
Hubungan Rain dan Reza makin lama makin dekat, mereka sekarang lebih sering bertemu. Bahkan Reza sudah biasa untuk antar jemput kekasihnya.
Hari ini hubungan mereka sudah berjalan hampir 6 bulan. Rain juga sebentar lagi akan libur semester. Ini merupakan hari terakhir Rain ujian.
"Rain, gimana soal tadi gampang ngga si? gue mumet bener." ucap Ikoh sambil menunduk lesu, mereka berjalan menuju kantin.
"Yaah lumayan si, tapi gue bisa jawab semuanya." jawab Rain kemudian mereka duduk di sebuah meja di kantin, dan memesan bakso mercon kesukaan mereka. Ikoh makin menunduk lesu, ia menelungkupkan kepalanya di kedua tangannya di meja.
"Udahlah Koh, kali aja ada keajaiban, misal dosennya puyeng, lu dapet nilai 100!" kekeh Rain sambil mengguncang bahu sahabatnya.
"Yakali Rain," ucap Ikoh lemas, dan saat itu pesanan mereka datang. Ikoh langsung menegakan kepalanya saat mencium wangi makanan kesukaannya. Ia pun mulai duduk tegak dan mulai membumbui kuah baksonya, bahkan gadis berambut ikal itu menambah beberapa sendok cabe ke mangkoknya.
"Wooi,, itu sambel Koh, mo sakit perut lu ya, cabe ampe banyak gitu belum dalem baksonya!" omel Rain saat melihat kelakuan sahabatnya.
"Biar ilang mumet gue, Rain, elah!" jawabnya kemudian mulai menyuapkan satu sendok bakso ke mulutnya. Wajahnya langsung memerah, bahkan bibirnya juga merah banget.
Rain hanya mengangkat bahu, dan bilang terserah, kemudian mulai memakan baksonya.
"Oya, Rain lu ama Kak Reza makin deket ya sekarang, gue seneng akhirnya lo bisa balikan ama orang yang lo cinta!" ucap Ikoh tiba-tiba sambil mengipas mulutnya yang kepedesan, kemudian meminum jus jeruk di hadapannya.
Rain menghela nafas berat, kemudian wajahnya berubah muram.
"Kenapa si lo, ngga seneng jadian ma Kak Reza?" tanya Ikoh sambil mengerutkan dahinya heran.
"Bukan, tapi selama gue deket ma Kak Reza, gue juga direcokin mulu tuh sama om-om Rese, kesel gue!" jawab Rain sambil mengepalkan tangannya.
Ikoh yang sedang minum hampir menyemburkan minuman di mulutnya, saat mendengar alasan Rain,kemudian ia tertawa.
"Seriusan tuh si Om lo ngerecokin? Udah gue bilang dia suka sama lo!" ucap Ikoh sambil tertawa. "Coba cerita deh, penasaran gue!" lanjutnya.
Rain pun mulai menceritakan saat malam minggu kemarin, Kak Reza dateng ke rumahnya dan mengajak ia untuk pergi makan malam di restoran yang baru buka, katanya makanannya enak. Saat Rain udah rapi dan siap untuk pergi tiba-tiba tuh om Rese dateng, bilang katanya kalo dia juga mau ke restoran baru, alesannya mo ngajakin ibu, tapi ibu malah nyuruh Rain.
"Jadi lo pergi bertiga gitu?" ucap Ikoh sambil fokus pada Rain. Rain hanya mengangguk.
"Terus lo ngapain aja sama 2 cogan di samping lo, kenapa ngga ngajak gue coba?" lanjutnya pura-pura sewot.
"Dih, pan elu bilang lagi nemenin ibu lo masak katanya ada acara keluarga." timpal Rain sambil menoyor pipi sahabatnya.
"Oh iya, lupa gue." ikoh sambil terkekeh.
*******
Di Apartemen Davian
Terlihat cowok tinggi itu sedang menyesap minumannya sambil duduk di sofa tunggal, sementara Dio asyik dengan ponselnya dan duduk di sebrang Davian.
"Yo"
"Hmm"
"Lo tau ngga tuh bocah ada rencana apa minggu ini? Kalo ngga salah dia udah mulai libur semester, sekarang kan hari terakhir dia ujian." tanya Davian sambil bertumpang kaki.
"Kenapa ngga lo samperin aja si, kan biasanya juga gercep, oya sekarang kan dia ke kampus tuh sana lo jemput keburu keduluan cowonya tuh!" ucap Dio sambil tetap fokus pada ponselnya.
Tanpa menjawab Davian kemudian mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi.
"Kemana lo, Dav?" Dio heran saat melihat sahabatnya pergi begitu saja.
"Ck, masih nanya gue ngga mau keduluan tuh bocah, gue punya firasat buruk tuh sama cowonya Rain." jawabnya kemudian beranjak pergi meninggalkan apartemennya.
Davian melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sebelum sampai ke kampus Rain, ia sempat membelikan beberapa batang coklat kesukaan gadis itu, juga beberapa cemilan.
Rain dan Ikoh baru saja keluar dari gerbang kampus, mereka menunggu Kak Reza yang katanya akan menjemput. Namun saat ia melihat ke sebrang jalan, ada sebuah mobil yang sangat ia kenal.
"Koh, buruan kita jalan aja ke sebelah sana!" ajak Rain setengah berbisik kemudian menujuk jalan di depannya.
"Kenapa si?" tanya Ikoh heran. Rain menarik tangan sahabatnya dan buru-buru jalan ke depan dan bergabung dengan mahasiswa lain agar tidak kelihatan.
"Ada si Om Rese, gue ngga mau ketemu dia!" bisik Rain sambil menutupi wajahnya dengan buku. Mereka terus berjalan tanpa melihat ke depan sampai mereka menabrak sesuatu.
Duuuk...
"Hai Rain, hai Ikoh, udah pulang ya, hayu aku anterin!" Ucap Davian sambil bersedekap.
Rain menabrak dada bidang Davian sementara Ikoh, hampir menabrak tiang di depannya.
"Sue, ngapa dia bisa tau gue di sini si!" gerutu Rain dalam hatinya. Sementara Ikoh hanya mengelus dadanya, ia masih kaget saat akan menabrak tiang di depannya.
"Makasih deh, Om, aku nungguin Kak Reza aja deh, dia udah janji mau jemput aku!" ucap Rain penuh penekanan. Davian hanya terkekeh mendengar jawaban sewot dari gadis mungilnya.
"Mana kok, belum dateng? Ini kan udah waktunya pulang?" jawab Davian santai.
"Palingan masih di jalan, udahlah Om pulang aja ngapain ke sini si? Ngga ada kerjaan emangnya?" ucap Rain dengan kesal, sementara Ikoh menahan tawa di sampingnya.
"Ya udah aku temenin deh, kali aja cowo kamu ngga dateng kan bisa pulang sama aku!" ujar Davian santai kemudian ia duduk di kursi taman dekat kampus.
"Kak Reza kemana si? Katanya mau jemput udah ampir sejam ini nunggu! Dihubungi juga susah." gumam Rain sambil mencoba menelpon kembali kekasihnya.
Setelah suasana kampus mulai sepi, baru ada telpon dari Kak Reza dan ia bilang minta maaf ngga bisa jemput, karena harus jemput saudaranya dari luar negri.
Rain pun mengangguk lesu, kemudian ia mengajak Ikoh untuk pulang,tanpa menghiraukan Davian.
"Kenapa ngga jadi jemput?" tanya Ikoh saat melihat sahabatnya menjadi murung. Rain hanya mengangguk, saat ia akan menyetop taksi, Davian keburu meraih tangan mungil Rain dan menariknya menuju mobil. Ikoh hanya mengikuti sahabatnya dari belakang.
"Ngapain pake taksi, aku kan nungguin kamu dari tadi, ayo cepet masuk, Ikoh kamu juga!" ucap Davian dan memasuki mobilnya.
"Widiiih banyak banget nih makanannya, Om!" ucap Ikoh saat masuk ke kursi belakang mobil.
"Iya, sengaja buat kalian berdua, makan aja! Katanya coklat bisa menghilangkan badmood lo!" sindir Davian pada gadis di sebelahnya.
Davian pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hanya suara deru mesin mobil, dan suara kunyahan Ikoh yang terdengar di sana.
Rain masih kesal sama kekasihnya, yang udah bikin dia nunggu hampir satu setengah jam. Coba bilang dari awal mungkin ia ngga harus nunggu dan ketemu sama om Rese di sebelahnya.
"Rain nih, coklat kesukaan lo, makan deh biar mood lo balik!" ucap Ikoh sambil menyodorkan coklat dengan bungkus warna ungu itu ke sahabatnya.
Rain meraihnya dengan malas kemudian membuka bungkus coklat tersebut, dan mulai memakannya. Memang benar kata orang coklat bisa menghilangkan stres, badmood dan membuat suasana bahagia.
Rain tampak menikmati setiap gigitan coklat kesukaannya, tanpa ia sadari Davian memperhatikannya dengan menelan salivanya.
Rain yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh, dan melihat ke arah Davian yang sedang menatapnya. Saat itu mobil sedang berhenti karena lampu merah.
"Mau, Om?" tanya Rain sambil menunjukan coklat di tangannya. Davian mengangguk.
"Koh minta atu lagi, si Om mau katanya!" ucap Rain, sambil berbalik ke belakang, namun belum sempat ia menerima satu coklat utuh, Davian langsung menggigit coklat yang ada di tangan Rain.
"Eh,,, itu bekas aku, Om!" ucap Rain dengan sedikit marah.
"Ngga apa-apa, aku suka yang ada di kamu!" ucapnya sambil berbalik ke depan dan mulai melajukan mobilnya kembali. Rain menggeram kesal, kenapa si harus ketemu Om Rese hari ini.
"Ya udah nih, abisin lah, aku udah ngga selera!" ucapnya sambil menyodorkan coklat yang tinggal setengah itu.
"Kenapa kamu takut? Kata orang kalo makan atau minum bersamaan itu, sama seperti ciuman tidak langsung." jelas Davian tanpa menoleh ke arah Rain.
"Diih, apaan si ngga jelas!" gerutu Rain kemudian menyimpan coklat tadi di depan Davian. Davian hanya terkekeh melihat gadisnya, sementara Ikoh sudah terkikik geli melihat perdebatan di depannya.
Tak berapa lama, mereka sudah sampai di kedai, Bu Ratna sedang duduk di meja kasir, banyak orang mengantri untuk membayar makanannya.
Rain, Ikoh dan Davian duduk di meja dekat kasir, menunggu sang ibu yang masih sibuk. Davian sendiri masih anteng menikmati coklat yang diberikan Rain tadi di mobil.
Hingga sang ibu menghampiri mereka.
"Udah pada pulang kalian, kok sama Davian mana Reza?" tanya Bu Ratna yang membuat Davian langsung terbatuk. Dengan sigap Rain memberikan minum pada Om Rese itu.
"Pelan-pelan napa makannya, ngga bakal gue ambil lagi juga!" gerutu Rain pada Davian, namun gerutuan itu malah membuat Davian tersenyum bahagia.
"Iya, Bu, tadi Kak Reza bilang harus jemput sodaranya di bandara!" jelas Rain. Sang ibu hanya mengangguk dan mengusap pucuk kepala putrinya.
"Bu, boleh ngga Rain sama Ikoh pulang duluan, hari ini Rain cape banget!" ucap Rain pada sang ibu. Ia juga memberi kode pada Ikoh agar ikut bersamanya.
"Ya udah, sana kamu pulang gih, istirahat, mau dianterin sama Om lagi?" ucap Bu Ratna.
"Ngga usah, Bu, katanya Om Davi pengen ketemu sama ibu, ya udah aku duluan ya bu!" jawab Rain kemudian mengecup pipi sang ibu dan beranjak pergi. Sementara Davian hanya mematung melihat gadisnya pergi.
"Emang ada apa, Davi?" tanya Bu Ratna sambil duduk di depan Davian. Davian yang masih melihat ke arah Rain pergi tak menghiraukan pertanyaan Bu Ratna, hingga sebuah tepukan di lengannya menyadarkannya.
"Eh,, iya Bu, kenapa?" jawab Davian gelagapan. Bu Ratna terkekeh geli melihat pemuda di hadapannya. Ia tahu kalo pemuda ini menyukai anaknya, namun semua belum waktunya.
"Udah, ibu juga tahu, kamu cuma nganterin Rain kan?" jawab Bu Ratna sambil terkekeh. Davian hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Oya gini lo, Ibu mau minta tolong sama kamu buat jagain Rain, ibu kok ngerasa ada firasat buruk kalo Rain deket sama Reza - Reza itu." ucap Bu Ratna serius.
"Siap, Bu, aku juga berpikiran sama, entah kenapa, padahal kalo dilihat dia cukup baik dan sopan." jawab Davian tak kalah serius.
"Oke, tolong jagain putri ibu satu-satunya ya!" ulangnya.
"Siap Bu!"
Bersambung....
Happy Reading 😘😘😘
Jaga kesehatan ya and di rumah aja
Moga cepet up kalo ada typo tolong komen ya biar bisa direvisi