"DR"

"DR"
Kecewa



"Jangaaaan!!!"teriak Rain sambil memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya bergetar ketakutan, saat Zulfikar mendekatinya.


"Aku tidak akan menyakitimu, sayang! Aku bukan cowok brengsek seperti Davian."ucapnya sambil bersandar ke kepala ranjang di samping Rain yang masih gemetaran.


"A-aku mau pulang!"lirih Rain dengan tergagap.


"Aku akan mengantarmu pulang sayang!"sambil mengusap rambut panjang Rain yang tergerai. Gadis itu makin mengernyit saat sentuhan tangan besar itu melucur ke rambutnya.


Saat Zulfikar mendekati Rain dengan mencondongkan wajahnya, tiba-tiba


"Braaak....!"pintu terbuka dengan paksa, terlihat Davian dan Dio dengan wajah memerah dan rahang mengeras.


"Lepaskan gadis itu!!!"bentak Davian sambil menerobos masuk.


"Abaaang!"pekik Rain, namun Zulfikar dengan sigap menarik Rain ke pelukannya, lengannya merangkul leher Rain agar tak bisa kemana-mana.


"Jangan sakiti dia, Zul! Dia nggak tahu apa-apa tentang masalah kita."ucap Davian sambil merentangkan tangannya ke depan. Sementara Dio mengawasi dan mencari celah untuk bisa merebut Rain dari tangan Zulfikar.


"Heh,,, terus apa kabar Nania yang udah kamu renggut kesuciannya!"bentak Zul sambil menarik Rain untuk berdiri. Gadis itu sempat shock saat mendengar penuturan Zul tentang Davian.


"Gue nggak ngelakuin itu, gue bersumpah bukan gue!"bantah Davian.


"Cih...!"


"Sekarang lo lihat apa yang bakal gue lakuin sama cewek kesayangan lo!"ancamnya sambil menarik kemeja Rain dengan paksa,hingga bahunya terlihat dengan jelas.


Rain menjerit, namun dengan sigap Zul membekap mulutnya. Davian makin memerah wajahnya saat melihat adegan di depannya, kemarahannya sudah di puncak, tanpa pikir panjang ia menghampiri Zul dan hendak memukulnya, tapi Zul dengan menciumi bahu Rain yang terbuka hingga membuat gadis itu berontak dengan sekuat tenaga, walau mulutnya dibekap dan tangannya dicengkram dengan kuat.


Bulir bening di netra gadis itu sudah meluncur deras, saat Zul terus melancarkan aksinya di depan Davian yang tidak bisa berbuat apa-apa, hingga akhirnya


"Buk,,, buk,,, buk,,,!"Dio memukul Zul dengan tongkat yang ada di samping lemari. Tanpa menunggu lagi Davian langsung menarik Rain ke pelukannya. Ia menutupi bahu gadisnya yang terbuka dengan jaketnya.


Sementara Dio dan Zul masih saling baku hantam, Davian mengajak Rain keluar dari rumah tersebut dan membawanya masuk ke mobil. Gadis itu masih terisak, tubuhnya juga masih bergetar ketakutan. Saat Davian hendak memeluk gadisnya, dengan kasar Rain menepisnya dan berucap, "jangan sentuh gue, gue benci sama lo!"bentaknya sambil beringsut ke pintu mobil.


Davian terpaku saat mendengar ucapan gadisnya, kemudian ia pun berusaha mendekati gadisnya dan meminta maaf.


"Maafin aku sayang, please jangan benci aku!"ucapnya lirih sambil berusaha meraih tangan mungil gadisnya.


"Jangan sentuh gue!!!"teriak Rain histeris, kejadian ini membuatnya kecewa, takut, marah, semuanya jadi campur aduk,walau pria itu tidak melecehkannya, tapi ia mengetahui fakta baru tentang calon tunangannya.


Tak berapa Dio menghampiri mereka dengan tergopoh, wajahnya penuh lebam, kakinya juga sedikit terpincang.


"Buruan, Dav kita pergi dari sini!"ucapnya sambil masuk ke kursi samping kemudi. Davian pun langsung keluar dan duduk di depan kemudi, kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Rain masih saja terisak dan memeluk erat tubuhnya. Hingga akhirnya ia terlelap.


*******


Di rumah Bu Ratna


Bu Ratna tampak mondar - mandir di ruang tamu, tapi ia tidak sendirian, ada juga mami Sherly dan Papi Rangga di sana, sementara Refal sedang ke kantor polisi untuk yang kedua kalinya setelah kemarin ia ke sana.


"Pi, gimana ini, mami nggak mau terjadi apa-apa sama calon mantu kita, Pi?"isaknya sambil mengguncang lengan suaminya yang nampak memijit keningnya.


"Iya, mi, papi ngerti, tapi papi yakin Davi bisa membawa Rain pulang."jawabnya mencoba menenangkan sang istri.


Saat kepanikan diantara mereka masih terlihat jelas, terdengar suara klakson mobil yang mereka kenal.


"Davi, pi!!"teriak Mami Sherly sambil menghambur ke luar. Nampak gadis mungil itu berada dalam gendongan Davian.


"Rain baik-baik aja, Bu."ucap Davian sambil menerobos masuk ke rumah Bu Ratna. Kemudian gadis itu ia baringkan di sofa ruang tamu. Masih terlihat jejak air mata di pipi mulusnya.


"Siapa yang udah ngelakuin ini, apa Reza lagi?"geram Bu Ratna sambil mengguncang lengan Davian. Pria itu menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Bu Ratna mengerutkan keningnya, "siapa?"lanjutnya.


Tiba-tiba Dio menyela obrolan mereka sambil mengompres lukanya dengan es batu,"dia sahabat kami dulu, namanya Zulfikar, dia dendam sama Davi karena menuduhnya telah merusak pacarnya dulu."


Semua yang ada di sana menatap ke arah Dio kemudian berbalik ke arah Davian yang masih menunduk.


"Bener apa yang dibilang Dio, Dav?"tanya sang papi yang sedari tadi hanya diam. Davian mengangguk lemah, ia merasa bersalah besar pada Rain dan Bu Ratna.


"Tapi Davi berani sumpah,Pi, Davi nggak ngelakuin itu."ucapnya meyakinkan.


Saat semua mengintimidasi Davian, tiba-tiba Rain berteriak, "Jangaaaan sentuh aku!!"sambil beranjak bangun dengan wajah penuh keringat.


"Sayang, ini aku!"ucap Davian sambil hendak meraih tangan gadis mungil itu.


Rain menatap sinis je arah Davian, terpancar rasa sakit dan kecewa dari matanya.


"Jangan pernah ganggu gue, sentuh gue, pergi dari sini!"teriaknya histeris sampai akhirnya Bu Ratna memeluk Rain yang terus memukul Davian.


"Sayang ini ibu, Nak! Tenang sayang!"ucapnya.


"Aku nggak mau ketemu sama dia lagi, Bu! Aku benci dia!"ucap Rain pada sang ibu. Mami Sherly dan Papi Rangga hanya bisa diam menyaksikan semua adegan di depannya. Mami Sherly bahkan menangis hingga terdengar isakan di sana.


"Maafin aku, sayang!"bujuk Davian sambil tetap duduk di hadapan gadisnnya yang berada dalam pelukan sang ibu.


"Pergiiiiii....!!"


"Rain"


"Dav, biarkan Rain tenang dulu, ayo kita pulang sayang!"ajak sang mami sambil menghampiri putranya yang terlihat begitu rapuh.


"Maafin Rain, jeng!"ucap Bu Ratna merasa serba salah.


"Nggak apa-apa, Jeng, kami ngerti keadaan Rain, semoga dia cepat membaik, acara pertunagan mereka tinggal lima hari lagi."ucap mami Sherly kemudian mereka pamit pulang.


Rain yang masih terisak di pelukan sang ibu, tiba-tiba tak sadarkan diri.


"Daviiii,,,!!"teriak Bu Ratna, hingga Davian kembali menghambur ke dalam.


"Kenapa, Bu?"


Namun tak menunggu jawaban dari wanita paruh baya tersebut, ia langsung menggendong Rain dan membawanya ke mobil.


"Kita harus ke rumah sakit, Bu!"ucapnya. Kemudian mereka pun melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Rain berada di pangkuan Davian.


"Rain, bangun sayang!"bisiknya dengan gusar.


Bersambung....


Happy Reading 😘😘😘


Tetap jaga kesehatan ya,, biar bisa tetep baca cerita akoh...


Jan lupa gunain jempolnya buat like, komen sama vote ya😘😘🤗