"DR"

"DR"
Persyaratan



"Oke,,, aku ada beberapa syarat!"ucap Rain.


"Apa?"tanya Davian antusias, ia merasa memiliki kesempatan kedua dari gadis yang disayanginya.


Gadis berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya yang agak parau.


"Pertama, kamu harus meminta maaf pada semua cewek yang pernah kamu mainin."ucapnya sambil membenarkan posisi duduknya yang agak melorot.


"Aku akan lakuin itu, sayang!"jawab Davi dengan wajah sumringah.


"Kedua, kamu emm,, nggak usah berharap aku jadi tunangan kamu apalgi istri kamu."pungkas gadis itu, yang membuat Davian mematung.


"Tapi, Rain_"


"Udahlah sekarang meningan kamu pulang, dan jangan pernah temuin aku lagi!"sarkas Rain sambil memalingkan wajahnya.


Untuk kali ini Davian nggak mau menyerah begitu saja, cukup sekali ia kehilangan orang yang disayangi dan sudah cukup pula ia menghancurkan dirinya sendiri. Davian beranjak dari duduknya kemudian menarik bahu Rain agar menghadap ke arahnya. Gadis itu berontak, bahkan mendorong dada Davian agar menjauh.


Namun pria itu hanya bergeming dan menatap ke arah gadisnya dengan intens.


"Lepasin gue!!!"bentak Rain sambil memukul dada bidang Davian.


"Aku nggak akan lepasin kamu, sebelum kamu mau nerima aku apa adanya, aku udah berusaha jujur dan membuka kembali luka lama yang telah aku tutup dengan susah payah."jelasnya panjang lebar sambil berbisik tepat di telinga Rain.


"Jangan paksa gue, gue nggak,, mmmmh!"tolak Rain yang malah langsung mendapat ciuman dari Davian. Gadis itu langsung mengerjap kaget, kemudian memukul dada Davian dengan keras agar melepas pagutannya, tapi bukannya lepas pria dewasa itu malah memeluk erat gadis mungil di hadapannya.


Rain terus memukul dada Davian, agar melepas pagutannya, sampai akhirnya gadis itu menggigit bibir Davian dengan keras, hingga terasa asin di bibirnya.


"Aaaaw...!"pekik Davian sambil menyentuh bibirnya yang sedikit berdarah. Hal itu dijadikan kesempatan Rain untuk mendorong tubuh pria di hadapannya, dan ia pun memundurkan tubuhnya ke tembok dekat jendela.


"Keluaaaaar!!!"teriak Rain sambil memunjuk ke arah pintu, wajahnya nampak merah padam menahan amarah yang terpendam di dadanya.


Davian yang masih memegang bibirnya, kemudian mengangguk dan berucap sebelum meninggalkan kamar rawat gadisnya, "ok, aku akan penuhi syarat kamu yang pertama, dan tidak untuk yang kedua, persiapannya tinggal 10% lagi untuk pertunangan kita."


Rain hanya menatap sinis ke arah Davian, setelah pria itu keluar dan menutup pintunya, gadis itu menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya, bahunya terlihat naik turun. Gadis itu menangis, etah bagaimana perasaannya, ada rasa sakit, sedih, bahagia juga saat pria dewasa itu mempertahankan cintanya.


"Gue benci perasaan ini!"lirihnya sambil memegang erat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Saat ia menengadah dan mengusap air mata di pipinya, pintu terbuka dan masuk sang ibu, Papi Rangga juga Davian.


"Davi akan memenuhi persyaratan kamu, Nak! Papi harap kamu sudah siap untuk pertunangan dua hari lagi."tiba-tiba Papi Rangga berucap sambil mengelus rambut panjang Rain dengan lembut.


"Kalau gitu papi pamit dulu ya!"lanjutnya, kemudian Rain mencium punggung tangan papi Rangga.


"Davi, nggak ikut pulang, Pi, mau nungguin Rain aja, kan besok juga pulangnya, kasian Bu Ratna."sela Davian saat sang papi hendak mengajaknya pulang.


"Ya udah, mobilnya papi pakai dulu, ya, ntar biar supir yang nganterin mobilnya ke sini!"jawab sang papi. Davian pun mengangguk mengiyakan. Sementara itu Bu Ratna mengantar Papi Rangga sampai ke depan, otomatis Rain dan Davian kembali berdua di sana.


"Kalau kamu butuh apa-apa bilang sama aku!"ucap Davian sambil duduk di sisi ranjang. Rain yang masih kesal tak menanggapi perkataan pria menjengkelkan di depannya.


"Kamu kalau lagi ngambek tambah cantik."godanya sambil menjawil hidung mancung gadis di depannya. Rain dengan galak menepis tangan Davian.


"Nggak lucu!"omel gadis itu,yang membuat Davian terkekeh geli. Setelah itu Bu Ratna masuk dan bilang ia hendak pulang dulu, katanya ada sesuatu hal yang perlu diurus di kedainya.


"Siap, Bu!" jawab Davi sambil mengangkat tangan tanda hormat pada Bu Ratna.


"Rain nggak mau sama dia, Bu!"ucap Rain buru-buru saat sang ibu hendak pergi. Tapi sang ibu kemudian menghampiri anak gadisnya dan mencium keningnya.


"Kalau urusannya udah beres ibu balik lagi ke sini, tapi kalau nggak, besok ibu juga pasti datang ke sini buat jemput kamu, sayang!"ucap sang ibu lembut.


Davian merasa kalau Tuhan sekarang berpihak padanya, untuk memperjuangkan cintanya, sehingga ia tak akan menyiakan kesempatan ini.


Hari menjelang malam, Rain makin gelisah saat Davian kembali lagi ke kamarnya, setelah ia tadi pamit untuk membeli makanan. Pria itu tampak membawa bungkusan makanan di tangannya.


"Kamu udah makan dan minum obatnya kan sayang?"ucap Davi sambil menghampiri gadisnya yang malah beringsut menjauh.


"Aku nggak bakal macem-macem sayang!"lanjut Davi yang melihat gadisnya gelisah.


"Udah sana jangan deket-deket, kalau mau makan, makan aja gih!"gerutu Rain sambil menunjuk ke arah sofa di sebrangnya. Davian menoleh ke arah sofa kemudian terkekeh.


"Oya, nih aku beliin cemilan kesukaan kamu juga!"sambil mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari kantong kreseknya. Kemudian ia pun beranjak ke sofa, dan mulai memakan makan malamnya. Sementara Rain masih mengawasi pria yang fokus pada makanannya, ia ingin membaringkan tubuhnya tapi takut.


Hingga Davian selesai dengan makan malamnya, Rain masih tetap waspada dan memperhatikan gerak-gerik Davian.


"Rain aku ini mau jagain kamu, bukan nakutin kamu, ayo cepetan tidur, mata kamu udah merah gitu!"ucap Davian sambil terkekeh.


"Terserah gue lah!"sewot Rain sambil menarik selimutnya,tapi tetap dalam posisi duduk bersandar pada kepala ranjang. Davian pun mengangkat bahunya, kemudian duduk di sofa dan memainkan ponselnya.


Rain pun yang memang sudah mengantuk tak bisa lagi menahan kantuknya, hingga ia terlelap dengan posisi terduduk. Davian yang memang tetap memperhatikan gadisnya dibalik ponselnya terkekeh pelan.


"Dasar keras kepala!"sambil beranjak dan menghampiri Rain untuk membaringkan tubuh mungil gadis itu. Untungnya gadis itu tak terbangun saat Davian sedikit mengangkat tubuhnya, kemudian menarik selimutnya hingga bahu gadis itu.


"Selamat istirahat sayang! Aku sayaaaang banget sama kamu!"bisiknya sambil mencium kening gadis itu lama.


"Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bahagiain kamu, Rain, aku nggak mau kehilangan kamu!"gumam Davian sambil duduk di samping ranjang Rain dengan tangan mengelus lembut puncak kepala gadis yang terlelap tanpa terganggu sedikitpun.


"I LOVE YOU HONEY!"


"NGGA!!!"


Bersambung....


Happy Reading 😘😘😘


Makasih masih setia sama novel aku ya,,, ampe ditunggu.


Aku terhura sama kalian yg selalu komen dan like juga vote novel ini...


Sun online buat kalian😘😘😘😘😘


Tetap jaga kesehatan dan dirumahaja


Oya atu lagi jan lupa doain aku biar lancar sehat ampe lahiran yaπŸ€—