"DR"

"DR"
Berubah



"Apa-apaan?" gerutu Dio saat berpapasan dengan pria berkacamata yang baru keluar dari rumah Bu Ratna. Kemudian Dio dan Davian pun pergi menghampiri Rain dan Bu Ratna yang masih duduk di teras rumah.


"Bu, bagaimana keadaan Rain?" tanya Davian sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Alhamdulillah, Dav, Rain baik-baik aja, iya kan, Nak?" sambil menoleh ke arah putrinya yang duduk disebelahnya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum.


"Rain, siapa si cowok belagu tadi?" serobot Dio tiba-tiba.


"Nggak tau, nggak kenal aku juga, dia katanya mau order catring buat pesta ulang tahun." jawab Rain.


"Dia langganan ibu di kedai, Rain emang nggak pernah ketemu, toh tiap ia datang ke kedai Rain pas lagi sekolah ataw kuliah." timpal sang ibu.


Dio dan Davian hanya ber oh ria tanpa suara. Setelah itu Bu Ratna menyuruh mereka untuk masuk ke rumah. Rain berjalan mendahului mereka, kemudian menuju dapur untuk mengambil minum dan beberapa cemilan.


Davian dan Dio yang memang sangat lelah setelah seharian bekerja di kantor, membanting tubuhnya di sofa, jas mereka tinggalkan di mobil, jadi mereka hanya memakai kemeja, bahkan dasi nya pun sudah tak menggantung di leher mereka.


Tak berapa lama Rain kembali dengan nampan di tangannya. Gadis itu terlihat berbeda, dia lebih welcome dan selalu memgumbar senyum pada Davian dan Dio.


"Eh lo ngerasa ada yang beda nggak, si dari gadis lo?" bisik Dio saat Rain kembali untuk memyimpan nampan ke dapur.


"Iya sih, dia lebih ramah sama gue, biasanya jutek banget." bisik Davian sambil terkekeh.


"Baguslah jadi gue nggak susah-susah lagi buat deketin tuh bocah." lanjutnya dengan senyum sumringah.


"Inget lo udah punya tunangan!" bantah Dio sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Gue aja nggak tahu, ceweknya yang mana, katanya dia masih fokus kuliah." jawab Davian sambil meminum minumannya.


"Kenapa sih Om bisik-bisik gitu?" tanya Rain sambil duduk di hadapan mereka.


"Itu si Dio kangen katanya sama ceweknya." jawab Davian asal.


"Diih, apaan nggak Rain bukan gitu!" bantah Dio sambil mengayunkan telapak tangannya.


Perbincangan hangat pun berlangsung hingga magrib menjelang. Davian dan Dio pun hendak pamit, namun Bu Ratna melarang mereka, katanya mereka harus makan malam di sini.


******


Enam bulan setelah kejadian yang menimpa Rain, membuat gadis itu semakin dingin pada setiap cowok yang hendak mendekatinya, tapi tidak dengan Davian dan Dio, bahkan sekarang Davian dan Rain makin dekat.


"Iya, Bang bawel amat sih", jawab Rain kemudian menutup saluran telponnya.


"Siapa abang baru lo?" tanya Ikoh sambil membereskan buku mereka bekas presentasi barusan.


"Iya, biasa dia nyuruh gue buat beli makanan dan diantar ke kantornya." jawab Rain.


"Cie... Cie... Yang mau meet up lagi, dulu aja jutek banget lo, sampe bilang "Om Rese" sekarang panggilannya abang!" goda Ikoh.


"Berisik lo, gue cuma_" Rain tak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Vino datang dan menarik Rain.


"Apaan sih lo!" omel Rain sambil menepiskan tangannya.


"Gimana dong jawabannya, masa masih nolak sih?" ucap cowok putih bermata sipit itu.


"Gue udah punya cowok, masa lo nggak ngerti juga." jawab Rain datar, kemudian berlalu mengahampiri Ikoh lagi.


Vino mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, rahangnya mengeras.


"Lihat aja lo bakalan jadi milik gue, Rain! Selama ini belum pernah ada yang nolak gue." gumamnya kemudian berlalu.


Rain dan Ikoh hendak pulang dan mencari makanan yang dipesan Davian. Sekarang Rain ke kampus mengendarai motor matik dan membonceng Ikoh.


"Eh, lo jangan jutek-jutek amat napa sama si Vino, serem gue, dia kan terkenal bad boy!" ucap Ikoh saat mereka sampai ke toko langganan mereka untuk membeli beberapa makanan.


"Abis gue kesel, tiap hari dia maksa gue buat nerima dia." jawab Rain sambil memasukan beberapa makanan ke keranjang.


"Iya juga sih!" Ikoh pun ikut memasukan beberapa makanan ke keranjangnya.


Mereka pun asyik memilih makanan yang mereka suka. Sampai pada ujung lorong tiba-tiba Rain menabrak seseorang.


" Aduh maaf, saya nggak sengaja!" ucap Rain sambil membereskan barangnya yang berantakan.


Cowok tinggi itu ikut membungkuk dan membantu Rain membereskan barangnya. Saat Rain mendongak, wajahnya langsung pucat dan gadis itu pun berlari menuju kasir dan menarik Ikoh.


"Buruan gue takut, Koh!" ujar Rain sambil terus menarik Ikoh keluar.


"Rain tunggu!" teriak cowok tinggi yang tadi bertabrakan dengan Rain.


"Rain siapa sih, yang manggil kaya kenal gue suaranya!" ucap Ikoh saat naik motor sahabatnya.


"Buruan, kalau nggak gue tinggal nih!" omel Rain dan langsung melajukan motornya dengan kecepatan lumayan tinggi.


"Rain, lo mau bunuh gue!" gerutu Ikoh sambil mengeratkan pegangannya di pinggang Rain. Setelah melewati belokan menuju kantor Davian, baru Rain menurunkan kecepatannya.


"Lo itu kenapa sih?" gerutu Ikoh saat mereka sudah sampai di halaman kantor Brata.


"Lo tahu nggak siapa yang tadi manggil gue?" tanya Rain sambil menyimpan helmnya di motor kemudian menenteng barang belanjaannya.


"Siapa emang?" tanya Ikoh penasaran.


"Cowok brengsek!" ucapnya kemudian masuk ke dalam kantor Davian.


Ikoh yang heran dengan jawaban sahabatnya itu, kemudian berlari mengikuti Rain yang sudah masuk mendahuluinya.


"Rain tunggu maksud lo Kak Reza?" saat Ikoh sudah berjalan di samping Rain. Sahabatnya itu mengangguk dan memperingatkan Ikoh untuk tidak menyebut namanya.


"Pantes lo pucat banget tadi, lagian lo nyari apa sih, di lorong sebelah sana?" tanya Ikoh.


"Makanan kesukaan si abang, udah dapat tadi, tapi kayanya ketinggalan gue keburu lari!" jawab Rain.


Mereka pun masuk ke ruangan Davian setelah minta izin pada mba Lena sekretarisnya.


"Tumben cepet!" ucap Davian sambil menghampiri kedua gadis di hadapannya.


"Diih maunya apa sih, cepet dibilang tumben kalau telat ngomel!" sewot Rain. Davian dan Dio hanya tergelak mendengar jawaban gadis di hadapannya.


"Oya maaf, Bang, makanan yang abang pesen ketinggalan lupa!" lanjut Rain.


"Yaah padahal lagi pengen." jawab Davian dengan muka dibuat lemas.


"Tadi di toko nya ada kece_" ucapan Ikoh tak berlanjut karena Rain buru-buru menyikut sahabatnya agar tak bercerita apa pun.


"Kenapa?" tanya Dio saat memperhatikan tingkah keduanya.


"Nggak apa-apa tadi Ikoh tiba-tiba kebelet jadi kelupaan deh!" jawab Rain sambil memebereskan makanan di meja sambil menunduk tanpa menoleh ke arah Dio atau pun Davian.


Hal itu membuat Davian dan Dio makin curiga, sampai akhirnya Rain pamit ke toilet. Hal itu pun dijadikan kesempatan oleh dua cowok dewasa itu untuk bertanya pada Ikoh.


"Ada apa? Rain nampak pucat." ucap Davian.


"Tadi di toko Rain ketemu sama Kak Reza." bisik Ikoh, namun saat Ikoh akan melanjutkan ceritanya, Rain keburu keluar dan ikut duduk diantara mereka.


"Kenapa sih, pada liatin aku kaya gitu?" tanya Rain heran.


"Nggak apa-apa"


Bersambung


Happy Reading 🤗


Moga cepet up ya...


Tetap jaga kesehatan dan di rumah aja


Sun online buat kalian semua