
Refal terkekeh mendengar penjelasan gadis di sampingnya yang masih tetap terisak. Gadis itu tampak mengusak hidungnya yang jadi kemerahan, hal itu tidak lepas dari perhatian Refal yang malah membuatnya semakin menggemaskan.
"Udah, jangan nangis lagi, aku serius dengan ucapan aku," ucap Refal sambil memegang kedua bahu gadis mungil itu yang masih tertunduk.
"Emang abang beneran nggak punya pacar, aku nggak mau ntar ada labrak," cerocos Ikoh yang membuat Refal berdecak kesal. Tanpa aba-aba Refal langsung menyambar bibir mungil gadis di depannya bahkan ia sedikit memainkannya saat gadis itu hanya terdiam.
"Abaaaang,,,, first kiss aku?"pekiknya setelah ia mendorong pria di hadapannya yang malah terkekeh.
Ikoh memegang bibirnya dengan jarinya, jantungnya yang tadi sudah kembali normal sekarang malah jadi nggak normal lagi karena detaknya tak beraturan.
Refal sekarang menarik tangan Ikoh dengan lembut kemudian menggenggamnya erat, "jadi udah diterima nih, kita jadian?"
"Iyalah, abang curang," jawab Ikoh sambil memalingkan wajahnya yang ditatap intens oleh Refal. Pria itu mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban gadisnya yang unik.
"Curang gimana si? Kalau cinta mah cinta aja kenapa mesti curang?"ucap Refal sambil bercanda dan malah langsung mendapat tabokan dari gadis di depannya.
"Ya curanglah, ngapain nyuri first kiss aku, kalau aku tolak abang enak banget udah dapat first kiss, ilang." jelasnya dan ternyata pria di sampingnya ini malah tertawa lepas bukan terkekeh lagi.
"Kenapa?"
"Nggak, apa-apa."
Ikoh pun berbalik ke depan dan mengajak pria di sampingnya yang sekarang berstatus pacarnya untuk pulang. Refal pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana hening masih membentang diantara mereka, hingga mobil berhenti karena lampu merah.
"Ceritain tentang kamu, dong?" ucap Refal memecah keheningan, yang membuat Ikoh sedikit terlonjak.
"A-apa, Bang?"
"Mikirin siapa sih? Aku kan ada di sini," goda Refal yang membuat Ikoh berdecak.
"Apaan si, Bang nggak jelas?" omelnya.
Mobil kembali melaju dan sekarang suasananya lebih hangat karena Ikoh mulai bercerita sedikit tentang dirinya.
Ikoh bercerita tentang dirinya. Alfaikoh Janita berasal dari keluarga sederhana, ia sama seperti Rain terlahir sebagai anak tunggal. Ayah dan ibu Ikoh memiliki toko kue dan makanan ringan, mereka selalu bekerja sama dalam segala hal.
"Jadi kamu sama kaya Rain anak tunggal juga, sama juga kayak aku," sela Refal sambil tetap fokus mengemudi.
"Iya, makanya nanti kalau kita nikah, aku pengen punya banyak anak biar rame nggak kesepian, eh_" Ikoh menutup mulutnya sambil menatap ke arah Refal yang malah tersenyum manis.
"Aku bakal usaha buat itu semua," jawabnya santai yang membut Ikoh jadi salah tingkah.
"Eh,maaf Bang aku salah ngomong tadi," ucap Ikoh cepat, sambil menepuk bibirnya, "Kenapa mulutnya nggak bisa dijaga si," gumamnya.
Refal makin gemas dengan tingkah gadis di sampingnya yang selalu apa adanya, bahkan gumamamnya tanpa gadis itu sadari juga dapat ia dengar dengan jelas.
Refal mengulurkan satu tangannya, dan mengusap pucuk kepala Ikoh lembut.
"Aku serius ko, Alfaikoh!"ucap Refal lembut dan mobil pun berhenti.
"Eh, ko berhenti Bang?"tanya Ikoh heran.
"Hehehe,,, nggak Bang, rumah aku masih di sini kok," kekehnya sambil membuka sabuk pengamannya. Refal tertawa dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya, yang siyalnya jadi terlihat lebih tampan di mata Ikoh.
Saat Ikoh hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Refal menarik tangan gadis itu, kemudian bertanya, "tunggu, emang tadi kamu pikir kita berhenti di mana?"
"Yakali, abang mau ngajak aku kemana dulu gitu kan ceritanya baru jadian," ucapnya polos dan hal itu sekali lagi membuat Refal tertawa.
"Tawa mulu ih, abang!" gerutu gadis mungil itu.
"Abis kamu tuh lucu, ngegemesin, oke besok kita jalan deh, sekarang udah malam lebih baik kamu masuk, salam buat calon mertua," ucap Refal sambil menjawil hidung mancung Ikoh.
"Dih, calon mertua ngaku-ngaku," kekeh Ikoh sambil keluar dari mobil kekasihnya, sebelum masuk ia juga bilang hati-hati pada Refal kekasihnya.
####
Di tempat lain Rain juga baru saja sampai di halaman rumahnya, "nggak usah mampir, ya, Bang," ucapnya sambil membuka pintu mobilnya.
"Ya ampun ada ya pacar kayak gini, orang mah nawarin mampir dulu ini malah nggak boleh mampir," gerutu Davian.
"Aku nya cape, Bang, ngantuk," sanggah Rain.
"Ya udah, kamu istirahat langsung bobo gih!"jawab Davian sambil mengusak puxuk kepala Rain lembut.
"Oke, met malam abang, hati-hati di jalan ya!" sambil mencium pipi Davian sekilas dan ia pun buru-buru lari keluar, meninggalkan pria dewasa itu yang tampak mematung.
Saat sadar gadisnya sudah masuk ke rumahnya dan ia pun memutar balik mobilnya untuk pulang.
"Rain-Rain nggak nyangka ternyata cewek jutek kayak kamu yang bisa ngobatin luka hati aku selama ini," gumam Davian saat melajukan mobilnya menuju pulang, ada rasa bahagia tiap kali ia bersama dengan gadisnya.
Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada nomor tak dikenal memanggilnya. Davian mengerutkan keningnya, namun akhirnya ia pun mengangkat telponnya dengan menggunakan earphone.
"Malam, Dav, apa kabar?" ucap suara wanita di seberang sana. Davian hampir saja menerobos lampu merah kalau tidak segera menginjak remnya, ia kaget mendengar suara yang sudah lama ia hapus dalam ingatannya.
Tanpa menjawab, ia terus mendengar setiap kata yang diucapkan wanita di seberang sana, bahkan ia juga mengungkapkan kerinduannya yang lama terpendam. Namun Davian tetap membeku, ia bahkan mengeratkan pegangannya pada stir mobil, hingga buku-buku tangannya memutih.
"Nggak mungkin," lirihnya.
"Aku rindu kamu Dav!"
"Nggak!!" kemudian menutup sambungan telponnya.
Sambil memukul stirnya ia berucap, "kenapa kamu datang di saat aku idah bahagia, Di!?"
Bersambung....
Nah lo sapa lagi si yang nelpon babang Davi?
Happy Reading πππ
Jan lupa ninggalin jejak ya, monmaaf ternyata up tiap hari aku belum bisaπ₯