"DR"

"DR"
Pertemuan



Pagi ini Rain dan yang lainnya akan bersiap pergi ke pantai yang tak jauh dari villa. Mereka semua memakai baju santai, Rain tampak cantik dengan kaos longgar warna pink da celana selutut, begitu juga Ikoh dan Isma. Mereka bertiga berpakaian sopan. Begitu juga para cowo mereka juga hanya memakai kaos dan celana selutut untuk bersantai di pantai.


"Bu mau ikut ngga?" tanya Rain saat mereka sedang duduk di teras villa memunggu Dio dan Refal.


"Ibu di sini aja lah, mau ada temen ibu ke sini!" jawabnya singkat. Rain mengerutkan keningnya dan bertanya siapa.


"Nanti juga kamu tahu, udah sana pada berangkat gih! Jangan pada berantem!" nasihatnya yang membuat Ikoh dan dan Isma terkekeh.


Tak berapa lama mereka pun berangkat menuju pantai berjalan kaki, karena villa nya memang dekat dengan pantai. Davian terus mengikuti Rain agar ia bisa jalan berdua dengan gadis itu, tapi nihil Rain selalu berhasil menghindar darinya.


"Ck,,, nih bocah gesit juga, ntar kalo udah dapet ngga bakalan gue lepasin!" gumam Davian sambil menggaruk pangkal hidungnya.


Ketiga gadis di depannya nampak asyik bercerita, apalgi Isma dia yang paling bawel. Setelah sampai mereka menatap ke arah lautan yang terhampar luas.


Suasana pantai yang tak begitu ramai membuat udara terasa segar, angin yang bertiup membuat rambut mereka berantakan.


"Koh, maen pasir yuk, sebelah sana!" Rain berucap sambil menunjuk ke arah kanan mereka.


Rain dan Ikoh langsung berlari ke arah yang ditunjuk, sementara yang lain hanya melihat kedua gadis yang tampak lupa dengan usianya.


"Dav lo beneran suka ama bocah?" kekeh Isma sambil melihat ke arah Rain dan Ikoh.


"Apaan si?" omelnya sambil berlalu dan duduk di kursi santai yang sudah tersedia di sana. Yang lainnya mengikuti, sementara dua gadis itu tetep anteng dengan kegiatannya, bahkan ada beberapa anak menghampiri mereka dan ikut bergabung.


"Rain itu gadis yang mandiri, walaupun dia anak tunggal, makannya kadang dia jutek banget!" ucap Refal tiba-tiba,sambil menatap ke arah adik sepupunya itu.


"Dia kadang manja sama gue, karena cuma gue kakak sepupu satu-satunya." lanjutnya sambil terkekeh.


Davian, Dio dan Isma menyimak sambil menganggukan kepalanya.


"Pantesan, dia deket banget lo, Fal!" timpal Isma.


"Nah dengerin lo, Dav, dia aja yang katanya masih bocah bisa bersikap dewasa, apa kabar lo yang udah mau tua?" lanjut Isma ke sepupunya.


"Sue" jawab Davian sambil beranjak dan pergi meninggalkan ketiganya.


"Mau ke mana lo?" tanya Dio yang dari tadi hanya menyimak dan menikmati pemandangan di depannya.


"Ngga usah ikut, ribet!" jawab Davi tanpa menoleh. Ternyata ia menghampiri Rain dan Ikoh yang masih aja anteng dengan dunia mereka. Rain yang rambutnya dikuncir, terlihat lebih cantik apalagi leher jenjangnya yang putih terpampang dengan jelas.


Ide jail Davian berontak saat melihat Rain tak menghiraukan kehadirannya.


"Koh, lo bikin istana apaan ampe miring gitu?" gelak Rain sambil terus memainkan pasir.


"Ini ceritanya abis kena gempa Rain, hahaha..!" jawab Ikoh dengan tertawa lepas.


Davian yang berada tepat di belakang mereka, dengan mengendap, menarik ikat rambut Rain, hingga rambutnya terurai dan berantakan tertiup angin.


"Iiih, lo jail banget sih, Koh?" Omel Rain saat rambutnya mengahalangi matanya, ia juga tak bisa menyibakan rambutnya karena tangannya penuh dengan pasir.


"Apaan bukan gue!" jawab Ikoh sambil memberi isyarat dengan matanya ke arah Davian yang tersenyum jahil di belakangnya.


Rain pun berdiri dan berbalik tepat langsung berhadapan dengan Davian yang mengacungkan ikat rambutnya di tangan kanannya.


"Ngapain sih, Om, jail banget?" omel Gadis mungil itu sambil menatap ke arah Davian yang tersenyum. Rasanya ingin sekali Rain mencakar wajah cowo di hadapannya yang malah tersenyum tanpa dosa.


"Abisnya anteng banget ampe lupa kalo aku dari tadi di belakang kamu!" ucap Davian santai sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana, yang otomatis ikat rambut Rain pun masuk ke sakunya.


"Diih, ngga penting amad!" jawab Rain kemudian berbalik dan mengajak Ikoh untuk pindah dan mencuci tangannya.


Davian dengan santai mengikuti keduanya dari belakang. Rain dan Ikoh saling bercanda dengan mencolek pipi masing-masing yang penuh dengan pasir. Sampai akhirnya mereka saling berkejaran. Davian nampak berdecak dengan tingkah kedua gadis di depannya.


Dengan terpaksa Davian ikut berlari mengikuti keduanya. Namun saat ia mengejar kedua gadis itu, tiba-tiba Rain berbalik arah tapi tetap menatap ke arah belakang.


Bruuuuk....


Rain menabrak Davian dengan cukup keras, Davian juga yang ngga siap nampak oleng hingga keduanya terjatuh, dan Rain tepat berada di atas tubuh kekar Davian.


"Aaaaaaw...!" ringis keduanya. Davian sebenarnya yang lebih kesakitan, karena Rain jatuh pada tubuh pria ganteng itu.


"Ngapain ngalangin jalan aku si,Om!" gerutu Rain sambil berusaha bangun dari tubuh besar itu, karena sebelum ia beranjak mereka saling tatap dan membuat Rain salah tingkah. Sementara Davian beranjak dan duduk di hadapan gadis itu, setelah gadis itu bangun dan duduk.


"Makannya jangan main lari-larian napa?" jawab Davian sambil menjawil idung mancung gadis di hadapannya.


"Aduh Rain lo ngga apa-apa kan?" tanya Ikoh sambil menghampiri keduanya. Rain menggelengkan kepalanya, bahwa dia baik-baik saja. Bahkan Refal, Dio dan Isma juga menghampiri mereka.


"Kalian nggak apa-apa kan?" tanya Isma khawatir.


"Nggak apa-apa!" jawab Davian yang diangguki oleh Rain.


Di Villa


Terlihat dua wanita paruh baya sedang berbincang di ruang tamu, bahkan ada juga pria paruh baya yang sedang fokus pada ponselnya.


"Aduuh, Pi, mami udah ngga sabar pengen liat calon mantu mami, pasti dia cantik!" ucapnya dengan tak sabar.


"Kapan mereka pulang si? Lama banget!" lanjutnya.


"Ih, mami sabar aja kenapa sih, mereka tuh lagi menikmati liburannya, emang ngga penat apa sehari-hari mikirin kerjaan ama kuliah!" gerutu sang papi yang merasa terganggu dengan ocehan sang istri.


Mereka adalah mami Sherly dan Papi Rangga. Mereka sengaja datang untuk menemui calon menantunya. Dulu saat mereka bertemu Rain masih kecil sekitar 4 tahunan.


Bu Ratna dan asisten rumah tangga villa sudah selesai menyiapkan makan siang untuk anak-anak mereka. Sehingga saat mami Sherly dan Papi Rangga ia sudah santai.


"Jeng, emang dari jam berapa sih mereka berangkat, sebentar lagi udah mau masuk makan siang kok mereka belum juga pulang?" tanya Mami Sherly pada Bu Ratna.


"Palingan sebentar lagi, tunggu aja!" baru saja Bu Ratna selesai bicara, di luar terdengar suara gaduh.


"Makannya udah tau umur lo tuh bentar lagi tua ngapain ikutan lari-larian si?" omel Isma pada Davian yang tadi kakinya terkilir, gara-gara main kejar-kejaran sama mereka.


"Daviiiii....!" teriak Mami Sherly dari dalam villa.


"Mami ngapain di sini?" ucap Davian kaget.


"Eh mana yang namanya Rain, mami pengen tahu?" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan sang putra, ia memperhatikan dua gadis di hadapannya. Yang satu memakai kaos warna pink dan satu lagi kaos warna kuning.


"Tuh nyariin lo!" bisik Ikoh pada Rain.


"Saya tante!" ucap Rain sedikit gugup, ia merasa takut kalau-kalau ia berbuat salah.


"Oh kamu ya, sini ikut mami, ayo! Jangan panggil tante ya tapi Ma-mi!" ucapnya sambil menarik tangan Rain.


Rain mengikuti mami Sherly dari belakang. Ia masiherasa canggung dengan apa yang dialaminya hari ini.


"Kamu masih kuliah ya?" tanyanya dengan ramah.


"Iya tante!"


"Sssttt, Ma-mi oke!" sambil membuat huruf O dengan jarinya.


Sementara yang lain mengikuti dari belakang dengan wajah heran. Apalagi Isma. Dia merasa diabaikan oleh mami Sherly.


"Udah sekarang kalian pada mandi dulu gih, mami sama bu Ratna udah nyiapin makan siang, kitaakan siang bareng!" lanjutnya.


Mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri mereka.


Di ruang makan


Mami Sherly, papi Rangga dan Bu Ratna sudah duduk di meja makan, mereka menunggu anak-anak untuk makan siang.


Tak berapa lama mereka turun dari lantai atas dengan wajahyang lebih segar, Davian yang masih berjalan terpincang digandeng Dio.


Mereka pun menempati kursi masing-masing, kemudian mulai makan siang, tanpa ada perbincangan. Setelah makan siang mereka pindah ke ruang keluarga.


Perbincangan mulai terjadi diantara mereka, mulai dari yang ngga penting sampi hal yang serius.


"Davian mulai sekarang mami ngga mau denger kamu deket sama cewe mana pun, inget kamu udah punya tunangan!" tegas sang mami, yang membuat Davian terbatuk.


"Yaah si Om, ternyata udah punya tunangan, padahal dia sering godain Rain lo tante!" jawab Ikoh cuek, yang langsung mendapat cubitan dari sahabatnya.


"Sakit woi!" gerutu Ikoh sambil mengusap lengannya yang kena cubit.


"Iya mami apaan si, Davi masih mau bebas, Mi!" sangkal Davian sambil sesekali melihat ke arah Rain. Ia takut gadis mungil itu menjauhinya.


Sementara Bu Ratna dan Papi Rangga hanya terkekeh mendengar perdebatan antara anak dan ibu di hadapannya.


"Ciee yang udah punya tunangan, kenalin ke gue dong, Dav!" goda Isma.


"Kenalin gimana si, gue aja ngga tau siapa tuanangan gue!" jawabnya sewot.


"Ebuseeet kok bisa si?" lanjut Isma.


"Au"


Kemudian mami Sherly melirik ke arah Rain yang tampak acuh.


"Kalo kamu udah punya pacar?" tanyanya, yang membuat Rain terkesiap dan salah tingkah. Dia juga belum berani menjawab pertanyaan dari mami Davian.


"Udah tante, Kak Reza namanya!" Serobot ikoh, yang keduakalinya mendapat cubitan dari Rain. Wajah mami Sherly tampak muram saat mendengar pernyataan itu.


"Dia hanya temannya, jeng!" timpal Bu Ratna saat melihat raut wajah mami Sherly.


Saat mendengar nama Reza, tiba-tiba darah Davian mendidih, ia ingat saat melihat Reza dan seorang perempuan masuk hotel.


"Rain boleh bicara sebentar ngga?" ucap Davian tiba-tiba. Rain menoleh dan terlihat ragu.


"Sebentar aja, aku ngga bakalan ngapa-ngapain kamu juga!" lanjut Davian serius. Akhirnya Rain pun mengangguk, kemudian beranjak dan pamit mengikuti Davian.


"Ada apa si, Om?" tanyanya tak sabar saat mereka sudah duduk di gazebo yang menghadap ke kolam renang.


"Rain kamu beneran masih pacaran sama Reza kan?" ucap Davian serius sambil menatap ke arah gadis itu.


"Apa urusannya si, sama Om, itu privasi aku!" omel Rain.


"Tapi serius, aku pas udah nganterin kamu, ketemu sama dia, tapi dia ngegandeng cewe lain malah masuk hotel lagi!" ucap Davian.


"Nggak usah fitnah deh, Om, nggak mungkin Kak Reza kaya gitu!" omelnya sedikit marah, ia tak rela kekasihnya dibilang seperti yang Davian katakan.


"Aku serius, sumpah!" ucapnya dengan menunjukan dua jarinya.


"Coba sekarang dia udah hubungin kamu belum?" lanjutnya. Namun ternyata gadis di hadapannya menggeleng.


"Tuh kan, aku takut kamu kenapa-kenapa Rain!" jawab Davian.


"Udah deh, Om, jangan ikut campur urusan aku, lagian ngapain sih, Om juga udah punya tunangan juga, jangan sampai aku dapat masalah gara-gara Om sering gangguin aku!" ucapnya tegas kemudian beranjak dan pergi meninggalkan Davian.


"Rain tunggu!"


Bersambung....


Happy Reading 😍


Moga cepet up ya!


Makasih yang udah selalu baca, lik3, k9men sma vote


Aku padamu dehπŸ˜˜πŸ˜‚