"DR"

"DR"
Panik



Tok... Tok... Tok


Rain berusaha melepasakan pagutan dari Davian kemudian berucap, "ada orang, Bang!"sambil mengatur nafasnya yang hampir habis juga menahan malu kalau-kalau orang di luar melihat apa yang mereka lakukan.


"Ck,,, siapa sih ganggu?"gerutu Davian sambil menoleh ke arah suara, tampak seorang pria paruh baya yang mengetuk kaca jendela mobil Davian.


Saat Davian menurunkan kaca mobilnya, pria paruh baya itu menunjukan tas dan beberapa buku.


"Maaf, tadi nona itu menjatuhkan tas dan bukunya saat Anda menggendongnya,"sambil menyerahkan tas dan buku ke Davian kemudian tersenyum ke arah Rain. Davian mengambil tas dan buku Rain dengan wajah datar, malah Rain yang bilang terimakasih.


Davian kemudian menutup kembali kaca jendela mobil dan berbalik lagi ke arah Rain yang sedang meneguk air mineral yang Davian beli tadi.


"Haus banget ya, baru juga warming up itu."celoteh Davian sambil meletakan dagunya di bahu Rain. Gadis itu hampir saja tersedak saat mendengar penuturan kekasihnya. Setelah ia menyelesaikan minumnya, dengan telunjuknya ia mendorong kening Davian agar menjauh dari dirinya.


"Dih,,, awas warming up-warming up apaan nggak jelas!"omel gadis itu kemudian menatap ke depan, saat matahari mulai tenggelam, dengan gegas ia membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Davian pun mengikuti gadisnya keluar, dengan memasukan kedua tangannya di saku celana, ia berjalan santai menghampiri Rain yang sudah berdiri menghadap lautan luas untuk menyaksikan matahari tenggelam.


Davian dengan lembut memeluk Rain dari belakang, dagunya ia labuhkan di bahu mungil gadis itu. Rain hampir berteriak kaget saat ada tangan besar yang memeluk tubuhnya, namun saat ia menoleh ternyata prianya.


Rain menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Davian yang dengan nyaman memeluknya dari belakang. Mereka menikmati keindahan alam yang selalu Tuhan sajikan di setiap sore hari. Hari berubah menjadi gelap dua insan itu pun kembali ke mobilnya dan beranjak untuk pulang.


"Kamu nggak mau makan malam dulu apa?"ucap Davian sambil melajukan mobilnya menuju arah pulang.


"Kita makan di rumah aja lah, biar aku yang masak,"jawab Rain sambil fokus pada ponselnya. Kemudian jawaban oke terdengar dari suara bariton di sampingnya. Sekarang suasana hening membentang diantara mereka, sampai akhirnya dering ponsel milik Davian mengalihkan perhatian keduanya.


Tertulis nama Dio di sana, Davian kemudin menyuruh Rain untuk mengangkat telponnya.


Saat gadis itu mengucapkan hallo, terdengar suara panik dari sebrang, "kenapa, Bang?"tanya Rain. Dio pun menjelaskan kalau mami Sherly masuk rumah sakit,kemudian Dio menutup telponnya.


"Kenapa si panik banget, ngapain Dio?"ucap Davian yang melihat perubahan ekspresi dari wajah kekasihnya.


"Mami, Bang,, beliau masuk rumah sakit,"ucap Rain dengan terbata karena panik.


"Apa?!"hampir saja Davian mereka menabrak kendaraa lain, namun Davian dengan lihai mengendalikan setirnya.


"Hati-hati, Bang!"ucap Rain sambil mengelus dadanya untuk menetralkan rasa kagetnya.


"Maaf, Yank, aku panik!"ucap Davian sambil mengelus kepala Rain lembut, sementara sekarang ia melajukan mobilnya ke arah rumah sakit yang dikatakan Dio.


Dengan kecepatan lumayan tinggi akhirnya mereka sampai ke rumah sakit. Davian turun dari mobil diikuti oleh Rain, setengah berlari dia masuk ke rumah sakit dan bertanya pada resepsionis tentang mami nya.


Rain sempat tertinggal karena langkah lelaki itu lebih lebar dibanding dirinya yang memang berperawakan mungil. Saat Rain baru saja sampai di belakang Davian, suster sudah memberi tahu ruangan mami Sherly yang membuat Davian kembali berlari, seolah ia lupa kalau Rain juga ikut bersamanya.


"Ah,,, udahlah jalan santai aja, cape ngejar-ngejar orang panik, untung tahu ruangannya."ucap Rain bicara sendiri sambil berjalan menuju ruangan mami Sherly.


Davian sudah sampai di ruangan, ia segera masuk ke dalam, nampak wanita kesayangannya sedang terbaring dengan perban di kaki kanannya.


"Mami,, mami kenapa? Ko bisa sampai kayak gini?"brondong Davian dengan pertanyaan pada sang mami yang hanya tersenyum.


"Mami nggak apa-apa, Dav,"ucapnya sambil mengelus kepala putra kesayangannya. "Katanya kamu ke sini sama Rain, mana dia?"lanjutnya.


Davian sempat mematung, ia lupa kalau dia ke sini bersama Rain.


"Aduh, kenapa gue bisa lupa si?"gumamnya sambil menepuk jidatnya refleks.


"Kenapa?"


"Maaf, Yank, aku lupa kalau ke sini bareng kamu, abis aku panik."cerocos Davian sambil meraih tangan mungil gadia itu.


"Iya, iya, udah aku mau ketemu mami, awas!"sambil mendorong Davian kemudian ia masuk untuk menemui calon mertuanya.


"Mami, kenapa kok bisa sampai kaya gini?"ucap Rain saat ia duduk di kursi dekat ranjang mami Sherly.


"Nggak apa-apa sayang, cuma luka kecil kok, besok juga mami bisa pulang,"ucapnya. Bersamaan itu papi Rangga dan Dio masuk sambil membawa makanan.


"Pi, mami kok bisa sampai kaya gini kenapa?"tanya Davian tanpa basa basi.


"Mami kamu tuh, tadi sore naik tangga katanya mau ngambil apalah papi juga nggak ngerti, dibilangin nyuruh mang Diman aja, malah nolak, eh akhirnya jatuh terus kakinya malah kegores paku, lumayan tuh empat jaitan di kakinya."jelas papi Rangga.


"Aduh, mi ngapain si, terus kenapa nggak hubungin Davi dari sore?"


"Apaan gue udah hubungin lo dari sore tapi nggak lo angkat, sampai akhirnya diangkat malah Rain yang jawab."sela Dio dengan kesal.


Davian diam, ia ingat saat sore itu dia ngejar Rain yang ngambek, terus hp nya ia tinggal di mobil, pas ia di mobil pun malah asyik godain Rain sampai ia mengabaikan dering ponselnya.


"Iya, gue salah maaf,"jawab Davian ke Dio.


"Dih,,, sejak kapan lo tahu kata maaf?"ejek Dio.


"Sejak calon tunangannya nggak mau tunangan ma dia, Yo!"kekeh papi Rangga saat ingat persyaratan yang diajukan Rain waktu itu.


"Apaan si, Pi?"timpal Davian salah tingkah. Sementara Rain hanya terkekeh dengan mami Sherly di tempatnya.


Mami Sherly mengusap kepala Rain lembut, yang membuat gadis itu sedikit mengernyit kaget, "makasih ya, karena kamu Davi jadi lebih baik, mami harap kamu tetap pertahanin hubungan kalian sampai kalian nikah."lanjutnya.


Rain tersenyum kemudian mengangguk, lalu ia berucap, "Rain usahain, mi, kalau memang


Bang Davi mau berubah."


Malam semakin larut, Rain akhirnya pamit pulang pada kedua calon mertuanya dan ia juga minta maaf nggak bisa nginep karena sang ibu sudah menunggunya di rumah.


Davian dan Rain berjalan keluar bersama, mereka berjalan berdampingan. Hening masih membentang diantara mereka, sampai pertanyaan Davian membuyarkannya.


"Kamu tadi, kok bisa si ketinggalan?"


"Dih,,, kamu nggak nyadar apa, dari mulai turun dari mobil tuh kamu udah lari-lari, aku ngejar lah lari juga, eh pas baru nyampe kamu udah lari lagi, aku cape lah!"cerocos Rain tanpa memandang ke arah Davian.


"Iya gitu perasaan aku tadi lari pelan lo, Yank?"sanggah Davian sambil mengerutkan keningnya.


"Yakali, emang aku setinggi kamu, liat nih kaki aku tuh nggak setinggi kamu ya!"omel Rain mulai kesal.


Davian terkekeh mendengar penjelasan kekasihnya, kemudian tanpa aba-aba ia langsung menggendong Rain ala brydal, yang membuat gadis itu memekik, "abaaang!"


Bersambung....


Happy Reading 😘😘😘


Jan bosan dengan novel aku ya,,, walau upnya agak lama,,, tahulah gimana riwehnya punya baby😁😁😁


Jan lupa tinggalin jejak ya....