"DR"

"DR"
Pulang



"Braaak....!" suara pintu kamar Reza didobrak.


Reza berhasil mencium bibir mungil Rain dengan rakus, sementara Rain berusaha memalingkan wajahnya dan mencakar wajah Reza hingga berdarah.


"Bang***t!!" teriak Davian sambil menendang tubuh Reza yang memerangkap Rain di bawahnya. Reza pun tergulinga ke samping, dan hal itu tak disiakan oleh Rain untuk bangkit dan berlari ke luar kamar.


Di luar sudah ada Ikoh, sementara Dio menghampiri Davian yang memukuli Reza dengan membabi buta, hingga cowok itu terkapar di lantai, dengan wajah yang tak beraturan.


Rain memeluk Ikoh dengan erat, sambil mengeratkan pegangannya pada tubuhnya yang sudah terbuka sebagian.


"Gue benci cowok ba***ngan itu!!" teriaknya sambil terus menangis. Bersamaan dengan itu,Davian menutupi tubuh gadisnya dengan jaket yang ia pakai. Rain makin histeris sampai akhirnya tak sadarkan diri.


"Rain, Rain, bangun!!" panik Ikoh sambil menepuk pipi Rain. Davian pun bergegas menggendong gadisnya dan mereka pergi meninggalkan Reza yang terkapar di lantai kamarnya.


Davian masuk ke mobil dan memeluk Rain di pangkuannya, Dio dan Ikoh duduk di depan.


"Kita ke mana dulu, Dav? Ngga mungkin kita pergi nganter Rain dalam keadaan seperti itu." tanya Dio sambil melajukan mobilnya sedikit kencang.


Sementara Ikoh hanya diam sambil menangis, ia nyesel nggak ngasih tahu kalo siang tadi ia lihat di IG nya Rena, tentang acara pernikahan mereka.


"Kita ke toko pakaian dulu, Koh kamu tahu kan ukuran baju buat Rain?" tanya Davian pada gadis di depannya, dan Ikoh hanya mengangguk.


"Kita ke apartemenku aja, arahnya juga kan searah dengan rumah Bu Ratna." lanjutnya, kemudian ia kembali memperhatikan gadisnya yang berantakan di depannya, wajahnya nampak sembab, hidungnya merah, akibat menangis, jejak-jejak air matanya masih terlihat jelas.


"Maafin aku sayang, aku datang terlambat!" bisik Davian sambil mengecup kening Rain. Tak berapa lama mereka sudah sampai di toko pakaian, Ikoh dan Dio oun turun untuk membeli pakaian Rain. Ikoh mengusap matanya yang masih mengeluarkan air mata.


Sementara di mobil Rain masih belum sadarkan diri. Davian sedikit panik saat melihat gadisnya masih terlelap di pelukannya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Ikoh dan Dio kembali, dengan membawa paperbag di tangannya. Bersamaan dengan itu ada pergerakan dari dari mata Rain.


"Jangaaaan...!!" lirihnya sambil memukul dada bidang Davian.


"Rain, Rain, ini aku Davian!" ucap Davian sambil memegang tangan gadis mungil itu yang memukul dadanya.


Rain mengerjap dan langsung memeluk Davian erat, "Om, aku takut!" lirihnya sambil terisak. Davian mengeratkan pelukannya di tubuh mungil gadisnya.


"Rain lo udah sadar?" tanya Ikoh sambil menghampirinya. Rain pun menoleh ke arah suara sahabatnya kemudian bangkit, ia baru sadar kalau sekarang berada di pangkuan Davian.


"Aku mau turun, Om!" ucapnya pelan sambil melepas pelukannya. Davian pun mengangguk dan menurunkan gadis berambut panjang itu, dari pangkuannya.


Rain duduk diantara Ikoh dan Davian, mereka masih diam di sana, Dio juga hanya duduk di kursi kemudi belum melajukan mobilnya.


"Lo baik-baik aja kan, Rain? Gue khawatir sama lo!" ucap Ikoh sambil memegang bahu sahabatnya. Rain menggeleng sedikit, namun ia juga akhirnya berucap, "Gue benci dia udah nyium gue di sini dan di sini, hiks..!" sambip menunjuk bibirnya yang sedikit bengkak juga lehernya yang meninggalkan jejak merah di sana.


"Gue jijik, Koh!" pekiknya sambil mengusap kedua tempat yang ia tunjuk tadi. Ikoh memeluk sahabatnya erat, sambil mengusap punggungnya. Sementara Davian mengepalkan tangannya erat, saat mendengar penuturan gadisnya.


Setelah Rain mulai tenang, Ikoh kembali ke depan, dan mobil pun melaju menuju apartemen Davian. Rain duduk di samping Davian, tubuhnya ia sandarkan pada kursi, tangannya mengeratkan jaket yang ia pakai. Air matanya terus mengalir, saat ia mengingat kejadian di apartemen Reza.


Davian tak melepas perhatiannya pada gadis di sampingnya, kemudian ia memberanikan diri untuk mengusap rambut gadis di sebelahnya. Rain sempat mengernyit, namun akhirnya diam. Keheningan membentang diantara mereka, hanya deru mobil yang mendominasi.


Sampai akhirnya mobil berhenti, Dio dan Ikoh keluar lebih dulu, kemudian membuka pintu untuk Davian dan Rain.


"Kamu mau aku gendong?" ucap Davian lembut, ada rasa khawatir yang tersembunyi, namun Rain dapat merasakan itu.


"Nggak usah, Om!" sambil menggelengkan kepalanya, kemudian ia pun keluar. Davian pun mengikutinya dari belakang, setelah itu mereka menuju lift untuk sampai ke apartemen Davian yang berada di lantai 7.


Setelah mereka sampai, Davian langsung menekan beberapa tombol di pintu apartemennya. Mereka pun masuk, terlihat ruangan luas di depannya dan tertata rapi.


Davian membantingkan tubuhnya ke sofa besar yang ada di sana. Sementara Ikoh dan Rain diantar Dio ke kamar tamu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


Rain dan Ikoh sudah berada di kamar tamu, sementara Dio menghampiri Davian yang sedang bersandar dan memegang pelipisnya.


"Lo, baik-baik aja kan, Dav?" tanya Dio sambil duduk di samping Davian. Davian hanya menghela nafasnya berat.


"Gue nyesel, kenapa gue ngebiarin Rain pergi sama ba***ngan itu, coba gue larang pasti nggak bakal kaya gini kejadiannya." ucap Davian sambil memukul sofa dengan keras.


"Udah, Dav, kita nggak tahu bakalan kaya gini. Gue nggak nyangka cowok sesopan itu aslinya ba****an!" geram Dio sambil mengepalkan tangannya.


Sementara Rain dan Ikoh masih membersihkan diri mereka di kamar tamu. Rain sudah selesai dengan pakaian barunya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di sana, nampak wajahnya sedikit pucat, matanya sembab, hidungnya merah, dan terlihat bibirnya sedikit bengkak. Dia juga memperhatikan lehernya yang memerah.


Gadis itu menggosok-gosok lehernya dengan handuk, berharap jejak itu hilang. Namun bukannya hilang ia malah membuat luka baru dengan menggosokan handuk ke lehernya dengan cukup keras.


"Rain udah, lo jangan nyakitin diri lo sendiri!" cegah Ikoh sambil mengambil handuk dari tangan sahabatnya. Rain langsung terduduk, "gue jijik, gue benci, gue nyesel udah cinta sama dia!" lirihnya. Ikoh langsung memeluk sahabatnya, hingga suara ketukan di pintu mengalihkan mereka. Ikoh pun beranjak dan membuka pintu kamar, di sana sudah berdiri Davian dan Dio dengan membawa nampan berisi makanan.


"Kalian belum makan malam kan, ayo cepet makan dulu!" ujar Davian sambil masuk dan menyimpan nampan itu di nakas. Terlihat Rain yang terduduk di lantai.


"Kamu makan dulu ya!" ucap Davian lembut sambil mengambil piring, berisi makanan. Namun gadis di hadapannya menggeleng pelan dan berucap, "aku mau pulang, tapi aku takut ibu marah!" bisiknya.


Davian menyimpan kembali piring ke tempatnya, kemudian memeluk bahu Rain dan mengangkat dagu gadis di hadapannya agar melihat ke arahnya.


"Tenang ada aku, kamu nggak perlu takut, sebenernya aku juga tahu dari ibu, dia khawatir karena melihat tingkah Reza yang tak biasa." jelasnya.


"Maafin aku, Om, aku udah marah-marah nggak jelas, yang ternyata semuayang om ucapin itu bener, kalo cowok itu brengsek!" ucap Rain tanpa mau menyebut nama mantannya itu. Davian menggelengkan kepalanya kemudian merengkuh tubuh mungil gadis di hadapannya.


Di rumah Bu Ratna


Terlihat wanita paruh baya itu mondar-mandir di ruang tamu, hatinya gelisah, dan tak nyaman, ia selalu ingat alan putri semata wayangnya. Sementara Refal berusaha menelpon nomor Rain, namun tak aktif, sampai akhirnya ia menelpon Davian.


"Alhamdulillah!" ucap Refal saat menutup telponnya.


"Apanya, Fal?" tanya Bu Ratna.


"Rain udah ada bersama Davian, Bu, jangan khawatir, namun sepertinya mereka akan menginap di apartemen Davian bersama Ikoh dan Dio." jelasnya.


"Kenapa mesti nginep, mereka kan bukan muhrim?" tanya Bu Ratna sambil mengerutkan keningnya. Refal pun menjelaskan semua yang terjadi pada Rain, saat ini kondisi Rain tidak terlalu baik, apalagi sekarang sudah jam 10 malam lebih.


Bu Ratna pun akhirnya mengalah, ia menangis memdengar semua penjelasan Refal. Dia memaki Reza dalam hatinya, untungnya anak semata wayangnya keburu tertolong.


"Sudah, sekarang ibu istirahat!" ucap Refal sambil mengajak Bu Ratna ke kamarnya. Kemudian setelah Bu Ratna masuk, ia kembali ke depan, dan duduk di sofa. Ia merasa telah gagal menjaga adik sepupunya,sampai akhirnya ia terlelap di sofa hingga pagi menjelang.


*****


Rain dan Ikoh sudah siap-siap untuk pulang, walau ia masih merasa takut untuk pulang, tapi ia nggak mungkin untuk terus bersembunyi. Semalaman ia tak bisa tidur, ia takut mimpi buruk menghampirinya.


Sekitar jam 8 pagi, setelah sarapan akhirnya Rain diantar pulang ke rumahnya. Davian dengan setia menjaga Rain.


Sekitar satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai, Rain disambut dengan pelukan oleh sang ibu.


"Maafin ibu, Nak, tak seharusnya ibu membiarkan kamu pergi dengan laki-laki brengsek seperti dia!" sambil memeluk erat tubuh putrinya dan menciuminya.


Rain kembali menangis saat sang ibu meminta maaf padanya, padahal ia yang tak peka terhadap keadaan lelaki itu.


"Maafin Rain, Bu!" lirihnya sambil terus mengeratkan pelukannya pada sang ibu. Davian dan yang lain merasa terharu melihat adegan di depannya, Ikoh bahkan ikut menangis.


"Sudah ayo kita masuk!" sambil melambaikan tangannya ke arah Davian, Dio dan Ikoh.


Mereka masuk mengikuti Ibu dan anak itu dari belakang.


Suasana masih terasa haru, Bu Ratna tak melepaskan pelukan di tubuh putrinya. Rasanya sakit melihat putri kesayangannya hendak dilecehkan oleh orang yang ia percayai dulu,bisa menjaga anaknya.


Davian dan Dio nampak berbisik, entah apa yang mereka bicarakan, namun hal itu membuat Ikoh penasaran.


"Lagi bisik-bisik apaan si, Om?" tanyanya yang membuat semua orang mengalihkan perhatian mereka pada kedua cowok doewasa itu.


"Ah, nggak cuma masalah kerjaan." jawab Dio santai.


"Oya, makasih ya kalian udah jagain Rain, ibu beneran khawatir semalem, nggak nyangka orang sopan ternyata dalemnya devil." ucap Bu Ratna yang diakhiri dengan garutuan.


"Udah, Bu nggak usah diungkit lagi!" ucap Rain sambil sedikit terkekeh.


"Ya udah, Bu kalau gitu kami pamit dulu, mau ke kantor!" ucap Davian kemudian beranjak dari duduknya.


"Lah, ibu kira kalian libur, makasih ya udah nganterin Rain." ucapnya sekali lagi.


Davian pun mengangguk, kemudian pamit juga pada Rain, namun saat ia akan pergi tiba-tiba Rain memanggilnya.


"Om, tunggu!"


Bersambung....


Happy Reading 😘😘


Makasih udah setia baca novel aku ya...


Jan lupa like, komen, sama vote ya😁 sama favoritin juga


Oya atu lagi mampir ke My possessive love ya yang belum baca, itu karya perdana aku


Tetap jaga kesehatan and di rumah aja,,, karena masa rebahan ternyata diperpanjang