"DR"

"DR"
Rencana



Davian sudah lebih dulu sampai di rumah Rain. Rain dan Ikoh bergegas turun dari mobil dan mengambil kopernya, tapi Davian dengan sigap mengambil alih membawa koper kedua gadis di depannya.


"Rain lo masih kesel sama si om?" tanya Ikoh saat Rain membuka pintu rumahnya. Rain hanya menoleh sebentar kemudian masuk ke rumahnya,yang diikuti oleh Ikoh dan Davian.


"Udah sana pulang, Om!" ucap Rain sarkas.


"Ya ampuun, Rain aku baru duduk masih cape sediain minum kek, berasa jadi supir beneran nih!" gerutu Davian saat menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Buseet,,lu tega amad sih Rain!" timpal Ikoh yang juga duduk di sebelah Davian.


"Bodo..!" jawab Rain sambil berlalu ke belakang.


"Temen gue diapain sih, Om, ampe marah banget kaya gitu?" Ikoh berbalik menoleh ke Davian yang menatap ke punggung Rain.


Davian pun menceritakan tentang perselingkuhan yang dilakukan Reza.


Ikoh sempat menutup mulutnya sendiri saat mendengar cerita Davian.


"Eh pantesan, Om, tadi pas di jalan, aku liat ya g lagi foto prewed di taman yang tadi itu lo, Om, kok cowoknya mirip Kak Reza!" jelas Ikoh saat mengingat kejadian tadi di jalan, namun ia tak bilang apa pun pada sahabatnya.


"Kita mesti nyadarin Rain, Om! Kalo bener tuh cowok khianatin sahabat gue!" lanjutnya sambil mengepalkan tangannya. Davian pun mengangguk mengiyakan.


"Kita mesti bikin rencana!" jawab Davian namun kemudian berhenti saat Rain datang sambil membawa minuman dan beberapa cemilan.


"Kalo udah minum sama ngemil langsung pulang aja!" ucapnya pada Davian. Namun cowok itu hanya mengangkat alisnya sebelah kemudian meminum minumannya hingga tandas.


Ikoh yang melihat itu akhirnya membuka suara. "Eh,lo tadi liat nggak yang lagi foto prewed di taman?" Ikoh mengalihkan perhatian Rain yang terlihat masih kesal pada Davian.


"Oya, gue liat, tapi gue berasa pernah liat cowoknya, tapi lupa di mana?" jawabnya sambil memegang pangkal hidungnya, "tapi hati gue juga tiba-tiba sakit banget, Koh?" lanjutnya.


"Kenapa lo ampe sakit hati, yang prewed kan orang lain, bukan cowo lo?" tanya Ikoh, dan itu makin meyakinkan hatinya kalo cowok sahabatnya itu benar-benar selingkuh. Davian hanya memutar bola matanya jengah mendengar ocehan kedua gadis di hadapannya.


****


Di taman kota, Reza dan Rena baru saja menyelesaikan sesi foto prewednya.


"Aku seneng banget, akhirnya kita nikah juga, tinggal nunggu beberapa hari lagi, kita udah sah jadi suami istri." ujar Rena sambil bergelayut manja di lengan kokoh Reza. Sementara Reza hanya mengangguk tanpa menjawab.


"Gue harus bisa ketemu sama Rain, sebelum pernikahan gue!" gumamnya dalam hati.


"Kamu kenapa sih? Ko malah bengong gitu?" tegur Rena sambil menepuk lengan Reza.


"Eh iya-iya, sayang!" jawab Reza gelagapan. "Setelah acara ini nggak akan ada acara apa-apa lagi kan? Aku mau ada urusan dulu beberapa hari." lanjutnya.


"Nggak, udah beres tinggal nunggu hari pernikahan kita, oke tapi kamu hati-hati ya!" jawab Rena. Reza mengangguk mengiyakan. Kemudian akhirnya mereka pulang.


*****


Malam ini Davian ikut makan malam di rumah Rain, walau Rain sudah beberapa kali menyuruhnya pulang. Karena saat Rain mendorong tubuh tinggi Davian buat pulang, eh ibu sama mami Sherly datang.


Akhirnya mereka semua berkumpul di rumah Bu Ratna, bahkan makan siang pun di sana, sekarang makan malam juga mereka bareng lagi.


Setelah beres makan malam, saat Rain dan Ikoh juga Isma membereskan bekas makan ke dapur untuk dicuci, tiba-tiba ponsel Rain berdering ada panggilan masuk.


"Kak Reza!" gumamnya kemudian izin pada sahabatnya untuk menerima telpon. Rain pun pindah ke kamarnya.


"Kak, kemana aja? Susah banget dihubungi, kakak juga nggak hubungin aku?" cerocos Rain saat sudah mengangkat telponnya. Sebelum menjawab terdengar suara kekehan Reza dari sebrang sana.


"Iya, iya, maafin kakak, sayang!" ucapnya.


"Kakak kemana sih,emang nggak kangen sama aku? Padahal sekarang masih libur akunya." omel gadis itu manja.


"Iya, kakak salah, maafin kakak, ntar kakak jelasin semuanya kalo kita ketemu." jawab Reza.


Rain mengangguk senang, ia lupa kalo Reza nggak bisa melihat anggukannya.


Hingga kekasihnya memanggil namanya.


"Eh iya, iya kak, aku mau!" jawab Rain antusias. Kemudian sambungan telpon pun terputus. Di balik pintu kamar Rain, Davian mendengar jelas semua percakapan gadis itu. Walau suara Reza terdengar samar, tapi ia tahu kalo lusa gadisnya akan pergi dengan cowok breng***k itu.


Davian mengepalkan tangannya geram, kemudian kembali ke ruang keluarga. Rain nampak ceria setelah menerima telpon dari sang kekasih.


"Seneng amad lo, Rain, kaya dapet undian?" sindir Ikoh, saat melihat sahabatnya berubah ceria.


"Lebih dari undian keknya, Koh!" jawabnya santuy.


Setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya di dapur, mereka pin ikut bergabung bersama keluarga yang lain.


Rain yang tampak kembali ceria berbanding terbalik dengan wajah Davian yang ditekuk. Yang menyadari itu hanya Ikoh, karena ia tahu duduk masalahnya.


Sekitar jam 9 malam mami Sherly, Davian, Dio dan Isma pun pamit pulang. Mereka inhin segera mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


******


Di apartemen Reza


"Sebentar lagi kamu akan jadi milik aku, Rain Almahera!" ucapnya sambil menenggak minuman beralkohol.


"Aku beneran sayang sama kamu, Rain, gadis kecilku, cuma kamu yang aku sayang, cuma kamu yang aku mau, bukan Rena." ocehnya hingga tubuhnya lunglai di atas sofa besar. Ia tinggal sendirian di apartemennya,sehingga tidak pernah ada yang tahu kebiasaan buruk dia menenggak minuman yang diharamkan itu.


"Semua gara-gara mamih!" teriaknya sambil menangis kemudian tertawa terbahak.


"Rain, kamu milikku, nggak boleh ada milikin kamu selain aku!" gumamnya kemudian tak sadarkan diri.


Keesokan pagi


Apartemennya nampak berantakan dengan botol minuman berserakan, sampah makanan ringan di mana-mana. Tidak ada yang tahu tentang apartemen milik Reza ini, termasuk sang mamih dan Rena. Ia membelinya dari uang tabungannya. Karena ia berencana menghadiahkan apartemen ini untuk Rain jika ia menikah dengannya.


Namun, takdir tak berpihak padanya, ia malah harus menikah dengan Rena, gadis cantik tapi tidak pernah ia cintai. Akhirnya apartemen itu ia jadikan tempat untuk memuaskan kebiasaan buruknya dengan minuman haram itu.


Tubuh tinggi itu masih terkulai di atas sofa besar, keadaanya sungguh berantakan. Hingga matahari menjulang tinggi baru cowok itu bangun dengan memegang kepalanya yang pusing, dan sakit seperti dipukul-pukul. Setelah duduk diam beberapa saat sambil memegang kepalanya, akhirnya ia sadar akan sekeliling ruangan itu yang sama berantakannya seperti dirinya.


Kemudian ia beranjak unyuk membersihkan dirinya sebelum, ia membereskan rumahnya.


"Besok kamu, akan jadi milik aku sayang, di sini di rumah kita, yang sudah sejak dulu aku persiapkan buat kamu!" gumamnya sambil menatap tampilannya di cermin besar di kamarnya.


Hari ini, ia berniat untuk mempersiapkan semuanya untuk besok. Ia melupakan tentang pernikahannya yang tinggal menghitung hari dengan Rena.


*****


Di tempat lain Davian dan Ikoh juga Dio sedang berunding bagaimana caranya agar Rain bisa membuka matanya yang sudah diliputi oleh cinta akan Reza.


"Besok kita harus ikutin dia, gue ngga nggak mau terjadi apa-apa sama gadis mungil gue!" bisik Davian.


Bersambung...


Happy Reading 😘😘😘


Moga cepet up ya, jan lupa like, komen, sama vote nya juga😂😂


Komen kalian semangat buat aku makasih ya, yang udah selalu mampir dimari, dan ninggalin jejak😘😘😘😘


Tetep jaga kesehatan dan Di rumah saja