"DR"

"DR"
Putus



Pria yang meringkuk di sofa dengan bertelanjang dada itu mulai meregangkan ototnya yang terasa kaku, ia mengerjapkan matanya saat tahu bahwa ia tidur di sofa sejak subuh tadi. Kemudian ia melihat ke sekeliling ruangan yang nampak kosong, hanya ada dua kotak makanan di atas meja.


Davian yang bangun menjelang siang di kantornya, mendudukan dirinya di sofa dengan bersandar pada sandaran sofa, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Ia sadar kalau gadisnya sudah tak ada di ranjang. Padahal semalam ia menggendong tubuh mungil itu dan menidurkannya di ranjang. Ia terlelap begitu cantik.


"Pake acara kesiangan lagi!" gerutu Davian sambil mengusak rambutnya kasar, setelah itu ia beranjak ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah itu ia memakai pakaian yang sudah tersedia di lemarinya.


Davian bergegas keluar dari kamar tersebut dan duduk di kursi kebesarannya, kemudian ia mulai fokus pada laptop di depannya.


Jam makan siang pun tiba, ia bergegas menutup laptop nya kemudian beranjak saat seseorang mengetuk pintunya.


"Masuk!"


Ternyata Mba Lena, sekretaris Davian yang berada di balik pintu dengan paper bag di tangannya.


"Maaf, Pak, ini makan siangnya tadi Mba Dita yang mengantar katanya Rain sedang pergi jadi nggak bisa antar." jelasnya kemudian menyimpan paperbag itu di atas meja. Davian hanya mengangguk tanpa menjawab apapun.


Setelah sekretarisnya keluar, ia pun duduk di sofa dan mulai membuka kotak makanannya, ia berharap akan ada surat cinta lagi dari gadisnya, tapi ia harus kecewa karena harapannya tidak terjadi. Davian yang memang tidak sarapan akhirnya memakan makan siangnya dengan lahap.


Setelah itu ia kembali bekerja hingga sore menjelang, dan Davian masih betah duduk di kursi kebesarannya.


****


"Tega kamu, Bang!" gumam Rain sambil mengepalkan tangannya. Hatinya sakit saat melihat beberapa foto kekasihnya bersama perempuan yang kemarin memeluk Davian di kantornya bahkan ada anak kecil diantara mereka. Hal itu terlihat seperti foto keluarga kecil yang bahagia.


Bu Ratna tak menyadari apa yang terjadi dengan sang putri, ia masih sibuk dengan catatan pembukuan di tangannya. Hingga ia menoleh saat melihat Rain beranjak hendak pergi.


"Mau ke mana, Rain?" tanyanya saat melihat putrinya sedikit berbeda. Tanpa menoleh Rain menjawab, "Bu, Rain pulang duluan ada tugas kampus yang harus disetorkan besok."


"Oya,udah hati-hati ya sayang!" ucap Bu Ratna tanpa curiga, kemudian ia kembali memeriksa bukunya setelah putrinya berlalu.


Rain berada di depan kantor Davian, ia tak masuk ke tempat itu, lalu ia menelpon seseorang.


"Bang, aku tunggu di bawah." ucapnya datar kemudian menutup telponnya.


Davian yang menerima telpon dari kekasih langsung beranjak menuju lantai bawah, ia berjalan terburu-buru bahkan setengah berlari perasaannya mengatakan ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu.


Tampak gadis mungil itu membelakanginya, terlihat rambutnya diikat dengan rapi sehingga menampilkan leher jenjang putihnya. Davian langsung menghampiri gadisnya.


"Kok, nggak ke dalam si, Yank?" ucap Davian hingga membuat Rain berbalik.


Tanpa menjawab pertanyaan Davian gadis itu langsung memberikan amplop coklat yang diterimanya tadi. Namun sebelum ia bebalik pergi ia berucap, "makasih buat semuanya dan hubungan kita cukup sampai di sini," sambil memberikan cincin pertunangan mereka ke tangan Davian yang masih mematung di tempatnya. Rain pun beranjak pergi meninggalkan Davian tanpa menoleh kembali.


Davian yang tersadar langsung mengejar gadis mungilnya, yang nampak berlari.


"Yank, tunggu!" sambil berlari mengejarnya sampai akhirnya ia menangkap pergelangan gadis itu.


"Tunggu, Rain, aku nggak ngerti maksud kamu tuh apa?" ucap Davian sambil mengangkat kedua benda di tangannya. Rain hanya menatap sinis ke arah pria tinggi di depannya.


"Aku nggak mau tunangan dan nikah sama kamu, jelas!" ucap Rain dengan penuh penekanan, matanya menyiratkan rasa sakit dan kecewa.


"Tapi kenapa? Gara-gara kemarin aku dipeluk Diandra?" ucap Davian tanpa melepas pegangan di pergelangan tangan Rain.


"Heh, kamu juga menikmatinya kan, aku sadar siapa aku, aku nggak mau jadi orang ketiga diantara kalian, apalagi udah ada seorang anak yang membutuhkan kalian."jelas Rain kemudian menepiskan tangan Davian dengan kasar.


Davian bingung dengan ucapan gadisnya, tanpa pikir panjang lagi, Davian langsung menggendong Rain ke bahunya, bahkan gadis itu berteriak dan memukul punggung Davian keras.


"Turunin aku, Bang!!!" teriak Rain sambil terus memukulkan tangannya, namun Davian terus berjalan ke arah mobilnya tanpa mendengar ucapan kekasihnya. Setelah sampai di depan mobilnya, Rain langsung didudukan di samping kemudi dan masangkan sabuk pengamannya.


"Aku mau pulang!!" teriak Rain kesal, sambil berusaha membuka sabuk pengamannya dan hendak keluar. Namun Davian sudah berada di balik kemudi, ia langsung menutup pintu dan menguncinya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya ia sampai di rumah Davian. Rain mengerutkan keningnya saat Davian membawa ke rumahnya.


"Ayo, turun atau mau aku gendong lagi!" ucapnya sambil membuka pintu mobil untuk Rain.


"Nggak usah aku bisa jalan sendiri," jawab Rain sambil bergegas turun dan mengikuti Davian dari belakang, tapi dengan sigap Davian menarik pinggang ramping Rain agar merapat ke tubuhnya.


"Lepasin!!" ucap Rain kesal, namun tiba-tiba mami Sherly membuka pintu.


"Eh, tumben kamu ajak Rain, Dav?" ucap sang mami sambil merangkul Rain ke pelukannya. "Ayo masuk!" lanjutnya. Rain mau tak mau mengikuti calon mami mertuanya itu. Sementara Davian mengikuti mereka dari belakang dengan penuh kemenangan.


"Mi, Davi mandi dulu ya!" ucapnya sambil berlalu ke lantai atas menuju kamarnya.


Rain dan mami Sherly berbincang di ruang keluarga, mereka menanyakan kabar masing-masing.


"Kamu itu, sering - seringlah main ke sini kan bentar lagi kalian nikah." ucap sang mami. Sementara Rain hanya mengangguk ragu, karena ia rasa mungkin ini kali terakhir ia mengunjungi rumah mewah ini.


Tak berapa lama Davian turun dari lantai atas dengan kaos putih dan celana selutut, rambutnya masih tampak basah hingga membuatnya terlihat lebih tampan dan sexy. Ia pun ikut duduk diantara mereka.


"Oya, mi ada yang mau Davi omongin." ucapnya tenang, sambil menyematkan kembali cincin tunangan pada jari manis kekasihnya.


"Ada apa Dav, kayaknya serius banget?" jawab sang mami. Davian hanya mengangguk, sebelah tangannya menggenggam erat tangan mungil gadisnya yang berontak ingin dilepaskan.


"Davian mau melaksanakan pernikahan sama Rain minggu ini, Mi," ucapnya tegas, yang membuat Rain ternganga.


"Tapi_" ucapan Rain terpotong oleh antusias sang mami.


"Beneran, alhamdulillah mami seneng banget, minggu ini ya, mami mesti nyiapin semuanya." ucap sang mami dengan raut wajah bahagia.


"Ya udah, mami telpon papi dulu deh, kalian ngobrol aja dulu!" ucapnya sambip berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Maksud kamu tuh apa si Bang, aku bilang kita putus, kenapa kamu bilang kita mau nikah?" omel Rain dengan kesal.


"Biar kamu cepat jadi milik aku, Yank!" jawab Davian santai.


"Kamu tuh udah punya anak kan sama Diandra kamu itu?" sarkas Rain.


"Kamu percaya sama foto editan kayak gitu, mana mungkin aku punya anak dari dia, kan dia punya suami." jelas Davian.


"Sebenernya kamu percaya nggak sama aku, Rain?" lanjutnya.


"Entahlah, aku bingung yang pasti aku sakit tiap kamu deket sama cewek lain," jelas Rain sambil menghela nafas.


Davian terkekeh kemudian menjawil hidung mancung gadisnya.


"Abang!"


"Iya, sayang!"


Bersambung...


Im kambek 😘😘😁


Sebenernya mau semalam aku kirim, eh malah ketiduran monmaaf ya,,, moga bisa up hari ini...


Jan lupa tinggalin jejak ya😘😘😘