
Rain benar-benar membawa tugas kuliahnya setelah Davian memberikan kunci mobilnya. Davian selalu kalah jika gadisnya sudah merengek meminta sesuatu, tapi ia sangat menyukainya jika Rain sudah bersikap manja padanya.
Davian dengan telaten membantu tugas Rain ya walau kadang ada beberapa yang ia tak mengerti, tapi setidaknya ia sudah berusaha sebisanya.
Tepat jam 8 malam, akhirnya tugas-tugas Rain selesai, hanya tinggal beberapa saja. Gadis itu merentangkan kedua tangannya ke atas untuk meregangkan ototnya yang terasa kaku, "akhirnya, makasih ya, Bang!"
"Ck, makasih doang,"decaknya. Rain menatap jengah ke arah kekasihnya yang nampak menekuk wajahnya.
"Ih, pamrih amad si, Bang,"gerutunya sambil membereskan buku dan tasnya yang berserakan. Davian masih diam, ia hanya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Iya, iya, sekarang terserah abang deh mau ngapain, aku ikut, asal jangan yang macem-macem aja,"ucapnya pasrah kemudian menyimpan buku dan tasnya yang sudah rapi di sampingnya.
"Beneran nih? Nggak macem-macem lah cuma satu macem doang kok,"jawabnya sambil menurunkan kedua tangannya dan menangkup kedua pipi gadisnya yang langsung mengerjap kaget, "ngapain?"
"Katanya aku boleh ngapain aja, kan?"goda Davian sambil mencondongkan wajahnya ke arah Rain, yang membuat gadis itu memundurkan wajahnya.
"I-iya, tapi nggak gini juga kali, Bang?"omelnya sedikit tergagap sambil menurunkan kedua tangan besar Davian dari pipinya yang terasa panas. Davian terkekeh geli melihat rona merah di wajah gadisnya yang malah terlihat lebih menggemaskan.
"Oke, aku cuma minta satu kok,"sambil menunjuk pipinya dan mencondongkan ke arah Rain. Rain langsung mengomel saat tahu apa yang dimau Davian, ia ingat saat kejadian di pantai beberapa waktu lalu.
"Ogah, abang mah modus, mintanya di pipinya_"Rain tak melanjutkan ucapannya, ia malu untuk mengatakan hal yang menurutnya tabu. Davian malah tertawa hingga deretan gigi putihnya terlihat dan hal itu malah membuatnya terlihat lebih tampan, siyal.
"Iya, sekarang nggak lah cuma di sini doang beneran,"kekehnya sambil menaikturunkan alisnya, yang malah membuat Rain makin curiga. Namun, tiba-tiba terlintas ide di benak Rain, sehingga dengan mudahnya ia mengangguk mengiyakan, "oke."
Rain mendekat ke arah Davian yang sudah mencondongkan sebelah pipinya, namun tiba-tiba Rain membekap bibir Davian dengan tangan mungilnya, dan mencium pipi Davian sekilas, "udah".
"Dih curang, ngapain pake bekap bibir aku si?"gerutu Davian saat gadis itu melepas bekapannya. Rain hanya terkekeh geli, "biar nggak modus."
Setelah itu pesanan makan malam pun datang, kemudian Davian pun mengajak Rain untuk menikmati makan malam spesial mereka. Suasana malam di resto unik ini memang menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan.
######
Di tempat lain tampak seorang cewek dengan dress warna biru langit sedang duduk berhadapan dengan lelaki gagah dengan jas hitam melekat di tubuhnya dengan sangat pas.
"Serius, nggak ada yang marah aku ajakin kamu?"ucap pria tinggi itu yang tak lain adalah Bang Refal.
"Nggak, Bang, aku emang pernah pacaran dulu waktu SMA, tapi nggak lama, sekarang real jomblo."ucap gadis dengan dress biru itu yang ternyata Alfaikoh Janita sambil terkekeh. "Kenapa abang ngajak aku, kan pasti udah punya cewek dong, secara abang ganteng gini," lanjutnya mencairkan suasana yang terasa canggung.
Refal terkekeh saat melihat gadis di hadapannya yang selalu ceria dan berucap apa adanya, dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Refal. "Kalau aku punya cewek mungkin yang nemenin aku sekarang bukan kamu dong," ucapnya.
"Iya, juga si," jawab Ikoh kemudian melanjutkan makan malamnya,begitu juga Refal, cukup lama mereka terdiam dan fokus pada makanannya hingga akhirnya, Ikoh bersuara, "Bang, aku permisi ke toilet dulu ya!" sambil beranjak dan membawa tasnya, Refal hanya mengangguk dan sempat menawarkan untuk mengantar namun ditolak halus oleh gadis di hadapannya.
Saat Ikoh sudah sampai di toilet dan membereskan urusannya, ia menuju washtafel dengan cermin besar di depannya, ia memeriksa riasan wajahnya yang sedikit berantakan, kemudian ia mengeluarkan liptint dan bedaknya dari tas.
"Busyeet, mimpi apa gue bisa candle light dinner sama cowok kecengan gue?"gumamnya sambil membubuhkan bedak ke wajahnya. "Kalau Rain tahu bakal ngambek nggak ya tuh anak?" lanjutnya sambil melihat penampilannya di cermin yang sudah rapi.
Saat Ikoh hendak kembali ke mejanya, ia melihat Bang Refal sedang berbincang dengan seorang wanita dengan tubuh tinggi langsing dan pakaiannya sedikit terbuka. Ia ragu untuk kembali ke sana, akhirnya ia pun berbalik hendak meninggalkan tempat itu, "sue banget si, mana gue udah baper lagi."
Refal dengan tanpa ragu langsung menarik tangan Ikoh dan kembali ke mejanya, sementara wanita tadi masih tetap berdiri pada posisinya saat mereka kembali. Ikoh merasa nggak nyaman dengan situasi seperti ini, "njiir , kenapa gue ngerasa jadi orang ketiga diantara mereka?" gumamnya.
Namun,tanpa Ikoh duga Bang Refal tiba-tiba merangkul pinggang Ikoh sehingga tubuhnya merapat ke tubuh tinggi Refal.
"Kenalin, ini Alfaikoh pacar aku!"ucapnya sambil membiarkan Ikoh untuk bersalaman dengan wanita cantik di depannya.
"Aku, Sintia mantan pacarnya Refal," ucapnya sambil menekankan kata mantan saat mereka saling berjabat tangan, ada tatapan tak suka dari wanita cantik di hadapannya.
Karena Refal sadar, kalau Ikoh merasa canggung, akhirnya ia pun berucap, "maaf, aku nggak bisa balik lagi ke kamu, aku yakin kamu bisa dapat cowok yang lebih baik dari aku," kemudian Refal pun pamit dan meninggalkan restoran itu tanpa melepas pelukannya pada Ikoh.
Ikoh yang masih shock dengan kejadian barusan hanya bisa mengikuti Bang Refal, ia nggak tahu akan pergi ke mana,yang ia tahu sekarang mereka sudah berada di dalam mobil Bang Refal.
"Koh, maaf tadi ya," ucap Bang Refal saat melihat Ikoh masih terdiam.
"Em,,, eh nggak apa-apa, Bang, aku seneng kok," jawabnya refleks dan hal itu membuat Refal terkekeh.
"Eh, maksud aku_" ikoh tak melanjutkan ucapannya ia merasa malu kenapa ia kelihatan banget bucinnya.
Bang Refal hanya tersenyum kemudian mengusak rambut gadis di sampingnya yang masih tampak merona.
"Kalau aku bilang yang tadi itu beneran, apa kamu mau jadi pacar aku?" tanya Refal tanpa basa-basi.
Ikoh bukan menjawab ia malah tersedak padahal tidak sedang makan ataupun minum, "apa Bang?"
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?"ulangnya.
"Emm,,, aku-aku_" tiba-tiba Ikoh tak sanggup melanjutkan ucapannya ia malah menangis dan membuat Refal panik.
"Eh, kok nangis kenapa? Aku kan nggak ngapa-ngapain?" ucap Refal sambil mengusap punggung gadis di sampingnya.
"Kata siapa? Abang udah bikin aku jantungan, buktinya ia berdetak berantakan, hiks!" ucap Ikoh sambil nangis.
"Hah!"
Bersambung....
Happy Reading ππ
Aku pen usahain up tiap hari moga cepet lolos ya...! π
Jan lupa like, komen, sama vote nya,,,
Coba aja kalo yang like sambil komen pasti rame ya,, soalnya yg like byk tp yg komen tetep aja segituπ
Monmaaf banyak maunya ya, tapi makasih pokonya buat kalian yang selalu ninggalin jejak.. Sun online buat kalianππππ