"DR"

"DR"
Galau



"Tapi_"ucapan Davian terpotong saat Rain menarik lengannya untuk keluar restoran. Davian pun mengikuti gadis mungil di depannya untuk segera pulang.


Saat di mobil dan cowok dewasa itu sudah melajukannya, ia bertanya,"ada apa?"


Rain yang sempat nggak fokus, kemudian menoleh ke arah Davian, gadis itu tampak memilin ujung kemejanya dengan resah.


"Tadi,,, mmm,,, yang nelpon Reza, Bang."ucapnya dengan susah payah menyebutkan nama orang yang selama ini nggak mau ia ingat lagi.


"Apa?!"Davian hampir mengerem dadakan mobilnya, namun ia keburu sadar. "Ko dia bisa tahu nomor kamu, bukannya udah ganti?"lanjutnya.


"Aku juga nggak tahu, Bang, tapi aku takut kalo dia sampai datang lagi,"ucap Rain gusar.


"Tenang ada aku, Rain, oya dua hari lagi kan kamu ketemu tunangan kamu, gimana kalau kamu ajak aku juga, kali aja tuh cowo brengsek ngikutin."jawab Davian panjang lebar sambil mengusap rambut gadisnya. Gadis itu pun mengangguk.


"Eh bentar bukannya abang juga ketemuan pas hari itu?"sela Rain baru ingat.


"Ah itu bisa diatur."jawab Davian, kemudian kembali fokus pada jalan di depannya.


Keheningan membentang diantara mereka, setelah percakapan terakhir. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Rain.


Saat Rain akan membuka pintu mobil, tiba-tiba Davian menarik tangannya, kemudian berucap, "apa kamu yakin sama pilihan ibu dan ayah kamu, Rain?"


Gadis itu menghela nafas berat, namun kemudian ia berdehem dan mengangguk.


"Aku tahu ibu dan ayah pasti memilih yang terbaik untuk anaknya."jawabnya agak parau.


Sekarang Davian yang menghela nafas berat, kemudian ia berusaha tegar menerima semuanya.


"Semoga kalian bahagia!"ucapnya dengan mengelus rambut panjang Rain dan tersenyum. Gadis itu pun mengangguk kemudian turun, bahkan ia menawarkan untuk mampir ke rumah dulu, namun Davian menggeleng dengan alasan ada rapat di kantor.


Di sebuah kafe


Terlihat cowok tinggi menggenggam ponselnya erat. Rahangnya mengeras, ia tampak marah.


"Beraninya kamu menutup telpon aku!"geramnya.


"Gimanapun caranya aku harus dapetin kamu, pernikahan ini terasa menyiksaku!"lanjutnya.


Reza menenggak minumannya hingga tandas, ia dengan susah payah mendapatkan kembali nomor baru gadis pujaannya, tapi saat ia berhasil menghubunginya, malah langsung ditutup begitu saja.


Pernikahannya dengan Rena membuat hidupnya terasa di penjara, Rena selalu melarang ia pergi kemana pun tanpa dirinya, apalagi sekarang ia sedang mengandung benihnya.


Seminggu yang lalu ia berhasil mengikuti kegiatan Rain, tanpa disadari oleh gadis itu. Sampai suatu hari ia berhasil ke kedai, tanpa diketahui oleh Rain dan Bu Ratna, kata karyawannya mereka sedang keluar. Reza tak menyiakan kesempatan itu, ia bertanya tentang nomor telpon Rain dengan alasan hendak memesan makanan untuk acara pesta.


Sebelumnya karyawan itu hanya memberi nomor kedai, tapi dengan dalih lain yang lebih bisa dimengerti akhirnya karyawan itu memberikan nomor Rain.


Reza mengusak rambutnya gusar, kemudian beranjak pergi dari sana.


*****


Davian duduk di kursi kebesaranya, matanya terpejam, tangannya memijat pelipisnya. Hatinya sedang kecewa. Ia bingung dengan perasaannya, di sisi lain ia mencintai gadis mungilnya, namun di lain pihak sang mami sudah menjodohkan dirinya dengan orang lain yang belum ia kenal.


Sang mami pernah berkata kalau gadis yang akan ia jodohkan adalah gadis terbaik menurutnya.


Saat ia sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba pintu terbuka dan Dio masuk dengan tergesa.


"Gawat, Dav, gawat!!"ucapnya sambil membanting beberapa berkas ke meja Davian.


"Ck, kenapa si lo?"omel Davian tanpa menghiraukan ekpresi Dio yang kelabakan.


"Lo beneran mau tunangan minggu ini? Terus gadis kecil lo gimana?"tanya Dio.


"Dih maksud lo yang gawat itu soal tunagan gue?"sewot Davian.


"Bukan hanya itu, ternyata gadis lo juga udah dijodohin sama orangtuanya."jelasnya kemudian membanting tubuhnya ke sofa.


"Hah!! Terus lo diem aja gitu?"balas Dio sambil menghampiri sahabatnya. Davian hanya menatap jengah ke arah Dio. Sebenarnya ia ingin sekali membatalkan acara itu, tapi jawaban gadis itu membuatnya tak kuasa untuk melakukan itu.


"Apa ini karma gue, Yo?"setelah ia tak menanggapi ocehan sahabatnya. Dio menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan bosnya itu.


"Entahlah, tapi gue rasa Rain lo itu bisa merubah semua hidup lo ke arah yang lebih baik, buktinya sekarang lo nggak pernah lagi ngumpulin cewek buat jadi koleksi lo doang."jawab Dio panjang lebar, karena ia akui sebelum mengenal Rain, Davian adalah cowok badboy yang sering ngerepotin dirinya.


Davian makin merasa terpuruk dengan jawaban sahabatnya, yang ia rasa benar. Namun apa daya gadisnya itu tak bisa ia miliki. Saat ia kembali dengan pikirannya ponselnya berdering, tertera sang mami di sana.


"Iya, mi!"jawabnya malas. Tampak Davian menganggukan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun, sampai akhirnya ia beranjak dan berucap, "iya aku berangkat sekarang!"sambungan telpon pun terputus, dan cowok tampan itu pergi ke luar meninggalkan Dio yang menatapnya heran.


"Woi,, mau kemana si?"omel Dio sambil beranjak mengejar sahabatnya. Davian hanya menoleh sekilas kemudian memberi isyarat untuk mengikutinya.


Dio yang menyetir mobil Davian saat ini, Dio juga mengerti dengan keadaan sahabatnya hari ini yang suasana hatinya sedang tak menentu.


"Kita kemana?"tanya Dio saat mulai melajukan mobilnya.


"Ke butik langganan mami."ucapnya datar.


Selama perjalanan tak ada percakapan berarti diantara mereka berdua, bahkan Davian memilih memejamkan matanya menghindari percakapan lain.


Setelah sampai terlihat sang mami sedang berbincang dengan pemilik butik, Bu Desi namanya istri dari pengusaha Pak Wijaya.


"Eh kamu udah datang, sini cepet cobain baju yang udah mami pilih buat acara besok!"sambil menarik lengan putranya dan memberikan baju yang sudah ia pilihkan. Dengan malas Davian mengikuti sang mami, dan masuk ke ruang ganti untuk mencoba baju yang mami nya berikan.


"Oya, kamu tolong anterin ini ke rumah Bu Ratna ya, Yo!"ucap mami Sherly sambil memberikan dua kotak besar ke arahnya.


"Untuk apa tante?"tanya Dio penasaran.


"Udah pokoknya kamu bilang aja dari tante, mereka juga bakal ngerti."jawab mami Sherly kemudian kembali duduk menunggu Davian.


"Oke tante, Dio berangkat!"sambil membawa dua kotak besar itu ke mobilnya.


Saat Davian keluar, cowok tampan itu terlihat lebih menawan dan sexy dengan pakaiannya, walau wajahnya masih ditekuk.


"Ya ampun anak mami ganteng banget!"sambil memutar tubuh putra semata wayangnya.


"Cemberut aja masih ganteng, ya jeng Desi, apalagi kalau senyum!"sindir mami Sherly yang meminta tanggapan pada pemilik butik.


"Iya, jeng, dulu anak saya malah yang ngebet mau cepet nikah, padahal calonnya masih kuliah."jawab Bu Desi sambil terkekeh.


.


"Oya, Alfan sama Marsha ya?"jawab Mami Sherly. Bu Desi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Mi, udah kan ini doang bajunya, Davi mau balik kantor!"ucap pria itu yang merasa tersindir dengan ocehan dua wanita paruh baya di depannya.


"Belum beres, udah biar Dio aja yang urus, kamu ikut mami!"jawab sang mami tak terbantahkan.


"Tapi, Mi_"


"Ya, udah jeng aku ambil yang ini ya, makasih!"ucap sang mami sambil menarik putranya keluar.


Bersambung....


Happy Reading πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜…


Ada yang kangen sama aku kah? πŸ˜‚


Moga cepet up ya...


Tetap jaga kesehatan dan dirumah saja


Jan lupa gunakan jempolnya buat klik lake, komen sama votenya kl bisaπŸ€—πŸ€—πŸ˜