
Davian pulang tanpa melihat kembali gadis mungilnya, ia hanya pamit pada Bu Ratna. Davian melajukan mobilnya menuju apartemennya, namun saat di persimpangan jalan, ia melihat sepasang kekasih yang berjalan bergandengan mesra.
Sebenernya banyak pasangan kekasih yang berjalan di sana, tapi sepasang kekasih itu membuat Davian penasaran, ia seperti kenal pada laki-laki berkemeja biru itu.
Davian pun bergegas turun dan memakai topi putih yang ada di mobilnya, sebelumnya ia memarkirkan dulu mobilnya. Kemudian ia mengikuti sepasang kekasih yang berjalan begitu mesra itu, hingga sampai pada sebuah hotel Aulia.
Davian sempat ragu untuk mengikuti mereka masuk, namun ia ingin memastika kalo cowok itu benar-benar Reza, kekasih gadis mungilnya. Karena tidak ada cara lain, ia pun pura-pura terburu-buru dan menabrak pasangan itu, sehingga Reza berbalik.
"Maaf, maaf saya ngga sengaja!" ucap Davian sambil menenggelamkan topinya.
"Kalo jalan yang bener dong, Mas!" omel cewek cantik di samping Reza yang tidak lain adalah Rena.
"Iya, saya minta maaf tadi buru-buru!" kemudian membungkukan tubuhnya dan berlalu meninggalkan hotel tersebut. Davian berjalan gegas sambil mengepalkan tangannya erat.
"Shit! Ternyata firasat gue sama Bu Ratna ngga meleset, kalo dia ternyata lelaki breng***k." umpat Davian sambil kembali masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian ia melajukannya menuju ke apartemennya.
Di Hotel Aulia
Reza dan Rena ke sana untuk menemui papihnya Rena. Karena hotel itu milik keluarga mereka. Sang papih yang menyuruh mereka datang setelah Rena dijemput dari bandara.
Papih Rena sudah menunggu di ruang VVIP sambil menyesap minuman di depannya. Kemudian sebuah ketukan terdengar dan datang pelayan hotel dan sepasang kekasih yang ditunggunya sejak tadi.
"Papiiiih,,, Rena kangen banget!" teriak Rena sambil menghambur ke pelukan sang papih, sementara Reza hanya mengikutinya dari belakang. Dengan sopan ia menyalami calon mertuanya tersebut. Mereka pun duduk di sofa besar yang terlihat sangat mahal itu.
"Papih udah nyiapin buat pesta pernikahan kalian, ya sudah 70% lah, sekarang tinggal kartu undangan dan foto prewed kalian." jelas lelaki paruh baya tersebut yang terlihat masih gagah dan tampan.
"Iya, papih makasih, biar Rena sama Reza yang nyiapin kartu undangannya, aku pengen yang spesial, iya kan sayang?" ucap Rena sambil bergelayut manja di lengan kokoh Reza. Sementara Reza hanya tersenyum dan mengangguk. Hatinya sangat sakit jika ia harus benar-benar menikah dengan gadis yang sama sekali tak ia cintai.
Mereka pun berbincang cukup lama, hingga malam menjelang, akhirnya Reza mengantar pulang Rena ke rumahnya. Ia merasa sangat suntuk seharian bersama Rena, pikirannya terus mengingat kekasih hatinya yang pasti saat ini sedang kecewa, karena ia tak jadi menjemputnya.
"Maafin aku Rain, aku sayang sama kamu, tapi_" gumamannya tak berlanjut saat Rena tiba-tiba mengecup pipinya dan pamit untuk masuk ke rumahnya.
Sementara di Rumah Rain.
Rain dan Ikoh tampak asyik ngobrol di kamar Rain, hari ini Ikoh sengaja nginep di rumah Rain karena ia ingin mendengar curhatan sahabatnya. Ia pun sudah minta izin sama mamah dan papahnya lewat telpon.
"Lo beneran kesel banget ya tadi?" ucap Ikoh sambil mulutnya tidak berhenti ngemil makanan dari Davian.
"Iya lah, gue nungguin dia ampir 2 jam, Koh, udah gitu sampe sekarang mana dia ngga ngasih kabar sama sekali." gerutu Rain sambil ikut mengambil makanan dari tangan Ikoh.
"Iya juga sih, tapi kan udah ada Om Davi, Rain, seengganya kita bersyukur ngga keluar ongkos malah dapet makanan banyak nih!" jawabnya sambil terkekeh dan menunjukan beberapa kantong makanan.
"Dih,, itu mah elu aja yang demen, gue kesel, tahu ngga sih, kenapa mesti selalu ada dia tiap kali gue mau jalan ma Kak Reza." omelnya.
Rain dengan muka sembabnya tampak terlihat menggemaskan, hidung mancungnya yang kemerahan, matanya juga sedikit bengkak karena setelah pulang ia langsung menangis meluapkan kekesalannya.
Sekitar jam 9 malam, saat Ikoh dan Rain mulai membaringkan tubuh mereka, tiba-tiba sebuah notif dari ponsel Rain berbunyi.
Kak Reza: Rain sayang, maafin aku ya! Aku tau kamu pasti marah banget.
"Sapa Kak Reza ataw si Om?" tanya Ikoh sambil menahan kepalanya dengan telapak tangannya, posisinya menyamping ke arah Rain.
"Kak Reza, bales jangan ya?" ucap Rain sambil menggenggam ponselnya.
"Kalo lo kangen bales aja kali." jawab Ikoh santuy yang langsung mendapat lemparan bantal ke mukanya.
"Udah lah antepin aja." Rain kemudian merebahkan tubuhnya, namun saat ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Iih sapa sih?" gerutunya sambil mengambil ponselnya di atas nakas. Di sana tertera nama Om Davian.
"Ngapain sih nih om-om malem-malem ganggu banget?" gumamnya sambil merejeck panggilan tersebut, kemudian kembali bergelung dalam selimut.
Ikoh nampak sudah terlelap, terdengar dari nafasnya yang teratur dan suara dengkuran halus di sana. Sementara Rain tampak gelisah, ia masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya terus melayang ke Kak Reza.
"Kenapa ada perasaan ngga enak kaya gini ya? Apa Kak Reza ngga apa-apa?" pikirnya. Karena setelah ia pulang ke rumah dan curhat pada Ikoh, ntah kenapa ada perasaan sakit di sudut hatinya, tapi ia juga ngga tau kenapa,padahal cuma ngga jadi jemput doang, tapi rasa sakitnya sampai ke dalam hatinya.
Ada firasat aneh mengenai kekasihnya. Rain pun berusaha berfikiran positif, bahwa tidak terjadi apa-apa pada kekasihnya. Hingga kantuk pun mulai menyergapnya dan memeluk erat, sampai gadis itu pun terlelap dengan nafas yang teratur.
Di Apartemen Davian
"Shit! Kenapa ngga diangkat sih telponya, bocah?" omel Davian sambil melempar ponselnya. Dia tak bisa tidur, ia masih mengingat kejadian tadi saat bertemu dengan Reza.
"Cowok sialan beraninya permainkan gadis mungil gue, lo pasti bakal dapat balasan." umpatnya sambil mengusap rambutnya gusar.
Semalaman itu Davian tak bisa tidur, ia memikirkan cara bagaimana menyampaikan semuanya pada gadis mungilnya itu. Kalo pun ia langsung berbicara tak mungkin Rain percaya begitu saja. Sampai subuh menjelang, baru Davian melelapkan tidurnya.
Baru juga ia tertidur 2 jam tiba-tiba pintu apartemennya diketuk dengan keras.
"Daviii,,, buka ini aku, kenapa kamu ganti pin nya si?" suara teriakan perempuan di luar membuat Davi membenamkan kepalanya ke bantal. Ia benar-benar ngantuk.
Sampai akhirnya hening, dan tak berapa lama sebuah sentuhan tangan menempel di pipinya.
"Bangun sayang, aku kangen sama kamu!" bisiknya tepat di telinga Davian.
Davian mengerjap sesaat, dan tersentak kaget saat melihat perempuan di depannya.
"Kamu?"
Bersambung....
Happy Reading ππ
Maaf telat ya.. Moga langsung up mlm ini.
Tetap di rumah aja dan jaga kesehatan
Salam sayang dari author.
Jan lupa like, komennya ya, makasih banget yang udah selalu like sm komenπ€π€