"DR"

"DR"
Sarapan



Davian yang masih terlelap, mengerjapkan matanya perlahan setelah mendengar teriakan seorang gadis. Setelah itu, ia mengucek matanya yang terasa perih, dan saat nyawanya sudah terkumpul, sebuah pukulan dan dorongan di dadanya tak bisa ia hindari.


"Ngapain di sini?!"bentak Rain sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sementara Davian sudah terjengkang ke lantai.


"Dengerin dulu, Yank, sumpah aku nggak ngapa-ngapain kamu!"ucap Davian menenangkan dengan suara yang masih serak,kedua tangannya ia rentangkan saat gadis di depannya terus melempar benda apa saja yang ada di dekatnya.


"KELUAR!!!"bentaknya sambil menunjuk ke arah pintu. Rain yang masih marah terus berteriak, sampai akhirnya Davian mengalah dan keluar dari kamar gadis itu.


Keadaannya masih berantakan saat keluar dari kamar Rain, rambut ala-ala dragon ball, terus pakaian yang berantakan juga.


Sementara Rain sedang memandang dirinya di depan cermin sebelum beranjak ke kamar mandi. Gaun pesta yang dikenakannya semalam masih terlihat utuh, bahkan rambutnya juga masih tetap dicepol walau sekarang sudah agak berantakan. Semua tubuhnya ia periksa, dari mulai wajah, leher, tangan ia perhatikan takut ada sesuatu di sana.


Setelah dirasa aman, ia pun beranjakke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa sangat lelah dan lengket.


"Sue bener baru juga sehari jadi tunangan tuh Om Rese, sarapan pagi gue udah bikin esmosi,"gerutu Rain sambil berendam di bathtub. Acara ritual mandi Rain sedikit lebih lama dari biasanya, ia masih betah meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku di dalam air hangat bathtub.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia pun berganti pakaian dengan yang lebih santai, kemudian ia keluar hendak menemui sang ibu yang ada di kamar sebelah. Saat ia akan mengetuk pintu kamar sang ibu, benda itu sudah terbuka dan menampakkan sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.


"Ibu,, ayo kita sarapan bareng!"ucap Rain sambil merangkul lengan sang ibu dengan manja.


"Kamu itu udah punya tunangan, tapi masih manja kayak gini,"ucap sang ibu sambil menjawil hidung mancung putri kesayangannya. "Udah sana ajak dulu tunangan kamu!"lanjutnya sambil mendorong bahu Rain untuk pergi ke kamar Davian.


"Nggak ah, Bu, biarin aja dia kan udah gede juga,"tolak Rain sambil kembali berbalik ke arah sang ibu. Padahal ia masih mengingat kejadian tadi pagi, kalau tunangannya itu tidur di kamarnya.


"Ih, kamu tuh timbang ngajak doang, sana cepet, ibu sama bu Sherly nunggu di bawah."sambil berlalu meninggalkan Rain. Sementara dengan kesal gadis itu menghentakan kakinya, namun tetap pergi juga ke kamar Davian.


Rain masih mematung saat sudah berada di depan pintu kamar Davian, ia masih ragu untuk mengetuk benda di depannya. Setelah lama, akhirnya ia pun mengetuknya, dan sahutan sebentar dari dalam membuatnya malah ingin lari, namun pintu itu lebih cepat terbuka sebelum ia pergi.


Tampak Davian masih menggunakan jubah mandinya, dengan handuk kecil di tangannya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Rain sedikit terpesona saat melihat pria dewasa di hadapannya yang terlihat lebih sexy. Namun sebuah tarikan di tangannya membuat ia tersadar.


"Eh, ngapain?"omel Rain kaget saat pria di hadapannya memerangkapnya dengan kedua tangannya, bahkan ia baru sadar kalau sekarang dirinya sudah berada di kamar Davian dan bersandar pada pintu kamar yang tertutup.


"Kangen ya?"goda pria dewasa di hadapannya yang menguarkan aroma mint dari bibirnya yang begitu dekat.


Rain yang akhirnya tersadar langsung mendorong tubuh Davian dengan sekuat tenaga, dan berucap, "nggak, cuma disuruh ibu harus ngajakin kamu sarapan!"


Davian terkekeh geli mendengar ucapan gadisnya yang terlihat merona pipinya.


"Udah ah aku duluan!"ucap Rain sambil berbalik hendak membuka pintu, namun Davian menahannya dan memeluknya dari belakang, hal itu membuat jantung Rain berdetak berantakan, apalagi aroma mint yang dikeluarkan pria dewasa itu membuatnya seolah melayang.


"Tungguin dulu, aku ganti baju dulu, kita pergi sarapan bareng!"bisiknya kemudian mengecup pelipis Rain lembut. Setelah itu ia melepaskan pelukannya dan pergi berganti pakaian di kamar mandi. Sementara Rain yang menahan nafasnya cukup lama, akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah Davian pergi, ia juga memegang dadanya yang masih berdetak lebih kencang.


Rain masih berdiri di tempatnya sampai sebuah tepukan di bahu mengalihkan perhatiannya, Davian sudah berpakaian lengkap dan santai seperti dirinya, bahkan warna kausnya pun ia samakan dengan yang Rain pakai, untungnya bukan warna pink.


Saat mereka sampai, tampak kedua orang tua mereka sedang menyantap sarapannya di sudut ruangan. Saat Rain akan menghampiri mereka, Davian menarik gadis itu ke meja lain.


"Udah kita di sini aja!"sambil mendudukan gadisnya di kursi, kemudian


Pria dewasa itu menawarkan menu apa yang akan gadisnya makan untuk sarapan.


Setelah mereka menyelesaikan sarapannya, Rain masih duduk di tempatnya, begitu juga Davian. Ada sesuatu yang ingin diutarakan oleh Rain pada pria di hadapannya.


"Kenapa semalam bisa ada di kamar aku?"tanya Rain sinis.


"Aku beneran nggak macam-macam, sayang,"sambil menarik tangan mungil gadisnya kemudian mengecup punggung tangannya. Setelah itu ia bercerita bahwa ia sebenarnya ingin melihat keadaan Rain, namun saat ia akan mengetuk pintu kamar Rain, benda itu ternyata tak tertutup dengan rapat, hingga ia panik dan masuk ke dalam.


"Ternyata kamu udah tidur bahkan sepatu juga masih menempel di kaki kamu, saat aku sudah menyelimuti kamu, eh kamu malah narik aku sambil manggil ayah."jelas Davian menyelesaikan semua cerita tentang tadi malam.


Rain termenung sejenak mendengar semua penjelasan dari Davian, kemudian ia bertanya lagi, "terus kamu jadiin kesempatan buat bisa tidur seranjang sama aku?"


Davian berdecak,"kamu yang meluk aku erat, cantik, sampai aku pegel, yah lama-lama aku juga ngantuk akhirnya aku berbaring deh sebelah kamu."jawab Davian.


Rain dengan kesal memukul lengan Davian sambil berdecak kesal, apa iya aku memeluk dia, pikirnya.


"Aku nggak mau ya kalau ibu sampai tahu tentang ini,"lanjutnya sambil beranjak. Davian hanya terkekeh kemudia ikut beranjak untuk meninggalkan tempat itu.


Mereka berjalan beriringan menuju taman di depan hotel. Sambil terkadang berbincang hal ringan.


"Kita bakal pulang hari ini kan? Udah kangen rumah aku."tanya Rain saat mereka duduk di bangku taman.


"Yah, aku masih kangen kamu juga,"jawab Davian sambil menatap ke arah danau buatan di depannya.


"Dih!"


Davian hanya terkekeh, kemudian mengusak rambut panjang Rain dengan gemas.


"Makasih ya udah mau nerima aku, sayang!"bisiknya hingga membuat gadis itu terpundur.


Bersambung....


Happy Reading ya😍😍😍


Makasih selalu setia dengan novel ini