
Pagi-pagi mami Sherly sudah sibuk, bahkan ia membangunkan kedua jagoannya dengan semangat.
"Piii, banguuun cepetan kita kan sekarang mau ke rumah Jeng Ratna!" sambil mengguncang bahu suaminya yang masih terlelap.
"Bentar, Mi, masih pagi juga," gumamnya sambil berbalik dan menarik selimut. Sang mami hanya berdecak kemudian ia beranjak ke kamar Davian di lantai atas.
"Daviiii, banguuuuun!!!" sambil mengetok pintu kamar putranya dengan keras. Sementara sang penghuni kamar asyik bergelung di dalam selimutnya yang tebal. Hingga suara pintu terbuka dan tarikan di selimutnya membuat pria yang hanya mengenakan boxer itu menggeliat.
"Banguuun, Davi!" sambil mengguncang bahu putranya yang malah kembali meringkukan tubuh tingginya.
"Iih kenapa pada susah dibangunin si?" omel sang mami sambil beranjak meninggalkan kamar putranya.
Saat ia kembali ke lantai bawah, nampak asisten rumah tangganya baru keluar dari kamarnya hendak pergi ke dapur.
"Kok, tumben kamu kesiangan?" tanya sang mami heran, namun mba Ratmi malah mengerutkan keningnya.
"Ini baru jam empat pagi, Nya," jawabnya dan membuat majikannya itu menepuk jidat.
"Astagfirullah, pantas mereka susah dibangunin masih subuh toh." kemudian berlalu ke kamarnya. Terlihat sang suami masih bergelung di dalam selimut tebalnya dengan nyaman.
****
Di Rumah Rain
Bu Ratna dan Rain yang sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan menyambut calon besannya nanti siang.
Bang Refal juga sudah menghubungi kekasihnya untuk datang membantu, nanti setelah subuh, ia akan menjemput Alfaikoh ke rumahnya.
"Rain, ibu senang kamu sudah mau menikah sekarang, walau kamu masih kuliah, ibu yakin Davi juga nggak bakal larang kamu untuk melanjutkan." ucapnya sambil menata sebagian makanan yang sudah jadi.
"Tapi Bu, Rain takut_" ia tak meneruskan perkataannya. Namun sang ibu memeluk tubuh mungil putrinya dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Sebenarnya, semua sudah ibu dan mami Sherly siapin sejak kalian sudah bertunangan waktu itu, jadi kalaupun besok atau lusa kalian nikah semuanya sudah beres." lanjut Bu Ratna menatap putrinya semata wayangnya yang tampak gusar.
Setelah itu Rain dan sang ibu kembali ke pekerjaannya masing-masing sampai suara berisik dari depan mengalihkan mereka.
"Iih, abang aku mau ketemu Rain"
"Iya, bentar doang lah"
Hingga Rain berjalan ke arah depan dan tampak sang abang dan Ikoh sedang tarik-menarik, entah apa yang mereka perebutkan.
"Kalian rebutan apa si?" tanya Rain heran dan secara tiba-tiba hingga membuat kedua orang di depannya kaget dan melepaskan genggaman tangan mereka.
"Rain!" ucap Bang Refal dan Ikoh berbarengan.
"Iya, ini gue kenapa udah lupa?" jawab Rain sambil menahan senyum.
"Nih, abang lo genit banget, Rain, masa_" ucapan Ikoh terpotong karena Bang Refal sudah membekap bibir kekasihnya dengan tangan besarnya.
"Nggak apa-apa Rain, udah sana kalian bantu ibu aja, biar abang beresin ruang depan." ucapnya sambil mendorong kedua wanita kesayangan di depannya.
Rain dan Ikoh pun berbalik dan menuju ke dapur.
"Rain gue nggak nyangka akhirnya lo nikah juga sekarang, ternyata si Om kesayangan lo itu udah kebelet nggak mau nunggu sampai lo wisuda." cerocos Ikoh sambil menggandeng tangan sahabatnya itu.
"Tahu tuh, padahal gue bilang mau putus sama dia eh dia malah mau nikah?" jawab Rain yang membuat Ikoh terkejut.
"Eh tunggu, kok minta putus emang kenapa?" tanya Ikoh penasaran dan Rain bilang nanti dia akan cerita semua setelah membantu sang ibu.
Rain dan Ikoh pun membantu sang ibu di dapur menyiapkan segalanya untuk menymbut keluarga Davian. Sekitar jam 8 pagi semua sudah beres, Rain dan Ikoh pun mulai membersihkan diri mereka gantian. Setelah itu mereka merias diri di kamar Rain, karena Rain memang tak biasa make up jadi hari ini Ikoh dengan senang hati merias wajah cantik Rain agar tak terlalu pucat.
"Ayo dong ceritain, kenapa bukannya lo kemarin abis nginep sama Bang Davi?" tanya Ikoh sambil mulai membubuhkan krim ke wajah Rain entah krim apa namanya Rain juga kurang tahu.
"Siyalan, bukan nginep gue dikunci dari luar, dijebak Ikoooh!" jawab Rain gemas.
"Ikoooh!!!" pekik Rain gemas.
"Iya, iya maaf, ya udah cepatan ngapa?" sela Ikoh nggak sabar.
Rain pun mulai menceritakan tentang amplop coklat yang ia terima setelah ia pulang makan siang dengan Ikoh dan Bang Refal. Ia sakit saat melihat beberapa foto yang ada di dalam amplop itu, makanya ia memutuskan untuk menemui Davian dan bilang kalau hubungan mereka berakhir, bahkan cincin pertunganan mereka pun ia lepas dan diberikan pada Davian beserta amplop coklatnya.
"Ya Allah, Rain gue juga kalau ada di posisi lo, pasti bakal ngelakuin hal yang sama," sela Ikoh. Rain hanya mengangguk kemudian melanjutkan ceritanya, kalau setelah itu ia digendong dan didudukan di mobilnya lalu diajak ke rumahnya.
"Gue kaget pas dia bilang mau nikahin gue minggu ini juga, apalagi mami Sherly terlihat bahagia banget jadi gue nggak sanggup ngerusak suasana hati mami Sherly." pungkas Rain.
"Terus gimana penjelasan Bang Davi mengenai foto itu?" tanya Ikoh masih penasaran.
"Dia bilang itu, cuma editan."
"Terus lo percaya?"
"Udahlah, Koh jangan bahas itu sakit hati gue tahu kalau ingat sama foto mereka." jawab Rain sambil membubuhkan lipstik ke bibir mungilnya.
"Ya udah gue diem dah, make up lo juga udah sempurna." jawab Ikoh.
Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu kamar Rain dan suara panggilan dari sang abang.
"Rain, Davi sama keluarganya udah datang, buruan ke depan!" ucap Bang Refal dari luar dan dijawab iya oleh Rain.
Rain dan Ikoh pun keluar dari kamar dan menuju ke ruang depan, nampak Davian dengan kemeja hitam dan celana jins hitam, penampilannya begitu menawan dan terlihat lebih tampan dari biasanya.
Bu Ratna, Bang Refal, mami Sherly dan papi Rangga sudah berbincang saat Rain dan Ikoh.
"Eh, mantu mami udah datang, sini duduk sama mami!" sambil menepuk sofa kosong di sampingnya. Rain pun dengan patuh menghampiri calon mertuanya itu dan menyalami mereka sebelumnya.
"Kenapa ke aku nggak si, Yank?" sela Davian saat Rain hanya melewatinya.
"Ntar aja bang, kalau udah sah!" jawab Rain lempeng, eh ternyata disanggah sama sang ibu.
"Nggak boleh gitu, Rain, cepetan salim dia kan calon suami kamu!" ucap Bu Ratna tegas. Rain pun dengan terpaksa kembali untuk mencium tangan Davian dan tanpa ia duga pria yang terlihat mempesona itu melakukan hal yang sama pada dirinya.
Setelah semua berkumpul, mereka pun membicarakan untuk persiapan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi.
Mereka juga menjelaskan bahwa sebagian sudah dipersiapkan tinggal fitting baju pengantin dan undangan saja yang belum.
"Oke, semuanya sudah deal, jadi besok kalian pergi ke butik Wijaya, mami sudah menyiapkan beberapa baju pengantin buat kalian berdua, terus masalah kartu undangan itu terserah kalian," jelasnya yang diangguki oleh sang ibu.
"Oya, satu lagi buat foto prewednya berarti besok lusa ya, pokoknya kalian harus jaga kesehatan soalnya mulai besok kalian akan sibuk, ok!" pungkas mami Sherly.
Setelah semuanya setuju, sekarang waktu makan siang pun tiba, mereka semua menikmati makan siangnya dengan berbincang ringan perihal pernikahan anak mereka yang hanya tinggal menghitung hari.
Davian yang sudah menyelesaikan makan siangnya mengajak kekasihnya ke halaman depan.
"Ada apa, Bang?" tanya Rain saat mereka duduk di kursi teras depan.
"Kangen!" ucapnya sambil menaikkanturunkan alisnya.
"Dih!"
Bersambung....
Aku balekππ
Happy Reading
Aduh bentar lagi bang Davi ijab kabul ni doain biar lancar ya...
Makasih buat selalu ninggalin jejak di cerita bang Davi sama Rain,, πππ