"DR"

"DR"
Kembali



Siang ini Rain hendak ke kantor Davian untuk mengantarkan makan siang sekalian mau berterima kasih karena sudah membantunya mengerjakan tugas yang bejibun.


Rain bahkan membuat makanan spesial hari ini khusus untuk tunangannya itu. Setelah ia beres memasukan makanan ke dalam kotak makannya, ia pun pamit pada sang ibu untuk pergi ke kantor Davian.


Ia berjalan sambil sedikit bersenandung, hingga notif di ponselnya mengalihkan perhatiannya.


Ikoh : Rain gue tunggu di kafe biasa gue mau cerita😍


Rain : ok


Setelah membalas chat sahabatnya ia kembali berjalan hingga akhirnya sampai di kantor Davian. Semua karyawan di sana menyapa Rain dengan ramah seperti biasa. Gadis mungil itu pun bergegas masuk lift menuju ruangan kekasihnya, suasana hatinya sedang bagus hari ini tampak dari raut wajahnya yang berseri dan bahagia.


"Siang, Mba Lena," sapa Rain saat ia sampai di depan ruangan kekasihnya, namun sekretaris Davian itu tampak terlihat gelisah saat melihat Rain datang.


"Siang, Rain mau nganterin makan siang ya," tanyanya yang sebenarnya sudah tak perlu ia tanyakan, ia terlihat mengulur waktu agar Rain tidak segera masuk. Rain sedikit mengerutkan keningnya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh mba Lena.


"Bang Davi ada kan, Mba Lena?" tanya Rain ragu.


"Eh, ada ko ada, masuk aja paati udah nungguin!" jawab Mba Lena cepat, kemudian ia pamit untuk makan siang juga ke kantin bawah.


Rain pun beranjak dari sana, kemudian ia membuka pintu ruangan Davian tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Saat ia masuk dan memanggil kekasihnya, yang nampak adalah seorang perempuan yang memeluk erat tubuh tegap kekasihnya dan pria itu pun nampak menikmatinya dengan mata terpejam.


"Eh,maaf ganggu Om!" ucap Rain sambil menyimpan tas berisi bekal di tempat biasa, kemudian dengan gegas ia keluar dari ruangan itu, moodnya langsung ancur, begitu juga dengan hatinya.


"Jangan nangis, Rain, lo kuat!"gumamnya sambil menekan tombol lift untuk kembali ke lantai bawah. Namun saat ia masuk ke dalam lift, sebelum pintunya tertutup Davian sudah berada di hadapannya dan ikut masuk.


"Sayang,aku bisa jelasin!" ucap Davian sambil menarik tangan mungil gadisnya.


"Apa sih, Om, udah sana lagi sibuk kan, gue cuma nganterin makan siang doang!" jawab Rain ketus sambil menepiskan tangannya dari genggaman Davian.


Davian tahu kalau gadisnya sudah memanggilnya "Om" artinya ia sangat marah. Dengan lembut ia kembali meraih tangan gadis mungil itu yang menekuk wajahnya dengan kesal, walaupun selalu ditepis oleh gadis itu.


"Dengerin, aku sayang! Semua ini nggak seperti apa yang kamu lihat." jelasnya sambil berusaha meraih kembali tangannya.


"Udah jelas kok, ngapain dijelasin lagi, udahlah Om, balik sana!" jawab Rain dengan kesal, dan lift pun berdenting terbuka, namun saat gadis itu hendak keluar, dengan sekali tarikan ia memeluk Rain dari belakang dan kembali menekan tombol lift ke lantai atas.


"Om!!!" pekik Rain sambil memukul lengan kekar yang melingkar di perutnya.


"Aku mohon, Yank, dengerin aku dulu!" mohon Davian sambil mengeratkan pelukannya pada gadis itu dan menaruh dagunya di ceruk leher gadisnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Rain yang sedang begitu marah padanya ia pun menjelaskan.


"Aku nggak ngelakuin apa yang kamu lihat, iya dia memang mantanku yang dulu bikin hidup aku hancur, dia Diandra." jelas Davian kemudian menghela nafasnya.


"Pantes" ketus Rain sambil mencoba melepaskan pelukan dari kekasihnya.


"Pantes kenapa?" tanya Davian.


"Panteslah melepas kangen sampai pelukan mesra kaya gitu," jawab Rain sarkas.


"Nggak, sayang bukan gitu, dia yang meluk aku, bukan aku," sanggah pria dewasa itu tanpa melepas pelukannya.


"Udahlah, Om lepasin dulu kenapa si aku engap banget ini!" omel gadis itu, dan saat pelukannya terlepas ia berbalik dan melanjutkan ucapannya, "monmaaf ya Om, gue bukan cewek yang ada di sinetron ikan terbang yang diem aja saat cowoknya main perempuan lain!"


Davian sempat mengerutkan keningnya saat mendengar penuturan gadisnya,


"sinetron ikan terbang?" gumamnya.


"Ah udahlah Om, gue mau pergi ada janji!" timpal Rain saat melihat Davian yang malah tampak berpikir entah memikirkan apa.


Lift berdenting dan pintunya pun terbuka, Rain menunggu agar Davian keluar dan masuk ke ruangannya. Namun pria itu masih saja diam, hingga wanita tadi memanggilnya dan ikut masuk ke dalam lift.


Rain yang memang sudah dibakar cemburu, makin menekuk wajahnya, apalagi saat wanita itu berdiri di samping Davian bahkan hendak menggandeng tangan Davian namun ditepis kasar oleh Davian.


"Eh, ini cewek yang tadi nganter makan siang kita, kan Dav?" tanyanya.


"Bukan kita tapi aku, dia calon istri aku!" tegas Davian dengan menekankan kata istri pada Diandra yang hanya terkekeh dan malah bilang, "nggak mungkin"


Rain ingin rasanya mencakar apa saja yang.ada di depannya, tangannya sudah mengepal erat, matanya sudah memerah kalau saja ia menunduk mungkin bulir bening yang sudah ia tahan sedari tadi sudah jatuh, dan ia nggak mau Davian dan mantannya itu melihatnya.


Berada diantara dua orang yang dulunya saling mencintai, Rain merasa kalau lift ini berjalan begitu lambat, Davian sudah meraih pinggang Rain dengan erat saat menjelaskan pada Diandra kalau dia calon istrinya. Rain dengan kesal mencakar dan mencubit lengan Davian untuk meluapkan emosinya.


Akhirnya mereka sampai lantai bawah dengan gegas Rain melangkah lebih dulu, namun Davian juga melakukan hal yang sama karena pelukannya ternyata belum ia lepaskan walaupun.lengannya sudah ada.bekas cakaran dari gadisnya tapi ia abaikan.


Diandra melihat interaksi keduanya, ada rasa sakit di hatinya saat ia melihat adegan di depannya, orang yang dulu sangat mencintainya sekarang akan menjadi milik orang lain. Diandra kembali untuk memperbaiki hubungannya bersama Davian setelah ia menggugat cerai suaminya.


Rain berada di mobil Davian, ia tak berucap sepatah kata pun pada pria di sampingnya yang mulai melajukan mobilnya. Hingga notif di ponselnya berbunyi.


Ikoh : masih di mana si say?


Rain : otw say


Davian melirik ke arah Rain yang tampak fokus pada benda persegi itu.


"Sayang kamu mau kemana biar aku anter ya!" tanya Davian lembut.


"pulang!" jawabnya singkat.


Davian pun menuju rumah gadisnya yang memang dekat,sehingga sebentar saja sudah sampai.


Saat Davian hendak membukakan pintu untuk Rain, gadis itu lebih dulu melesat keluar dan langsung masuk ke rumahnya tanpa berkata apa pun lagi pada Davian.


Davian duduk di kursi teras menunggu gadisnya, mungkin saja ia akan keluar lagi. Tak berapa lama Rain keluar dengan penampilan yang berbeda, ia hanya memakai kaos dan jelana jins, bahkan rambutnya pun ia cepol hingga leher jenjangnya terlihat begitu indah.


Sementara tadi saat gadis itu ke kantornya, ia berdandan dengan begitu cantik rambutnya ia gerai, pakaianya juga lebih formal dan terlihat lebih dewasa.


Memang Rain hari ini sudah dandan dengan cantik karena ia akan ikut makan siang bersama Davian rencananya, bahkan di kotak bekal Davian ia sudah menaruh memo dengan kata-kata romantis yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, namun semuanya hancur setelah kedatangan mantan tunangannya itu.


Sekarang Rain akan menemui Ikoh, maka ia mengganti penampilannya, bahkan make up nya pun ia hapus, gadis itu pergi dengan wajah polos dan hanya sedikit mengoleskan lipstik pada bibir mungilnya.


Tanpa menyapa Davian, Rain langsung menaiki motor matiknya, dan melesat pergi bahkan teriakan Davian pun ia abaikan.


"Siyalan,, gue udah dandan cakep, nulis kata romantis buat dia, eh malah pelukan sama cewek lain, mantannya pula!" gerutu Rain saat melajukan motornya menuju kafe tempat janjian bersama Ikoh.


Davian memukul stirnya kesal, ia mengikuti gadisnya pergi. Ia merasa marah pada dirinya, saat tahu kalau gadisnya berusaha tampil cantik di depannya, dan ternyata saat gadis itu pergi sendirian ia hanya berdandan apa adanya walau malah terlihat lebih cantik di mata Davian.


Rain berhenti di sebuah kafe dekat taman baca, begitu pun Davian ia mengikuti gadisnya. Rain mencari keberadaan sahabatnya dan akhirnya ia menemukan gadis bawel itu duduk di area lesehan.


"Sorry, lama nunggu ya?" ucap Rain sambil langsung duduk di hadapan sahabatnya.


"Nggak apa-apa santuy aja kali, eh lu kesini sama Bang Davi?" tanya nya saat melihat Davian berada di belakang Rain.


Rain menggelengkan kepalanya, "orang gue naik motor ke sini, ngapain ngajak dia?"


"Lah itu di belakang elu!" sambil menunjuk ke belakang, namun Rain tak menoleh sedikit pun, Davian malah bertanya tanpa suara boleh duduk pada Ikoh, dan gadis itu pun mengangguk.


Davian duduk di sebelah Rain yang sedang.asyik dengan ponselnya.


"Kenapa si, lagi marahan?" tanya Ikoh saat melihat interaksi keduanya. Namun tak ada jawaban dari keduanya, bahkan Rain beranjak dari duduknya.


"Gue ke toilet dulu!" sambil berlalu pergi tanpa menghiraukan Davian yang menatap sendu ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Ikoh heran.


"Mantan aku balik, dan Rain melihat dia sedang peluk aku tadi di kantor," lirih Davian sambil memijat pangkal hidungnya.


"Ya elah, Bang, mantan yang mana lagi si?" sambil menepuk jidatnya sendiri ikut pusing juga dengan hubungan sahabatnya itu.


Davian hanya menghela nafas gusar, dan meletakkan kedua tangannya di meja. Rain juga belum kembali dari toilet padahal sudah cukup lama.


"Rain ngapain si di toilet lama amat, emang tapa apa?" gerutu Ikoh yang menunggu sahabatnya yang tak kunjung kembali.


Saat Ikoh akan menyusulnya ke toilet tiba-tiba ponselnya berdering, dan Rain yang nelpon.


"Gue balik duluan, malas ada si om rese,"ucapnya dari sebrang dan ikoh pun hanya bisa bilang iya.


"Bang, Rain udah balik duluan katanya ada keperluan mendadak tahu tuh kemana?" ucap Ikoh ragu saat memberitahu pria dewasa di depannya yang tampak kacau.


Rain sudah kembali ke rumahnya dan menyimpan motornya di belakang, ia khawatir Davian akan kembali ke sini. Kemudian gadis itu masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjangnya.


Perasaannya campur aduk, marah, cemburu, sakit tapi juga dia nggak mau kehilangan pria yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.


Bersambung.....


Happy Reading 😍😍😍


Tadinya target 60rb kata sampai akhir bulan ini, tapi kayanya belum bisa RL ternyata lebih rempong...


Tapi ngga papa yang penting kalian selalu hadir di tipa episode yg aku buat makasih ya😍😍