"DR"

"DR"
Pernikahan Isma dan Deril



Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa pernikahan Isma dan Deril akan berlangsung esok hari.


Malam ini keluarga Brata sibuk untuk menyambut acara besok. Sementara sang pengantin berdiam diri di kamar dan ditemani oleh Rain juga Ikoh.


"Ciee,,, yang mau jadi manten," goda Ikoh sambil memyikut lengan Isma.


"Deg-degan tahu gue. Gue nggak nyangka ternyata Deril yang beneran serius sama gue" jelas Ikoh. Rain dan Ikoh hanya mengangguk mengiyakan.


"Eh, Rain cerita malam pertama dong?" lanjut Isma sambil menarik tangan Rain.


"Dih, apaan nggak!" gerutu Rain sambil menarik kembali tangannya.


"Pelit amat si, lu!"


"Bodo amat!"


Mereka pun kembali berbincang membahas topik lain, karena dipaksa bagaimana pun seorang Rain tetap kekeh nggak mau bilang.


Malam semakin semakin larut akhirnya, Rain pun kembali ke kamarnya bersama sang suami, karena saat ia izin ingin tidur bareng Isma dan Ikoh, Davian menolaknya mentah-mentah.


******


Keesokan harinya


Suasana Hotel Brata sudah nampak ramai dengan para tamu undangan. Mereka ingin menyaksikan acara sakral keluarga Brata yang kedua kalinya setelah Davian Bratasukma.


Suasana hening saat acara akad berlangsung, sampai akhirnya terdengar kata 'SAH' dari para saksi. Semua orang yang berada di sana tersenyum bahagia bercampur haru.


Ucapan selamat pun langsung mereka dapatkan dari keluarga, sahabat juga para tamu yang hadir di acara pernikahan Isma dan Deril.


"Selamat ya Is, akhirnya sopd out juga," ucap Rain sambil terkekeh dan memeluk sahabat sekaligus sepupunya itu. Davian yang mengikutinya dari belakang hanya tersenyum dan menunggu gilirannya.


"Selamat ya biang rusuh gue, sekarang udah jadi istri!" ucap Davian sambil merangkul sepupunya dengan sayang.


"Makasih ya, Dav!" balas Isma sambil memeluk tubuh tinggi sepupunya.


Setelah itu Davian dan Rain juga memberi selamat pada Deril yang sekarang nampak bahagia walau wajah datarnya masih tetap terlihat.


Saat Rain dan Davian pergi untuk mengambil makanan, tiba-tiba Rain berbisik, "Bang, padahal hari bahagia ya mukanya tetep aja lempeng, kok aku gemes ya!"


"Ngeselin ya? Apa kabar kamu dulu ke aku, Yank?" jawab Davian sambil terkekeh dan menjawil hidung mancung istrinya.


"Ish, beda lah dulu kamu nyebelin tahu, Bang," ucap Rain dengan memutar bola matanya jengah.


"Kalau sekarang, ngangenin ya?" goda Davian yang malah mendapat cubitan di pinggangnya.


"Ngeselin!!" gerutu Rain sambil berlalu meninggalkan suaminya yang tertawa lepas.


Sementara itu Ikoh dan Refal juga selalu berdua kemana-mana.


"Ini makin hari makin lengket aja, kapan dihalalil si, Bang?" sela Rain saat ia tiba-tiba duduk diantara mereka.


"Iih, Rain ganggu mulu, kan lo udah ada suami sana! Ngapain di mari?" gerutu Ikoh saat duduknya terhalang sang sahabat yang tiba-tiba duduk di tengah.


Rain tak menghiraukan gerutuan sahabat nya, ia malah bilang, "nggak boleh dua-duaan belum muhrim!"


"Dih, kaya dulu nggak aja?" sewot Ikoh, sementara Refal hanya terkekeh mendengar ocehan kedua wanita di sampingnya.


"Bukan gue, si Om nya aja yang mepet mulu," sanggah Rain sambil menyuapkan makanannya dengan acuh.


"Tuh kan, percaya nggak?" bisik Rain pada Ikoh sahabatnya. Sementara Davian langsung duduk di samping Refal yang masih menampakkan deretan giginya yang putih.


"Kenapa?" tanya Davian sambil menatap heran ke arah Refal.


"Biasa lagi dengerin cewek cantik berantem," jawabnya acuh yang membuat Davian melirik ke arah sang istri yang godain Ikoh hingga gadis itu cemberut.


Acara berlangsung hingga malam hari, sama seperti pernikahan Davian bulan lalu.


*****


Malam ini merupakan malam pertama bagi Isma da Deril. Mereka sedang berada di kamar hotel yang sudah didekorasi untuk pengantin baru. Deril baru saja selesai membersihkan dirinya, ia keluar dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Sementara Isma baru sedang membuka beberapa perhiasan yang menempel di tubuhnya, juga membuka ikatan di rambutnya yang ditata dengan sangat cantik itu.


Deril yang melihat sang istri sedang kesulitan membuka ikatan di rambutnya dengan segera menghampirinya dan membantu melepaskannya. Rambut panjang sang Istri pun tergerai dengan indah walaupun agak berantakan.


"Kamu mau mandi dulu, nggak?" ucap Deril dengan berbisik pada sang istri. Isma sedikit terkesiap saat hembusan hangat dari nafas suaminya menerpa leher jenjangnya.


Namun, tak berapa lama ia langsung menjawab, "aku mandi dulu sayang, biar wangi," ucapnya sambil mengedipkan satu matanya dengan genit. Deril hanya terkekeh kemudian mencium bibir istrinya sekilas.


Setelah itu Isma pun beranjak menuju kamar mandi, ia melakukan ritual mandinya dengan sedikit lama, ternyata gadis itu gugup juga menghadapi malam pertamanya.


"Aduh gue mesti ngapain ya?"gumamnya sambil mondar-mandir di kamar mandi.


Hingga ketukan di pintu mengagetkannya, "sayang, kamu nggak kenapa-kenapa kan?" teriak Deril dari luar.


"Iya, bentar Yank, aku udah beres ko!" jawab Isma, kemudian ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan sebelum membuka pintu kamar mandinya.


Saat ia mengeluarkan kepalanya dari balik pintu, nampak sang suami sedang melipat kedua tangannya di dedan dada, bahkan ia masih berpenampilan seperti tadi. Ya, Deril belum mengganti bajunya, ia masih menggunakan handuknya.


"Kenapa belum pakai baju? Nanti masuk angin lo, sayang!" tanya Isma sambil berjalan mendekat ke arah suaminya.


Deril hanya mengangkat satu alisnya, kemudian berjalan mendekat ke arah sang istri yang terlihat mulai gugup.


Dengan lembut ia memeluk tubuh istrinya yang hanya menggunakan jubah mandi.


"Ngapain? Nanti juga dibuka lagi," bisiknya yang membuat Isma mengerjap dan tiba-tiba terbatuk.


"Hmm, tapi kan_" ucapan Isma terpotong karena Deril langsung melahap bibir ranum sang istri yang sedari tadi menggodanya. Isma yang semula kaget, akhirnya membalas ciuman sang suami hingga mereka terbuai, dan melepas pagutannya setelah mereka merasa perlu menghirup oksigen.


Deril mengangkat tubuh sang istri dan membaringkannya di ranjang yang penuh dengan kelopak mawar merah berbentuk hati di atasnya. Deril mengungkung tubuh sang istri dengan pandangan sayu, dan kembali menyatukan bibir mereka dengan penuh penuntutan.


(aduuh othor nahan nafas dulu ๐Ÿ˜‚)


Entah bagaimana caranya? Akhirnya handuk dan jubah mandi yang mereka kenakan sudah berserak di lantai, dan sebuah des*han mulai terdengar dari bibir mungil peremouan cantik itu.


Deril juga menikmati setiap inci dari tubub sang istri, hingga netranya yang berkabut, menuntut untuk meminta hal lebih yang sudah menjadi haknya. Deril menatap sang istri dengan intens, kemudian berucap, "katanya yang pertama sakit, tapi aku akan melakukannya dengan sangat lembut, apa kamu siap sayang?"


Isma yang sudah merasa gelisah hanya mengangguk, dan menerima apa yang dilakukan sang suami pada dirinya. Wajah cantiknya tak luput dari ciuman sang suami, hingga leher jenjangnya yang putih mulus pun tak ia lepaskan, sampai sesuatu menyentuh inti tubuhnya dan berusaha menembusnya dengan lembut.


Isma sedikit memekik saat inti tubuhnya mulai merasakan sakit, bahkan bulir bening pun tak bisa ia tahan lagi, hingga akhirnya malam pertama mereka terjadi begitu lama.


Bersambung


Udah ah othor haredang๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Jan lupa tinggalkan jejak tinggal beberapa bab lagi ya