"DR"

"DR"
Memenuhi Persyaratan



Rain bertemu dengan Reza di sebuah taman yang membuat gadis mungil itu berusaha menghindar.


"Rain tunggu!"teriak Reza sambil mengejar gadis itu yang berusaha lari. Namun, dengan tubuh tergesa gadis itu berlari menjauh hingga tak memperhatikan jalan yang ia langkahi, sampai akhirnya terjatuh.


"Aaaaw...!"pekik Rain sambil terus beringsut mundur, saat Reza terus mendekatinya.


"I LOVE YOU HONEY!"


"NGGAK!"bentak Rain, sampai akhirnya ia terbangun dengan peluh dingin di dahinya. Tampak Davian menatapnya khawatir sambil mengusap peluh di dahi gadis mungilnya.


"Kamu mimpi buruk sayang?"ucapnya lembut, kemudian membantu Rain untuk duduk bersandar dan memberinya minum.


"Aku takut!"lirih gadis mungil itu setelah meneguk minumannya. Kemudian gadis itu menceritakan tentang mimpinya. Davian sempat mengerutkan keningnya, saat mendengar cerita Rain.


"Padahal gue yang bilang cinta ke dia, kenapa di mimpinya malah Si Reza si?"gumamnya.


"Ya udah kamu jangan takut, kan ada aku di sini, sekarang kamu bobo lagi ya!"ucap Davian lembut. Rain menatap ke arah cowok tinggi di sampingnya dengan tatapan tak terbaca.


"Aku nggak akan macem-macem sama kamu sayang, sebelum kita halal!"seloroh Davian yang mengerti akan ketakutan dan kekhawatiran gadisnya. "Lebih baik kamu bobo lagi, kan besok kita pulang!"lanjutnya.


Tanpa bantahan akhirnya, Rain pun menuruti apa yang dikatakan Davian, ia kembali membaringkan tubuhnya, namun saat Davian hendak beranjak ke sofa, Rain menarik kemejanya," jangan tinggalin aku!"


Davian pun mengangguk, kemudian kembali duduk di kursi dekat ranjang yang ia duduki tadi. Tatapan Davian yang teduh membuat gadis itu sedikit tenang, hingga akhirnya ia pun kembali terlelap tanpa melepas pegangannya pada kemeja pria tampan itu.


Davian pun mengusap lembut pipi mulus gadis mungilnya, kemudian mengecup dahinya lembut. Pegangan tangan gadis itu pada bajunya membuat ia tak bisa beranjak, hingga akhirnya ia pun terlelap dengan posisi duduk, dan kepalanya ia sangga dengan satu tangannya.


****


Keesokan paginya, Rain dan Davian sudah siap untuk pulang, mereka masih duduk di sofa menunggu kedatangan sang ibu. Tak berapa lama kemudian, sang ibu pun datang bersama Bang Refal.


"Ayo, udah siap pulang kan sayang?"tanya sang ibu lembut,sambil memeluk tubuh mungil putrinya. Rain mengangguk dan beranjak berdiri.


"Oya, kalian udah sarapan belum?"lanjut Bu Ratna. Rain dan Davian menggeleng bersamaan, kemudian Davian menjelaskan bahwa Rain tidak mau sarapan, ia hanya ingin cepat pulang ke rumah.


"Oh, ya udah nanti kita sarapan di jalan aja ya!"pungkas Bu Ratna kemudian mengajak mereka semua keluar.


"Kamu mau ikut sama abang apa sama Davi, Rain?"sela Bang Refal tiba-tiba.


"Ikut abang lah!"jawab Rain singkat, yang membuat Davian mengerutkan keningnya.


"Lah, terus aku sendirian gitu? Tega banget sih, Yang!"sela Davian dengan muka murung, udah mah bajunya juga kucel karena ia nggak bawa baju ganti.


Refal terkekeh geli melihat tingkah Davian, yang memang saat ini penampilannya berantakan.


"Udah kamu ama Davi aja ya, ntar kita ketemu di tempat buat sarapan bareng, kasian noh ampe kucel gitu!"rayu Bang Refal sambil terkekeh.


"Dih, ogah ah bang, sama abang aja lah!"tolak Rain sambil melihat ke arah Davian yang memang benar-benar berantakan, dengan kemeja kusut, rambutnya juga ala-ala dragon ball gitu, tapi tidak membuat kegantengannya berkurang, malah terlihat lebih sexy di mata Rain.


Saat mereka sampai di parkiran, Davian buru-buru membuka pintu mobilnya untuk Rain, namun gadis itu malah melengos dan melewatinya, tapi bukan Davian kalo langsung membiarkan gadis itu pergi, dengan sigap ia menarik lengan gadisnya.


"Lepasin nggak!?"pekik Rain sambil berusaha melepas cengkraman pria dewasa di hadapannya.


"Semalam aja siapa tuh yang nggak mau lepasin pegangannya, ampe aku tertidur dengan posisi duduk, leher sama punggung aku ampe sakit."bisiknya. Rain mengerjap kaget, ia ingat saat tadi pagi terbangun tangannya dengan erat mencengkram kemeja pria di hadapannya.


Akhirnya Rain pun masuk ke mobil Davian dan duduk di samping kemudi. Kemudian tanpa perlawanan, Davian juga memasangkan seatbelt pada Rain, hingga wajah mereka begitu dekat. Rain yang gugup menahan nafasnya, sementara hembusan nafas Davian yang beraroma mint itu menerpa pipi halusnya.


Setelah Davian selesai memasangkan seatbeltnya, Rain nampak menghembuskan nafasnya lega, hingga Davian menahan tawanya.


"Apa sih?"


Davian hanya menggelengkan kepalanya kemudian terkekeh, dan langsung duduk di balik kemudi.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit, dan melaju menuju rumah Rain. Tidak ada percakapan berarti diantara keduanya, bahkan Rain sempat memejamkan matanya sejenak.


"Oya kamu mau sarapan di mana? Ibu udah ngehubungi belum?"tanya Davian sambil melirik sebentar ke arah gadis di sampingnya.


"Ibu udah nunggu di rumah, katanya udah dipesenin buat sarapan, jadi kita langsung ke rumah aja."jawab Rain sambil kembali memasukan ponselnya ke dalam saku. Davian pun mengangguk, kemudian kembali fokus menyetir.


Akhirnya mereka sampai di rumah Rain, dengan gegas Davian keluar dan membukakan pintu untuk gadis cantiknya, walau wajahnya masih terlihat pucat. Mereka kemudian beranjak masuk ke rumah, yang disambut langsung oleh sang ibu.


"Ayo, cepet kalian sarapan dulu! Terus kamu Davi ganti baju pakai aja punya Refal udah disiapin tuh di kamar Refal!"sambil mengajak mereka berdua ke ruang makan.


Mereka sarapan berdua, sementara sang ibu menunggu di ruang keluarga, Refal pergi ke kantornya, setelah tadi sampai ke rumahnya.


Rain masih terlihat tak berselera saat makan, hingga Davian pun berinisiatif pindah duduk ke sampingnya dan hendak menyuapi gadisnya.


"Aaaa...!"ucap Davian sambil membuka mulutnya.


"Ih ngapain sih?"omel Rain sambil memundurkan wajahnya.


"Lagian sarapannya bukan dimakan malah diliatin gitu, ayo biar cepet sembuh, inget bentar lagi acar kita, Yang!"jelas Davian panjang lebar.


"Aku ngantuk!" jawab Rain sambil beranjak dari duduknya.


"Oh, ya udah kamu istirahat gih, aku mau mandi dulu lah, udah dipinjemin baju juga sama Refal."kemudian beranjak dan pergi ke kamar Refal. Davian memang sudah kenal dengan tiap ruangan yang ada di rumah itu.


Sementara Rain pergi ke kamarnya, kemudian merebahkan tubuhnya yang masih lemas. Saat ia hendak memejamkan matanya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, dan Davian dengan rambut basahnya masuk tanpa permisi.


"Heh,,, ngapain di sini?"omel Rain sambil beringsut duduk dan bersandar ke kepala ranjang.


"Maaf, aku cuma mau pamit, soalnya mau lakuin syarat kamu dulu!"ucapnya sambil terkekeh dan duduk di samping ranjang Rain.


"Ya udah sana!"ketus Rain.


"Oke, kamu istirahat ya, biar nanti pas acara lancar!"ucap Davian kemudian beranjak, namun sebelum berbalik Davian pergi, ia menyempatkan menyambar bibir gadis mungil itu sekilas.


"Hey....!?"omel Rain sambil membekap mulutnya sendiri, tapi Davian malah terkekeh sambil berucap, "dikit doang, Yang!" namun lemparan bantal mendarat di bahunya.


Bersambung...


Happy Reading 😘😘


Maaf ya readersku mungkin untuk chapt selanjutnya bakal agak lama upnya,, bumil nya udah mulai ga enak diem,,,


Minta doanya aja buat semua semoga ntar pas lahiran dilancarkan semuanya aamiin 🤗 🤗