantik dengan gaun warna senada dengan Davian, bahkan make up nya juga membuat gadis itu terlihat lebih cantik.
"Raiiin, ayo sayang jemputannya udah datang!"teriak sang ibu dari ruang tamu, saat Rain masih memandang dirinya di cermin.
"Ternyata kalau dandan gini cakep juga ya gue."gumamnya sambil memutar badannya.
"Raiiin!!!"
"Iya, Bu!"sambil beranjak keluar dari kamar tak lupa ia menyambar tas tangannya dari atas nakas. Setelah sampai di ruang tamu, sang ibu langsung menariknya keluar dan masuk ke mobil jemputan yang sudah disiapkan Pak Rangga, Bang Refal juga sudah duduk di samping kemudi dengan jas hitamnya.
"Cantik banget si, adeknya abang!"goda Bang Refal saat mobil mereka sudah melaju.
"Baru sadar ya, Bang, punya adek cakep gini?"balas Rain sambil terkekeh. Refal pun terbahak mendengar jawaban dari adiknya.
Suasana di mobil terasa hangat, hingga tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, bahkan papi dan mami Davian yang menyambut mereka.
"Aduuh, cantik banget calon mantu mami!"sambil merangkul Rain,kemudian mengajak mereka semua masuk ke tempat acara.
Suasananya terlihat begitu mewah dan elegan, bahkan menu makananya pun terlihat wah, sudah ada beberapa tamu yang datang.
Davian sudah tak sabar ingin segera memulai acaranya, namun sang papi bilang sebentar lagi. Davian dan Rain belum dipertemukan oleh kedua orangtuanya, yang membuat pria dewasa itu mondar-mandir ke sana ke mari.
Tak berapa lama terdengar suara MC bahwa acara akan dimulai, otomatis Davian berteriak girang, sampai Dio terlonjak kaget, sementara di ruang lain Rain nampak gugup, tangannya dingin dan berkeringat.
Semua acara berjalan dengan lancar, sampai akhirnya sekarang waktu Davian dan Rain bertukar cincin, sang MC dengan semangat memanggil nama mereka, hingga tepukan dari para tamu bergemuruh.
Davian digandeng oleh kedua orangtuanya ke atas panggung, sementara Rain digandeng sang ibu dan Bang Refal. Rain masih terlihat gugup, namun sang ibu dan abangnya menenangkan gadis mungil itu.
Davian menghampiri Rain dengan sangat gagah, apalagi tuxedo putih yang menempel di tubuhnya dengan pas, membuat pria itu lebih tampan.
Rain menyambut tangan kekar Davian, saat pria itu mengajaknya ke tengah panggung untuk bertukar cincin.
Semua mata memandang ke arah mereka yang terlihat sangat serasi, acara tukar cincin pun dimulai, Davian mulai menyematkan cincin bertabur berlian itu di jari manis gadisnya, begitu juga Rain menyematkan cincin yang serupa namun didesain untuk pria ke jari manis pria dewasa di hadapannya.
Saat semua orang bertepuk tangan riuh dengan ucapan selamat, tiba-tiba dari belakang kerumunan tamu ada yang berteriak.
"Berhenti!!!!"
Bersambung....