"DR"

"DR"
Salah Paham



Rain yang bersedekap di dalam mobil, dengan muka cemberut terus memperhatikan dua sejoli di depannya, sampai akhirnya ia kesal sendiri dan akhirnya keluar dari mobil dan berjalan berlawanan arah.


Davian yang baru selesai dari toilet, kemudian beranjak untuk membeli minuman dan makanan ringan untuk dirinya dan Rain. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, pria itu pun kembali ke mobilnya hendak mengajak gadisnya, namun saat ia masuk ternyata Rain sudah tak ada di sana.


Dengan panik ia mengambil ponselnya dan menghubungi gadisnya, cukup lama ia menunggu panggilannya diangkat, sampai suara gadisnya terdengar.


"Kamu di mana sayang?"tanya Davian lembut, namun hanya jawaban pulang yang ia dengar dan sambungan telepon pun terputus.


Dengan frustasi Davian mengacak rambutnya sendiri, kemudian berlari mencari gadisnya yang pasti saat ini sedang marah. Saat ia berlari kecil sambil bertanya pada siapa saja yang ia temui, terlihat di depannya sosok gadis yang ia cari sedang berjalan dengan menghentak-hentakan kakinya dengan kesal.


Davian kemudian berlari mengahampiri gadisnya sambil berucap, "mau kemana sih cantik?" sambil berjalan sejajar dengan gadis yang nampak menekuk mukanya kesal, "pulang" jawabnya singkat.


Davian berdecak kemudian menarik tangan gadis di sampingnya yang tak menoleh sedikitpun ke arahnya.


"Kamu masih marah sama aku? Maaf tadi aku ke toilet bentar."ucapnya sambil memegang bahu Rain agar gadis itu menghadap ke arahnya. Rain hanya diam dan tetap memalingkan mukanya ke arah lain.


"Ke toilet apaan, orang gue liat sama cewek tadi,"gumamnya yang ternyata didengar juga oleh Davian.


"Aduh, sayang masa kamu cemburu sama ibu pemilik warung sih?"kekeh Davian saat mendengar gumaman gadisnya.


"Jangan bohong deh, aku lihat sendiri kamu tuh jalan di pinggir pantai sama cewek cantik, tinggi,pake gandengan lagi, "gerutu Rain sambil kembali membalikan tubuhnya untuk pergi dari sana.


Davian mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan kekasihnya, kemudian ia terkekeh geli saat tahu kalau Rain gadis cuek itu ternyata bisa cemburu juga, dan cemburunya itu terlihat memggemaskan bagi Davian. Sampai ia lupa kalau gadisnya sudah tak ada di depannya lagi.


"Rain, sayang tunggu!"teriak Davian sambil lari mengejar gadis itu yang sudah menjauh. Setelah ia dekat dengan gadisnya, Davian langsung menarik tubuh gadis mungil itu dan menggendongnya ala brydal.


"Abaaang!!"pekik Rain saat tubuhnya terangkat tiba-tiba. Dengan refleks ia memukul bahu kekasihnya berkali-kali, sementara Davian hanya tertawa ringan.


"Turunin nggak!"omel Rain sambil terus memukul Davian dengan kesal. "Nggak!"jawab Davian acuh sambil terus menggendong gadisnya ke arah mobil mereka.


Bahkan Davian juga menanggapi beberapa orang yang berkomentar mesra pada mereka, dengan santai ia menjawab," iya nih lagi manja".


Rain menutup mukanya dengan kedua tangannya saat ada seorang ibu yang berkomentar, tapi Davian dengan sengaja malah menanggapinya. Sampai akhirnya mereka berada tepat di depan mobilnya, kemudian Davian membuka pintu belakang mobil dan mendudukan Rain di sana diikuti oleh dirinya.


Dengan kesal Rain kembali memukul dada bidang Davian yang ada di depannya.


"Ngapain pake digendong segala si, malu tahu!"omelnya tanpa berhenti memukul dada Davian. Dengan lembut pria dewasa itu menggenggam kedua tangan mungil gadisnya.


"Udah dong marahnya, nggak kelar-kelar dari tadi,"ucap Davian sambil menarik tangan mungil Rain kemudian mengecupnya lembut.


"Terus siapa cewek tadi?"sewot Rain karena pertanyaan itu yang terus berputar di kepalanya. Davian berdecak kesal saat gadisnya tak mempercayainya juga kalau dari tadi dia hanya ke toilet kemudian membeli makanan ringan.


"Denger ya Rain Almahera tunangan kesayangan Davian Bratasukma, aku dari tadi nggak ketemu sama cewek manapun kecuali sama ibu pemilik warung yang aku beli makanan ringan dan minumannya,"sambil menunjukan bungkusan makanan dan minumannya di depan.


"Ye,, nggak percaya, lagian aku kapok, yank, udah tobat, aku nggak mau kejadian lagi kaya beberapa bulan lalu."sambil bergidik membayangkan saat mukanya bonyok karena tamparan mantan-mantannya.


"Meningan berantem sama cowok sekalian daripada ditampar cewek,"lanjutnya yang membuat gadis itu sedikit menahan senyum dan akhirnya tertawa juga.


Davian memutar bola matanya jengah saat mendengar tawa dari gadisnya, kemudian menarik pinggang gadis itu agar mendekat ke tubuhnya, "emangnya kamu lihat aku di mana sama cewek itu?"lanjutnya.


Rain menatap ke depan, di mana tadi dia melihat Davian bergandengan sama cewek tinggi itu, namun saat ia menunjuk ke arah yang dimaksud pria dan wanita yang bergandengan itu masih berdiri di sana.


"Eh, kok?"ucap Rain gugup saat melihat pasangan itu masih ada di sana. "Kenapa?"tanya Davian heran sambil melihat ke arah gadisnya menatap. Tampak pria dengan tubuh tinggi hampir sama dengan dirinya bergandengan mesra dengan perempuan dengan tubuh tinggi juga, namun yang jadi perhatian Davian pakaian yang dikenakan pria itu sama persis dengan yang ia gunakan.


Davian terkekeh dan tersenyum jahil pada gadis di sampingnya, "oh jadi itu yang bikin kamu marah," sambil mencondongkan wajahnya ke wajah gadisnya yang tampak menahan malu.


"Lagian ngapain pake baju sama kaya gitu,"gerutu Rain untuk mengalihkan rasa malunya karena salah faham.


"Siyal,, ketauan banget kan gue cemburunya,"gumamnya dalam hati.


Davian terkekeh kemudian dengan kedua tangannya menangkup kedua pipi gadisnya yang sudah memerah. Dia menatap lekat gadisnya, kemudian berucap dengan lembut, "aku nggak bakal khianatin kamu, yank!"


Rain mengerjap kaget saat Davian malah terus mencondongkan wajahnya ke arah Rain, "ngapain?"tanyanya gugup. Davian kemudian berbisik,"karena kamu udah nuduh aku, sebagai hukumannya sekarang kamu cium aku!"sambil menunjuk ke arah pipinya.


"Dih,,, ogah!"tolak Rain sambil memalingkan wajahnya yang maaih merona.


"Ya udah kalau nggak mau, biar aku aja yang lakuin,"sambil mencondongkan wajahnya ke arah Rain, dengan sigap gadis itu mendorong wajah pria dewasa di depannya.


"Iiih,,, nyosor mulu dari tadi!"sambil memundurkan duduknya ke belakang. Namun bukan Davian kalau berhenti begitu saja, dia terus mendekati Rain sampai Rain tak bisa bergerak kemana-mana lagi.


"Udah deh, jangan bikin aku takut, Bang!"gerutu Rain saat Davian terus menatapnya intens. Namun pria di sampingnya itu tak menghiraukan gerutuan gadisnya, ia malah menunjuk pipinya dengan mengedipkan matanya.


Rain menghela nafas kasar, kemudian berucap, "iya, iya,"sambil memdekatkan bibirnya ke pipi Davian. Jantungnya berdetak lebih kencang seolah ia berontak ingin keluar.


Saat Rain sedikit lagi menyentuh pipi prianya, tiba-tiba saja Davian membalikan wajahnya, dan menyambar bibir Rain sampai gadis itu mengerjap kaget dan kembali memukul dada prianya, namun saat ini Davian menangkap kedua tangan Rain dan menggenggamnya erat, hingga ciuman itu terus ia lanjutkan dengan sangat lembut.


Tok... Tok.. Tok...


Bersambung.....


Happy Reading,,,, 😘😘😘😘


Diusahakan up terus walau nggak tiap hari,,, karena lagi menikmati ngurusin baby boy duyu ya,,,,


Makasih buat kalian yang selalu baca novel receh akoh,,,, 😘😘😘