"DR"

"DR"
Hadiah



Hari ini tepat satu bulan mereka menjadi tunangan, Rain kembali sibuk dengan kuliahnya dan Davian juga sibuk dengan urusan kerjanya.


Pertemuan mereka sangat jarang, karena kesibukan mereka masing-masing,namun komunikasi mereka tetap lancar, walau kadang sambil teleponan juga bisa berantem.


Hari ini mereka janjian untuk makan siang, Davian yang menentukan tempatnya.


Rain saat ini sedang di kampusnya, ia tampak fokus pada apa yang sedang dipelajari hari ini, sampai suara ketukan pada kelasnya membuyarkan fokus mereka.


Terlihat sang dosen menemui seseorang yang mengetuk pintu tadi, dan sedikit bercakap kemudian menganggukan kepalanya. Setelah itu tamu itu pergi, dosen kembali masuk ke kelas, kemudian berucap, "Rain Almahera, hari ini kamu boleh izin, silahkan sudah ada yang menunggu di depan!"


Rain tampak bingung mendengar ucapan dosennya, kemudian melirik ke arah Ikoh yang sedang melihatnya juga, "gue kan?" gumamnya tanpa suara pada sahabatnya dan diangguki langsung oleh Ikoh.


"Tapi, Pak_"ucapannya terputus saat sang dosen bilang tidak apa-apa dan menyuruh Rain segera menemui orang yang menunggunya. Akhirnya gadis itu pun membereskan tasnya dan beranjak kemudian pamit pada dosen dan temannya.


"Siapa sih? tumben pak dosen ngasih izin, dulu aja pas ibu ada perlu susah banget,mesti nunggu kelas dia kelar,"gumam Rain sambil terus berjalan ke arah luar kampus. Kemudian ia mengambil ponselnya dari saku celananya, mungkin saja sang ibu mengirim pesan akan menjemputnya.


Duuuuk......


Rain menabrak sesuatu yang keras, hingga ia meringis sambil memegang dahinya.


"Aduuh,, maaf saya nggak lihat"ucap Rain saat melihat tubuh tinggi seseorang yang ia tabrak, namun saat pria itu berbalik, Rain hampir berteriak.


"Bang Davi, ngapain di sini?"pekiknya tertahan sambil tetap mengusap dahinya yang terasa nyeri. Davian hanya terkekeh sambil mendekatkan wajahnya untuk melihat dahi gadisnya.


"Masih sakit?"sambil mengusap lembut dahi gadis di depannya. Namun dengan cepat Rain menggelengkan kepalanya dan terpundur satu langkah.


"Udah, nggak apa-apa kok,"ucap Rain sambil menurunkan tangan besar pria di hadapannya. Davian pun mengangguk, kemudian menarik tangan mungil gadis itu untuk mengikutinya. Rain masih belum mengerti mau diajak ke mana, seingatnya tadi pagi Davian akan menjemputnya saat makan siang, tapi kenapa masih pagi sudah menjemputnya, pikirnya.


Setelah mereka sampai di parkiran, Davian membukakan pintu mobil untuk gadisnya, setelah itu ia berputar untuk masuk ke kursi kemudi. Rain yang baru saja selesai memasang seatbeltnya, langsung melontarkan pertanyaan pada pria di sampingnya.


"Kenapa jemput jam segini sih, katanya ntar pas makan siang?"cerocos Rain yang hanya ditanggapi senyuman oleh pria di sampingnya,kemudian ia melajukan mobilnya keluar dari kampus dengan kecepatan sedang.


Rain berdecak kesal saat tak ada jawaban dari pria di sampingnya. Kemudian ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi mamitoon untuk membaca novel kesukaannya.


Saking asyiknya membaca di aplikasi baca tersebut, tanpa gadis itu sadari mobil mereka sudah berhenti di suatu tempat, kemudian Davian berbisik lembut tepat di telinga gadisnya, "udah nyampe sayang!"


Rain mengerjap kaget saat mendengar bisikan di telinganya, bahkan hembusan nafas dari pria beraroma mint itu membuat jantungnya berdetak berantakan.


"Di mana si ini?"sambil melihat ke sekeliling tempat yang baru bagi Rain. Davian malah menarik gadis mungil itu untuk keluar dari mobil.


Terdapat lahan kosong di sana, bahkan di depannya ada danau buatan yang sangat indah, semilir angin menerpa rambut panjang gadis mungil itu hingga membuatnya berayun dan menggelitik pipi Davian.


"Emmm,,, indah banget!"sambil merentangkan kedua tangannya Rain menikmati pemandangan di depannya, bahkan matanya tertutup rapat dan membiarkan angin menyapa wajah mulusnya.


Davian yang berdiri tepat di belakang gadis cantik itu, menelusupkan kedua tangannya di perut rata Rain dan memeluknya dari belakang,"apa kamu suka?"tanyanya.


Rain yang sempat kaget, dengan pelukan tiba-tiba di belakangnya. Gadis itu masih terdiam sampai pertanyaan yang sama terlontar kembali dari bibir pria yang sedang melabuhkan dagunya di bahu kanan Rain.


"Aku suka banget, tapi ini kok nggak ada bangunan apa gitu, misalnya restoran ataw apa lah padahal tempatnya bagus dan strategis,"jawab Rain panjang lebar.


"Ya udah kamu mau bikin apa di sini?"tanya Davian yang membuat gadis itu mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"tanya Rain heran sambil menoleh sedikit ke arah pria yang menatap lurus ke depan.


"Iya,, kamu mau bangun apa di sini?"


"Kalau ini punya aku ya ceritanya, aku mau bangun restoran dengan menu makanan sehat dan tentunya harganya juga terjangkau, secara di sini selain banyak perkantoran juga ada kampus dan sekolah kan? Jadi mereka semua bisa menikmati makanan sehat aku."jelasnya panjang lebar sambil menerawang jauh ke depan.


"Oke, kalau gitu kita akan bangun sesuai kemauan kamu!"balas Davian santai.


"Hah?? "


Bersambung....


Mf cuma dikit,,,,,