"DR"

"DR"
Curhat



Sudah seminggu semenjak pertanyaan mami Sherly, sekarang Rain kembali ke kampus dan selama seminggu itu juga Davian dan Rain tak bertemu karena kesibukan mereka.


Rain duduk di bangku kantin kampus sambil menunggu Ikoh yang katanya akan datang terlambat. Saat gadis itu mengecek ponselnya untuk melihat apakah sahabatnya itu sudah sampai kampus atau belum, tiba-tiba ponselnya berdering dengan no tak dikenal.


Rain mengerutkan keningnya, tapi tak berlangsung lama ia langsung menolak panggilan tersebut. Rain memang tak pernah menerima telpon dari nomor tak dikenal, ia memiliki trauma saat ia menerima telpon dari nomor tak dikenal dulu.


Tak berapa lama nampak Ikoh berlari kecil ke arahnya.


"Maaf banget ya, lo pasti nunggu lama?"celotehnya sambil duduk di hadapan Rain.


"Udah, santuy aja napa? Nih udah gue pesenin minuman kesukaan lo!"sambil menyodorkan minuman berwarna oren itu ke hadapan sahabatnya. "Beneran hari ini dosen kita nggak masuk, Koh?" lanjutnya.


"Hmm,"sambil meminum minumannya Ikoh mengangguk. Setelah ia membasahi tenggorokannya, akhirnya Ikoh pun mulai berbicara sambil membenarkan duduknya agar lebih nyaman.


"Jadi, lo mau curhat apa ke gue, kita punya banyak waktu sekarang."ucap Ikoh dengan kedua tangannya ia lipat di meja.


Rain melihat ke sekeliling kantin yang masih nampak ramai. "Yakin kita cerita di sini?"


Ikoh pun melakukan apa yang dilakukan sahabatnya itu dengan melihat ke sekeliling. "Iya juga si, yuk kita cari tempat lain aja lah, lagian di kampus juga kan nggak ada tugas."sambil menarik tangan Rain untuk meninggalkan kantin kampus.


***


Rain dan Ikoh sudah berada di taman baca dekat kampus. Taman baca adalah sebuah lahan terbuka dan setiap orang bebas membaca buku yang tersedia di rumah pohon besar yang berada di tengah taman. Di sini mereka bebas melakukan kegiatan mereka sesuka hati bisa sambil makan dan ngobrol.


Rain dan Ikoh duduk di kursi taman dekat pohon besar yang membuat suasana menjadi lebih teduh. Mereka juga membawa cemilan dan minuman juga.


"Udah cepetan jadi gimana nih?"tanya Ikoh memulai percakapan.


Rain berdehem sebentar untuk menetralkan suaranya yang agak serak.


"Gue ditanya udah siap nikah belum saat ini?"


"Hah?!"


"Beneran Ikoh"


"Terus lo mau nggak?


Rain menggeleng ragu, kemudian menjelaskan ke Ikoh kalau dia bisa saja nikah sekarang toh kuliah juga masih berlanjut, namun ia tahu jika sudah menikah ia mempunyai hak dan kewajiban yang harus ia laksanakan sebagai seorang istri.


" Lo tahu kan, masa remaja gue habis untuk membantu ibu di kedai, waktu main gue sedikit bahkan hampir tidak ada."sambil menghela nafas ia memandang jauh ke langit yang nampak cerah.


"Jadi lo nggak ikhlas gitu bantuin ibu di kedai selama ini?"jawab Ikoh menangkap pernyataan sahabatnya.


"Iiih bukan gitu maksud gue Juleha, gue seneng bisa bantu ibu, tapi kan sekarang di kedai udah ada karyawan ibu, jadi ibu dan gue nggak terlalu cape. Maksud gue, sekarang masa kuliah gue pengen gue nikmatin dulu sebagai seorang cewek single yang bebas main dan berkarya juga."jelasnya panjang lebar yang membuat Ikoh manggut-manggut.


"Iya juga si,apalagi om rese kesayangan lo tuh posesif banget ya,"ujar Ikoh sambil memasukan kembali cemilannya ke mulutnya.


"Nah tuh lo tua,"jawab Rain sambil terkekeh.


"Tahu woi!"


"Iya, iya nah terus gue mesti gimana dong?"tanya Rain lagi yang sebelumnya sudah memberitahu pendapat sang ibu yang juga ingin secepatnya, tapi Davian malah terlihat santai dan menyerahkan keputusannya ke Rain, karena ia nggak mau pernikahannya karena terpaksa.


"Eh, gue mau nanya, si om gimana sih kalau lagi berdua sama lo, secara dia tuh cowok dewasa lo ya?"ucap Ikoh sambil menaikturunkan alisnya menggoda Rain.


"Maksud lo?"tanya Rain sewot, namun tiba-tiba ada rona merah di pipinya saat ia mengingat kejadian di pantai dan rumahnya.


"Biasa aja kali, kenapa lo sewot, jangan-jangan lo suka ngapa-ngapain ya?"goda Ikoh.


"Iih,,, bacot lu, Koh!"sambil menoyor kening sahabatnya gemas.


Kemudian Ikoh tiba-tiba berubah serius dan berucap, "gini ya gue rasa ni ya, mening lo terima aja nikah sekarang, kasian tahu si om lu itu keburu tua."kekehnya yang malah mendapat toyotan kedua dari sahabatnya.


" Ko gue berasa mau dinikahin fedofil si, kalau bahasa lo gitu."omel Rain, tapi sahabatnya malah tertawa puas.


"Walau tua gini, aku masih tetep ganteng lo,"ucap suara bariton yang duduk di belakang kursi mereka. Rain dan Ikoh nampak terkejut dengan suara bariton yang sangat mereka kenal.


"Om? Ngapain di sini?"tanya Rain sambil berbalik ke arah pria tinggi berbaju hitam tersebut.


Davian terkekeh dan berbalik ke arah Rain, dengan gemasnya ia menjawil hidung mancung gadisnya yang masih nampak shock dengan keberadaannya. "Kangen aku, yank!"bisiknya.


" Yaelah, Bang jangan so sweet di mari napa?"gerutu Ikoh sambil menatap jengah ke arah pasangan di depannya. Rain menarik tangan Ikoh, kemudian beranjak dari sana, meninggalkan Davian yang masih duduk sambil terkekeh.


"Eh, lo nggak sama om rese lo, kenapa narik gue pergi?"tanya Ikoh heran.


"Gue malu, Ikoh!"bisik Rain sambil menarik terus sahabatnya keluar dari taman baca.


"Punya malu juga ternyata, lo!"jawab Ikoh sambil tertawa. "Siyalan!"


Sementara Davian juga mulai beranjak dari taman baca dan menyusul Rain dan sahabatnya yang nampak berlari kecil. Rain dan Ikoh hendak kembali ke kampus mereka.


"Menurut lo, dia dengerin curhatan gue nggak si, kalau iya sumpah gue malu, Koh?"tanya Rain sambil terus berjalan. Ikoh yang jalannya terseret karena ditarik Rain, menjawab asal, "tahu dah".


Saat mereka hendak masuk ke area kampus, tiba-tiba tangan Rain ditarik dari samping, sampai Ikoh juga ketarik.


"Kamu mulai bandel ya, kenapa bolos kuliah hari ini?"ucap Davian tepat di telinga Rain, hingga membuat gadis itu meremang. "Nggak, aku sama Ikoh lagi nyari referensi buat tugas, ya kan, Koh?" sambil mendorong dada Davian agar tubuhnya tak terlalu dekat.


Ikoh yang mendapat kode dari sahabatnya itu langsung mengangguk.


"Lah terus abang ngapain di sini?"tanya Rain untuk mengalihkan kecurigaan Davian.


"Kangen,"jawabnya singkat sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana. "Dih,,, apaan si," gerutu Rain.


"Eh tolong ya, disini masih ada orang!"omel Ikoh yang merasa menjadi nyamuk diantara pasangan di depannya.


Rain dan Davian hanya terkekeh sampai Rain akhirnya berucap, "katanya kalau kita ngobrol berdua yang ketiganya itu setan."


" Maksud lo, gue setannya? Raiiiin!!!!"teriak Ikoh yang melihat sahabatnya sudah berlari masuk ke kampus.


Bersambung....


Happy Reading 😘😘😘


Makasih udah mau nunggu cerita akoh... Apalagi kalian selalu ninggalin jejak kaya like, komen, sama vote,,, aku padamu dah😍😘😂