
Setelah acara renang, mereka masuk kembali ke villa dan membersihkan diri di kamar masing-masing.
Rain saat itu sudah terlihat baik-baik saja, makanya saat Davian hendak menggendongnya, gadis mungil itu langsung menolaknya mentah-mentah.
"Ngga usah, Om, aku udah baikan!" tolaknya kemudian beranjak meninggalkan Davian yang terlihat cowok sedang duduk di sofa sambil berbincang dengan Bu Ratna.
Isma melihat bahan makanan yang ada di kulkas, ternyata lengkap, bahkan cemilan juga sudah tersedia. Rain dan Ikoh pun mulai memilih bahan untuk dimasak. Mereka bertiga tampak kompak dan sering terdengar suara tawa dari ketiga perempuan itu.
Saking asyiknya memasak, mereka tak menyadari bahwa ketiga cowok dewasa tampan itu sudah duduk di meja makan dan memperhatikan mereka.
"Rain-rain tau nggak sih lo, tadi pas lo tenggelam si Om kesayangan lo panik banget!" cerocos Ikoh sambil menata piring. Rain menatap sekilas kemudian membolak-balikan kembali masakannya.
"Dih apaan om kesayangan, yang ada rese gitu, lu kalo ngomong tuh nggak pake saringan!" omel Rain kemudian mengambil piring yang sudah ditata oleh Ikoh.
Ikoh terkekeh mendengar omelan sahabatnya, bahkan mereka belum sadar kalo Davian, Dio, dan Refal sedang menahan tawa mendengar ocehan kedua gadis itu, sementara Isma sedang menuang minuman ke dalam gelas.
"Eh lo tau nggak siapa yang ngasih nafas buatan buat lo?" bisik Ikoh yang membuat Rain terdiam. Kemudian gadis itu malah balik bertanya.
"Nafas buatan?" Rain nampak memegang bibir mungilnya sendiri.
"Iya, emang lo bisa sadar tuh diapain? Masa nggak inget?" sewot Ikoh.
"Sepupu gue Davian yang ngasih nafas buatan buat lo, Rain!" Serobot Isma dan ikut menata makanan di piring.
"Apa? Ko diizinin kenapa ngga lo aja sih, Koh?" omel Rain dengan muka merah dan jantungnya berdetak lebih cepat.
"Dih mana gue bisa!" jawab Ikoh kemudian berbalik hendak menyimpan piring berisi makanan itu di meja makan, namun saat berbalik ia kaget karena ternyata ketiga cowok yang lagi diobrolin ada di sana, entah sejak kapan.
Ikoh bukannya menuju meja makan ia malah kembali berbalik dan menyikut Rain.
"Apaan sih?" Rain menoleh ke arah sahabatnya dan membawa dua piring di tangannya.
"Itu_" tunjuk Ikoh lewat matanya. Rain pun menoleh ke arah yang ditunjuk Ikoh.
"Sejak kapan mereka di mari sih, jangan-jangan denger obrolan kita lagi?" bisik Rain.
"Cepetan siniin napa tuh makanan, udah laper ini dari tadi!" sahut Dio tiba-tiba, yang membuat ketiga cewek itu menoleh.
"Sejak kapan kalian di sini?" tanya Isma heran, sambil membawa makanan ke meja.
"Sejak kalian haha hihi lah!" jawab Refal sambil terkekeh. Davian masih terkekeh sambil melihat ke arah Rain yang pipinya masih merona.
Rain dan Ikoh pun beranjak ke meja makan dan menyimpan beberap piring berisi makanan.
"Gue panggil Ibu dulu, Koh!" ucap Rain sambil berlalu ke ruang di mana sang ibu berada.
"Sue ciuman pertama gue kenapa tuh om-om yang dapet si?" gumam Rain saat pergi memanggil sang ibu,sambil mengusap-ngusap bibirnya dengan punggung tangannya.
Tak berapa lama mereka pun makan bersama, Davian sesekali mencuri pandang ke arah Rain yang duduk di sebrangnya.
"Eh udah makan kita ngapain nih?" tanya Isma memecah keheningan. Semua saling pandang.
"Aku pen liat sunset katanya kan deket pantai di mari!" seru Ikoh antusias. Namun setelah mengutarakan keinginannya tiba-tiba petir dan geledek saling menyambar.
"Yaaah,, ujan!" seru semua. Setelah itu mereka menghabiskan makanannya dan pindah ke ruang keluarga. Semua piring bekas makan dibereskan sama asisten rumah tangga.
"Ibu duluan ke kamar ya!" ucap Bu Ratna tiba-tiba, kemudian beranjak menuju kamarnya.
"Gimana kalo maen game aja?" usul Dio.
"Game apaan, jangan yang aneh-aneh deh lo!" sela Davian karena tahu sifat jahil sahabatnya.
"Kartu jujur!" jawabnya sambil memperlihatkan beberapa kartu di tangannya.
"Caranya?" tanya Isma.
"Jadi kalian ngambil salah satu kartu di sini, terus baca pertanyaannya dan jawab dengan jujur!" jelas Dio. Semuanya mengangguk mengerti.
Posisi duduknya melingkar, dimulai dari Dio, Isma, Refal,Ikoh, Davian dan Rain. Yang pertama ngambil kartu Dio, ia mengambil kartu warna kuning, kemudian membukanya.
"Bacain cepetan elah!" sahut Isma yang penasaran.
"Bentar, ehem,,, kapan kamu terakhir pacaran?" lanjut Dio, sebelum menjawab ia berdehem dulu, sambil memegang pangkal hidungnya.
"Jawab woi! Pake mikir segala?" sela Davian sambil melempar bantal sofa ke arah Dio.
"Bentar, sumpah gue lupa, Dav!" jawabnya sambil terkekeh.
"Lah om Dio banyak nih mantannya!" timpal Ikoh.
"Kalo nggak salah tiga bulan lalu!" jawab Dio sambil terkekeh.
"Jomblo dong!" sahut Isma.
"Lanjut lah, sekarang giliran gue kan?" lanjut Isma sambil mengambil kartu berwarna merah muda.
"Berapa mantan kamu?" pertanyaan yang tertera di kartu Isma.
"Buseet kaya cewe apaan gue ya?" gerutunya namun kemudian menjawab juga.
"Kalo ngga salah 5 deh!" jawabnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lah boong banget!" sangkal Davian sambil tertawa.
Semua berlanjut sampai akhirnya giliran Davian. Ia pun mengambil kartu warna hitam. Davian tampak mengerutkan keningnya saat membaca pertanyaan di kartu tersebut.
"Ngapa lo, Dav?" tanya Dio heran. Davian menghela nafas kemudian ia pun membacakan pertanyaannya.
"Bagaimana kesan kamu terhadap cinta pertamamu?"
"Jahat!" jawabnya singkat.
"Ngenes banget si Om!" ejek Rain yang duduk di sampingnya.
"Kalo sama kamu nggak dong!" jawab Davian yang membuat Rain memutar bola matanya.
"Diih apaan ngga jelas!" sewot Rain, kemudian ia pun mengambil kartu terakhir berwarna hijau.
"Kapan ciuman pertama kamu?" Rain membaca pertanyaan yang ada di kertas itu.
"Diih apaan bikin pertanyaan kaya gini?" gerutu Rain sambil melempar kartu di tangannya.
"Jawab aja Rain, penasaran juga gue!" timpal Ikoh.
"Pas Kuliah!" jawabnya singkat.
"Ciee, sama siapa sih?" goda Isma yang mendapat dukungan dari yang lainnya. Davian juga tampak menunggu jawaban dari gadis mungilnya, walaupun ia sudah berpengalaman dengan beberapa perempuan yang berbeda, tapi hati kecilnya tak rela jika gadis kecilnya itu mendapat ciuman pertama dari orang lain.
"Apaan sih, pertanyaannya juga cuma nanyain kapan, ga ada ditulis sama siapa!" gerutu Rain kemudian ia pindah ke sofa besar di belakangnya.
Hujan makin malam makin deras, tak terasa permainan mereka berlangsung cukup lama, hingga malam sudah menjelang.
Sekarang mereka sedang menonton film horor. Para cewek duduk di sofa sementara para cowo duduk di karpet tebal.
"Ngapain si nonton beginian, mana ujan lagi!" gerutu Rain sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Penakut banget si, lo!" omel Ikoh sambil melempar bantal sofa ke Rain. Yang lain hanya terkekeh melihat perdebatan dua sahabat di depannya.
Rain meraih bantal yang dilempar Ikoh, untuk menutupi pandangannya ke arah TV.
"Koh, kalo dikasih nafas buatan sama ngga sih sama ciuman pertama?" bisik Rain sepelan mungkin agar tak mengganggu yang lain, dan tentunya ngga mau ketauan juga.
Ikoh tertawa lepas, hingga membuat yang lain menoleh,
"Kenapa si, lagi tegang juga!" tanya Isma.
Ikoh hanya terkekeh dan bilang maaf, sementara Rain makin menenggelamkan mukanya ke bantal.
Setelah yang lain fokus lagi, Ikoh melirik ke arah Rain dan berbisik.
"Ngga tau juga gue, tp kalo emang iya berarti first kiss lo sama si Om Davi dong?" Rain memutar bola matanya jengah.
"Au ah!" jawabnya, kemudian beranjak.
"Mau kemana si?" tanya Davi saat melihat Rain beranjak dan hendak pergi.
"Mau bobo ah ngantuk!" Rain pun pergi ke lantai atas tanpa menghiraukan lagi mereka yang asyik nonton.
Saat membuka pintu kamar terlihat sang ibu sudah bergelung dalam selimut, ia pun ikut berbaring di samping sang ibu.
"Aduuh kok bisa sih, gue ampe tenggelam, kalo ngga kan ngga mungkin ciuman pertama gue direbut sama tuh om-om!" gumamnya dalam hati.
"Kak Reza kemana sih, nggak ada kabar sama sekali sampe sekarang, apa dia udah lupa sama aku?" gumaman dalam hatinya makin bergema, ia sudah kangen sama orang yang dicintainya.
Terus berfikir tapi tak menemukan jawaban, membuatnya menjadi ngantuk, ia pun akhirnya terlelap dalam buaian mimpi.
Berambung...
Happy Reading
Eh serius nanya ini kalo first kiss sama nafas buatan beda kah?
Tetap jaga kesehatan dan di rumah aja
Makasih yang udah selalu like, komen, sama voteπππ
Makasih juga berkat kalian yg favoritin novel udh nyampe 1k