"DR"

"DR"
Maaf



Davian sudah kembali ke kantornya, ia membanting tubuhnya di sofa. Punggungnya ia sandarkan pada sandaran sofa lengannya menutupi kedua matanya. Hari ini ia lelah dan juga memikirkan Rain yang masih salah paham padanya.


Saat ia beranjak hendak ke meja kerjanya, ia melihat tas bekal yang tadi disimpan kekasihnya itu, ia pun mengambilnya, ada 2 kotak makan di sana. Kemudian ia membuka kotak makannya, dan terkejut saat ada memo di dalam tutupnya dan tertulis


"met makan siang ya sayang, hari ini aku bikin yang spesial buat kamu, moga kamu suka, karena aku bikin ini pake cinta dan sayang ๐Ÿ˜


Makasih om rese kesayangan๐Ÿ˜"


Davian menutup matanya sejenak, ia makin merasa bersalah pada gadisnya hari ini. Namun tak berapa lama ia pun mulai menyuapkan makan siangnya yang sudah terlambat itu, dan menikmatinya. Apapun yang dimasak oleh Rain, ia selalu suka.


Baru saja ia menyelesaikan makan siangnya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan Dio masuk dengan omelan di mulutnya.


"Lo itu mikir nggak si, Dav?" omelnya sambil duduk di sofa.


"Apaan datang-dateng ngomel?" ucap Davian malas, sambil membereskan kotak makannya. Setelah itu baru dia beralih menatap sahabatnya yang nampak kesal, "kenapa?"


"Ngapain lo ngajak Diandra ke sini? Pasti ketemu Rain kan?" celotehnya. "Lo itu udah susah-susah dapatin gadis baik kayak Rain kenapa mesti balik ke mantan lo si, Dav?" lanjutnya saat tidak mendengar jawaban dari Davian.


Davian menghela nafas gusar, kemudian berucap, "jangan salah paham dulu, gue juga nggak **** mesti balik ke mantan yang jelas-jelas udah jadi istri orang."


"Terus_"


Davian pun menjelaskan bahwa Diandra sudah datang lebih dulu ke kantornya, bahkan ia menunggunya di ruangan Davian.


"Jadi seharian ini lo ditemenin dia?" sela Dio.


"Ya gimana lagi gue suruh pulang dia nggak mau, malah meluk gue dan siyalnya Rain datang, udah deh tuh bocah ngambek," hela Davian.


"Rasain, lagian lu lupa apa gimana lo dapetin gadis yang lu bilang bocah itu?" ledek Dio.


"Iya, terus gue mesti ngapain? Sumpah gue nggak bakal balikan sama Diandra, Yo, walaupun katanya dia udah gugat cerai lakinya, gue tetep kagak mau," jelas Davian berusaha meyakinkan Dio.


"Yakin lo, dia kan cinta pertama lo?" goda Dio yang membuat Davian berdecak kesal. Setelah itu mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga hening membentang diantaranya.


"Bantuin gue lah, Yo!" suara Davian memecah keheningan. Dio menatap malas ke arah sahabatnya itu, "tuh kan giliran ribet aja lu kasih gue, Dav!" tanpa aba-aba Dio menarik Davian kemudian membawanya ke toilet.


"Lu ngapain si, gue masih normal woi!!" omel Davian saat Dio tiba-tiba merobek kemeja Davian. Dio hanya berdecak, kemudian berucap, "mau gue bantuin nggak?"


Davian pun mengangguk, ia menuruti apa yang dipinta Dio.


"Ada gunting nggak atau cuter?" tanya Dio saat sudah membuat Davian tampak berantakan.


"Buat apaan?" tanya balik Davian curiga. Namun akhirnya Dio menemukan cuter di laci meja Davian.


"Diem ya, bakal sakit nih, dikit doang tapi," kekehnya kemudian menggoreskan cuter itu ke lengan dan perut Davian sedikit, sehingga Davian meringis.


"Siyalan lu apain tubuh gue si, perih woi!" umpatnya sambil memegang bagian tubuh yang luka tadi.


"Udah, lu mau kan Rain ke sini?" tukas Dio dan setelah itu membawa Davian ke kamar yang memang ada di ruang pria tinggi itu.


"Lo rebahan aja di mari, tunggu kalo Rain datang terus tanya lu iya in aja ok!" setelah itu Dio keluar dari kamar tersebut.


***


Rain sedang asyik memainkan ponselnya, ia membuka ig nya dan menampilkan beberapa foto artis idolanya. Saat ia scroll ponselnya tiba-tiba ada panggilan masuk dari Bang Dio.


"Ngapain si, palingan juga disuruh si om rese," gumamnya lalu mengabaikan panggilannya. Namun makin didiamkan ponselnya malah terus berbunyi.


"Iya, ada apa, Bang?" tanya Rain saat mengangkat telponnya. Dio dengan panik memberitahu Rain tentang keadaan Davian. Rain yang semula rebahan sekarang beranjak duduk.


"Masa si, Bang? Iya udah Rain kesana," dengan malas ia pun beranjak, ia tak mengganti pakaiannya, hanya memakai jaket yang tergantung di balik pintu kamarnya. Kemudian keluar dari kamarnya, "Masa si sampai separah itu, padahal cuma_" gumamnya tak melanjutkan karena ia lupa membawa dompetnya. Setelah itu ia pergi ke kantor Davian, sengaja berjalan kaki biar datang lebih lama, jadi ada alasan buat dia pulang cepat karena hari sudah sore.


Saat sampai ke kantor Davian, Rain sudah ditunggu Dio di lantai bawah.


"Ayo cepetan Rain, kasihan Davi!" sambil menarik tangan Rain dan membawanya masuk lift menuju lantai atas tempat Davian.


"Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja si, Bang?" gerutu Rain saat melihat tingkah Dio yang memburu-burunya. Namun Dio tak menanggapinya, ia hanya diam. Tak berapa lama lift pun berdenting dan pintunya terbuka, dengan tergesa Dio menarik kembali lengan gadis mungil itu yang tampak malas untuk berjalan, bahkan Mba Lena juga menatap heran le arah keduanya, namun ia juga tak berani bertanya.


Rain sudah berada di ruangan Davian yang tadi siang ia singgahi sebentar, suasananya terlihat agak berantakan dan ia juga tak melihat sosok pria dewasa itu. Dio mengajak Rain ke sebuah ruangan dengan pintu coklat di depannya, gadis itu sempat mengerutkan keningnya, karena selama ia ke ruangan ini, ia baru kali ini kalau ada ruangan lain di sini.


"Tolongin dia, ya Rain aku harus pergi soalnya masih ada meeting hari ini, aku titip dia ya!" ucap Dio sambil berbalik meninggalkan ruangan itu, "eh tapi_"


"Rain kamu datang, sayang?" lirih Davian yang memang ia tadi ketiduran menunggu Dio yang menurutnya lama. Rain hanya bersedekap di depan dada, tanpa menjawab ucapan Davian.


"Dih, manja banget si, luka dikit doang!" omelnya dengan menatap jengah ke arah Davian yang sudah beranjak duduk, bahkan ia sudah menurunkan kedua kakinya untuk turun.


"Yank, dengerin aku dulu!" ucap Davian sambil berdiri dan berjalan menghampiri gadisnya yang tetap diam dengan bersedekap.


"Cuma kecebur got doang ampe luka gitu? Sedalam apa emang itu got? Terus kenapa manggil aku, kan ada Diandra!" cerocos gadis itu sambil menekankan nama Diandra.


Davian mengerutkan keningnya, saat mendengar pertanyaan gadisnya, "siyalan si Dio, gue dibilang kecebur got, pantes tadi gue diguyur air, sue!" gumamnya dalam hati, tapi hal itu juga yang membuat gadisnya mau datang ternyata.


"Udah ah, kamu baik-baik aja kan, Om? Aku balik lah udah mau sore juga,"lanjut Rain sambil berbalik hendak membuka pintunya, namun Davian dengan cepat menarik gadis mungil itu dan erat.


"Maafin aku, Yank, sumpah aku nggak ada apa-apa sama dia, lagian dia juga kan istri orang, Yank!" jelas Davian sambil terus memeluk tubuh mungil gadisnya yang justru berusaha melepasakan pelukannya.


"Oh, jadi kalau dia bukan istri orang bisa dong?" jawab Rain sarkas.


Davian mengerutkan keningnya, saat mendengar jawaban kekasihnya itu, "ya nggak gitu juga, sayang, pokoknya yang aku mau itu kamu bukan yang lain."


"Lepasin, Om!" omel Rain sambil berusaha mendorong tubuh tegap prianya.


"Aku nggak akan lepasin kamu, sebelum kamu maafin aku, Yank!" ucapnya kekeh dan malah semakin merengkuh tubuh mungil gadisnya, dagunya ia tenggelamkan di bahu gadisnya.


"Iiih,,engap atuh lah, Om!" omel Rain dengan mencubit perut Davian tepat pada bagian yang tadi kena gores cuter oleh Dio.


"Aaaaw!" pekik Davian dan otomatis melepaskan pelukannya. Rain sempat kaget saat mendengar pekikan pria di hadapannya, ditambah lagi ada bercak darah di jarinya.


"Eh, Om nggak apa-apa kan?" tanya Rain panik, dan hal itu dijadikan kesempatan oleh Davian.


"Aduh, Yank, ini sakit banget!" sambil memegang perutnya. Rain pun akhirnya kalah ia memapah Davian untuk duduk di ranjangnya, setelah itu ia mengambil kotak p3k yang berada di atas nakas. Davian tersenyum senang saat melihat kekhawatiran gadisnya.


"Sini, aku bersihin dulu lukanya!" ucap Rain saat berbalik menghadap Davian yang masih memegang lukanya. Pria itu pun melepaskan tangannya dan membiarkan gadisnya membersihkan dan mengobati lukanya hingga bersih.


"Kok, bisa si sampai kecebur got, emang kamu lagi ngapain?" tanya Rain sambil tetap fokus pada luka pria tinggi itu. Davian malah fokus juga menatap wajah cantik gadis di depannya.


"Om?"


"Iya, sayang."


"Dengerin aku ngomong nggak si?" gerutunya kesal saat ia tak mendapat jawaban dari pertanyaannya.


"Iya, iya dengerin kenapa emang?"tanya balik Davian tergagap, dan malah mendapat decakan kesal dari gadisnya, "udah lupain aja, ada baju ganti nggak di sini?" ucap Rain mengalihkan pembicaraan.


"Ada, tolong ambilin di lemari itu ya!" sambil menunjuk ke arah lemari krem yang ada di samping nakas. Rain hanya mengangguk dan mulai membuka lemarinya, setelah itu ia membawa satu stel pakaian untuk Davian.


"Nih, baju gantinya, aku pulang dulu udah sore!" setelah menyimpan pakaian Davian di kasur, kemudian ia berbalik menuju pintu, namun sebuah tarikan di pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu.


"Tunggu, Yank!" suara itu begitu dekat hingga membuat Rain enggan untuk berbalik, "apa lagi?" tanpa menoleh sedikitpun.


"Makasih, sayang! Maafin aku!" ucapnya sambil melingkarkan kedua tangannya di perut rata gadis cantik itu.


Sementara Rain hanya diam mematung tanpa mengucapkan sepatah kata pun, hingga kecupan di lehernya membuat ia tersadar.


"Abaaang!!"


Bersambung....


Happy Reading ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Aku datang hehehhe...


Makasih ya buat kalian yang selalu setia nungguin up nya bang Davi sama Rain.


Jan lupa selalu tinggalin jejak ya biar aku tambah semangat